Gus Dur dan Keperawanan Jose Mourinho

Selain adu taktik, laga akbar antara Arsenal vs Chelsea di hari Minggu nanti akan menjadi pertarungan konsistensi mental dan ketebalan niat.

richard pelham
kredit foto: Richard Pelham (dimuat di The Sun)

Seri pertama derby kota London musim ini berakhir dengan kemenangan Chelsea. Skor akhir adalah 2-0 dan Arsenal kalah di semua aspek pertandingan, bahkan gagal mencatatkan shoot on goal. Mulai dari progres dan variasi membangun serangan, compactness ketika bertahan seketika, adu fisik dan mental, hingga percikan-percikan niat yang melandasi setiap aksi. So, seri kedua besok Minggu akan menjadi perulangan pertarungan di semua aspek di atas. Laga nanti jelas akan berbeda seiring perkembangan kedua tim, terutama bagi Arsenal yang sejak bulan Januari lalu seperti menemukan pijakan dan setelan tim yang tepat. Kekalahan dari Tottenham Hotspur justru seperti membangunkan identitas “big fish” yang selama ini tertidur. Suatu keadaan ideal untuk menyambut Jose Mourinho.

Pada pertemuan pertama musim ini,  skuat Arsenal, khususnya Arsene Wenger, hanyut dalam tensi tinggi pertandingan. Kilat-kilat perseteruan terlihat nyata dari pertarungan fisik yang digelar armada Chelsea. Skuat asuhan Jose Mourinho memang menggelar adu fisik untuk meredam kreativitas dan perkembangan permainan Arsenal. Kondisi ini memicu sejumlah kontak fisik yang berujung pada permainan keras. Tak ayal, skuat Arsenal terbawa dengan nuansa laga, tidak terkecuali Arsene Wenger. Manajer asal Perancis tersebut tertangkap kamera berselisih dengan Mourinho secara fisik ketika Alexis Sanchez mendapat tackle keras dari Gary Cahill. Satu frame dari laga tersebut sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan dalamnya makna laga ini bagi Arsenal.

Laga antara Arsenal vs Chelsea nanti bisa disebut sebagai laga penentu takdir. Apabila menang, Chelsea akan unggul 13 poin dari Arsenal di peringkat kedua. Jarak yang cukup jauh untuk dikejar. Sementara itu, apabila menang, Arsenal akan kembali memangkas jarak, menegaskan status sebagai penantang juara, dan mengamankan posisi kedua. Memang, keberhasilan Arsenal menjadi juara musim ini masih ditentukan oleh laga-laga lain, terutama hasil buruk yang didapat Chelsea.

Memenangi laga ini adalah masalah lain, karena pertama, Arsenal harus bermain tanpa cela terlebih dahulu. Chelsea akan bermain dengan intensitas untuk menang, atau setidaknya tidak kalah. Di lini tengah, The Blues sangat solid ketika para gelandangnya bermain di performa terbaik. Siapa pun yang mewarnai line-up, baik Fabregas-Oscar-Matic, Kurt Zouma-Matic-Fabregas, atau Fabregas-Matic-Ramires sudah lebih dari cukup untuk menghadirkan masalah bagi Arsenal.

Head-to-Head

Komposisi setiap lini akan sangat menarik, mulai dari kiper hingga lini depan, bahkan hingga persaingan psikis antara Jose Mourinho dengan Arsene Wenger. Duel psikis antara kedua pelatih akan sangat fundamental dalam laga nanti. Di bawah mistar, Thibaut Courtois vs David Ospina. Courtois adalah salah satu kiper muda terbaik di dunia. Ia sangat solid dan tangguh saat menghadapi tekanan. Bagi Arsenal, kemunculan David Ospina disebut sebagai salah satu faktor kebangkitan sejak pertengahan bulan Januari lalu. Ospina juga tampil konsisten, tenang, serta tangguh.

Head to head antara lini belakang Arsenal yang akan dikawal Gabriel Paulista dan Laurent Koscielny akan bertarung dengan antara Diego Costa, Loic Remy, atau Didier Drogba. Kondisi fisik Costa masih diragukan, meskipun disebut punya peluang untuk bermain. Untuk meredam Costa, apabila ia bermain, maka Gabriel akan punya pengalaman khusus yang bisa menjadi keuntungan. Gabriel Paulista sudah mengenal tipe dan gaya bermain Diego Costa. Ketika masih membela Villareal di La Liga, Gabriel dengan sukses meredam Diego Costa. Keadaan mungkin akan berbeda, namun pemahaman akan sifat dan tipe tentu menjadi keuntungan tersendiri.

Di tengah, Francis Coquelin mungkin akan bertarung secara langsung dengan Fabregas, mantan kapten Arsenal yang kini berbaju biru. Ketika bermain melawan tim besar, Mourinho tidak jarang memainkan duet Nemanja Matic-Kurt Zouma untuk di sektor gelandang bertahan dengan Fabregas ditempatkan sedikit ke depan. Oleh sebab itu, kejelian Coquelin untuk menutup kreativitas Fabregas akan sangat penting. Jalur operan dan pergerakan Fabregas harus mendapatkan perhatian sendiri.

Ujung tombang Arsenal, Oliver Giroud sendiri harus bekerja keras untuk berduel dengan John Terry dan Gary Cahill. Semain padunya Alexis Sanchez dan Mesut Ozil harus benar-benar dimanfaatkan. Dalam beberapa pertandingan terakhir, jumlah pertukaran operan antara kedua cukup tinggi. Ketika melawan AS Monaco, Burnley, dan dua operan kunci di semi-final FA Cup membuktikan bahwa dua pembelian termahal Arsenal tersebut semakin mesra. Jika mampu dimaksimalkan, kedua pemain bisa menjadi trigger penguasaan ruang, eksploitasi umpan, ketajaman gerak, dan efisiensi peluang.

statistik
Statistik “kemesraan” Ozil dan Alexis Sanchez

Sementara itu, selain harus awas dengan kejelian Fabregas, barisan pertahanan dan gelandang Arsenal harus “mematikan” Eden Hazard. Gelandang serang asal Belgia tersebut disebut Wenger sudah menemukan kedewasaannya dalam bermain. Artinya, selain teknik yang memang sudah mumpuni, dewasa dalam bermain jelas akan membuat Hazard semakin berbahaya. Bakal menjadi tugas berat bagi Hector Bellerin untuk berurusan dengan Hazard. Wenger juga bisa memasang Danny Welbeck di sisi kanan pertahanan untuk membendung akselerasi Hazard dan melakukan covering untuk Bellerin. Welbeck juga akan berfungsi untuk variasi serangan di lini depan. Jelas, Giroud tidak mungkin dibiarkan berjuang sendirian menghadapi Terry dan Cahill.

Gus Dur

Dengan komposisi seperti itu, di atas kertas, kedua tim memiliki kualitas yang sama. Saat ini, kedua kesebelasan liat dan tangguh di lini tengah. Para gelandang serang juga sama-sama tajam, bahkan Eden Hazard dan Alexis Sanchez sama-sama masuk dalam daftar PFA Player of The Year. Giroud yang sedang tajam, akan berduel dengan duet Terry-Cahill yang cukup tangguh. Oleh sebab itu, keberadaan dan ketepatan perhitungan kedua manajer yang akan menjadi pembeda.

Dalam buku yang berjudul Gus Dur dan Sepak Bola yang diterbitkan Imtiyaz pada tahun 2014,  Gus Dur meramu pandangan Jose Ortega y Gasset dan Jan Romain.  Buku tersebut ingin memandang politik dengan bahasa metafora sepak bola. Jose Ortega memperkenalkan pandangan Razon Vital, sebuah pandangan tentang sikap rasional dalam realitas kehidupan. Pandangan ini memberikan daya hidup bagi eksitensi dan gerak masyarakat. Razon Vital mengagungkan kehidupan nyata beserta semua masalah dan nilai sebagai pondasi kehidupan. Sementara itu, Jan Romein dalam bukunya berjudul Era Eropa: Peradaban Eropa Sebagai Penjimpangan dan Pola Umum (1969) memperkenalkan istilah rechenhaft yang secara harafiah bisa disebut ‘berstrategi’ atau ‘sikap perhitungan’ berkaitan dengan kenyataan hidup yang sulit supaya tujuan hidup bisa dicapai.

Nah, dalam bukungan tersebut, Gus Dur meramu istilah sikap rasional dan sikap perhitungan dan menerapkannya di dalam sepak bola. Gus Dur meminjam istilah Mizanul Kubro untuk merangkum dua pandangan tersebut. Mizanul Kubro mirip dengan judul kitab fiqih Mizanul Kubro Fil Fiqh Al-Islami karya Iman Abdul Wahhab Al-Sya’rani. Secara literal, istilah tersebut berarti ‘neraca yang agung’ dan Gus Dur hanya menggunakannya semata-mata untuk merangkum pandangan, bukan merujuk kepada kitab tersebut.

Pada tulisan ini, saya ingin merujuk pandangan Gus Dur soal Strategi Permainan dan Karakter Pemimpin. Gus Dur menyebut bahwa kehidupan politik sama seperti strategi permainan dalam sepak bola, sama-sama harus bisa bertahan dengan tangguh, menyerang secara efektif, punya variasi dalam strategi, organisasi tim yang rapi, mampu membaca situasi, merespons situasi secara sehat dan tenang. Dalam duel derby London nanti, Arsenal harus tampil tangguh di belakang, tajam dalam pergerakan, efisien di depan gawang, dan tidak terpancing provokasi pemain-pemain Chelsea. Jika gagal memanfaatkan penguasaan bola, bukan tidak mungkin Chelsea yang akan berada di atas angin.

Soal Karakter pemimpin, Gus Dur menggambarkan bahwa figur manajer harus tegas, berani bereksperimen, mampu meredam egoisme pemain, taktis pada strategi, membaca situasi dengan baik, dan matang ketika menghadapi tekanan. Wenger akan menghadapi Mourinho, aktor watak yang akan memanipulasi emosi lawan untuk keuntungannya. Oleh sebab itu, Wenger jelas juga harus tampil sempurna sesuai gambaran karakter pemimpin oleh Gus Dur di atas.

Keperawanan Mourinho

Penjabaran sekilas dari dua pandangan Gus Dur di atas pada akhirnya tetap untuk mencapai kemenangan. Nilai penuh akan sangat penting artinya, baik bagi Arsenal dan bagi Wenger secara khusus. Ya, manajer gaek asal Perancis ini belum pernah menang atas Jose Mourinho. Dengan tujuh kekalahan dan lima kali imbang dalam 12 laga terakhir, catatan kelalahan Mourinho dari Wenger masih perawan. Eskalasi persaingan keduanya tentu sedang mencapai puncak setelah musim lalu Wenger mendapat label specialist in failure dari Mou. Kini, dengan garis finish Premier League yang semakin dekat, kemenangan akan berarti besar. Untuk masa depan dan harga diri seorang Perancis gaek.

#COYG

Catatan:

1. Sumber foto: The Sun, copyright Richard Pelham.

2. Statistik diambil dari FourFourTwo.

3. Bagian Gus Dur diambil dari esai MH Nurul Huda yang berjudul “Mizanul Kubro dalam sepak bola: Metafora Falsafah Politik ala Gus Dur”.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *