Theo Walcott: Anomali Pemain Sayap

Sejak kembali dari cidera, Theo Walcott belum menunjukkan bahwa dia adalah salah satu pemain sayap dengan ketajaman di atas rata-rata.

Mari melihat ke belakang, saat kick and rush begitu memesona. Permainan cepat dan identik dengan menyisir sisi lapangan menjadi daya tarik. Waktu berputar dan zaman berubah, tidak terkecuali dengan sepak bola. Pola, taktik, dan peran pemain mengalami revolusi. Setiap pemain dimungkinkan menjalani peran ganda dan harus siap dengan perubahan setiap detiknya. Pemain dituntut mampu beradaptasi dengan taktik dan kebutuhan tim. Maka, tidak jarang pemain akan terbuang karena kalah bersaing dengan pemain lain, yang mampu beradaptasi dan memuaskan pelatih.

Mari menilik ke skuat yang dimiliki Arsenal. Sisi sayap merupakan salah satu bagian penting dalam sistem permainan dan implementasi taktik. Penguasaan bola dan sumber kreativitas boleh dibilang sangat membutuhkan dukungan pemain di “sisi lapangan”. Jika kick and rush masih menjadi primadona, kita akan menyebut pemain di sisi lapangan sebagai winger. Namun, saat ini, apakah pemain yang berada di sisi lapangan selalu berperan sebagai winger? Tidak.

Saat ini, sepak bola adalah salah satu olahraga yang begitu kompleks. Dari sisi taktik saja, sudah banyak variasi yang terkadang pemain sendiri tidak mampu memahaminya secara utuh. Oleh sebab itu, pemain sayap, sebagai bagian dari sistem pemainan, harus mampu bermain layaknya “toko serba ada”. Ya, seorang pemain yang berdiri di sisi lapangan, tidak boleh hanya mampu memerankan satu peran saja. Salah satu “kemewahan” seorang pemain tercermin dari kemampuannya bermain di banyak posisi atau mampu memerankan banyak tugas.

Bicara soal pemain sayap, kita tidak dapat memungkiri bahwa keberadaan winger tradisional semakin terancam punah. Untuk sebuah tim, yang gemar bermain penguasaan bola, harus mempunyai pemain sayap yang mampu bertarung di wilayah narrow, jago tracking the ball back, bahkan menjadi bek sayap tambahan kala mempertahankan kemenangan. Jika pemain sayap mampu menjalankan tugas sedemikian berat, maka apakah ia masih disebut winger?

Saat ini, ada beberapa peran yang diemban pemain di “sisi lapangan”, misalnya Inside Forward, Wide Play-maker, hingga Defensive Winger. Untuk peran Inside Forward, Arsenal mempunyai Alexis Sanchez dan Theo Walcott sebagai contohnya. Wide Play-Maker bisa kita lihat dari cara bermain Mesut Ozil di sisi lapangan, baik saat masih bermain untuk Real Madrid, timnas Jerman, dan bersama Arsenal di banyak kesempatan. Sementara itu, Defensive Winger terlihat dalam cara pemahaman Oxlade-Chamberlain saat melawan Manchester City.

Nah, setelah memahami ketiga contoh peran tersebut, kita bisa setidaknya mengerti bahwa kebutuhan akan pemain multi-fungsi sangat penting. Mari bicara soal Theo Walcott, pemain sayap tradisional di usia muda, yang saat ini memikul peran ganda di lini serang Arsenal. Walcott punya kecepatan dan ketajaman di atas rata-rata. Winger asal Inggris tersebut sangat cocok untuk mengintimidasi lawan lewat sisi lapangan, saat Arsenal menyerang. Bagaimana saat Arsenal bertahan? Di sini terjadi anomali, terutama musim ini, setelah Walcott kembali dari cidera.

Seperti belum menemukan kepercayaan diri dan mood terbaik untuk berlari, Walcott sekarang butuh lebih dari sekadar motivasi untuk bangkit. Sebagai pemain sayap yang juga hanyut dalam anomali peran, Walcott harus luwes untuk beradaptasi dengan perubahan skema dan situasi dalam pertandingan. Lihat saat kegagalan pergerakan Walcott menyebabkan Arsenal kalah dari Tottenham Hotspur. Lihat juga saat Walcott dengan sangat sukses membiarkan Callum Chambers dikerjai Matt Jarvis di sisi kanan lapangan. Mari kesampingkan kemungkinan Arsene Wenger memang memberi instruksi kepada Walcott untuk tidak turun terlalu jauh demi tujuan “serangan balik cepat”.

Saat ini, kita bisa berargumen bahwa Walcott memang baru sembuh dari cidera panjang yang menyebalkan. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini Arsenal membutuhkan winger yang fasih bertahan, seorang Inside Forward yang mampu berperan sebagai Defensive Winger, seorang pemain sayap yang mau turun ke pertahanan sendiri dan menjadi Wing-Back tambahan. Apabila Walcott tidak mampu menemukan moodnya dengan cepat, bukan tidak mungkin ia akan kehilangan laga-laga besar. Bukan tidak mungkin pembicaraan kontrak baru akan terus ditunda. Bukan tidak mungkin Walcott akan dijual demi menyiapkan ruang bagi pemain lain yang lebih luwes dalam memahami kebutuhan tim.

Saat ini, Walcott bukan lagi anak emas yang pernah disebut sebagai pewaris King Henry. Ia harus berjuang lebih keras bahkan hanya untuk duduk di bangku cadangan. Jika tidak mampu menemukan ritme dan kepercayaan diri, Walcott selamanya hanya akan menjadi rencana cadangan atau mungkin dijual ke klub lain yang membutuhkan pemain sayap tradisional. Akhir kata, saya tidak pernah kehabisan rasa optimis kepada pemain Arsenal, tidak terkecuali Walcott. Mari berharap ia memang mampu menjadi King Henry setidaknya dalam hal kepercayaan dan nilai diri.

#COYG

Comments

One thought on “Theo Walcott: Anomali Pemain Sayap”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *