Arsenal 0-2 West Ham United: Kesalahan Pengambilan Keputusan dan Kognisi

Musim masih panjang, berbagai kesalahan sudah terjadi. Idealnya, kesalahan menjadi wadah evaluasi, bukan menjadi bahan justifikasi satu atau dua pemikiran yang sudah disampaikan secara berani.”

Seperti menelan pil pahit, Arsenal membuka tirai Premier League 2015/2016 dengan kekalahan. Kali ini, West Ham memberikan pukulan telak kepada Arsenal setelah rentetan pra-musim yang begitu gemilang. Kekalahan ini juga seperti menjadi penegasan soal penyakit menahun yang menjangkiti Arsenal, yaitu soal konsistensi dan ketebalan mental. Sebelum laga, saya sudah menekankan bahwa Arsenal harus tampil sempurna dan tidak membuat kesalahan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, parade kesalahan diumbar dan kondisi kognisi menjadi tidak punya arti.

Parade Kesalahan

Arsenal tampil begitu buruk, bahkan hampir sepanjang pertandingan. Secara individual, pemain-pemain Arsenal seperti kurang bijaksana, terutama dalam mengambil keputusan. Secara general, pemain-pemain Arsenal tidak memperagakan build-up taktikal secara akurat. Tulisan ini akan mencoba menunjukkan beberapa kesalahan pengambilan keputusan yang mengubah laga. Kesalahan ini terjadi secara berantai, jadi secara bijak, kita coba hindari menyalahkan satu pemain secara mutlak.

  1. Kesalahan ketika bertahan

Sekitar 1 menit laga berjalan, overload Arsenal justru sangat merugikan.1

Perhatikan gambar di atas. Debuchy keluar dari posnya dan masuk ke wilayah half-space untuk menekan pemain West Ham yang membawa bola. Immediate pressing yang diperagakan Debuchy justru menjadi pengambilan keputusan yang kurang tepat jika melihat bentuk overload 4v3 yang diperagakan Ramsey, Chamberlain, Coquelin, dan Debuchy sendiri.

Mungkin akan lebih ideal apabila Ramsey lebih turun ke belakang dan menekan pemain West Ham yang membawa bola sehingga Debuchy bisa mengawasi pergerakan Dimitri Payet, yang mencoba mengeksploitasi space kosong di posisi kanan. Chamberlain akan lebih bisa fokus ke Mark Noble yang bersiap melakukan overlap. Perhatikan juga pengambilan posisi Cazorla di pojok kanan gambar tersebut. Cazorla berdiri terlalu jauh sehingga posisi #6 menjadi kosong. Apabila maksud posisi Cazorla adalah mengawasi pergerakan Kouyate, keputusan tersebut juga bisa dibilang kurang tepat karena membiarkan space penting bisa dimanfaatkan Zarate jika lolos dari marking Coquelin.

Selang 1 menit kemudian, Arsenal kembali memperagakan aksi bertahan yang kurang baik.

2

Ketika melawan Chelsea dalam ajang Community Shield, jarak antara Koscielny dan Monreal juga dengan mudah diekspoitasi. Ketika melawan West Ham, kejadian serupa hampir menjadi gol. Jika gerakan Monreal sesuai taktik memang harus melebar, maka sudah sepatutnya ada pemain lain yang masuk ke half-space untuk covering the space antara Monreal dan Koscielny. Dalam gambar di atas, Ramsey menjadi pemain terdekat yang seharusnya melakukan hal tersebut. Namun, karena sudah kalah langkah dan ditambah kalah lari, Ramsey tidak melanjutkan tracking back dan memberi beban lebih kepada Koscielny. Beruntung, bola tarik Kouyate masih bisa disapu Per Mertesacker.

Dari dua kesalahan tersebut,  terlihat bahwa kompaksi horizontal Arsenal begitu buruk. Kesalahan ini tidak hanya terjadi ketika melawan West Ham saja, sejak beberapa musim terakhir, urusan kompaksi vertikal dan horizontal Arsenal tidak solid. Jika mau melihat konteks yang lebih luas, masalah ini juga terjadi di sepak bola Inggris secara keseluruhan. Arsenal, dan sepak bola Inggris bisa belajar dari Bundesliga, di mana sistem, konsep pressing, dan counterpressing merupakan makanan sehari-hari.

4

Nah, gambar di atas adalah proses gol West Ham yang pertama. Kesalahan pengambilan keputusan berantai yang terjadi dimulai ketika Ramsey tidak cermat mengangkat kaki terlalu tinggi dan wasit memberika free kick untuk West Ham. Ketika bertahan dari bola mati, Coquelin tidak sadar dengan posisinya sehingga menumpulkan offside trap yang dirancang. Namun, ada kesalahan lain yang cukup fatal, yaitu sistem man-marking yang dilakukan Monreal. Pertanyaan pertama, kenapa bukan Koscielny yang me-marking Kouyate? Pertanyaan kedua, kenapa jarak Monreal dengan Kouyate terlalu jauh?

Ketika diserang dengan bola atas, pemain bertahan harus “menempelkan” dirinya dengan lawan. Menempelkan diri bukan berarti menghambat lari yang bisa berakibat pelanggaran. Menempelkan diri artinya membatasi gerak dan daya tolak lawan ketika akan melompat. Akan lebih ideal apabila Monreal berdiri di sudut mati Kouyate sehingga mendapatkan keuntungan dengan membatasi daya tolak untuk melompat. Kesalahan lain yang jelas mata adalah pengambilan keputusan Cech untuk menggapai bola. Jika keluar dari posisinya untuk menjemput, kiper harus 100% yakin berhasil menyapu bola. Jika ragu, lebih baik stay-put dan baca arah sundulan. Kejadian tersebut memang terjadi dalam rentang detik. Namun bagi kiper, kondisi tersebut harusnya sudah melekat sejak drill latihan. Ini kesalahan mendasar dan sering terjadi untuk kiper, namun harusnya bisa diantisipasi sejak persiapan laga.

Selanjutnya, kita simak kesalahan berantai yang terjadi sebelum gol West Ham kedua.

5

Perhatikan gambar di atas (menit 56:12). Ketika West Ham memulai transisi (dari tendangan gawang), Coquelin, Ramsey, dan Cazorla tidak berada dalam posisi ideal. Coquelin terlalu maju masuk ke posisi #8 dan menumpuk dengan posisi Ramsey. Sementara itu, posisi Cazorla juga tanggung, antara hendak berdiri di half-space atau covering #6, posisi di mana Coquelin berada. Jika maksud Coquelin adalah man-marking Mark Noble, seharusnya ia tidak berdiri terlalu jauh dari lawan. Bahkan, lebih ideal jika Coquelin tetap di zona #6 dan menghadap gawang lawan. Pada posisi mengejar seperti itu, pandangan mata Coquelin akan menyapu banyak pemain lawan, dalam hal ini Noble dan Payet. Sementara itu, lantaran Debuchy berdiri dalam posisi narrow masuk ke sekitar half-space, Chamberlain harus sudah memulai lari covering posisi bek kanan untuk marking Payet.

Dari situasi tersebut kesalahan berantai dimulai. Noble, yang mendapatkan space lebar di zona #6 dengan mudah switch the ball ke arah Payet. Payet, merangsek masuk ke posisi bek kanan dan diikuti Chamberlain. Ketika hal ini terjadi, Cazorla dan Ramsey sudah harus berdiri berdekatan untuk covering daerah yang cukup luas di sekitar zona #6 karena Coquelin “seharusnya” mengawasi Noble. Namun, pada situasi ini, Coquelin mendekati Chamberlain dan Debuchy untuk menciptakan pressing 3v2 karena Aaron Cresswell overlap dari belakang. Keputusan Coquelin pada situasi ini sudah benar, yaitu covering daerah di belakang Chamberlain dan Debuchy.

6

Keputusan Coquelin menjadi tepat setelah Chamberlain dan Debuchy tidak menjaga jarak dengan benar dan Cresswell bisa masuk di antara keduanya. Melihat hal ini, Coquelin mencoba menghentikan Cresswell dengan sliding. Keputusan ini juga menjadi benar karena berhasil mengambil bola dari kaki Cresswell. Bola “liar” hasil sapuan Coquelin berhasil dikuasi Chamberlain, yang masuk ke kotak penalti mengejar Cresswell. Saat ini, seharusnya Arsenal masuk ke fase transisi untuk menyerang balik.

7

Seperti penjelasan di gambar di atas, Chamberllain gagal mengontrol bola dengan baik dan memulai transisi menyerang. Bola berhasil dikuasai Zarate, memutar badan dan menghadap gawang Cech, maka ruang menembak berhasil ia dapatkan. Situasi berantai tersebut seharusnya bisa diantisipasi Cazorla. Ada dua pilihan untuk Cazorla. Pertama, melakukan immediete pressing dengan tackle atau menabrakkan badan ke Zarate. Kedua, menunggu Zarate membalikkan badan dan memotong jalur tembakan. Namun, Cazorla tidak melakukan keduanya. Ia hanya berdiri dan menunggu. Ada satu kemungkinan kuat di sini, yaitu Cazorla merasa Koscielny sudah berdiri di jalur tembakan dan Cech pasti sudah melihat gelagat Zarate. Cazorla juga bisa dibilang mengawasi Kouyate yang berdiri dekat dengan situasi yang terjadi. Di sini terjadi kesalahan fatal.

8

Pengambilan keputusan Cazorla menjadi sangat salah. Alasannya, pertama, Cazorla jelas tidak mungkin bisa melihat space antara Koscielny dan Mertesacker dengan jelas. Apalagi, Koscielny tidak berdiri di jalur tembakan dengan tepat. Kedua, terkait pressing yang seharusnya sudah dilakukan semenjak Zarate merebut bola dari Chamberlain. Ketiga, dari bentuk tolak badan Cazorla, nampak ia awas dengan gesture Kouyate yang meminta bola. Jika ini yang dipikirkan Cazorla, maka jelas menjadi kesalahan karena Kouyate seharusnya diawasi Ramsey. Kesalahan berantai, di mana Ramsey berada? Sebenarnya Ramsey tidak berdiri terlalu jauh, namun masih cukup jauh untuk masuk dalam glance Cazorla. Bola dilepaskan oleh Zarate, Koscielny statis (meskipun secara teori sudah benar supaya tidak halangi pandangan Cech), dan Cech salah antisipasi karena sudah terlanjut bergerak ke tengah. West Ham mencetak gol kedua.

2. Kesalahan ketika menyerang

Kesalahan ketika menyerang sebenarnya tidak signifikan untuk dibahas di artikel ini. Namun, setidaknya bisa menjadi gambaran bahwa keputusan yang diambil merupakan kesalahan berantai yang memicu gol West Ham. Untuk dicatat, pertahanan West Ham sebenarnya tidak sempurna.

9

Ketika pemain-pemain West Ham dengan duty melakukan overload 7v5 di kanan, Chamberlain menyediakan opsi bagi build-up Arsenal. Seperti gambar di atas, Chamberlain hanya di-marking oleh Cresswell. Pembaca pasti masih ingat dengan potensi Chamberlain ketika one-on-one dengan Cesar Azpilicueta. Sayang, Cazorla memilih menggiring bola mencoba merangsek ke kotak penalti. Akhirnya, karena timing hilang, bola dan kesempatan juga ikut hilang. Perhatikan gambar di bawah ini.

10

Pada menit 38:55, Arsenal sebenarnya memiliki peluang mencetak gol. Namun, kesalahan pengambilan keputusan oleh Ramsey membuat peluang tersebut menguap. Perhatikan betapa narrow-nya block pertahanan West Ham dan Debuchy melakukan overlap dengan cerdik. Ruang yang Debuchy dapatkan di half-space begitu mewah. Jika Ramsey menyodorkan bola ke Debuchy, peluang gol pasti sangat tinggi. Alih-alih mengoper, Ramsey menembak bola dan melebar. Menjadi salah karena sebuah kesempatan emas tidak dimaksimalkan. Jika gol, mungkin kita akan lebih bisa memaafkan keputusan Ramsey tersebut.

Selain dua kesempatan di atas, beberapa kali Chamberlain mampu mengekspoitasi sisi kiri West Ham yang dikawal Cresswell dan Ogbonna. Di babak kedua, setelah Walcott masuk, sisi kiri West Ham masih menunjukkan kelemahan yang sama. Namun, selalu tidak dimaksimalkan Arsenal. Selain berbicara peluang, pemain Arsenal juga banyak melakukan kesalahan elementer. Paling tidak, Ramsey, Cazorla, Coquelin, Monreal, dan Ozil melepaskan umpan pendek, diagonal, dan terobosan yang tidak akurat dan merusak timing. Arsenal juga setidaknya mendapatkan 3 freekick di spot yang bagus, yang juga tidak dimaksimalkan. Antisipasi bola mati masih harus diperbaiki, baik saat menyerang, dan terutama saat bertahan. Dan, yang paling penting adalah membenahi kompaksi vertikal dan horizontal. Lawan-lawan di Liga Champions, terutama dari Jerman dan Spanyol sangat fasih dengan sistem pressing tersebut.

Terkait Kognisi

Sesuai arti dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kognisi artinya ‘usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri’. Pengalaman apa yang dimaksud? Begini, ketika melawan tim dengan block rendah, catatan Arsenal tidak gemilang. Lalu, ketika melawan tim yang di atas kertas bisa dikalahkan, Arsenal juga tidak superior. Dua hal tersebut merupakan pengalaman yang sudah sering dialami Arsenal bahkan sejak era Fabregas dan Robin van Persie.

Arsenal sebenarnya sudah paham dengan “cara” melawan tim-tim tersebut, misalnya leg kedua melawan Monaco musim lalu. Atau, ketika final FA Cup melawan Aston Villa. Arsenal bisa menunjukkan pengambilan keputusan yang baik. Ujungnya, build-up dari transisi bertahan ke menyerang bisa efisien.

Kognisi terkait pengalaman juga nampak dalam membangun sistem pressing. Sering, Arsenal tidak menunjukkan kompaksi vertikal dan horizontal yang ideal. Akibatnya, jarak antar-pemain terkadang berjauhan dan menyulitkan ketika menekan ball-carrier lawan. Atau bahkan kesulitan menciptakan overload di beberapa zona pertahanan. Beberapa pandangan menyebutkan bahwa hal ini juga dipengaruhi kultur sepak bola Inggris. Namun, sudah banyak diskursus mengenai sistem kompaksi yang berkembang di Eropa. Kenapa Arsenal tidak ikut berkembang? Kenapa Arsene Wenger tidak mau mengubah sistem dengan radikal? Sam Allardyce memang sempat menyebut Wenger sebagai pelatih yang keukeuh dengan “my way”. Namun, seiring sepak bola modern, prinsip “my way” harus dimodifikasi menjadi “our way”. Karena saat ini Arsenal bermain seperti imajinasi Wenger, bukan Arsenal sebagai Arsenal (yang berkembang mengikuti zaman).

“Musim masih panjang, berbagai kesalahan sudah terjadi. Idealnya, kesalahan menjadi wadah evaluasi, bukan menjadi bahan justifikasi satu atau dua pemikiran yang sudah disampaikan secara berani.”

#COYG

Comments

One thought on “Arsenal 0-2 West Ham United: Kesalahan Pengambilan Keputusan dan Kognisi”

Tinggalkan Balasan ke Gooners LA Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *