Semifinal FA Cup: Arsene Wenger vs Jurgen Klopp

Sikap individu bisa menjadi wajah sosial, sedangkan masyarakat bisa menjadi cerminan pola pikir individu. Masalah terjadi saat wajah dan pola pikir tersebut saling bertumbukan. 

Tiga hari yang lalu, berita mundurnya Jurgen Klopp sebagai pelatih Borussia Dortmund meledak. Kabar ini langsung menyita headline beberapa media di Eropa. Maklum, Klopp adalah sosok pelatih muda dengan kharisma dan pendekatan yang menarik. Jika kita ingat kembali, nama Klopp memang sudah lama akan hengkang. Jadi, setelah akhirnya menjadi kenyataan, berita tersebut tidak mengherankan, paling tidak untuk saya.

Oke, paragraf tersebut adalah latar belakang untuk tulisan singkat ini. Efek domino hengkangnya Klopp tentu mencakup di mana ia akan melatih musim depan. Klub-klub tersohor di Eropa paham kualitas Klopp. Bukan tidak mungkin terbersit di benak mereka: “Andai Klopp melatih di sini” Pengandaian tersebut juga bukan tidak mungkin terbersit selintas di hati para bapak-bapak dan ibu-ibu di manajemen Arsenal. Atau, bahkan mungkin di hati para pemain dan fans. Maka, pikiran nakal soal bagaimana sikap Arsene Wenger sebenarnya tentu sangat menarik diperbincangkan.

Andai aku menjadi Wenger…

Bukan rahasia lagi apabila nama Klopp menjadi idaman para Gunners untuk menjadi suksesor Wenger. Klopp masih muda (47 tahun), dekat dengan pemain, punya karisma, punya pendekatan taktik yang berbeda, tidak gamang melepas dan membeli pemain, dan masih banyak lagi kelebihan dirinya. Wenger, yang baru akan habis kontrak pada tahun 2017 sudah digaransi oleh manajemen akan terus melatih. Tegas, manajemen mendukung Wenger menyelesaikan masa baktinya.

Tapi, pikiran nakal tentu menghantui kita. Bagaimana apabila musim depan Wenger legowo mundur dan merangkul Klopp untuk meneruskan pondasi yang sudah ia buat? Nah, situasi jiwa di sekitar masalah ini tentu sangat menarik. Apabila kabar menggelitik ini meledak sebelum laga semi-final FA Cup melawan Reading. Eskalasi harapan tentu akan meningkat. Jika kalah dan tersingkir dari FA Cup, tentu gelombang #WengerOut #KloppIn akan kembali membahana.

Eskalasi harapan ini momok bagi saya. Beban tidak perlu berupa pandangan orang lain atau tekanan berprestasi terkadang menjadi musuh sebenarnya bagi pelatih atau pemain ketimbang rival di lapangan hijau.

Saat ekspektasi meningkat dan diri Anda sedang diukur dengan kualitas orang lain, maka kesalahan kecil bisa menjadi kiamat bagi Anda.

Saya tidak ingin membandingkan Wenger dengan Klopp, pun juga mendukung gelombang #OneArseneWenger atau #WengerOut. Tapi, dengan keadaan seperti ini, dengan nada yang terdengar bombastis, laga semifinal FA Cup justru menjadi arena menyabung kualitas Wenger dan visi Klopp. Wenger, dengan totalitas membangun pondasi ekonomi Arsenal atau Klopp, dengan kemudaan dan gairahnya dalam sepak bola.

Tanpa mengecilkan Steve Clarke dan Reading, laga semi-final justru akan menjadi laga virtual antara realita dan harapan. Tulisan yang memang bernada bombastis dan kurang ajar di benak pembaca. Tapi, jika saya menjadi Wenger, situasi ini jelas akan melintas di benak, entah melintas dengan cepat dan terlupakan atau melintas dengan lambat dan menjadi penyakit.

Sebagai Wenger, fokus akan menjadi barang mewah. Jelas, Reading tidak boleh diremehkan. Arsenal sudah terlalu akrab dengan drama, maka di semifinal nanti, menang dengan nyaman akan menjadi penegasan yang manis. Penegasan bahwa ini bukan laga Wenger vs Klopp. Biarkan laga melawan Reading menjadi Wenger vs dirinya sendiri.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *