Parkir Bus, Oxlade-Chamberlain, dan Konstelasi Awal Musim

Seperti sebuah cermin, sepak bola menawarkan refleksi ideal untuk memandang kehidupan.

Derby London berakhir imbang. John Terry merayakan hasil imbang dengan gempita, Jose Mourinho kembali menyindir Arsene Wenger, Chelsea selangkah lagi juara, dan beberapa fans Arsenal “marah” dengan hasil tadi malam. Arsenal “harus” menang untuk mengamankan posisi kedua, sekaligus merapatkan jarak dengan Chelsea di puncak klasemen. Maklum, asa menjadi juara belum pupus dan Arsenal memang menunjukkan bahwa mereka memang turun berlaga dengan tujuan tersebut. Taktik agresif disajikan Wenger, menguasai bola dengan sangat baik di babak pertama, meskipun bak seperti habit meletup sekali-kali, efisiensi di depan gawang menguap entah ke mana.

Di babak kedua, penguasaan bola lebih berimbang, Chelsea berani menguasai bola lebih lama, dan “mencoba” mencetak gol. Arsenal sempat kesulitan, meskipun bisa bertahan dengan baik dan terus mencoba menyerang. Dead lock terjadi untuk kedua tim, klaim penalti ditolak mentah-mentah oleh wasit, dan laga akhirnya berakhir sama kuat.

Arsenal bekerja keras untuk memenangi laga, sedangkan Chelsea berjuang untuk memenangi liga.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Mourinho akan melakukan segala cara untuk tidak kalah dalam sebuah laga. Dari sisi taktik, tak gamang manajer asal Portugal tersebut untuk menggelar taktik negatif. Di sini, banyak pihak yang “muak” dengan pilihan taktik Mou untuk menumpuk pemain di kotak penalti. Laga menjadi tidak menarik hingga puncaknya berkumandang “Boring, boring Chelsea” di stand penonton.

Taktik “parkir bus” yang menjadi istilah universal bagi cara bertahan Chelsea di bawah Mou memang menyebalkan. Selain “membunuh” sisi kecantikan laga, taktik tersebut juga membuat laga berjalan sangat lambat, merusak mood penonton, dan merusak kesabaran lawan. Pertanyaannya, apakah taktik tersebut sudah menjadi dosa di mata para fans? Apakah taktik tersebut adalah pilihan tabu untuk memenangi laga? Apakah taktik tersebut bukan seorang pilihan yang jantan? Jelas, jawabannya adalah TIDAK!

“When you have the ball, you dictate play. When you are defending, you control the shape” – Arrigo Sacchi

Kalimat terkenal dari Arrigo Sacchi di atas merupakan “wejangan” paling pas untuk menggambarkan usaha Mourinho, terutama di babak kedua. Chelsea berani memegang bola, menurunkan tempo, dan merusak aliran timing Arsenal. Ketika bertahan, Chelsea menutup ruang dengan baik. Pastinya, setiap inisiatif serangan di dalam sepak bola selalu diawali dengan mencari ruang kosong. Jika tidak ada ruang, maka buat dengan taktik dan penguasaan posisi dan bola. Mou memahami hal ini dengan baik, maka Chelsea selalu membuat dua lapis untuk mengurangi space gelandang serang Arsenal. Taktik ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa organisasi tim yang sempurna. Mou pernah berkata, “Football is all about organization. Tactics form that organization. Everything in training is given to this.” Artinya, “parkir bus” bukan soal bertahan total, tetapi sebuah taktik yang terorganisasi dengan baik.

Stop rendahkan taktik lawan ketika kamu tidak mampu membongkar kekuatan mereka. Hal itu menunjukkan bahwa kamu inferior terhadap kemampuan lawan.

Karena pada akhirnya sepak bola modern adalah soal hasil, maka sudut pandang Mou dan Chelsea tidak bisa disalahkan. Arsenal berkembang dengan identitasnya sendiri dan kita tidak bisa memandang pilihan Chelsea dengan cibiran. Toh, kembali lagi, semuanya soal perspektif dan berkorelasi dengan pilihan.

Sepak bola adalah cermin hidup, termasuk pilihan “parkir bus”. Salah satu tujuan bertahan di dalam kehidupan artinya mempertahankan kebahagiaan dan identitas diri. Ibarat kata, kita “parkir bus” untuk mempertahankan kehormatan orang tua dari hinaan orang lain. Maka tidak berbeda dengan susah payah pemain Chelsea untuk mempertahankan integritas Mourinho.

Untuk menghindari bebal hati melihat taktik “parkir bus”, pertama, bagi fans netral, jika merasa bosan dengan laga tadi malam, solusinya begitu mudah, yaitu tinggal matikan TV Anda dan beralih saja menyaksikan acara musik atau sinetron kebun binatang abal-abal. Jika Anda adalah fans Arsenal, maka situasi memang akan sedikit berbeda. Pemahaman akan sebuah tujuan taktik dan nilai sebuah laga memang akan dinilai berbeda-beda sesuai kaca mata masing-masing individu. Ingat, sepak bola modern saat ini bukan saja soal menggelar laga yang cantik-molek. Saat ini, sepak bola adalah soal hasil dan poin yang ditabung. Saya memang fans Arsenal, yang terhibur dan jatuh hati dengan gaya bermain dan keberanian pilihan manajerial. Namun, saya tidak mau dibutakan dengan keadaan. Saya mencoba realistis dan memahami bahwa Mourinho memikul beban memenangi laga, sama seperti manajer lain.

Pada akhirnya, “parkir bus” atau “gung-ho” yang menjadi pilihan, semuanya hanya soal perspektif, yang harus kita hargai.

Ingat, bertahan dengan seimbang dan taktis adalah part paling sulit dalam gelaran taktik sepak bola. Ketika bertahan, Anda harus mau meredam ego, bermain sangat sabar, dan fokus penuh selama 90 menit. Ketiga bagian ini masih harus ditambah kerja sama yang sinergis. Jelas, tuntutan kesempurnaan ini memerlukan fisik yang prima. Ketika beban fokus yang menyita konsentrasi penuh ditambah fisik yang terus terkikis sepanjang laga, maka tingkat stress akan terus naik. Seorang bek harus punya pemahaman posisi yang prima untuk bisa bertahan dengan seimbang dan manajer harus punya nyali untuk dicemooh karena taktik negatif. Maka, sebagai fans yang cerdas, hendaknya kita jangan mencemooh sesuatu yang indah di dalam sepak bola. Indah? Ya, taktik bertahan adalah cerminan sisi kehidupan, yaitu fokus dengan tujuan sekaligus mempertahankan nyali dan niat yang kebanyakan orang terkadang tidak memilikinya.

Sekali lagi, ingat kembali bagaimana cara Arsenal memetik kemenangan gemilang di Etihad. Apakah Arsenal terus-menerus menggelar taktik offensive yang konsisten? No, Arsenal bertahan hampir sepanjang laga, menyerang dengan cerdas, tajam dengan penguasaan bola, dan efisien memanfaatkan peluang. Bukan kah unsur-unsur penting tersebut menghilang dari laga tadi malam? Ya, Arsenal memang menguasai bola, bahkan sangat dominan di babak pertama. Apakah Arsenal tajam dengan bola di kaki atau efisien di depan gawang? No. So, bagaimana untuk meng-counter taktik bertahan yang “menyebalkan” tersebut? Ya dengan menggelar taktik lebih cerdas dan lebih fokus lagi ketika menyajikannya. Untuk soal perkembangan pertandingan, Arsenal merindukan satu pemain yang bisa menjadi pembeda dalam laga seperti tadi malam.

Ia adalah Alex Oxlade-Chamberlain. Gelandang muda asal Inggris tersebut kesulitan untuk pulih dari cidera, bahkan ia kini disebut harus menepi hingga akhir musim. Saya begitu merinduan Chamberlain di sisi kanan ketika laga tidak berkembang dan Arsenal butuh solusi. Gambaran paling jelas adalah laga melawan Manchester City di Etihad dan ketika kalah dari AS Monaco di Liga Champions. Ketika dijamu City, Chamberlain begitu padu dengan Hector Bellerin di sisi kanan. Ia tidak ragu untuk menjadi wing-back tambahan dan sangat berbahaya ketika naik menyerang. Chambo juga oke dengan sepakan jarak jauh, yang ia tunjukkan ketika kalah di tangan Monaco. Ketika taktik “parkir bus” menyerap semua kreativitas Arsenal, maka ledakan-ledakan individu di satu sisi lapangan bisa menjadi solusi brilliant.

Intinya, ketika lawan menggelar taktik negatif, tidak benar apabila kita memandangnya dengan sorot sinis. Respect kepada pilihan sulit tersebut. Sebelum memandang rendah klub lain dengan pilihan taktiknya, gunakan sepak bola sebagai cermin dan bertanya lah, apakah Arsenal sudah paling sempurna dan nir kelemahan?

Nah, saya juga memandang kekesalan mayoritas fans Arsenal yang sebal dengan taktik bertahan, selebrasi berlebihan John Terry, dan hasil seri ini adalah disebabkan semakin sulitnya The Gunners mengejar Chelsea di puncak klasemen. Saya juga memaklumi bahwa kalimat Mou soal hal paling boring adalah tidak memenangi liga selama 10 tahun. Kalimat tersebut pasti terasa panas di telinga Gooners di seluruh dunia. Namun kembali lagi, mari kita lihat jalannya musim ini, terutama di paruh awal.

Arsene Wenger berkata selepas laga tadi malam, “They started the season strong and they made the different in the fist half of the season compared to us.” Kalimat tersebut merupakan gambaran gamblang dari Arsenal musim ini. Untuk menjadi juara, sebuah konsistensi adalah syarat utama. Di awal musim, seperti kita tahu, Arsenal sangat kesulitan menemukan modal penting tersebut. sementara itu, Chelsea memang sudah sangat konsisten sejak sepak mula musim ini.

Kesimpulannya, sebuah taktik digelar dengan daya-upaya maksimal dari manusia. Hargai setiap taktik yang tidak bisa kita taklukkan. Sepak bola adalah cerminan kehidupan. Seperti mempertahankan orang yang kita sayang, “parkir bus” juga representasi usaha mempertahankan hal yang paling berharga. Kini, sebagai wujud konstelasi sejak awal musim, posisi kedua sudah jadi capaian yang harus diapresiasi.

Toh, sebuah perkembangan dengan harmoni tidak akan terjadi dengan cepat, terutama perkembangan menuju kesempurnaan.

#COYG

Comments

2 thoughts on “Parkir Bus, Oxlade-Chamberlain, dan Konstelasi Awal Musim”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *