How to: Theo Walcott Sebagai Striker

Terkadang, solusi sebuah masalah tidak melulu berkaitan dengan kehadiran pihak ketiga. Namun, memaksimalkan sumber daya dari dalam diri bisa menjadi solusi bahagia yang selama ini justru luput dari kegelisahan kita.

Tidak mendatangkan striker baru di jendela transfer musim panas, Arsenal dan Arsene Wenger menjadi sasaran keluhan dan cacian. Terlebih setelah Danny Welbeck harus menepi hingga sekitar bulan Desember karena urusan cidera lutut. Melihat Oliver Giroud yang tidak jarang mengecewakan, banyak fans makin meradang. Theo Walcott, anak emas Arsenal sempat diharapkan menjadi solusi ujung tombak ketika para fans kehilangan selera bernyanyi untuk Giroud.

Melawan Newcastle United 2 minggu yang lalu, Walcott diplot sebagai ujung tombak. Sayang, performanya kurang memuaskan. Banyak kehilangan bola di lini depan, Walcott juga gagal memanfaatkan peluang gol yang ia dapatkan. Lalu, apa yang bisa diharapkan Gooners sedunia dengan potensi lini depan Arsenal, setidaknya hingga Januari mendatang ketika kesempatan membeli striker baru kembali terbuka?

Melihat ke dalam skuat, sebenarnya Arsenal memiliki banyak variasi yang cukup menjanjikan. Jika sudah lepas dari urusan cidera, Welbeck bisa dimaksimalkan. Arsenal juga masih menyimpan potensi terbaik dari Joel Campbell yang akhirnya bertahan. Kedua pemain jelas punya bakat dan potensi besar. Namun, masalahnya tetap sama, yaitu urusan “how to”, tidak terkecuali dengan Theo Walcott sendiri.

“How to” Terkait Theo

Tulisan ini akan secara singkat menggambarkan bentuk permainan yang harus selalu ada dalam pikiran Walcott ketika bermain sebagai ujung tombak. Penulis tidak akan menyentuh isu taktikal terkait instruksi Wenger kepada Walcott ketika bermain. Penulis akan membawa pembaca kembali melihat bahwa Walcott mempunyai atribut-atribut untuk menjadi penyerang yang baik. Apakah tulisan ini akan melahirkan diskursus soal duty Walcott sebagai False 9? Penulis belum akan menggalinya lebih dalam.

Perhatikan video berdurasi tiga menit di atas. Terutama, perhatikan pergerakan Walcott sejak free-kick dari Petr Cech. Pertanyaan pertama yang langsung terbersit adalah kenapa bola dari Cech diarahkan ke Walcott, yang secara fisik kalah dari bek-bek Newcastle? Ya, Arsenal mengincar second ball, yang memang berhasil diamankan. Bola berhasil dikuasai di sekitar area kotak penalti Newcastle. Namun, setelah bola berhasil diamankan, progresi Arsenal masuk ke kotak penalti tidak efisien. Sekali lagi, perhatikan pergerakan Walcott.

Dari tiga menit video tersebut, tercatat Arsenal melakukan 42 operan tepat sasaran. Dari sirkulasi tersebut, Arsenal “hanya” mencatatkan 1 kali umpan terobosan ke Walcott, 1 kali percobaan tendangan ke gawang yang berhasil di-block pemain Newcastle, dan 2 kali percobaan umpan silang yang bahkan tidak sampai ke pemain Arsenal. Dari catatan tersebut terlihat betapa tidak efisiennya Arsenal memanfaatkan penguasaan bola. Dan, yang paling penting terlihat betapa Walcott tidak maksimal dan tidak dimaksimalkan.

Tidak maksimal karena Walcott sendiri cenderung semi-statis, di mana pergerakannya sangat terbatas. Dengan punggung menghadap gawang, Walcott jelas akan sangat kesulitan memaksimalkan bola yang dioper kepadanya. Untuk mengatasi hal tersebut, Walcott seharusnya punya inisiatif untuk terus bergerak di antara celah pemain bertahan. Tujuannya, untuk mengacaukan koordinasi pemain bertahan, untuk menciptakan space bagi pemain Arsenal lain, sekaligus menciptakan ruang gerak 2-3 meter untuk dirinya sendiri. Walcott punya kemampuan untuk ini.

Tidak dimaksimalkan karena, keberadaan Walcott di antara kedua bek tengah Newcastle jelas bukan opsi terbaik untuk menerima bola. Alasannya, selain akan kalah jika dipaksa berduel secara fisik, Walcott akan terisolasi di antara pemain bertahan. Kedua alasan inilah yang membuat Ramsey dan Cazorla tampak ragu-ragu memberikan bola secara vertikal. Keduanya lebih sering menyebar umpan ke sisi lapangan. Selain karena gelandang-gelandang Newcastle sendiri menumpuk di depan kotak penalti, Cazorla dan Ramsey kesulitan menerjemahkan jalur umpan yang dibuat Walcott karena dua alasan di atas.

Perhatikan cuplikan video ketika melawan West Bromwich Albion di bawah ini. Pada pertandingan terakhir musim lalu, Walcott berhasil mencetak tiga gol ketika bermain sebagai striker. Perhatikan betapa dinamisnya Walcott bergerak.

Dari video berdurasi 52 detik tersebut tercatat Arsenal melepas 10 operan tepat sasaran, di mana 2 kali dilepas ke arah Walcott, 1 tendangan ke gawang tercipta, dan 1 gol didapat.

Yang menarik tentu bagaimana Walcott memanfaatkan “sprint kecil-kecil” di antara bek WBA untuk menciptakan ruang bagi dirinya sendiri. Perhatikan juga arah lari Walcott selalu siap menyongsong bola diagonal, bukan hendak menerimanya dengan punggung menghadap gawang. Gesture badannya yang selalu menyerong memudahkan Walcott untuk memutar badan jika menerima bola.

Keberanian Walcott untuk melepas tendangan setelah menerima bola juga patut masuk dalam catatan. Sebagai pemain yang berposisi paling depan dalam skema Arsenal, Walcott harus berani melepas tendangan. Jika pembaca jeli mencatat, beberapa pemain Arsenal, terutama gelandang memiliki kemampuan tendangan dari luar kotak penalti. Namun, beberapa kali kesempatan untuk melepas tendangan tidak dimanfaatkan. Di sini, Walcott harus menjadi pembeda dalam sistem Arsenal. Terutama, untuk memberikan variasi serangan dan efek kejut bagi bek lawan.

Artinya, ada sebuah keinginan untuk memanfaatkan keunggulan sprint jarak pendek dan keberanian melepas tendangan yang ditunjukkan Walcott. Gelandang-gelandang serang Arsenal juga tidak ragu memberikan bola terobosan karena melihat Walcott berada dalam posisi yang ideal.

Selalu ada dua variabel dalam sebuah skema, yaitu di pemberi bola dan si penerima. Waktu yang hanya sekian detik adalah rentang yang cukup luas bagi si penerima untuk menempatkan diri dalam posisi terbaik, untuk menerima bola. Hal yang sama juga berlaku bagi si pemberi, yaitu melihat secara cepat bahwa bola yang akan ia lepas akan berada di kaki yang tepat. Situasi ini membutuhkan gerak yang kontinu dan selaras. Jika Walcott hanya semi-statis, atau bahkan statis, situasi tersebut tidak akan tercipta.

Perhatikan video ketiga di bawah ini. Video berdurasi 1 menit 8 detik ini adalah cuplikan proses gol kedua Walcott di laga yang sama.

Sebagai pemain yang diplot sebagai penyerang, Walcott mempunyai goal-threat yang dapat dimaksimalkan.

Kemampuan finishing Walcott cukup baik, terutama jika mendapatkan ruang untuk bergerak. Kemampuan tersebut terlihat dari agility-nya untuk bergerak di tengah kerumunan bek WBA. Kecepatan berpikir untuk sedikit mencongkel bola lalu menembak dengan ujung kaki patut masuk dalam catatan. Artinya, jika di-plot sebagai “penyerang”, Walcott harus berani memegang dan bergerak dengn bola. Syaratnya, Walcott harus secara konsisten kontinu bergerak dengan timing yang tepat.

Kesimpulan

Dari tiga video di atas kita dapat menarik kesimpulan terkait “how to” episode Walcott. Pertama, Walcott harus secara pandai kontinu bergerak di areak kotak penalti lawan. Kedua, jangan sampai Walcott semi-statis, atau bahkan statis ketika build-up serangan. Ketiga, posisi punggung jangan pernah menghadap gawang, tetapi sedikit menyerong supaya mudah memutar badan ketika mendapat bola. Keempat, berani membawa bola dan melepas tendangan ke gawang.

Dari sisi tim, pertama, para gelandang serang harus mau secara verbal menegur Walcott untuk terus bergarak. Kedua, gelandang serang harus membaca pergerakan Walcott dan melepaskan bola di saat yang tepat. Gol pertama ke gawang WBA menjadi contoh paling baik. Ketiga, para gelandang tidak boleh bingung melihat pergerakan Walcott. Apabila Walcott bergerak keluar dari kotak penalti, harus ada pemain lain yang berinisiatif masuk, bukan hanya Alexis Sanchez saja.

Catatan

Catatan pertama, ketika bermain baik melawan WBA, Arsenal memang sedang berada dalam performa terbaik, terutama sejak paruh kedua musim lalu. Dari sisi kohesi, tim Arsenal memang sudah berada dalam level paling ideal. Hal ini boleh saja menjadi alasan performa Arsenal di awal musim ini. Namun, perlu dicatat, tim inti Arsenal tidak banyak mengalami perubahan. Sisi kohesi seperti yang ditekankan Wenger seharusnya tidak lagi menjadi isu.

Catatan kedua, apakah keberadaan Mesut Ozil sangat berpengaruh terhadap kinerja Walcott? Ketika melawan West Ham, keduanya tidak bermain cukup baik (dengan konteks gol). Sementara itu, ketika menjamu Stoke City tempo hari, Ozil dan Walcott menunjukkan kolaborasi umpan cantik dengan lari menyongsong bola yang pas. Kedua pemain bisa menjadi kunci pembeda, terutama ketika Arsenal bermain dengan “Walcott-mode”.

Melihat hal ini, pembaca masih boleh mengembalikan kesimpulan kepada catatan pertama di atas. Namun sekali lagi, sebaiknya hal ini tidak melulu menjadi alasan bagi fans dan klub profesional.

#COYG

Comments

4 thoughts on “How to: Theo Walcott Sebagai Striker”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *