Menjadi Gooner Nihilis

Apa yang tersisa dari laga Chelsea v Arsenal tempo hari? Sudut pandang apa yang bisa kita dalami bersama-sama?

Menu baru dari @isidorusrio_

Menyapa fans Arsenal di hari Senin yang sibuk seperti ini adalah salah satu hal terberat yang bisa diibaratkan dengan mengerjakan skripsi. Jujur saja, akhir pekan kita sebagai Gooner luluh lantak dengan apa yang terjadi di kandang Chelsea, Sabtu malam lalu. Tidak hanya kalah, kita dihantam dengan telak secara kontroversial, dan tidak adil. Sebentar, tidak adil? Ya, tentu saja ini opini pribadi saya sebagai suporter yang tim favoritnya kalah. Ada yang menganggap laga Sabtu malam lalu berjalan adil dan tanpa intrik? Atau mungkin memang hanya saya yang berlebihan dan terlalu dramatis.

Anda pernah mendengar istilah nihilisme? Ini pandangan kuno terkait pemikiran yang menolak bahwa hidup manusia harus memiliki arti. Sejatinya, nihilisme yang diajarkan Nietszche mencoba memberi pemahaman kepada kita bahwa hidup tidak perlu memiliki arti. Jadi, ini negasi dari apa yang sering dikatakan dan diajarkan Mario Teguh atau Merry Riana kepada Anda.

Nihilis mempersetankan motivasi untuk melakukan sesuatu dalam hidup dengan arti. Konklusinya, seandainya Anda seorang fans Arsenal dan misal, setiap akhir pekan Arsenal harus kalah dengan cara seperti yang kita alami di kandang Chelsea kemarin, menjadi nihilis adalah cara terbaik untuk tetap menjalani hidup sebagai Gooner dan berhadapan dengan kawan Anda yang seorang maniak Chelsea, atau lebih parah lagi, fans Manchester United.

Oke, kita kalah kemarin Sabtu, lalu apa? Mau meratapi dan mencaci Diego Costa? Silakan. Malah sangat saya anjurkan. Saya menghabiskan 2 jam pertama pasca-kekalahan Arsenal dengan sumpah serapah tentang Diego Costa. Tapi, lakukan itu hanya setelah pertandingan berakhir saja. Sehari dan berhari-hari setelahnya, Anda akan tetap melanjutkan hidup dan menjalani hari-hari sebagai fans Arsenal dengan cara yang biasa. Anda harus bisa melupakan bahwa Diego Costa dan tim yang dibelanya tak lebih hanya kerikil kecil yang membuat langkah kita Sabtu kemarin sedikit tersandung.

Namanya juga belajar menjadi nihilis, Anda harus bisa santai dan kalem menerima kekalahan sebagai hal yang tidak ada artinya.

Namun, selalu ada konsekuensinya. Ketika nanti Arsenal menang dan bermain dengan atraktif serta elegan seperti biasanya, Anda harus tetap kalem dan santai. Karena sejatinya, menang dan kalah bagi seorang fans yang nihilis adalah hal biasa. Tidak memiliki arti dan tidak perlu diratapi dengan berlebihan ketika kalah dan dirayakan berlebih ketika menang. Tapi, tentunya, ketika misal Arsenal nanti sukses menjuarai Liga Inggris atau Liga Champions, saya tidak berani jamin para Gooner akan tetap loyal menjadi seorang fans yang nihilis. Kalau Anda bisa seperti itu, level makrifat tertinggi dalam menjadi Gooner layak saya sematkan kepada Anda. Sungguh!

Pertanyaan terbesarnya bukan kepada bagaimana Anda menerima menang dan kalah, tapi bagaimana menempatkan sepak bola dan Arsenal sebagai relasi dalam pikiran fans. Sederhananya, Anda terlebih dahulu harus paham makna esensi sepakbola sebagai sebuah olahraga merangkap permainan, ada menang dan kalah, dan menjadi hal yang jamak. Ini pemahaman dasar yang suka luput dipahami, terlebih kita para “fans layar kaca”.

Kalau ingin setiap minggunya Arsenal selalu menang dengan cara yang menghibur dan atraktif, coba lah bermain gim Football Manager (FM). Lakukan save game sebelum pertandingan. Setiap kali kalah, ambil langkah load game. Begitu terus sampai Arsenal menjadi tim yang tidak terkalahkan. Arsenal bukan sebaik-baiknya tim di muka bumi, kalau saya boleh jujur. Ada Barcelona yang musim lalu treble, ada Bayern Munchen dengan kekayaan taktik Pep Guardiola dan kualitas pemain yang sekali lagi, jujur saya akui saat ini di atas Arsenal. Belum lagi Real Madrid atau Juventus.

Maksud saya begini. Bukan merasa inferior dengan klub lain, saya hanya mencoba melihat bahwa masih banyak tim yang jauh lebih hebat. Anda ingat Manchester City yang sekarang sedang memimpin klasemen itu musim lalu dihancurkan Barcelona dengan mudah? Ya, seperti itulah jarak yang terlihat semu namun sebenarnya nyata terbentang antara klub Liga Inggris dengan klub mapan di Eropa.

Tapi kembali lagi, sebagai seorang Gooner yang nihilis, Anda tetap boleh percaya Arsenal yang terbaik. Saya pun begitu. Dan, detik di saat saya menulis artikel ini, I’m still a proud Gooner. Jadi santai saja, kekalahan menyakitkan di Sabtu malam lalu hanya hal biasa yang sering terjadi di kehidupan kita sebagai Gooner. Kita bahkan pernah kalah secara dramatis di final Liga Champions 2006 atau Piala Carling 2011. Kekalahan tersebut harusnya menempa mentalitas kalian sebagai Gooner.

Tidak perlu mencaci berlebihan ketika kalah dan merayakan seperlunya ketika menang atau juara.

Ketahui lah, kesetiaan kita sebagai Gooner itu bisa bikin wanita klepek-klepek. Sungguh, wanita suka coklat, bunga dan tentu saja kepastian. Namun, wanita mana yang bisa menolak seorang Gooner yang setia dan loyal, bahkan saat tim pujaannya puasa gelar bertahun-tahun? Kesetiaan itu mahal, bung!
Jadi, menyikapi kekalahan Sabtu lalu, dan mungkin, kekalahan-kekalahan mendatang yang mungkin menimpa Arsenal, pahami teorema berikut: “It’s just a bad day, not a bad life
#COYG

Comments

2 thoughts on “Menjadi Gooner Nihilis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *