Filosofi dan Mahalnya Sebuah Inisiatif

Terkadang, kita tidak tahu apa makna sebuah langkah, sampai kita melangkah dan tersenyum bahagia pada akhirnya.

Saya mulai dengan sebuah kutipan. “Instead, yesterday represented everything that’s wrong with Arsene Wenger and his merry group of past it sycophants. Sure we took the three points, but like I’ve said so many times before, in football, you have to look at the warning signs. You have to look beyond the end result. You have to see that we’re essentially a very damaged outfit.”

Kalimat yang patut direnungkan. Pedro dari News Review, mengungkapkan bahwa meskipun Arsenal mendapatkan tiga angka, namun ada hal yang patut diwaspadai. Kita sebagai Gunners, tidak boleh berbangga dengan dua gol komikal Alexis Sanchez ke gawang Vito Mannone. Menurut Pedro, ada hal paling utama yang saat ini rusak. Seperti kanker, apabila tidak disembuhkan, kerusakan itu akan terus menggerogoti organ penting, dan akhirnya membawa kematian.

Dua gol konyol tersebut justru menjadi keprihatikan banyak pundit dan news collabolator di tim kami. Saat itu, saya merasa miris dan prihatin karena melihat betapa banyak fans yang sudah cukup puas dengan kemenangan atas Sunderland. Kenapa? Minggu lalu, Sunderland dibantai Southampton dengan 8 gol. Mental jatuh dan organisasi permainan sungguh kacau, terutama saat interchange antara menyerang ke bertahan. Arsenal bisa menang, ya….menang. Tapi dengan cara terburuk. Dua gol didapat seperti hadiah saja. Mau tidak mau, kami membandingkan apabila Sunderland malam kemarin menjamu Chelsea atau City dengan fast break dan free-flowing game-nya. Arsenal bisa menang, ya…..kemenangan hampa.

Jika kalian dengarkan dengan saksama, komentator berkata begini, “It’s unusual for Arsenal to lack fluency or there doesn’t seem to be much energy about them today. These aren’t unusual observations. Arsenal looking flat and lifeless is par the course. The added ingredient to the shit mixer at the moment is a lack of confidence.”

Inilah yang Pedro maksud dengan bahaya yang harus diwaspadai dan penyakit yang harus disembuhkan. Lack of Fluency. Fluency artinya kelancaran. Dalam beberapa laga, kita melihat bagaimana Arsenal seperti kehilangan inisiatif. Penguasaan bola memang selalu oke, tapi tidak ada breakthrough yang jadi poin esensial dalam sebuah possession game. Arsenal looking flat and lifeless. Saat melawan Anderlecht (saya melihatnya via Youtube) dan saat melawan Sunderland, pemain-pemain Arsenal banyak kehilangan momentum untuk mengalirkan bola. Pola serangan menjadi datar karena kehilangan unsur inisiatif dan nampak tidak hidup karena pemain kehilangan poin penting dari sebuah filosofi.

Jika pernah bermain gim Football Manager, pasti kalian akrab dengan filosofi retain possesion, play short pass, play at out of defence, work ball into box, dan pass into space. Semua atribut tersebut merupakan poin penting dari possession game. Passing pendek, bermain dari dasar, perlahan mendekati kotak penalti lawan, dan mempertahankan penguasaan bola. Tonggak paling penting dalam atribut di atas adalah inisiatif. Mengumpan bola artinya mengirim pesan kepada kawan. Pesan dari bola mengandung informasi soal keberadaan lawan, arah passing selanjutnya, pergerakan kawan, dan tempo permainan. Sayang, saat melawan Sunderland, semua poin penting dalam sepak bola dasar tidak diterjemahkan dengan baik. Beberapa kali passing yang diberikan justru menyulitkan kawan sendiri, jika belum menghitung kesalahan passing di daerah sendiri.

Passing berpasangan dengan movement. Cepat lambat passing berhubungan dengan gerak pemain kelanjutan dari passing tersebut. Passing pendek dan pelan artinya tidak ada lawan yang mendekat. Passing cepat artinya lawan berada cukup dekat dan tempo dinaikkan. Bagi Arsenal, info ini seharusnya bersumber dari Arteta dan Flamini. Tapi, inisiatif sederhana ini tidak tersampaikan. Akhirnya, build-up play tidak sempurna dan permain Arsenal terlihat “mati”.

Filosofi Wenger di lapangan sudah cukup jelas. Wenger bukan pelatih kemarin sore yang tidak mampu menjelaskan apa yang ia mau kepada pemain. Kenapa Arsenal bermain buruk? Tidak seperti David Moyes, yang oleh Rio Ferdinand disebut delusional, Arsene Wenger disebut Aaron Ramsey sangat detail dalam menerapkan filosofinya. Artinya, pemain Arsenal masih belum konsisten menyerap apa yang boss mau. Gambaran passing yang sederhana di atas bisa menjadi pengejawantahan bahwa gelandang (bertahan) Arsenal masih belum pintar.

Inilah yang membuat inisiatif menjadi barang mahal. Tidak percaya? Masih ingat proses gol Diego Costa? Umpan jauh Cesc adalah inisiatif. Masih ingat gol Oliver Giroud di laga debut Mesut Ozil? Skema serangan balik dan umpan tarik dari Ozil adalah inisiatif. Masih ingat gol Ramsey hasil assists Oliver Giroud di final FA? Pergerakan ke kotak penalti itulah yang namanya inisiatif.

Poin fundamental itulah yang hilang dari Arsenal dalam beberapa laga terakhir. Percikan percaya diri dan kokohnya mental tidak selalu menjadi jaminan. Belajar memahami folosofi dan menerapkannya ke dalam sebuah laga adalah hal lain yang lebih sulit. Satu poin ini, apabila tidak diwaspadai, akan menghancurkan Arsenal. Jangan bicara kutukan jika Anda tidak memahami faktor teknis dan faktor non-teknis dalam sepak bola. Sepak bola selalu berkembang dan pemahaman akan detail yang akan memberikan kesempatan bagi sebuah klub untuk berjaya (lagi).

‪#‎COYG‬

Comments

2 thoughts on “Filosofi dan Mahalnya Sebuah Inisiatif”

  1. Reblogged this on arsenalskitchen and commented:

    Kamis dini hari, Arsenal akan menjamu Sunderland. Ingat dengan pertemuan pertama antara kedua kesebelasan musim ini? Arsenal berhasil menang dengan skor 2-0. Namun, kedua gol didapat dengan cara komikal. Apakah Kamis dini hari nanti, Arsenal dapat menghindari dua kekalahan beruntun di kandang? Apakah Arsenal bisa memenangi pertandingan sebagai pijakan untuk masa depan? Ingat urgensi, ingat inisiatif

    #COYG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *