Tentang Kekhawatiran dan Musuh Besar

“Usaha menyeberangi sungai deras dimulai dengan menyelami diri sendiri”.

Mari berbicara soal kekhawatiran….
Torehan rekor kembali diukir Arsenal. Bukan rekor menyenangkan, tetapi catatan yang sudah waktunya disingkirkan dan dilupakan. Lima kali gagal lolos ke babak 8 besar dalam lima musim berturut-turut jelas merupakan rekor. Di kompetisi domestik sendiri Arsenal sudah tidak menjadi ancaman nyata sejak tahun 2005, setelah era The Invincibles berakhir.

Apa yang salah? Skuat yang kalah mentereng ketimbang Chelsea atau Manchester City? Cidera yang masih saja manja dan betah bermesraan lama-lama? Skuat muda dan tanpa pemimpin ideal? Semua pertanyaan sudah pernah dilontarkan, dijawab, untuk kemudian dilupakan (solusinya). Musim baru dimulai dengan optimisme yang sama, namun dengan kekalahan dan kesedihan yang kembar identik.

Saya pernah menuliskan mahalnya sebuah inisiatif sebagai dorongan mencapai level yang lebih baik. Saya juga pernah menegaskan pentingnya menyadari urgensi dalam sebuah laga. Namun, nampaknya penggalian yang saya lakukan belum akan sempurna tanpa pembenahan pola pikir setiap individu di dalam “masyarakat Arsenal”. Pola pikir yang akan menjadi pemicu inisiatif dan fondasi pemahaman tanggung jawab dalam sebuah urgensi kehidupan (baca: pertandingan).

Saya sendiri percaya diri dengan kualitas setiap individu yang dimiliki Arsenal. Para pemain mempunyai kelebihan dan kualitas yang bahkan sebenarnya mampu bersaing dengan raksasa Catalan atau Bavaria. Namun nampaknya, kualitas individu tidak akan mampu berbicara banyak apabila tidak diikat dengan pemahaman kolektif dalam batasan tanggung jawab. Di dalam pemahaman kolektif, setiap pemain dituntut untuk menyamakan persepsi dan bertanggung jawab dengan tujuan yang ingin diraih. Tiap individu tidak boleh seenaknya sendiri melupakan tanggung jawab kolektif dan membiarkan rekan-rekannya menanggung semuanya sendirian.

Jika tidak mampu menyamakan persepsi, maka tidak heran apabila sistem tidak berjalan. Para pemain bermain tanpa kompas, menyulitkan diri sendiri, dan pada akhirnya membuat tim menderita. Oleh sebab itu, setiap insan di dalam “masyarakat Arsenal” harus mampu menunjukkan bahwa ia mengemban tanggung jawab dan ingin mencapainya secara kolektif. Kesadaran individu untuk naik ke level lebih baik, akan menjadi modal berharga untuk berproses menuju tujuan agung setiap musim, yaitu kejayaan.

Teori di atas hanya akan berlaku apabila pemain menyadari tanggung jawab sekaligus kondisi yang berkembang dan menjadi batasan harapan. Selepas tahun 2005, Arsenal belum pernah menjadi juara di Premier League dan hanya mentok sebagai juara dua di Liga Champions. Tekanan harapan dan ekspektasi menjadi semakin berat seiring berjalannya waktu. Faktor ini jelas menjadi salah satu pemicu rasa khawatir kepada individu di dalam “masyarakat Arsenal”.

Rasa khawatir yang besar tidak akan membantu. Perasaan terikat ini hanya akan menyulitkan setiap pemain menyamakan persepsi secara kolektif. Pemain dengan beban khawatir di pundak akan merusak kehidupannya secara perlahan-lahan dan membersar seiring kegagalan yang hinggap. Arsene Wenger, dalam konferensi pers-nya jelang melawan Newcastle United menegaskan bahwa menemukan dan mempertahankan konsistensi kini menjadi hal penting.

Ingat Monsieur, mempertahankan selalu menjadi usaha mahaberat. Dibutuhkan rasa percaya dengan kemamuan diri sendiri dan rekan-rekan di sekitarnya. Jika gagal menemukan “level super” di dalam diri sendiri, maka niat mencapai konsistensi hanya akan menjadi musuh besar yang menggerogoti diri dari dalam. “Merasa mampu” tidak akan pernah cukup. Para pemain harus berjalan dari titian yang sama, yaitu kuat dari dalam diri dan kokoh saat bergandengan tangan.

Jadi, saat ini, Arsenal terjebak dalam dua musuh besar, yaitu mengalahkan diri sendiri dan memacunya mencapai level konsistensi. Dua musuh besar tersebut bukan perkara yang mudah “dibinasakan” karena mempunyai anak buah dalam wujud faktor teknis dan non-teknis. Faktor-faktor peluntur kepercayaan diri ini mulai meracuni dari setiap individu, lalu menulari pikiran orang sekitar.

Kesimpulannya adalah menemukan kekuatan dari dalam diri sendiri dan memupuknya menjadi senjata utama. Berkembang menjadi lebih baik dimulai dari diri sendiri akan menjadi langkah awal menjadi raksasa bagi kehidupan masing-masing.

Kekhawatiran sendiri tidak akan pernah musnah. Ia berkembang, menyesuaikan dengan inangnya…..

#COYG

Comments

One thought on “Tentang Kekhawatiran dan Musuh Besar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *