Sebuah Elegi di London Colney (Bagian 1 – Part 1)

Essay ini terdiri dari tiga bagian sebagai batasan masalah. Pertama, paparan singkat soal pola latihan Arsene Wenger di Arsenal. Kedua, penggambaran beberapa masalah yang terjadi di Arsenal yang saya ungkap dalam dua jendela besar, yaitu faktor teknis (terkait masalah taktik dan pola permainan) dan faktor nonteknis (terkait masalah cidera dan masalah nilai diri). Ketiga, sebuah dialektika mengenai pandangan personal yang bersifat kritik. Pandangan dialektis mencoba menjadi sintesis dari tesis dan antitesis yang coba saya paparkan melalui dua bagian sebelumnya.

Kata kunci: Arsenal, Arsene Wenger, cidera, taktik, pola latihan, inisiatif.

Saya dengan berat hati menuliskan elegi sebagai sampiran judul. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “elegi” berarti ‘ratapan atau lagu kesedihan’. Selama beberapa musim ke belakang, terutama saat-saat puasa gelar, saya tidak pernah merasakan sesal menjadi seorang Gunners. Beberapa teman dan saudara menertawakan pilihan saya menjadi fans Arsenal.

Pada tahun 1998, saya pertama kali mengenal Arsenal. Singkat kata, dari beberapa artikel, buku, dan obrolan bersama beberapa orang pelatih waktu masih bermain sepak bola, saya memahami bahwa seorang kurus dengan kacamata tebal sudah mengubah wajah Arsenal. Beberapa pelatih mengatakan kelak si kurus ini akan mengubah Liga Inggris. Si Kurus yang saya maksud adalah Arsene Wenger. Orang Perancis yang memilih meninggalkan negaranya karena gerah dengan skandal pengaturan skor membuat saya tertarik dan jatuh hati. Jadi, boleh dibilang, saya lebih dulu mengenal Wenger ketimbang Arsenal. Tapi, harus saya tegaskan, bahwa kecintaan ini tidak buta. Saya belajar untuk selalu melihat banyak hal dari berbagai sudut.

Kembali ke kata “elegi” pada judul. Saya berusaha menyikapi keadaan puasa gelar sebagai sebuah proses alam yang “harus” terjadi dalam sebuah klub. Ada banyak hal yang menyebabkan Arsenal berada dalam kondisi tersebut. Tidak salah apabila Anda menyebut masalah keuangan yang menjadi penyebab. Tidak perlu saya bercerita di sini soal penjualan beberapa pemain bintang untuk menyeimbangkan kas klub. Saat ini, saya ingin fokus untuk memberikan gambaran soal kesedihan yang sedang saya alami.

Bagian Pertama: Latihan dan Kehidupan di Sebuah Klub

Sebuah klub profesional hidup dalam dua dunia besar, yaitu sumber daya manusia (SDA) dan pemberdayaan SDA tersebut. Manusia selalu yang utama karena menjadi pusat kehidupan sebuah klub. Arsenal, yang sempat menjadi contoh profesionalisme manajemen bagi beberapa klub di Eropa antara tahun 1999 sampai 2005 merupakan klub yang sudah berjalan dalam dunia besar tersebut, secara benar dan terencana.

Pada awal kepemimpinannya, beberapa media di Eropa sempat mempertanyakan keputusan Arsenal mengangkat seorang Wenger menjadi pelatih. Dianggap belum berpengalaman, Wenger juga dianggap keras kepala dan sulit bekerja sama dengan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Hal itu terlihat saat dirinya muak dengan pengaturan skor dan skandal kecurangan di Perancis. Konon, Wenger memutuskan menolak melatih timnas Perancis dan memutuskan pergi ke Jepang.

Di Jepang, Wenger dianggap sebagai seorang manager yang memberikan harapan cerah. Visi dan arah pandangnya menjadi salah satu landasan bangkitnya J-League. Wenger betah melatih di Jepang. Ia memandang sepak bola di Jepang sebagai olah raga yang menyenangkan karena dianggap sebagai kesenangan dan penyalur kebahagiaan. Kondisi tersebut berbeda dengan sepak bola di Perancis yang penuh skandal dan kecurangan pada masa itu.

Manajeman Arsenal melihat visi Wenger begitu revolusioner dan dianggap segar. Pihak manajemen memandang visi tersebut merupakan landasan untuk masa depan. Maka, tanpa perlu banyak pertimbangan, manajemen memberikan tongkat komando kepada Wenger. Pada hari pertama ia diangkat, Wenger memberikan komentar soal pekerjaan yang akan ia lakukan.

“The team will have to change and at the same time continue to be successful. During this transition, the challenge is the management of change,” kata Wenger kepada reporter kala itu. Wenger menegaskan perlunya perubahan sekaligus berprestasi. Tantangan utama adalah perubahan dari sisi manajemen. Ucapan itu sudah terbukti dan Arsenal merasakan dampak positifnya.

“Wenger is authoritative, but in a friendly, accessible way. He seems to be a man of great analytical intelligence. Everything he says makes sense and he does not waste words.” Kalimat tersebut merupakan kalimat yang diucapkan oleh Stan Kronke. Seorang Stan mengakui bahwa Wenger cukup otoriter sekaligus bersahabat. Wenger punya kepintaran analisis yang luar biasa.

Dalam kehidupan sehari-hari (di klub), Wenger menerapkan kedisiplinan yang tinggi. Bahkan, ia menerapkan hukuman denda cukup besar bagi pemain yang melanggar aturan. Kedisiplinan dasar ini sempat dikeluhkan oleh para pemain di awal kepemimpinan Wenger. Nigel Winterburn bahkan sempat berkata bahwa latihan sangat berat, ketat, dan terasa seperti latihan militer pasukan Jerman. Namun, dalam waktu singkat, segala macam aturan dasar membentuk dasar pemain, yaitu disiplin dan tangguh.

Dari sisi latihan, Wenger menerapkan dua dasar utama, yaitu pola makanan dan pemahaman taktik. Untuk pola makanan, Wenger menetapkan setiap pemain harus mengikuti aturan nutrisi sebagai asupan dan kedisipilan untuk menjaga berat badan. Untuk nutrisi, Wenger menjadikan cereal, keju putih, daging olahan, pasta, dan sup kental sebagai asupan nutrisi dasar. Tidak hanya pemain yang harus memenuhi nutrisi dasar tersebut, namun seluruh staff juga mengonsumsi hal yang sama.

Selain nutrisi dasar, Wenger juga menerapkan cukup banyak aturan, yaitu menggunakan produk rendah lemak, mengonsumsi air dengan suhu ruangan, dilarang minum air es saat pencernaan bekerja, tidak boleh merokok, tidak boleh makan pudding dengan tingkat gula tinggi, makan banyak sayuran, tidak boleh mengonsumsi roti atau mentega saat makan, dan tidak boleh makan snack (ngemil) sebelum makan (pagi, siang, malam). Aturan tersebut diterapkan sangat ketat.

Selain nutrisi dan aturan soal makanan, Wenger juga menetapkan setiap pemain harus menjaga tingkat kebugaran, terutama level lemak. Aturan dasar soal lemak adalah setiap pemain tidak boleh melebihi level 12%. Jika level lemak pemain melebihi batas tersebut, sang pemain harus keluar dari tim utama dan berlatih bersama tim cadangan dan pelatih kebugaran sampai level lemak turun. Sebagai catatan, sebelum melatih klub, Wenger belajar dunia nutrisi dan psikologi olah raga.

Catatan kedua dalam latihan selain nutrisi adalah pemahaman taktik. Dasar utama taktik adalah filosofi. Untuk menerapkan filosofi yang dikehendaki, Wenger membuat tiga aturan dasar. Pertama, saling memerhatikan dan membantu rekan di lapangan. Kedua, mempertahankan etos kerja tinggi. Ketiga, beri perhatian lebih kepada detail. Ketiga aturan dasar tersebut masih dipertahankan sampai sekarang.

Selama proses latihan, pemahan filosofi harus tepat karena menjadi dasar dari semua latihan yang digelar. Saat berlatih, Wenger selalu memberikan jawaban atau pengertian kenapa pemain harus melakukan latihan tersebut. Wenger menegaskan pentingnya memahami filosofi dasar untuk mengembangkan permainan selama laga. Selain itu, Wenger juga “menuntut” para pemain untuk memperlihatkan komitmen tinggi saat latihan. Poin terakhir ini, menjadi dugaan terbesar saya soal cidera pemain yang melanda Arsenal dalam 3 musim terakhir. Namun, masalah ini akan dibahas di bagian kedua tulisan saya.

Nah, dalam setiap sesi latihan, baik pagi atau sore, Wenger selalu memerhatikan detail persiapan yang mendalam. Menurutnya, persiapan yang matang menjadi dasar kesuksesan klub dan manusia sebagai pribadi. Untuk menciptakan iklim sikap profesional, Wenger meminta setiap pemain untuk datang 30 menit sebelum latihan di lapangan dimulai. Tujuannya untuk mempersiapkan mental dan diri para pemain sebelum berlatih. Persiapan ini menjadi penting karena membuat pemain menjadi relax dan tenang saat berlatih. Dua sikap ini sangat penting supaya latihan berjalan efektif. Jika pemain mampu tenang (berpikir jernih), maka kerja keras dan kedisiplinan dapat terbentuk dengan mudah.

Sebelum bertanding, Wenger selalu menegaskan saat latihan bahwa ada empat pilar untuk menang, yaitu bermain dengan kekuatan sendiri, sadar akan pengorbanan, berani menguasai bola, dan selalu mengingat semua latihan dasar. Empat pilar tersebut didukung oleh pemahaman padunya sebuah tim menjadi senjata utama saat menyerang, konsentrasi menjadi tameng pertahanan, dan perbaikan kekuatan personal sebagai pelengkap.

Setelah memahami filosofi dan dasar sebuah tim, pemain harus mampu menunjukkannya di lapangan. Jadi, performa saat berlaga ditambah kerja keras saat berlatih menjadi dasar pemilihan pemain di dalam starting line-up. Jika dibaca dengan teliti, persiapan Wenger memang sangat jelimet atau rumit. Namun, hal-hal itulah yang menjadi fondasi utama bagi skuat Invincible. Skuat yang berhasil memenangi Premier League dengan status nir-kekalahan yang mampu menerapkan, memahami, dan meresapi filosofi Wenger. Hal itu terlihat dari betapa para pemain sangat berdedikasi dalam setiap laga.

Dari sisi kepelatihan dan penerapan taktik, Wenger berubah menjadi orang yang cukup “simple”. Kesederhanaan Wenger tampak saat memberikan setiap pemain sebuah konsep dan role yang harus dipahami. Well, memang pada kenyataannya tidak sesederhana yang bisa kita bayangkan. Tingkat pemahaman konsep dan role akan dicatat, diukur, dan didokumentasikan secara detail. Hal ini menjadi dasar nilai perkembangan individu pemain. Wenger bahkan akan menggunakan bahasa ibu sang pemain untuk menjelaskan konsep yang ia mau. Memahami banyak bahasa, psikologi pemain, ilmu nutrisi, visi taktik, etos kerja, dan perencanaan manajemen membuat Wenger mendapatkan gelar Sang Profesor.

Kini kita masuk dalam keseharian di lapangan latihan. Sebelum berlatih taktik, setiap pemain tentu harus menjalani pemanasan. Setelah senam ringan, Wenger mengizinkan pemain berlatih dengan bola secara indiviu atau membuat game soccer tenis. Sesi pemanasan ini selalu diawasi oleh pelatih kebugaran. Setelah selesai selanjutnya beranjak ke sesi latihan untuk memperkuat kekuatan dan kebugaran pemain atau disebut Strength Training.

Sesi ini terdiri dari dua latihan isometric di latihan hari biasa. Satu latihan isometric dilakukan di awal latihan taktik dan satu lagi setelahnya. Setiap pemain mendapatkan porsi latihan isometric yang berbeda, yang dibagi dalam latihan berat dan ringan. Semua diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi pemain untuk pembentukan massa otot. Latihan ini dilakukan di dalam ruangan kebugaran dan diamati oleh pelatih kebugaran dengan sistem video. Sistem video memberikan grafik perkembangan massa otot, perbaikan kebugaran, dan peningkatan dari ability setiap pemain, misalnya kecepatan, level kelelahan, hingga daya tahan.

Untuk latihan berat, sesi isometric diulang 20 kali. Untuk ringan, diulang 12 kali saja tergantung kondisi tubuh. Setiap pengulangan dilakukan selama 10 detik. Latihan isometric sangat berguna bagi dua jenis pemain, yaitu pemulihan pasca-cidera dan pemain dengan usia di atas 30 tahun. Bagi pemain yang baru dalam masa pemulihan, latihan isometric membantu mengembalikan dan memperkuat massa otot yang hilang selama masa break atau istirahat berlatih karena cidera. Bagi pemain berusia di atas 30 tahun, latihan ini membantu mempertahankan level kebugaran dan kekuatan otot yang mengendur karena faktor usia.

(bersambung)