Arsenal 0 v 0 Liverpool: Berbagi Babak

Seperti bersepakat, Arsenal dan Liverpool berbagi penguasaan babak hingga skor kaca mata. 

Laga bertajuk Monday Night Football antara Arsenal dan Liverpool berakhir tanpa gol. Tampil tanpa Laurent Koscielny dan Per Mertesacker, Arsenal lebih banyak tertekan di babak pertama. Dua kali sepakan Coutinho membentur tiang gawang. Sementara  itu, peluang bersih Christian Benteke masih dapat digagalkan Petr Cech. Di babak kedua, Arsenal ganti menekan setelah berhasil keluar dari pressing tinggi pemain-pemain Liverpool. Beberapa peluang juga tercipta dari kaki Oliver Giroud dan sepakan keras Alexis Sanchez yang mentok di tiang. Seperti berbagi babak, kedua tim harus puas dengan skor kaca mata.

Babak 1: Pressing tinggi, Kesalahan mendasar, dan Overload

Seperti biasa, Arsenal selalu mencoba membangun serangan dari belakang (build from the back).  Inisiatif tersebut biasanya diawali oleh Mertesacker yang memang memiliki ketenangan memegang bola. Namun, ketika melawan Liverpool, Calum Chambers, yang menggantikan Mertesacker belum mampu menjalankan tugasnya secara akurat. Banyak kesalahan umpan yang dilepaskan Chambers. Namun, bukan hanya Chambers saja yang membuat kesalahan. Sebagian besar, bahkan mungkin semua pemain, melakukan error ketika mengumpan bola. Santi Cazorla, yang berperan “memegang” tempo di tengah lapangan juga tidak terlihat nyaman ketika menguasai dan mendistribusikan bola.

Kondisi inilah yang disebut kesalahan mendasar, yaitu kesalahan teknik mengumpan dan membaca pergerakan kawan serta lawan.

Ada aksi, ada reaksi. Selain karena rentetan kesalahan mendasar yang dilakukan pemain-pemain Arsenal, pressing tinggi yang dibangun Liverpool juga turut andil. Perhatikan gambar di bawah ini:

1

Ketika memegang bola, Chambers dalam keadaan dikejar Benteke. Ketika membalikkan badan dan menghadap gawang Liverpool, pemain terdekat untuk opsi umpan adalah Bellerin. Namun, Bellerin dibayangi Coutinho. Chambers menyadari Cazorla sedang ditekan Milner dari belakang dan sangat berisiko bila melepaskan bola ke sentral lapangan ketika pemain-pemain Liverpool menekan dirinya sebagai ball-carrier. Perhatikan juga gesture Coquelin yang berlari mendekat meminta bola. Coquelin menjadi opsi paling mudah apabila melihat kondisi Chambers yang harus segera melepas umpan. Coutinho, yang membayangi Bellerin menyadari gelagat ini. Perhatikan Coutinho menoleh ke kanan memastikan bahwa ada pemain Arsenal yang mendekat. Secara psikologis, Coutinho membuat jebakan jalur passing.

Begini proses pressing Liverpool: Benteke menekan ball carrier, mengurangi waktu penguasaan bola > Coutinho mengurangi opsi ball-receiver termudah > Coutinho membuka space di sisi tubuh bagian kanan sebagai jebakan > Coquelin melihat space dan berlari meminta bola > Secara psikologis, Coquelin adalah opsi logis bagi Chambers > Bola dilepas Chambers, lalu dipotong Coutinho > space di samping tubuh kanan Coutinho sebenarnya tidak lebar, namun “terlihat” lebar karena tekanan psikologis dari Benteke > Bola dari Chambers berhasil dipotong dan peluang tercipta untuk Liverpool.

2

Perhatikan Coutinho yang langsung bergerak begitu Chambers memasuki kuda-kuda melepas umpan. Hanya sekitar satu detik adalah waktu yang dibutuhkan Coutinho untuk masuk ke ruang yang ia ciptakan sebagai jebakan. Benteke dengan cerdik terus mengawal Chambers, namun tidak terburu-buru menerjang. Striker kekar asal Belgia tersebut paham bahwa Chambers sudah masuk dalam jebakan yang ia dan Coutinho ciptakan. Bellerin sendiri terus bergerak ke samping dan justru bebas dari marking Coutinho. Jika lebih tenang, Chambers akan mendapati Bellerin adalah opsi yang benar, apalagi, di depannya Ramsey hanya dijaga oleh Joe Gomez. Apabila Bellerin menerima umpan lalu membawa bola ke depan, ia dan Ramsey akan menciptakan situasi 2v1 atau 3v2 bersama Coquelin yang dikuntit Emre Can dan menguntungkan transisi Arsenal.

Inilah pressing tinggi yang dibangun Liverpool, yang membuat pemain-pemain Arsenal banyak melakukan kesalahan mendasar.

3

Gambar di atas adalah salah satu bentuk pressing tinggi yang dibangun Liverpool. Bola hasil sundulan (second ball) Gabriel berhasil dikuasai Milner di tengah. Bentuk narrow gelandang-gelandang Liverpool membuat pemain Arsenal juga menyesuaikan. Akibatnya, setelah menerima bola, Milner berhasil menemukan ruang di sekitar half-space untuk melepas umpan terobosan kepada Banteke. Salah satu kelebihan pressing tinggi Liverpool adalah penguasaan ruang yang lebih efektif untuk meredam transisi Arsenal.

Inilah yang membuat Arsenal di babak pertama terlihat sangat kesulitan membangun ritme.

Untuk keluar dari pressing Liverpool, pemain-pemain Arsenal harus bergerak sebagai satu kesatuan. Cara paling mudah adalah mendekati ball-carrier dan menyediakan diri sebagai ball-receiver. Atau, bisa juga satu pemain membuat decoy run dan mengalihkan pressing pemain lawan ke arah tertentu. Dengan begitu, ball-carrier akan lebih mudah menemukan kawan di pertahanan lawan. Livepool sendiri sudah memperkirakan cara berkelit yang sederhana ini, salah satunya dengan secara intens melakukan overload, bahkan di wilayah pertahanan Arsenal sendiri. Tujuannya, untuk mengisolasi “jembatan” antar-lini Arsenal sekaligus menutup jalur passing paling ideal. Oleh sebab itu, tidak heran apabila bola banyak dikembalikan ke kiper. Cech sendiri mau tidak mau harus melepas umpan panjang ke arah Giroud yang tentu sangat sia-sia. Alasannya, ketika bola jauh dilepas, Giroud sudah ditempel secara harafiah oleh Lucas Leiva dan Dejan Lovren atau Martin Skrtel.

4

Setelah kehilangan penguasaan bola, Liverpool langsung menekan ball-carrier Arsenal. Selain meredam transisi, Liverpool akan mendapatkan keuntungan tersendiri dari superioritas jumlah tersebut. Keuntungan yang dimaksud adalah dapat langsung merebut bola di wilayah Arsenal sekaligus melancarkan serangan. Counterpressing ini memang berhasil dilakukan. Bola berhasil dicuri dari kaki Cazorla dan kesempatan Arsenal untuk memulai transisi serangan gagal.

5

Ketika goal kick dari sisi Liverpool, pada suatu kesempatan, pemain-pemain Arsenal menciptakan dua block yang tidak ideal. Kotak pertama adalah situasi 2v4 antara 2 pemain Arsenal bertubuh pendek dengan 3 pemain Liverpool yang lebih tinggi plus Coutinho. Kotak kedua berisis Ramsey, Ozil, Giroud, dan Alexis yang seharusnya berdiri lebih dekat dengan Cazorla dan Coquelin untuk amankan second ball. Pada tulisan pre-match, penulis menyebut bahaya second ball yang jatuh ke area #6 akan sangat berbahaya karena di sana hanya berdiri Cazorla dan Coquelin. Menjadi dilema dan semakin berbahaya apabila Gabriel atau Chambers berinisiatif membantu Cazorla dan Coquelin karena akan meninggalkan lubang di sentral pertahanan.

Inilah overload Liverpool yang sangat berbahaya karena mengurangi peluang Arsenal untuk menguasai bola. Selain itu, superioritas jumlah membuat Liverpool lebih mudah membangun serangan ketika berhasil memenangi bola di area yang berbahaya.

Babak pertama berjalan sangat baik bagi Liverpool dengan pressing tinggi dan overload di beberapa kesempatan. Dua sistem tersebut membatasi opsi passing dan arah gerak pemain-pemain Arsenal. Maka tidak heran apabila sulit sekali bagi Arsenal untuk keluar dan mengatur ritme. Babak pertama menjadi milik Liverpool.

Babak 2: Bentuk inisiatif, namun tidak efisien

Setelah rehat, Arsenal lebih berani menahan bola dan tidak tergesa-gesa melepaskan umpan percuma. Sirkulasi bola lebih baik terutama dari kedua bek sentral ke Cazorla, Ozil, dan Ramsey. Di babak kedua, Chambers juga memperbaiki kesalahannya dalam hal mendasar, yaitu passing. Tercatat, di babak kedua, Chambers mencatatkan 100% passing sukses. Angka ini menjadi indikasi sederhana dari dominasi yang mulai dibangun Arsenal atas Liverpool. Sejurus inisiatif ini, entah kenapa Liverpool lalu bertahan lebih dalam ketimbang di babak pertama. Beberapa kali usaha Liverpool keluar dari bentu pertahanan rendah ini tidak berhasil karena Arsenal berbalik menutup beberapa opsi passing. Di babak kedua ini Arsenal juga banyak mengeksploitasi sisi lapangan karena Liverpool bertahan secara narrow. Sayang, beberapa inisiatif masuk ke kotak penalti dan beberapa umpan diagonal gagal berbuah gol.

6

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Liverpool bertahan dengan sangat narrow dan membuat block pertahanan rendah. Jika coba dieksploitasi dari depan, block pertahanan rendah ini bekerja dengan baik. Ruang di area #6 menjadi tertutup, akibatnya, ruang tembak dari area yang ideal mampu diredam. Salah satu dari Milner, Lucas Leiva, dan Emre Can juga bergantian turun menjadi bek sentral tambahan, terutama untuk membantu Skrtel dan Lovren menutup ruang gerak Giroud dan Ramsey yang coming from behind.

Meskipun cukup rapat, block pertahanan rendah ini masih mampu ditembus dengan bola datar diagonal dari sekitar half-space dan sisi kotak penalti. Tiga kali Arsenal mendapatkan peluang mencetak gol dari situasi semacam itu, termasuk satu sepakan Alexis Sanchez yang membentur tiang gawang.

7

Cazorla, yang mendapatkan ruang di half-space sebelah kanan pertahanan Liverpool melepaskan umpan diagonal mendatar ke area tengah di mana Giroud menarik perhatian Skrtel dan Lovren. Sementara itu, Lucas Leiva tidak melanjutkan larinya untuk me-marking Alexis Sanchez. Alhasil, bola pantul dari Giroud diterima Sanchez di area yang cukup untuk melakukan kuda-kuda dan menembak bola. Sayang, sekali lagi, peluang emas gagal berbuah gol.

8

Seperti proses di gambar sebelumnya, kali ini Alexis Sanchez melihat posisi Ramsey yang mendapatkan ruang di half-space sebelah kanan. Skrtel tidak cukup cepat untuk menutup ruang yang bisa dimanfaatkan Ramsey. Gelandang serang asal Wales tersebut memang berhasil merangsek ke dalam dan mengirim umpan tarik. Kembali, efisiensi pemain-pemain Arsenal sedang menguap. Giroud gagal menyodok bola tarik yang dilepas Ramsey.

Sepanjang babak kedua, Arsenal banyak melakukan build-up menyerang dengan pola serupa, yaitu merenggangkan block pertahanan rendah Liverpool lalu berusaha mengirim umpan diagonal ke dalam kotak penalti. Cara ini sebenarnya cara yang sederhana karena memanfaatkan efek pergerakan pemain-pemain Liverpool yang menyebabkan ruang di sekitar half-space terbuka. Namun, berapa pun jumlah usaha yang dilakukan Arsenal, skor tetap kaca mata karena sisi efisiensi pemanfaatan peluang sangat rendah. Ini bukan soal siapa striker atau penyerang yang bermain, namun menjadi masalah setiap pemain yang mendapatkan peluang di dalam box Liverpool. Babak kedua menjadi milik Arsenal.

Inilah yang dimaksud mengambil inisiatif, namun tidak efisien.

#COYG

Comments

One thought on “Arsenal 0 v 0 Liverpool: Berbagi Babak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *