Kenapa harus merotasi pemain Monsieur Wenger?

Rotasi pemain terkadang menjadi pedang bermata dua. Tajamnya melukai lawan dan si empunya pedang sendiri. Beruntung, Arsenal selamat dari perihnya luka-luka rotasi dan keluar sebagai yang tersenyum paling akhir.

Setelah 88 tahun berlalu, akhirnya Reading tampil di babak semi-final FA Cup lagi. Sementara itu, Arsene Wenger menjalani laga semi-final ke-10 selama melatih anak-anak Arsenal. The Gunners turun dengan status juara bertahan setelah musim lalu dengan sukses mengakhiri dahaga puasa gelar selama 9 tahun. Reading sendiri turun sebagai under-dog dan tidak dijagokan akan menembus fase puncak.

Untul laga semi-final ini, Arsenal merotasi beberapa pemainnya. Di posisi kiper, Wojciech Szczesny kembali berdiri di bawah mistar gawang. Kieran Gibbs mengawal sisi kiri pertahanan, sedangkan Mathieu Debuchy, yang akhirnya bisa bermain lagi setelah cidera cukup lama, turun sejak menit awal. Di pos striker, Danny Welbeck dipercaya menggantikan Oliver Giroud. Per Mertesacker, Laurent Koscielny, Francis Coquelin, Santi Cazorla, Aaron Ramsey, Mesut Ozil, dan Alexis Sanchez masih menjadi andalan.

Memang, untuk laga-laga FA Cup, Wenger sering merotasi beberapa pemain. Ditambah lagi, beberapa pemain yang sebelumnya didera cidera sudah siap untuk dimainkan. Mathieu Debuchy bermain sejak menit awal dan Jack Wilshere sudah duduk di bangku cadangan. Debuchy, yang tempatnya digantikan oleh Hector Bellerin dengan brilian bahkan bermain penuh selama 120 menit. Agak aneh ketika Wenger tidak mencantumkan nama Bellerin di dalam skuat, bahkan tidak untuk duduk di bangku cadangan. Untung saja Debuchy, yang belum mencapai match fitness terbaik bisa melewati laga ini tanpa cidera lagi.

Nah, meskipun sukses melewati laga ini tanpa cidera lagi, sayangnya Debuchy gagal tampil baik. Beberapa kali, bek asal Perancis tersebut kehilangan momentum untuk ikut membangun serangan. Debuchy gagal membantu Aaron Ramsey yang di dalam laga di plot bermain melebar. Debuchy juga beberpaa kali gagal menemukan timing mengirim umpan silang. Saat bertahan, Debuchy juga tidak sedisiplin saat dia berada di level kebugaran terbaik. Bahkan, gol penyama kedudukan yang dicetak Reading juga berasal dari penetrasi di sisi kanan pertahanan.

Catatan untuk proses gol Reading, dapat dipahami apabila seorang Wojciech Szczesny turun berlaga. Setelah tampil sangat buruk saat menghadapi Southampton, Szczesny kehilangan tempatnya dan digantikan David Ospina, yang tampil solid dan tidak membuat kesalahan fatal. Saat menghadapi Manchester United, Wojciech Szczesny tampil cukup baik. Partai semi-final ini kembali menjadi panggung pembuktian bagi kiper asal Polandia tersebut. Sayang, ketika diharapkan tampil solid, Wojciech Szczesny justru membuat kesalahan saat gagal mengantisipasi bola liar yang menyusup lewat sela kaki Kieran Gibbs.

Tidak jelas yang dilakukan Szczesny saat gol terjadi, entah apakah ia ingin menangkap atau menepis bola keluar. Timing membaca gerak bola menjadi salah kaprah ketika dorongan gravitasi memaksa gerak jatuh Szczesny lebih cepat ketimbang bola yang membentur Gibbs. Sebenarnya, agak kurang adil apabila menilai penampilan Szczesny dari satu kesalahan tersebut. Namun kita tahu, seorang kiper tidak akan pernah mendapatkan toleransi apabila membuat kesalahan. Satu kesalahan bisa menentukan jalannya pertandingan, bahkan kekalahan. Kegamanangan Debuchy dan Szczesny inilah yang membuat rotasi Wenger menjadi dipertanyakan. Apabila ingin memberikan waktu bermain untukk keduanya, ajang sebesar semi-final FA Cup terlalu sayang untuk “dilepaskan” begitu saja. Berbeda apabila Arsenal masih berlaga di putaran keempat atau kelima.

Soal jalannya pertandingan, mau tidak mau, saya harus menyoroti kinerja kedua wing-back yang tidak tampil stabil. Gibbs sempat tidak bertenaga ketika ikut membangun serangan di babak pertama. Bek asal Inggris tersebut memang tidak bermain buruk. Namun jelas, Gibbs harusnya bisa bermain lebih hidup mengingat ia menggantikan Nacho Monreal yang solid di beberapa pertandingan terakhir. Untuk bek kanan, well, dengan sedih saya tegaskan bahwa Debuchy belum laik tampil di laga dengan tempo cepat, beradu fisik, serta tajam saat bertahan dan menyerang.

Secara keseluruhan, Arsenal memang tidak bermain di level terbaiknya. Beberapa kali salah passing merusak tempo yang dibangun. Pemanfaatan ruang ketika Danny Welbeck dan Alexis Sanchez bermain berdekatan juga kurang maksimal. Ozil dan Ramsey sempat kesulitan menemukan jalur operan ketika membangun serangan dari sisi lapangan. Menumpuknya pemain Reading memang menjadi salah satu penyebabnya, namun kreativitas yang tidak berkembang adalah penyebab utama.

Kredit untuk Reading yang bermain sangat disiplin, terorganisasi, percaya diri, dan cukup berbahaya saat serangan balik. Robson-Kanu, Nathanael Chalobah, Jamie Mackie, hingga Pavel Pogrebnyak berhasil menghadirkan mimpi buruk untuk Arsenal. Pressing ketat di sekitar lingkaran tengah dari Reading juga berjalan dengan cukup baik. Reading juga “membaca” laga Burnley melawan Arsenal dengan baik. Mereka memperagakan adu fisik dengan baik. Terlepas dari performa wasit yang tidak maksimal, Reading memang melakukan segelanya untuk menang dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Kembali ke soal rotasi pemain ada satu catatan pamungkas dari saya. Jika, dan hanya jika, seorang Bellerin dengan kecepatan dan keberanian masuk ke kotak penalti  ditambah Ospina yang solid diturunkan Wenger, mungkin opsi-variasi serangan di sisi kanan akan bertambah dan Arsenal tidak perlu kebobolan karena “eror kecil” dari Szczesny. Mungkin, apabila Monreal yang bermain, sisi kiri lapangan akan lebih hidup.

Intinya, rotasi memang penting, namun “timing” sebuah keputusan menurunkan pemain dengan tepat jauh lebih penting. Beruntung Arsenal memiliki Mesut Ozil dan Alexis Sanchez dengan flair dan imajinasi yang tinggi. Jika, dan kembali hanya jika, Arsenal tidak memiliki keduanya, mungkin harapan mempertahankan gelar juara FA Cup akan terbuang dengan percuma. Kini, satu tempat di laga final sudah digaransi menjadi milik Arsenal. Jika memang ingin mempertahankan gelar juara FA Cup, kenapa harus merotasi pemain Monsieur Wenger?

#COYG

Comments

4 thoughts on “Kenapa harus merotasi pemain Monsieur Wenger?”

    1. Realistis, hasil imbang mungkin bisa terjadi. kalau Arsenal bisa taktis dan tajam manfaatkan peluang, maka kemenangan bisa diraih. Chelsea bahaya di pergerakan individu dan solid di belakang. Artinya, kalau mau atasi hal ini, kembali lagi, penguasaan bola harus efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *