Kisah Arsenal: Hanya Wenger dan Tuhan yang Tahu

Menu dari @syaamrizal

Sampai jendela transfer musim panas ditutup, Arsenal menjadi satu-satunya tim lima besar yang tidak mendatangkan pemain out-field.

Untuk skuat senior, Arsenal hanya mendatangkan Petr Cech dari Chelsea dengan mahar 10 juta Pound. Tidak seperti biasanya, Arsenal bergerak cepat untuk mengamankan tanda tangan Cech. Tak ayal, gerak cepat ini melambungkan asa bahwa Arsenal akan memboyong nama-nama besar lagi. Toh, Arsenal sudah melepas beberapa pemai seperti Lukas Podolski, Ryo Miyaichi, dan Abou Diaby.

Lalu, kenapa harus Cech? Melihat separuh musim lalu, penampilan David Ospina sangat menjanjikan. Belum lagi Wojciech Szczesny yang bermain baik di final Piala FA. Untuk posisi kiper ketiga, Arsenal punya Emiliano Martinez. Kiper muda asal Argentina ini disebut bakal menjadi kiper masa depan Arsenal. Ketika ditanya perihal niat Arsenal memboyong Cech, Arsene Wenger menjawab, “Cech? Kami memiliki 3 kiper hebat.”

Tidak lama setelah kata-kata Wenger mengudara, Cech resmi berseragam Arsenal. Penumpukan kiper disiasati dengan meminjamkan Szczesny dan Martinez. Kedua kiper muda tersebut membutuhkan jam terbang dan pengalaman, terutama untuk Szczesny yang sebenarnya memiliki bakat besar. Serie A diharapkan bisa menempak mental dan konsistensi. Lalu, bagaimana dengan Ospina? Cech adalah kiper berpengalaman, baik di liga domestik dan Liga Champions. Keberadaan dirinya diharapkan bisa membantu Ospina mengangkat batas kemampuan terbaik. Pesaing dengan satu level di atas diharapkan menjadi pembeda. Well, terlepas dari segala pandangan kebijakan di atas, hanya Wenger dan Tuhan yang tahu.

Kembali ke komposisi skuat, posisi yang menurut saya lebih penting adalah DMF dan CF. Coquelin memang bermain baik sejak dipanggil dari “masa sekolahnya” bersama Charlton Athletic. “Menjanjikan adalah kata yang saya dapat dari penampilan Coquelin. Kenapa sektor ini menjadi penting? Coquelin tidak mungkin bermain penuh di empat kompetisi, butuh pelapis yang memiliki kualitas.

Saat ini, ada nama Arteta dan Flamini yang keduanya sudah dimakan usia. Arteta memilki cara bermain dan kemampuan yang berbeda dengan Coquelin, sedangkan Flamini tidak membuat saya tenang. Harusnya, Wenger lebih mengutamakan posisi DMF ketimbang kiper. Kita semua melihat bagaimana pentingnya memiliki pemain yang bertugas sebagai jangkar, menyeimbangkan lini serang yang sangat offensive. Keberadaan pemain dengan “tipikal Coquelin” terbukti mampu memberi rasa tenang bagi gelandang serang untuk berkreasi. Sekali lagi, hanya Wenger dan Tuhan yang tahu.

Bergeser ke depan, bagaimana dengan posisi striker? Apakah Arsenal akan mengarungi empat kompetisi dengan mengandalkan Oliver Giroud dan Danny Welbeck? Kita semua berpandangan Arsenal sangat membutuhkan striker baru. Namun, pola pikir Wenger jelas berbeda. Contoh paling gila tentang pola pikir Wenger adalah ketika Arsenal dipaksa bermain dengan 2 CB murni di awal musim 2014-2015. Setelah melepas Vermaelen ke Barcelona, Arsenal praktis hanya punya Laurent Koscielny dan Per Mertesacker sebelum akhirnya di bulan Januari membeli Gabriel Paulista.

Berbeda dengan posisi DMF yang memilik dua pelapis, posisi striker terlihat tidak memiliki kedalaman yang ideal, meskipun Theo Walcott bisa bermain di posisi tersebut. Ditambah lagi, Wenger berucap bahwa Alexis Sanchez yang bisa seperti Luis Suarez. Dengan alasan ini, Wenger keukeuh tidak akan menambah satu striker lagi. Mungkin, hutang pembangunan stadion memang menuntut Arsenal harus berhemat. Namun, Wenger sulit menjadikan alasan tersebut untuk tidak membeli pemain baru, apalagi hutang tersebut konon sudah impas. Setelah keuangan membaik dan Wenger masih tetap tidak membeli pemain baru, artinya bukan soal uang yang menjadi alasan.

Kita lihat dan bedah satu per satu.

Ketika ditanya soal ketersediaan striker berkualitas, Wenger menjawab “There’s a shortage in the world. It confirms what i just said, that there’s a difference between financial power nowadays and the availability of top-class players.” Kalimat tersebut menunjukkan implikasi bahwa Wenger sudah “mencari” striker baru, yang masuk jajaran top-class untuk mengangkat kualitas Arsenal.

Lalu, Wenger menambahkan, “For any deal, when you want to buy something you go to the owner and if he doesn’t want to sell, he doesn’t want to sell. You cannot buy.” Artinya, Wenger bahkan sudah melakukan pendekatan dengan presiden klub lain dan kepada pemain incaran. Lihat kasus Benzema, ketika Florentino Perez tidak membuat tanggapan apa pun melalui media yang mengindikasikan bersedia melepas. Benzema sendiri menegaskan dirinya akan bertahan lewat media sosial. Jika sudah begini, apa daya Arsenal? Kasus Cavani, manajemen PSG sudah tegas, tidak mau melepas, bahkan sampai detik-detik akhir jendela transfer.

Kita berkaca kepada klub lain yang jor-joran membeli pemain. Kita juga harus mau melihat dari banyak sudut, misalnya, kenapa Sterling mau bergabung bersama Manchester City. Kenapa Memphis Depay mau bergabung bersama Manchester United. Kenapa Pedro mau bergabung bersama Chelsea. Selalu ada latar belakang yang menjadi alasan kuat, plus variabel pemilik yang mau menjual dan si pemain yang mau hengkang terpenuhi.

Wenger juga secara tegas mengungkapkan, “We want to develop players as well rather than over-thinking whether to buy. I’m not against buying when it is a plus for your team. If it’s just to buy a player at the level of the players that you have to make people happy, i’m not ready for that.” Ya, Arsenal lekat dengan membangun pemain muda menjadi pemain kelas dunia. Suatu legacy yang akan ditinggalkan Wenger kepada penerusnya kelak.

Beberapa kutipan di atas merupakan pendirian Wenger dan kita bisa mengambil kesimpulan, meskipun mentah, bahwa itulah kebijakan Arsenal saat ini. Dari kaca mata fans, Arsenal tetap membutuhkan setidaknya tambahan DMF dan CF. Pandangan tersebut tidak bisa disalahkan karena kita semua melihat bagaimana kenyataannya. Namun, pandangan tersebut harus diimbangi dengan memikirkan lebih dalam apa tujuan besar Arsenal terkait langkah kebijakan tidak membeli pemain out-field musim panas ini.

Wenger ibarat wanita yang ketika diam tapi memikirkan banyak hal, yang ketika bilang “gak apa-apa” tapi sebenarnya “ada apa-apa”. Yang ketika bilang “A” tapi nyatanya “B”, penuh kejutan dan kerumitan. Mencoba memahami pola pikir Wenger dan Arsenal memang terkadang sulit, rumit, bahkan sampai makan hati. Sebuah kerumitan yang mungkin hanya Wenger dan Tuhan yang tahu.

#COYG

Comments

2 thoughts on “Kisah Arsenal: Hanya Wenger dan Tuhan yang Tahu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *