Analisis Manchester United 1 v 1 Arsenal: Kesederhanaan Versus Imajinasi

Sebuah kalimat bijak mengatakan, “Lebih baik Anda hanya mempunyai satu jurus, namun dilatih dengan matang, ketimbang 1000 jurus yang tidak tidak Anda kuasai dengan matang.”

Kalimat di atas dapat menjadi salah satu gambaran laga antara Manchester United v Arsenal pada hari Minggu lalu. Sebelum pertandingan, saya membuat catatan singkat mengenai beberapa hal yang tergambarkan di dalam benak terkait jalannya pertandingan tersebut. Beberapa poin soal Ashley Young dan Juan Mata, Marouane Fellaini, serangan balik, pola permainan dasar, kewaspadaan terhadap bola mati, hingga peran Oliver Giroud sebagai tembok yang harus maksimal, setidaknya harus efisien.

Di dalam catatan saya tersebut, poin soal Ashley Young dan Mata mendapatkan porsi orek-orek terbanyak. Dengan absennya Michael Carrick dan Wayne Rooney, praktis United tidak memiliki banyak variasi build-up play, setidaknya menurut saya. Oleh sebab itu, corong serangan pastilah akan berada di kaki Young dan Mata, memandang kedua pemain tersebut lebih kreatif ketimbang Ander Herrera maupun Fellaini. Maka benar saja, kedua pemain tersebut memang menjadi momok bagi Arsenal, di babak pertama.

United turun dengan formasi dasar 4-1-4-1, sedangkan Arsenal mempertahankan tim yang sama dalam 6 pertandingan terakhir. David De Gea masih kokoh di bawah mistar, United menurunkan Chris Smalling dan Phil Jones sebagai duet CB, sedangkan Antonio Valencia diplot sebagai RB dan Marcos Rojo ditempatkan sebagai LB. Daley Blind mengisi pos DMF dengan ditemani Ander Herrera dan Fellaini sebagai box-to-box. Juan Mata dan Ashley Young menempati sektor RW dan LW, sementara Falco bertindak sebagai CF.

Arsenal sendiri turun tanpa perubahan. Dengan pola dasar 4-2-3-1, David Ospina berada di bawah mistar gawang, Per Mertesacker dan Laurent Koscielny menjadi duet bek tengah, Hector Bellerin di pos bek kanan dan Nacho Monreal di bek kiri. Francis Coquelin dan Santi Cazorla berduet sebagai 2 gelandang penyeimbang, Aaron Ramsey turun sebagai gelandang kanan, Mesut Ozil di posisi no.10, Alexis Sanchez di sisi kiri, dan Giroud sebagai striker tunggal.

Babak Pertama

Hingga 10 menit babak pertama, kedua tim masih berkutat dengan mencari pijakan. United sendiri sudah menunjukkan gelagat akan menggunakan Young dan Mata sebagai corong serangan. Young, yang berposisi sebagai LW mendapatkan tugas yang sangat spesifik, yaitu mengolah bola dan eksploitasi ruang. Untuk tugas mengolah bola, Young memang diberkati dengan teknik cukup bagus. Dribbling dan crossing-nya merupakan sumber serangan yang terus dieksploitasi United. Sementara itu, dengan hanya Bellerin yang bertugas menutup ruang di sektor kanan pertahanan Arsenal, Young mendapatkan space yang cukup untuk berkreasi. Apalagi, Ramsey tidak memberikan covering yang cukup bagi Bellerin. Hasilnya, usia muda dan belum matangnya Bellerin berhasil dimanfaatkan Young.

Sampai menit ke-28, sebelum gol yang dicetak Herrera terjadi, United semakin menegaskan bahwa Young dan Mata menjadi dirigen serangan. Bola dari tengah, yang diolah oleh Blind-Fellaini-Rojo sangat sering diarahkan ke arah Young. Sementara itu, Herrera lebih banyak melepaskan passing ke arah Mata atau Valencia yang berada di sisi kanan, begitu juga sebaliknya. Dua blok pemain plus Blind seperti gambar di bawah juga memperagakan immediate pressing sehingga memaksa pemain-pemain Arsenal membuat kesalahan ketika menguasi bola.

2 bidang dasar

Kombinasi antara Herrera ke Valencia tercata hingga 20 kali, Valencia ke Mata sebanyak 16 kali, Rojo ke Fellaini tercatat 15 kali, dan Fellaini ke Young mencapai 14 kali. Berdasarkan catatan tersebut terlihat bahwa aliran bola dan pola serangan United terpusat dalam 2 blok besar seperti gambar di atas. Blind, yang bertindak sebagai “jembatan” lebih sering melepas umpan ke arah Herrera. Kedua pemain mencatatkan total 22 kali kombinasi. Kesederhanaan ini sekilas menggambarkan kurangnya variasi dan kreativitas alur bola. Namun, United mampu memaksimalkan kesederhanan ini menjadi sesuatu yang berbahaya dan ini juga dipicu oleh Arsenal sendiri.

Immediate pressing yang diterapkan United beberapa kali berhasil meredam inisiatif serangan balik yang coba dibangun Arsenal. Upaya ini sebenarnya akan sangat berbahaya ketika Arsenal kehilangan bola di wilayah sendiri. Sayang, United sendiri nampaknya kurang bisa memaksimalkan keuntungan yang mereka peroleh sebagai bagian dari immediate pressing tersebut.

pressing

Pada gambar di atas, setelah umpan Rojo di-intercept Cazorla, para pemain United segera menutup ruang yang kemungkinan akan menjadi awalan serangan balik. Nampak Herrera dengan cerdik menutup ruang di belakang Rojo yang mengejar Cazorla. Pada kelanjutan gerakan, bola umpan Cazorla yang hendak ditujukan ke Alexis berhasil dibendung. Juan mata, yang mengisi space kosong di tengah “bertindak” sebagai penjebak dengan “menyediakan” ruang kosong. Ruang kosong tersebut memungkinkan Alexis terlihat “kosong” tidak terjaga dan memanipulasi Cazorla untuk melepas umpan ke arahnya. Bola berhasil di-intercept Herrera dan diberikan kepada Mata.

Proses tersebut beberapa kali terjadi ketika Arsenal berhasil merebut bola. Sayang, jarak antar-gelandang yang terlalu jauh sangat membatasi proses counter attack. Bola direct yang coba dilepaskan juga tidak efektif karena Blind di tengah dan duet CB United sudah memperkirakan dan bersiap mengantisipasi. Jauhnya jarak antar-gelandang Arsenal, bahkan ketika bertahan, juga menjadi salah satu penyebab gol. Jarak yang tidak terjaga dengan baik memungkinkan pemain United untuk mengisi dan memanfaatkannya. Respons terlambat ditambah terpancing dengan gerakan tanpa bola membuat barisan pertahanan Arsenal menjadi alpa. Pemain bertahan cenderung tidak awas dengan pergerakan pemain karena hanya fokus kepada bola.

tanpa bola

Young, hanya dikawal Bellerin, mendapatkan waktu yang longgar untuk berkreasi. Perhatikan bagaimana Herrera menikmati ruang kosong sedemikian besar di depan kotak penalti Arsenal. Coquelin yang terpancing dan keluar dari zona-nya tidak direspons pemain lain dengan baik. Terlihat Alexis terlambat turun. Koscielny dan Monreal di belakangnya justru hanya fokus dengan pergerakan Fellaini dan Falcao yang merangsek masuk ke kotak penalti.

tanpa bola 2

Tiga pemain United, Falcao, Fellaini, dan Mata mendapatkan fokus pengawalan dari Per, Kos, dan Monreal. Alexis, yang sempat berlari turun, tidak melanjutkan larinya dan tidak menyadari kelanjutan pergerakan Herrera. Gerakan Monreal yang merapat ke Koscielny ini nampaknya sudah menjadi kebiasaan yang berbahaya. Coba perhatikan lagi proses gol Swansea minggu lalu. Monreal tertarik mendekat ke Koscielny dan akhirnya justru tidak ikut melompat ketika Bafetimbi Gomis mendapatkan umpan silang. Nah, pada proses gol di atas, Monreal dan kedua CB juga hanya memperhatikan datangnya bola. Herrera yang menyelinap di belakang para bek mendapatkan ruang dan waktu yang cukup longgar untuk melepaskan sepakan first time dengan tenang.

Cermati kembali bahwa gol tersebut berawal dari kreasi Young di sisi kanan pertahanan Arsenal. Bellerin, yang harus mengawal Young tidak mendapatkan back-up dari Ramsey, yang tidak turun untuk membantu pertahanan. Sudah saya tegaskan di awal tulisan ini dan sebelum laga dimulai bahwa Young dan Mata harus mendapatkan perhatian lebih, terutama karena United hanya mempunyai mereka berdua untuk memulai inisiatif serangan. Kealpaan untuk turun membantu pertahanan harus dibayar dengan mahal.

Setelah gol tersebut, praktis permainan Arsenal tidak berkembang hingga babak pertama usai. Banyak kesalahan umpan, komunikasi yang tidak berjalan dengan baik, dan jarak antar-pemain yang terlalu jauh membuat United leluasa mematikan setiap usaha Arsenal untuk merancang serangan. Alexis sendiri terisolasi di sisi kiri lapangan dan tidak bisa mengembangkan permainan.

Babak Kedua

Di babak kedua, permainan Arsenal sedikit lebih membaik. Para gelandang terlihat bermain lebih rapat dan lebih tenang saat menguasai bola. Young, yang sebelumnya mendapatkan keleluasaan untuk berkembang, kini pergerakannya sedikit mampu dibatasi. Ramsey, yang sebelumnya seperti membuarkan Bellerin bekerja sendirian, sudah lebih awas dengan posisi lawan di belakangnya. Gerakan Young makin terbatas, terutama setelah masuknya Theo Walcott.

Secara umum, membandingkan kedua tim, seperti membandingkan sepak bola sederhana dengan imajinasi yang coba dibangun. Praktis, United hanya mengandalkan Young dan Mata, serta dominasi Fellaini di udara. Meskipun pilihannya terbatas, United mampu memaksimalkannya dengan baik. Terlebih, United menyerang kelemahan Arsenal pada laga tersebut dengan cukup cerdik. Berbanding terbalik dengan United, Arsenal bermain dengan kesabaran dan urgensi yang lebih nyata di babak kedua. Imajinasi yang seperti mengering di babak pertama kembali subur di babak kedua.

“We were a bit too timid, too conservative in our possession and a bit too far from each other as well. In the second half we were more compact and we had good opportunities on the counter. We were quicker and we had enough chances to win the game in the end,” ungkap Wenger selepas laga. Wenger sendiri mengakui bahwa Arsenal tidak oke ketika menguasai bola di babak pertama. Jarak antar-pemain yang terlalu jauh juga menjadi penghambat, namun semuanya membaik di babak kedua. Seiring penampilan yang membaik di babak kedua, Giroud sendiri total mendapatkan 3 peluang mencetak gol.

Pada babak kedua, salah satu bagian yang membaik adalah penjagaan jarak antar-pemain. Ozil-Cazorla-Ramsey, yang menjadi pokok aliran bola selama ini bermain lebih berdekatan. Meskipun ditempatkan sebagai “sayap kanan”, Ramsey tidak secara plain menjalankan duty tersebut. Ramsey banyak bergerak di half-space United dengan baik sehingga merapatkan jarak antara dirinya dengan Ozil dan Cazorla. Opsi passing yang bertambah membuat Cazorla lebih nyaman ketika memegang bola dan berkreasi (baca: berimajinasi).

jarak

Perhatikan posisi Alexis dan Monreal yang berdiri narrow di sisi kanan pertahanan United. Alexis bergerak ke half-space dengan baik dan “mengganggu” konsentrasi Valencia dan Juan Mata. Coquelin menawarkan opsi passing lebih dengan menempatkan dirinya dengan baik di sentral lapangan. Ozil, yang bermain dengan bebas, dengan cerdik bergerak ke belakang Fellaini. Perhatikan juga Blind yang bergerak hendak mengejar Ozil. Inilah tujuan gerak Ozil sebenarnya. Ozil membuka akses passing dari Cazorla ke Ramsey untuk mengingkatkan peluang masuk ke kotak penalti. Bentuk seperti ini yang jarang terlihat di babak pertama.

bola daerah

Setelah berhasil menjaga space dengan baik, Ozil-Cazorla-Ramsey mendapatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan permainan. Pada gambar di atas, Ramsey bergerak ke sisi kanan pertahanan United. Makna pergerakan tersebut adalah gaining space di antara pemain bertahan United. Bola daerah dilepas Ramsey ke belakang bek United, yang mampu dikejar Ozil dengan baik. Imajinasi seperti ini (bola daerah dan direct pass) menjadi alternatif yang baik di babak kedua. Umpan tarik dari Ozil ke arah Giroud menjadi awalan peluang bersih. Giroud berhasil mengontrol bola dengan brilian, membalikkan badan, meskipun sontekannya dengan kaki terlemah masih dapat diantisipasi De Gea dengan kakinya.

offside trap

High D-line yang diperagakan United berhasil dieksplotasi dengan baik. Alexis melihat Ramsey yang berlari dengan timing yang pas. Ruang kosong di belakang bek United menjadi area berbahaya ketika off-side trap gagal di-setup. Ramsey berhasil lolos dan berhadapan satu lawan satu dengan De Gea. Bola chip-nya juga sudah berhasil mengelabuhi kiper asal Spanyol tersebut. Sayang, Rojo masih sigap untuk terus berlari dan memberikan cover. Bola yang 90% gol, berhasil diamankan. Perhatikan juga bagaimana Giroud memancing para bek untuk “naik”. Meskipun tidak mencetak gol, pergerakan tanpa bola yang dilakukan Giroud, khususnya di babak kedua, laik mendapatkan apresiasi. Hal inilah yang kadang luput dari pengamatan kita ketika striker gagal mencetak gol.

eksekusi

Garis pertahanan yang tinggi seperti gambar di atas kembali berhasil diekspoitasi dengan imajinasi. Long ball akurat dari Ramsey ke arah ruang di belakang bek berhasil dimaksimalkan. Walcott, yang lolos dari off-side trap, memang berhasil dikejar Tyler Blackett. Namun, penguasaan bola yang prima, membuat Walcott bisa mengeksplorasi peluang yang ia dapat. Umpan tarik yang sekiranya diarahkan ke Giroud justru membentur kaki Blackett dan masuk ke gawang sendiri. Gol ini memang berbau keberuntungan, namun jangan lupakan prosesnya yang menunjukkan bahwa Arsenal mendominasi babak kedua.

Imajinasi menjadi “barang” penting dalam sepak bola. Namun, kemampuan memaksimalkan satu senjata utama juga pilihan yang bijak. United bermain dengan keterbatasan opsi di lini serang, tapi mampu memaksimalkan kekurangan dengan sangat baik. Arsenal, yang bermain sangat buruk di babak pertama, berhasil bangkit di babak kedua. Perbaikan dalam hal space antar-pemain dan keberanian menguasai bola membantu Arsenal menciptakan banyak peluang. Wenger sempat mengatakan Arsenal layak menang. Namun, menurut chef, Wenger alpa melihat dan mempertimbangkan performa babak pertama. Terkadang, sepak bola adalah soal sebab-akibat. Jadi, hasil imbang ini sudah cukup layak untuk kedua tim.

“Imajinasi” terkadang juga harus didukung dengan “kemampuan”. Tanpa kemampuan, imajinasi hanya pepesan kosong berupa cetak biru angan-angan.

#COYG

Catatan:

1. Sumber gambar diambil dari Sky Sport 1.

2. Catatan umpan disarikan dari FourFourTwo.

Comments

7 thoughts on “Analisis Manchester United 1 v 1 Arsenal: Kesederhanaan Versus Imajinasi”

  1. imo, arsenal melakukan hal-hal di babak pertama scr sengaja. somehow gw merasa wenger menjadi lebih berani dan variatif di akhir2 masa karirnya. Hal ini mgkn disebabkan oleh variasi tipe pemain yg ia miliki. dgn terbatasnya opsi seperti 10 tahun ke belakang lalu, cara men-secure spot top 4 yg plg mgkn adl bermain konservatif dgn sepakbola possession.

    kalau elo baca tulisan gw di website gw, “bye bye possession football?”, disitu gw jabarin statistik bagaimana justru arsenal lebih sering menang ketika tdk menguasai possession.

    jauh sblm era alexis dan özil, arsenal seperti kehilangan sosok yg bisa melakukan run behind defence (alexis) melalui sebuah thruball (özil). akhirnya kita end up dgn tippy tappy di sepertiga daerah lawan.

    utk musim depan, gw berharap arsenal memperbaiki defence bola2 crossing layaknya chelsea dan mempertajam run behind defence melalui sektor kanan (walcott? ox? reus? sterling?)

    1. “melakukan hal-hal secara sengaja di babak pertama” <– ini gimana maksudnya?

      memang, sepak bola saat ini berkembang ke arah pragmatik. terkadang, proses tidak menjadi isu utama dan bisa di-cut untuk langsung menuju poin utama, yaitu gol dan menang. kemarin, sy dan teman dari Belanda juga membicarakan sebagian besar big fish selalu punya 2 winger yg masuk dalam level worldclass. singkatnya, Arsenal membutuhkan "2 Alexis" musim depan. pada era Invicibles ada Pires dan Ljungberg yg begitu mobile di sisi lapangan. mungkin musim depan Reus bisa menjadi opsi, jika memang dia dijual. jika tidak, sy rasa Ox dan Walcott masih bisa diandalkan, terutama Ox yang perkembangannya sangat bagus.

  2. secara sengaja tidak menguasai possession. gameplan yg di-instruksikan AW. dgn ekspektasi bhw MU akan mencoba mendominasi mengingat ini di OT. memang plan utk main counter.

    perihal world class. terkadang mmg kita sb gooner bias dalam memberikan pendapat bhw pemain yg sekarang dimiliki itu world class atau bukan dan itu sangat dimaklumi. gw juga fine2 aja kalau musim depan masih dgn walcott dan gw tetep akan dukung wenger dan arsenal. tdk ada hubungannya mengatakan seorang pemain itu world class atau bukan dengan loyalitas.

Tinggalkan Balasan ke yamadipatiseno Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *