Catatan Dari Burnley: El Familia

Terjangan datang bagai badai dan banjir, alirnya deras dan menyakitkan. Namun, mereka bertahan dan bersatu untuk menyambut sinar matahari setelah badai pergi.

Sesuai dengan prediksi dan perkiraan, Turf Moor berubah menjadi padang perang. Sinar matahari yang sejuk menjadi kawan cucuran keringat para ksatria Burnley yang bermain tanpa takut. Lawannya, The Gunners Arsenal berjuang untuk mencari kesempurnaan. Sebuah tataran tinggi yang hingga saat ini masih sedang diperjuangkan dengan susah payah.

Sepuluh menit laga berjalan, mata seperti silap dengan kegigihan Burnley mengejar kaki-kaki lincah para pemain Arsenal. Tabrakan terjadi silih-berganti, peluit wasit dibuat basah dengan ludah yang terus-menerus muncrat. Tackle keras hilir-mudik, kedebam tubuh pemain Arsenal diiringi koor bahagia para suporter Burnley. Bak para gladiator, para pemain Burnley “bertarung” untuk mencari kebebasannya, bebas dari renggutan jurang degradasi yang masih menganga.

Setengah jam laga berjalan, Arsenal bermain dengan tenang, membangun serangan dengan gaya dan lincah. Bak seorang balerina, Alexis Sanchez, Mesut Ozil, dan Santi Cazorla berjingkat menghindari juluran kaki dan terjangan tubuh bau keringat para pemain Burnley. Dan, sebuah intersep manis dari mesin jagal Arsenal, Francis Coquelin, mengawali sebuah puncak erotisme bagi semua Gunners di seluruh dunia.

Bola disodorkan dengan tegas bak pemain futsal, pesan cinta dari sebuah passing disampaikan Coquelin kepada Alexis Sanchez yang berdiri berkawan ruang. Pemain bertubuh liat dari Chille tersebut menggoreng bola sejenak, berjingkat lagi, lalu meliuk sebelum melepaskan tendangan keras. Sayang, barisan pertahanan Burnley paham betapa taring Alexis sangat menyengat. Ditutupnya jalur tembakan dengan juluran kaki dan berhasil. Bola memantul liar di kotak penalti, para suporter Burnley berdiri, detak jantung mulai tidak karuan. Bola bergulir ke arah kanan gawang dengan cepat, ke arah Mesut Ozil yang tampan. Tidak seperti biasanya, Ozil tidak berpikir terlalu rumit saat memegang bola. Kaki ia ayunkan, bola melaju deras menuju sela kaki kiper yang terbuka.

Bola tak kuasa dikuasi kiper, bola memental kembali ke depan gawang. Datang seperti kilat, Alexis sekali lagi mencium bau peluang. Berlari dia menerjang bola dengan kaki kirinya. Bola melontar, tapi sekali lagi barisan pertahanan Burnley entah siapa namanya, berjibaku menyelamatkan masa depannya. Sementara itu, para suporter di belakang gawang, masih dengan berdiri, mulai cemas saat melihat bola liar jatuh ke kaki Aaron Ramsey. Semua suporter Burnley di belakang gawang tau sihir yang akan terlontar apabila Ramsey berhasil mencetak gol. Benar saja, terjangan bek Burnley masih belum cukup untuk menghentikan kelokan bola. Kaki Ramsey menerjang di antara kaki lawan, bola melontar ke arah jala atap gawang lalu masuk dengan mulus, para Gunners bersorak, Arsene Wenger tersenyum seperti biasanya, dan di Indonesia James Sehertian meninggal dunia (Rest in Peace, James).

Gol yang hadir di pertengahan laga membuat kemenangan besar atas Liverpool kembali terbayang. Minimal lima gol bisa Arsenal hasilnya, mungkin itu yang terbayang di sebagian benak para Gunners. Namun, impian indah tersebut tidak menjadi kenyataan. Para pemain Burnley tidak membiarkan para pemain Arsenal gagal berkeringat waktu itu. Para pemain Burnley menyambut ketinggalan satu gol dengan garang. Taktik anti-kreativitas mulai digelar lebih kejam. Benturan-benturan badan mulai marak. Entah, apakah Burnley atau Stoke City yang bermain malam itu.

Di babak kedua, drama kekejaman masih terus berlanjut. Di lini masa Twitter dan forum Facebook, banyak Gunners yang mengeluhkan betapa kejamnya Burnley bermain. Memang, laga tersebut berjalan keras, namun harus diingat bahwa Burnley masih bermain dengan sportif. Harus dimaklumi juga bahwa mereka harus bisa menekan ledakan-ledakan urgensi dalam wujud kreatifitas dan ketajaman para pemain Arsenal. Maka, mau tidak mau, mereka menggelar adu fisik yang membawa laga ke level membosankan. Dalam diri para pemain mungkin berkecamuk ingin bermain lepas, menyerang, dan terus menekan. Namun, demi ikatan taktik, mereka dengan profesional menutup nurani dan bermain laiknya ksatria.

Ya, seperti seorang ksatria, para pemain Burnley harus bertarung dengan segenap daya dan upaya untuk lepas dari bencana degradasi. Sebaliknya, para pemain Arsenal juga harus berjuang dengan tetes darah untuk kembali mencecap manisnya kejayaan. Selisih poin dari Chelsea di puncak memang sulit dikejar, namun sebuah harapan tentu tidak boleh padam. Maka, benturan-benturan tujuan mulia mewarnai laga Burnley melawan Arsenal, dua tim yang bersatu.

Susah payah kedua tim menutup kesalahan, memaafkan kealpaan yang rekan perbuat. Para pemain dari kedua klub saling mengisi dan membantu dengan tanpa pamrih. Para pemain memahami bahwa jika mereka bersatu, banyak kesulitan yang bisa diatasi. Maka, tidak beda bukan dengan keluarga bukan?

Keluarga bukan hanya soal pertalian darah, tapi lebih dari itu. Keluarga adalah bersatunya jiwa untuk menerima kegagalan. Keluarga adalah segalanya.

Laga berakhir dengan nol untuk Burnley dan satu untuk Arsenal, yang artinya posisi kedua aman untuk saat ini. Untuk Arsenal, niat untuk terus bersatu adalah kunci untuk mencapai level baru. Sebuah level yang dirancang sejak 9 tahun silam. Sebuah level yang sudah kami, para Gunners rindukan. Jadilah sebuah keluarga yang solid. Di dalam El Familia, seperti kata Dom Toretto, tidak akan ada yang ditinggalkan dan dibiarkan berjuang sendiri. Di dalam El Familia, ada rumah tempat haribaan bersama.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *