Arsenal, Liga Champions, dan Dua Legenda Pedang

Matchday kedua Liga Champions siap digelar di Emirates. Arsenal akan menjamu Olympiacos, klub dari Negeri Para Dewa. Faktor internal Apa yang dibutuhkan Arsenal? Mari menekur bersama-sama

Sebagian materi dalam narasi ini sudah pernah saya tuangkan di artikel Gundogan mah apa atuh: Suatu Sore Bersama Miyamoto Musashi dan Yagyu Munenori. Nah, nada tulisan ini sendiri ingin merespons tulisan Arief Natakusumah yang berjudul Mendukung Arsenal Itu Melelahkan yang dirilis juara.net pada hari Senin, 21 September  2015.

Di dalam artikelnya, Arief menyinggung dua permasalahan Arsenal, yaitu mental blok dan nasib sial. Untuk urusan nasib, saya tidak berani mendebat. Untuk urusan mental, ini yang selalu menjadi catatan sejak tahun 2005 hingga 2015. Sejak Arsenal terakhir kali menjadi jawara di negeri sendiri.

Urusan mental blok ini sangat memang mengganggu dan akibatnya sungguh masif. Musim lalu, ketika diunggulkan atas Monaco, Meriam London justru tidak bisa berbuat banyak, terutama di Leg 1. Kalah di kandang, selain urusan taktikal, pemain-pemain Arsenal kehilangan bekal krusial. Aspek mental lesap entah ke mana. Pemain-pemain seperti “enggan bertarung” di atas lapangan. Lalu, apa solusi untuk urusan mental ini? Dua jago pedang pernah mengajarkan sesuatu yg sungguh “sesuatu”.

Catatan Musashi dan Yagyu Munenori

Dua legenda pedang yang maksud adalah Miyamoto Musashi dan Yagyu Munenori. Selain urusan teknik olah pedang, dua ahli pedang dari Jepang tersebut juga mengajarkan kita olah diri. Menemukan dan menyadari potensi adalah inti yang ingin dicapai, setidaknya menurut saya.

Dalam buku The Book of 5 Rings, Thomas Cleary menjelaskan beberapa pokok pemikiran Miyamoto Musashi dan Yagyu Munenori, keduanya legenda pemain pedang bangsa Jepang.

Bagi Musashi, kondisi pikiran sangat penting dalam seni perang. Musashi menekankan bahwa seorang petarung harus menekankan perhatian pada kondisi pikiran (mind), ketimbang fisik. “Bagi orang yang secara fisik kecil, adalah sangat mendasar untuk mengetahui bagaimana menjadi besar, dan bagi orang yang secara fisik besar, sangat mendasar untuk mengetahui bagaimana harus menjadi kecil; yang esensial diperhatikan adalah menjaga agar mind bebas dari seluruh prasangka subyektif (Clearly, 2007: 46)”.

Pandangan Musashi tersebut bisa menjadi lukisan tepat bagi pemain-pemain Arsenal, yang memang terlihat “kecil” secara fisik. Namun, fisik kecil tidak penting karena yang ditekankan adalah kekuatan mind. Kekuatan ini adalah modal dasar dari kedalaman niat dan totalitas setiap pemain.

Kekuatan mind mampu mengubah manusia, melahirkan kembali setiap individu menjadi seseorang dengan level yang berbeda. Lihat saja bagaimana Coquelin, dari seorang angora skuat yang pernah “dibantai” Manchester United dengan 8 gol dan kini menjadi salah satu pilar kebangkitan Arsenal sejak pertengahan musim lalu.

Semua ini soal state of mind, sesuatu yang harus diperkuat dan ditanamkan ke dada setiap pemain. Jika satu pemain bisa melakukannya, kenapa yang lain tidak? Kondisi mental setiap pemain mungkin berbeda, namun pandangan untuk menjadi the greatest tentu bisa disamakan. Satu titik ini bisa menjadi modal terbesar untuk mengisi skuat.

Sementara itu, Yagyu Munenori mengajarkan satu konsep penting, yang mampu memperkuat pandangan Musashi di atas, yaitu konsep “pedang yang diam”.

Yagyu Monenori memandang “keadaan diam” dalam ungkapan “pedang yang diam” dapat diartikan sebagai ‘jiwa, roh, spirit, dan keajaiban’. Jiwa selalu berada di dalam ruang diri, sedangkan keajaiban dimanifestasikan ke luar.

Seperti manusia, jiwa yang kuat akan melahirkan “keajaiban” (baca: urusan nasib) yang bahkan si individu tersebut tidak akan menyadarinya. Yagyu menggunakan analogi pohon bunga untuk menggambarkan “pedang yang diam”. Pohon bunga memiliki jiwa yang kuat untuk tumbuh dan berkembang. Manifestasi jiwa tersebut terlihat dari bunga-bunga harum yang mekar. Dari sumber jiwa tersebut lahir juga daun-daun hijau sumber oksigen bagi sesama.

Inilah yang disebut sebagai keajaiban. Dari dalam diri seseorang tersimpan anugerah besar yang tertidur.

Bagi Arsenal, penguatan jiwa bagi setiap pemain akan menjadi kekuatan tersembunyi. Kekuatan dan kestabilan jiwa akan melahirkan keajaiban yang mungkin belum pernah kita saksikan. Ini bukan solusi yang mudah, tentu saja. Namun inilah yang disebut harmonisasi. Dari sebuah keadaan jiwa dengan nuansa harmoni, lahir manusia-manusia unggul yang menjadi pondasi masa depan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesama.

Melawan Olympiacos di Liga Champions, menyadari urgensi adalah urusan yang pertama. Urusan kedua adalah menyadari bahwa 11 pemain yang berdiri di atas rumput Emirates adalah 11 pemain dengan tujuan bersama. Tanggung jawab moral kepada fans, keinginan untuk memeluk Si Kuping Besar, dan niat untuk menjadi yang terbaik harus bisa dilebur menjadi satu.

Urusan mental blok adalah urusan seumur hidup. Pada akhirnya, ke mana bola ditendang selalu diarahkan oleh kekuatan hati dan pikiran.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *