Urgensi dan Teori Kecemasan Sigmund Freud

Tekanan selalu ada dalam kehidupan, namun semua kembali ke diri kita untuk menepisnya. 

Kekalahan Heroik (Lagi)

Sam Wallace, dalam kolomnya di independent.co.uk menyebut tidak ada tim lain yang merasakan kekalahan heroik di Liga Champions sebanyak Arsenal. Lim kali terdepak dari babak 16 besar Liga Champions secara beruntun dalam lima musim terakhir sungguh fakta yang mengganggu. Tadi malam, sekali lagi, Arsenal membuat para fans-nya senam jantung.

Kalah 1-3 di leg pertama merupakan bencana, terutama gol ketiga dalam laga tersebut. Meskipun mampu mencetak dua gol di leg kedua, Arsenal tetap tersingkir karena kalah dalam hal produktivitas (agregat 3-3). Kegagalan lolos ke babak 8 besar musim ini disebut sebagai “hasil paling mengecewakan” bagi Arsene Wenger apabila membandingkan dengan kegagalan terdahulu. Ya, Monaco (bukan maksud tidak hormat), dipandang sebagai lawan yang lebih ringan ketimbang Barcelona atau Bayern Munich, “kekasih sejati” Arsenal di Liga Champions.

Kelegaan menghindari lawan-lawan berat di babak 16 besar tidak dibarengi dengan kesadaran penuh bahwa Arsenal berdansa di ajang Liga Champions, sebuah kompetisi magis yang kejam. Perasaan menang sebelum berperang membuat asa membuncah dan harapan melambung tinggi. Namun, setelah leg pertama berakhir, asa dan harapan jatuh dibanting ke jurang terdalam. Tidak ada alasan untuk terus meratapi kegagalan ini, mari kita lihat apa yang terjadi.

Leg pertama digelar di Emirate Stadium dan para pemain memikul harapan Gunners seluruh dunia. Laga berjalan sedang-sedang saja di paruh awal laga sebelum sebuah sepakan geledek dari Kondogbia merobek jala Ospina. Setelah gol tersebut, ingatan buruk mampir sambil menampar dengan keras. Nyatanya, Arsenal seperti kehilangan momentum, kurang kreatif, dan terbentur dengan kedisiplinan Monaco. Oxlade-Chamberlain mencetak gol cantik untuk The Gunners namun skor 1-3 sudah “membunuh” sebagian laga.

Pada leg pertama tersebut, Arsenal pastinya sudah paham mereka akan menjamu tim dengan pertahanan terkuat di Liga Champions, dan terbukti. Tim pelatih juga pastinya sudah sadar dengan taktik untuk counter tim dengan pertahanan bagus. Para pemain juga sadar mereka harus efisien dan tidak membuat kesalahan. Apa lacur, di leg pertama, yang terjadi justru kebalikan dengan perkiraan di atas.

Kesalahan adalah unsur kecil dalam sepak bola, tetapi berdampak masif. Kesalahan dasar seperti mengoper bola menular ke kesalahan sistemik lainnya. Gol pertama datang, lalu disusul gol kedua. Para pemain tertekan dan sistem permainan menjadi terganggu. Mental, menjadi bagian rapuh dan terus tergerus. Para pemain seperti kehilangan modal penting yang harus dikantongi sebelum laga, yaitu URGENSI.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, urgensi artinya sesuatu yang sangat penting. Memang, para pemain pasti tahu apa makna tampil di panggung semegah Liga Champions. Mereka juga paham dengan sebab-akibat yang akan terjadi, baik positif maupun negatif. Namun, cara bermain mereka tidak menggambarkan hal itu. Per Mertesacker mengakui bahwa Monaco layak lolos karena bermain lebih baik di leg pertama. Koscielny juga mengamini bahwa hasil leg pertama bersifat catastrophic atau bencana besar.

Untuk menang, sebuah tim harus sadar dengan tanggung jawab dan secara sadar melaksanakannya. Untuk menang, tim harus tahu bahwa mereka bermain dengan beban besar bernama harapan. Mental menjadi modal utama sekali lagi. Ekspektasi tinggi di lingkungan menjadi sangat wajar apabila Anda dipandang lebih “mampu” ketimbang sang tamu. Nilai diri pernah saya tuliskan di artikel sebelumnya. Sayang sekali lagi, Arsenal gagal memahami dan mewujudkan nilai urgensi dalam kehidupannya di Liga Champions.

Freud dan Kecemasan

Lalu, kenapa Arsenal gagal merajut mental dan mewujudkan urgensi mereka? Sigmund Freud menjelaskan ada tiga bentuk kecemasan yang sering hinggap ke diri manusia, yaitu kecemasan realita, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral.

Kecemasan realita adalah kecemasan yang datang dari dunia luar yang derajatnya tergantung dari ancaman nyata yang hadir. Kecemasan neurotik berhubungan dengan insting sedangkan kecemasan moral berkaitan dengan rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Arsenal sendiri terjebak dalam dua kecemasan, yaitu realita dan moral.

Kecemasan realita bagi Arsenal datang dari dua sisi, yaitu ekspektasi dan sang lawan. Sejak awal musim, Arsenal disebut mempunyai skuat yang cukup baik, bahkan punya tiga juara dunia di dalamnya. Saat jendela transfer bulan Januari, Arsenal juga memboyong bek tengah yang cukup oke. Setelah undian babak 16 besar, Arsenal tersenyum lega karena berhasil menghindari tim-tim raksasa langganan mereka. Sebaliknya, Arsenal akan bertanding melawan Monaco, tim dari pot 4 yang kurang diunggulkan.

Di titik ini, ekspektasi untuk melaju ke-8 besar menjadi sangat besar. Jelas, Arsenal sendiri belum pernah menjuarai Liga Champions dan melawan Monaco akan menjadi jalan yang dipandang sedikit “lapang”. Saat titik beban mencapai puncaknya, manusia akan menderita. Para pemain Arsenal merasakan beban harapan dan jelas memengaruhi gerak dan pola pikir mereka di lapangan. Rasa cemas lantaran gagal memenuhi ekspektasi banyak pihak jelas tergambar.

Rasa cemas tersebut kian menjadi beban saat ancaman nyata datang dari sang tamu, AS Monaco. Klub asal Perancis tersebut datang dengan status sebagai tim dengan pertahanan terbaik di Liga Champions. Lawan-lawan mereka di putaran grup memang bukan tim-tim mewah. Namun, jangan lupa bahwa ini panggung Liga Champions dengan tensi luar biasa. Monaco bermain tenang dan percaya dengan tangguhnya lini pertahanan. Mereka hanya perlu satu pemantik untuk mengubah laga, yaitu sebuah gol.

Sepakan jarak jauh Kondogbia seperti palu godam bagi Arsenal. Bagi Monaco, gol tersebut menebalkan mental dan kepercayaan diri. Sisanya adalah bencana bagi tuan rumah. Ancaman serangan balik dan harapan yang sundul langit membuat pemain Arsenal tidak mampu bergerak dengan lepas. Kekalahan menjadi hal yang wajar bagi tim yang tidak mampu lepas dari tekanan dan bermain dengan dewasa.

Kecemasan semakin menumpuk dan melahirkan rasa cemas yang baru. Kekalahan di depan mata membuat Arsenal semakin terpuruk dalam laga tersebut. Rasa menyesal dan bersalah mengisi sebagian dada para pemain. Moral mereka terganggu dengan kegagalan membuat para fans tersenyum. Hati nurani yang terluka, beban harapan, dan skor 1-3 membuat Arsenal jatuh.

Memang, selepas laga leg pertama, Arsenal sempat bangkit dan mencatatkan lima kemenangan beruntun. Namun, saat laga leg kedua berjalan, kecemasan tidak mungkin bisa dibuang begitu saja. Sebelum laga, saya sudah menekankan pentingnya bermain efisien. Nampaknya, tingkat efisiensi Arsenal tidak dibangun dengan baik. Kecemasan membelenggu kaki dan kreativitas mereka. Kecemasan membunuh harapan dan masa depan. Kini, saatnya bangkit dan menatap tanggung jawab dengan mata dan hati terbuka.

Tekanan selalu ada dalam kehidupan, namun semua kembali ke diri kita untuk menepisnya.

#COYG

Comments

2 thoughts on “Urgensi dan Teori Kecemasan Sigmund Freud”

  1. Menang kalah boleh saja, asal tepat waktunya. Sayangnya Arsenal lupa. Kemenangan dua golpun jadi tak guna. Andaikan terbalik skornya, kalah 2-0 lalu menang 3-1. Andaikan. Suka cita kita.

    1. Yahh, pertandingan sudah terjadi dan Arsenal tersingkir. Namun, performa di leg kedua bisa menjadi modal bagus untuk masa depan. Terdengar klise karena sudah lima musim Arsenal gak tembus ke 8 besar. Saat ini kita hanya bisa yakin dan mendoakan yg terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *