Analisis Laga Arsenal 0 v 0 Sunderland: “Bukan Siapa, Tetapi Bagaimana”

Mari berpikir dengan logika karena pada ujungnya bukan siapa yang penting, tetapi bagaimana sebuah tim menang dan berjaya (lagi).

Untuk ketiga kalinya, Arsenal gagal mencetak gol di Emirates, kandang sendiri. Para lawan yang dihadapi, Chelsea, Swansea City, dan Sunderland, mempunyai ciri identik , yaitu bermain “bertahan” dan mengandalkan serangan balik. Melawan tim-tim seperti ini Arsenal selalu kesulitan mencetak gol. Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan melihat bagaimana Arsenal seharusnya mampu mengalahkan Sunderland dengan mudah. Pertanyaanya, apakah kegagalan Arsenal mencetak gol hanya disebabkan oleh Oliver Giroud, apakah kesalahan Wenger, atau kesalahan diri kita sendiri yang enggan berpikiran terbuka?

Begini latar belakang pertandingan antara Arsenal melawan Sunderland. Arsenal membutuhkan dua kemenangan untuk menjaga asa menyelesaikan musim di peringkat kedua dengan catatan Manchester City kalah di laga terakhir. Sementara itu, Sunderland membutuhkan setidaknya hasil seri untuk lolos dari bencana degradasi. Menghadapi Arsenal, yang pasti bermain menyerang, Sunderland bertahan cukup dalam dan mengandalkan serangan balik.

Maafkeun Chef yang tidak akan berpanjang lebar menjelaskan posisi para pemain Sunderland ketika bertahan. Secara singkat, ketika memulai set-up bertahan, Jermain Defoe dan Adam Johnson turun hingga kotak penalti sendiri dan menjadi bek tambahan. Enam pemain bertahan plus tiga pemain di depan bek menjadi build-up Sunderland. Serangan balik diinisiasi Conor Wickham, Danny Graham, dan Defoe yang coming from behind. Ketiga pemain tersebut dibantu Patrick van Aanholt di kiri dan Billy Jones di kanan. Kedua bek sayap tersebut bermain melebar untuk menyediakan opsi passing.

Di kubu Arsenal, Wenger tidak menurunkan Francis Coquelin dan memutuskan menduetkan Aaron Ramsey dan Santi Cazorla sebagai penyeimbang. Jack Wilshere bermain mengisi sisi kanan. Nah, apakah Ramsey dan Wilshere saklek bermain dari posisi di atas kertas? Tidak, keduanya mobile, bergerak secara luwes mencari ruang dan berkreasi. Ramsey dan Cazorla berganti-gantian untuk menjadi “sumbu” di sentral lapangan dan mewaspadai counter Sunderland. Tujuan Wenger bermain dengan pilihan pemain ini adalah overload di daerah pertahanan Sunderland. Tujuan ini memerlukan pergerakan yang sangat mobile dan kesabaran untuk menemukan ruang. Nah, di sini terjadi masalah karena kedua syarat di atas tidak dipenuhi dan inilah yang Chef akan tekankan.

Mobile dan Lebar

Bermain melawan tim yang menumpuk pemain di depan kotak penalti, cara “termudah” adalah bermain melebar. Tujuannya untuk merenggangkan kompaksi bertahan tersebut. sayang, Arsenal turun dengan pemain-pemain yang bernaluri sebagai “pemain sentral”. Kondisi ini menyebabkan pemosisian pemain yang tidak ideal. Perhatikan gambar berikut.

tengah kos-giroud

Pemain dengan lingkaran kuning adalah Laurent Koscielny. Pada momen tersebut, Kos mencoba melambungkan bola ke arah Giroud yang berlari meminta bola (pemain dengan lingkaran hitam sebelah kanan). Pilihan ini sangat tidak ideal karena, pertama, Giroud tidak mempunyai akselerasi yang cepat sehingga akhirnya bola memang keluar lapangan, kedua, ketidak-sabaran Kos untuk menyusun serangan. Perhatikan Kieran Gibbs (lingkaran hitam sebelah kiri) yang berlari membuka ruang dan meminta bola. Kos seharusnya aware dengan gerakan Gibbs. Ketiga, perhatikan kotak hitam di tengah. Ozil, Cazorla, Alexis, dan Wilshere yang bermain saling berdekatan. Dapat dipahami apabila keempat pemain tersebut bermain narrow ketika bertahan dan mempertahankan kompaksi di tengah. Namun, ketika menyerang, poin termudah adalah mencari ruang. Jika tidak ada ruang, maka ciptakan. Caranya, bermain melebar dan se-mobile mungkin.

Perhatikan gambar di bawah ini:

main lebar

Bermain melebar sangat menguntungkan ketika bermain melawan tim yang menumpuk pemain di depak kotak penalti. Untuk dicatat, pertahan Sunderland tidak SEBAGUS yang mungkin Anda kira. Banyak space dan ruang yang bisa dimanfaatkan oleh Arsenal. Di sini permasalah terbesar terjadi, menurut chef pastinya. Simak lebarnya space Sunderland di bawah:

space sunderland

Perhatikan tiga pemain di dalam lingkaran hitam. Wickham dan van Aanholt hanya fokus dengan Alexis sehingga membuka sektor half-space. Ozil melihat peluang tersebut dan berlari di area berbahaya tersebut. Wilshere juga merespons gerakan Ozil dengan baik. Bola ia lambungkan dan jatuh pas di momentum lari Ozil. Berhadapan dengan penjaga gawang, sepakan Ozil justru melambung. Jadi, bermain lebar plus space yang juga LEBAR mengindikasikan kompaksi pertahahan Sunderland yang tidak sesolid kita duga.

half-space gap

Gambar di atas adalah pengejawantahan bahwa Sunderland tidak bertahan dengan baik. Half-space terbuka sangat lebar dan van Aanholt lagi-lagi out of position dan mendekat ke Defoe. Sudah dua kali momentum mendekatnya van Aanholt dan Defoe terjadi. Artinya, ada maksud dan tujuan yang memang sudah dilatih. Sunderland paham Arsenal akan “terpaksa” menyebarkan umpan ke samping karena area sentral yang penuh sesak pemain. Kedua pemain tersebut bertujuan untuk menciptakan overload 2 v 1 untuk siapa saja pemain Arsenal yang menerima bola di sisi lapangan. Namun, awareness van Aanholt akan ruang nampaknya tidak cukup bagus. Pada gambar di atas, Walcott berhasil berkelit dari penjagaan dan merangsek ke half-space. Sayang, sepakannya masih mampu diantisipasi Pantilimon.

space lagi

Nah, pada gambar di atas ini, Rosicky, yang bermain satu-dua sentuhan dengan Walcott menemukan ruang sempit di kotak penalti Sunderland. Terlihat Defoe, yang memang bukan bek, tidak menyadari pergerakan Rosicky di belakangnya. Posisi menembak terbuka cukup lebar untuk Rosicky, sayang sepakannya kaki kirinya justru melebar.

So, banyak peluang yang tercipta ketika Arsenal membangun serangan dari sisi lapangan. Space yang sering terbuka tidak mampu dibaca dengan baik. Arsenal justru sering memaksakan menyerang dari tengah. Apakah Arsenal ingin mencetak gol atau hanya ingin memenangi penguasaan bola? Gambar di bawah adalah “denah” sentuhan pemain-pemain Arsenal yang terlalu gemar bermain di tengah.

sentuhan di lapangan

Tidak Sabar

Nah, selain gagal total memanfaatkan space, para pemain Arsenal juga tidak sabar ketika mengolah bola. Keinginan untuk menang memang kadang terlalu kuat untuk dibendung sehingga menutup logika dan alur pemikiran. Kesabaran memang sangat sulit dikontrol, terutama ketika urgensi memenangi laga sangat besar. Salah satu pemain yang chef sorot adalah Jack Wilshere yang turun bermain sebagai starting member sejak kembali dari cidera panjang.

wilshere tdk sabar

Dari sebuah skema serangan balik, Wilshere mendapatkan ruang untuk mencetak gol. Pada momen tersebut, Wilshere mencoba mengontrol bola dan melewati Pantilimon.  Usaha tersebut akhirnya gagal. Jika mau sedikit bersabar, Wilshere akan menemukan bahwa ada Ramsey yang posisinya sangat ideal karena menghadap gawang. Jika bola diberikan kepada Ramsey, maka Pantilimon akan out of position karena tertarik mengejar Wilshere. Nah, Wilshere juga punya pilihan kedua, yaitu umpan silang mendatar untuk Giroud di tiang jauh. Pilihan ini akan semakin meningkatkan peluang gol karena langsung menuju gawang. Tidak sabar melahirkan kecerobohan, yaitu Wilshere tidak mampu mengotrol bola dengan baik. Ini yang menjadi pemicu Wilshere memilih mencoba melewati Pantilimon karena bola bergulir tidak pada posisi yang ideal dari kakinya.

ndak sabar lagi jack

Gambar di atas menunjukkan bahwa Wilshere tidak berpikir jernih. Kenapa ia harus terburu-buru melambungka bola ke arah Ozil, yang di depannya terdapat dua pemain Sunderland yang siap menyapu bola. Perhatikan, ada banyak opsi yang dimiliki Wilshere. Bellerin menyediakan diri untuk eksploitasi sisi lapangan, Alexis tidak terjaga di sisi kiri lapangan, Ramsey berlari membuka ruang dan menarik perhatian pemain Sunderland, dan bahkan Cazorla menyediakan diri untuk passing mudah. Alih-alih berpikir jernih, Wilshere “membuang bola dan penguasaan dengan mudah”.

Kesimpulan

So, dengan penjelasan singkat di atas kita tahu bahwa, pertama, barisan pertahanan Sunderland tidak rapi dan disiplin. Kondisi ini gagal dibaca dan dieksploitasi PARA PEMAIN Arsenal. Kedua, Giroud memang membuang tiga peluang, SATU peluang bersih dan dua peluang tanggung. Hanya satu kali Giroud mendapatkan peluang bersih yang berasal dari umpan tarik Bellerin di babak kedua. Peluang itu pun tidak dapat dikatakan sebagai peluang yang nyaman. Giroud harus berkelit dari John O’Shea dan melakukan flick sulit dengan punggung kaki kiri. Intinya, Giroud tidak mendapatkan suplai bola dari lini tengah yang sibuk bermain di TENGAH. Berulang kali Giroud harus berduel dengan dua atau tiga pemain Sunderland SENDIRIAN.

Chef tidak membela satu pemain. Chef hanya ingin menegaskan bahwa sepak bola terdiri dari banyak unsur. Mari berpikir dengan logika karena pada ujungnya bukan siapa yang penting, tetapi bagaimana sebuah tim menang dan berjaya (lagi).

#COYG

Sumber data:

1. Sumber gambar: Sky Sport 1

2. Squawka untuk “denah” sentuhan.

3. Sumber ilmu dari: “Soal Kompaksi dan Beberapa Contoh dari Pertandingan Akhir Pekan Lalu” karya @ryantank100 yang dirilis lewat fandom.id

Comments

2 thoughts on “Analisis Laga Arsenal 0 v 0 Sunderland: “Bukan Siapa, Tetapi Bagaimana””

  1. Ulasan yg cerdas…tambahan: jika Wenger memaksakan utk menyerang lewat tengah, mengontrol & menguasai ball possesion, hrsnya memilih penyerang dg akselerasi yg tinggi, yg sanggup menarik bek lawan ketengah & ber adu sprint (dan hanya sanchez yg ada di starting11)kala menyambut sodoran troughpass dr gelandang penguasa bola(dan kita punya gelandang itu(kita:gooners))…giroud bukan tipe penyerang itu. Percobaan Extreem yg saat itu mungkin (krn welbeck cedera)adalah menduetkan wallcot & sanchez, giroud dicadangkan. Ini pendapat saya.

    1. sipp..

      tapi, melawan tim yg bertahan dengan d-line rendah, pemain dengan kecepatan bukan solusi. bukan pemain yg harus berlari, tetapi bolanya dengan kata lain memindahkan bola dari kaki ke kaki dengan cepat sehingga pemain lawan tidak sempat menutup space tertentu. ketika melawan sunderland, coba agan perhatikan, beberapa kali trio Ozil-Ramsey-Alexis berada dalam momen pause selama beberapa detik. momen ini memberikan kesempatan bagi bek lawan untuk mengatur pertahanan. pemain dengan akselerasi tinggi bagus untuk set-up counter seperti era invincibles.

      intinya begini dalam soal passing:

      – musuh rapat, kita cepat
      – musuh longgar, kita akurat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *