Guru yang Baik Bernama Liverpool

Tulisan ini memang tercium agak basi, mungkin berjamur. Tetapi kita bisa belajar di mana saja dan kapan saja bukan? Termasuk dari Liverpool. Terima kasih Liverpool.

Akhir minggu yang lalu menjadi akhir minggu penuh berkah untuk para Gooners. Kenapa? Karena kita diajari sebuah nilai luhur dalam kehidupan oleh Liverpool. Bagaimana tidak, Liverpool dengan senang hati dan iklas menunjukkan bahwa di dalam kehidupan, kita tidak boleh membuat kesalahan berulang-ulang.

Di mulai pada awal babak pertama, Liverpool dengan bijak menerjemahkan kalimat “Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri”. Liverpool menunjukkan bahwa kita harus berani bertarung dengan diri sendiri. Bertarung mengalahkan rasa “kecil” dan kegugupan yang menyertainya. Liverpool sangat baik mau menunjukkannya lewat kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat di awal babak pertama. Contoh salah passing, salah mengontrol bola, salah membaca pergerakan kawan, hingga salah menempat diri di dalam tekanan adalah contoh-contoh kesalahan yang sudah dengan baik hati disajikan Liverpool.

Seperti sebuah parade, rentetan kesalahan akan melemahkan hati dan menggiring kita ke jurang kekalahan.

Liverpool bahkan mengajarkan kepada kita makna ungkapan dari Albert Einstein, yaitu “Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.” Ya, Liverpool dengan bijak menunjukkan bahwa sebuah kesalahan bukan akhir dari perjuangan hidup. Namun, kita dapat hidup dengan lebih kuat setelah mampu berlajar dari kesalahan. Memang benar apa kata Einstein. Namun, bagaimana bila kiat tidak mau belajar dari kesalahan? Nah, masih dengan sangat bijak, Liverpool menunjukkan semua kesalahan tersebut.

Setelah berkali-kali membuat kesalahan dasar dalam teknik sepak bola, Liverpool dengan baik menunjukkan bagaimana apabila seorang pemain alpa menutup ruang terbuka di daerah pertahanannya. Gol pertama Arsenal yang dicetak Bellerin dan gol ketiga yang dicetak Alexis Sanchez menunjukkan kegagalan menutup ruang. Pemain Liverpool yang memarking Bellerin tidak mendapatkan back-up untuk menutup ruang di belakangnya. Kelebat Bellerin tidak dapat dikejar dan dengan mudah wonderkid asal Spanyol tersebut membobol gawang Liverpool. Gol kedua kurang lebih sama. Ramsey yang mendapatkan ruang dengan mudah mengoper bola kepada Alexis.

Seperti sebuah parade, rentetan kesalahan menutup ruang (baca: ego) akan membawa manusia kepada ketidak-harmonisan.

Pelajaran ketiga yang dibagikan Liverpool adalah, masih menjabarkan arti kalimat Einstein, yaitu “Anda harus memahami aturan permainan. Kemudian Anda harus bermain lebih baik daripada pemain lain.” Aturan permainan tidak berkaitan dengan aturan dalam sepak bola, tetapi mengenai cara bermain. Cara bermain merupakan pola atau boleh disebut sebagai gaya bermain yang sudah dilatih. Ini adalah dasar setiap tim untuk merespons setiap pertandingan. Biasanya sudah dipersiapkan sepanjang latihan dan akan digelar (harapannya dengan baik) saat pertandingan.

Nah, kita semua tahu apabila cara bermain bisa diterapkan dengan baik, sedangkan atribut yang menghidupakan cara tersebut bermain lebih baik ketimbang lawan, maka tidak ada pertandingan yang tidak bisa dimenangi. Liverpool kembali menunjukkannya dengan sangat bijak dengan ke-amburadulan penerapan cara bermain mereka, terutama di lini pertahanan. Pola tiga bek tidak didukung gelandang sentral yang mobile dan peka dengan perubahan gaya bermain Arsenal, baik saat kehilangan bola atau sedang bertahan.

Seperti sebuah parade, jika tidak diterapkan dengan baik, sebuah ilmu justru akan menjadi racun bagi si empunya.

So, Liverpool sudah dengan bijak, sekali lagi saya tegaskan, mau menunjukkan bahwa sebuah kesalahan tidak bisa dilakukan dua kali. Kesalahan pertama mungkin terjadi di luar kehendak dan kemampuan manusia, namun kesalahan demi kesalahan yang kemudian terjadi sudah masuk dalam ranah niat dan kesadaran. Liverpool menunjukkan bahwa tiadanya niat dan kesadaran membenahi kesalahan akan membawa kita ke jurang kekalahan.

Oleh sebab itu para Gooners, jangan lupa untuk berterima kasih kepada Liverpool atas pelajaran kehidupan yang sudah mereka bagikan. Sekarang terserah kepada Arsenal untuk terus fokus dengan kemampuan diri sendiri dan mengeluarkannya dengan penuh niat dan kerja keras.

Terima kasih Liverpool!! #COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *