Mathieu Flamini : The Last Prophet

Berapa persen dari Anda yang menganggap Mathieu Flamini akan menjadi penentu kemenangan di North London Derby? Kalau pertanyaan ini terlalu retoris, saya tanya begini saja, “Berapa persen dari Anda yang percaya Flamini masih layak berseragam Arsenal musim ini?”

Menu baru dari @isidorusrio_

Jujur saya akui, saya satu dari sekian banyak fans yang menganggap Flamini hanya sebatas ban serep, dan tidak lebih. Anda boleh memuja Mikel Arteta dan wajah Spaniard-nya yang keren dan menawan plus status sebagai kapten tim nomer satu, tapi bagi saya, utilitas dan urgensi Flamini sebagai ban serep lebih besar dari kebutuhan Arsenal terhadap Arteta. Di posisi Arteta, sudah ada Santi Cazorla yang stabil dan konsisten. Kalau pun cedera, dan nantinya Jack Wilshere pulih, posisi itu rasa-rasanya lebih cocok diserahkan ke Wilshere, bukan Arteta. Dan Flamini? Sudah jelas beliau ini sebagai ban serep kompatriotnya, Francis Coquelin. Ban serep. Anda tahu kan fungsi ban serep di mobil? Hanya akan dipakai saat diperlukan.

Jadi, rasio kemungkinan untuk main bagi pemain dengan status ban serep ini mirip dengan rasio Arsenal untuk treble winners musim ini.

Dan kita semua diberi jawaban dari Mathieu Flamini untuk diam dan menonton dia beraksi. He came, he conquer. Pertandingan di White Hart Lane adalah laga awal Flamini sebagai starter setelah sekian lama beraksi hanya di latihan dan memanaskan bangku cadangan. Bahkan, saya sempat berkeyakinan, satu-satunya alasan Flamini dipertahankan musim ini adalah fakta bahwa dia sahabat karib Mesut Ozil. Mungkin ya, ini hanya kemungkinan lho, Arsenal takut Mesut Ozil ngambek karena Flamini diputus kontrak dan doi kehilangan sahabat bromance-nya. Bahkan saya sempat berkelakar, CV terbaik Flamini selama berkostum Arsenal di periode keduanya ini hanya satu: Berteman karib dengan Mesut Ozil.

Tapi itulah fungsi kritik. Kritikan ada untuk dijawab. Kritikan ada untuk dibungkam. Dan ya, saya dibungkam Mathieu Flamini. Arsenal, sebelum melawan Spurs, menelan dua kekalahan beruntun dari Dinamo Zagreb dan Chelsea, di mana kedua laga tersebut berjalan menyedihkan karena diwarnai tiga kartu merah. Luar biasa, bukan? Seolah-olah Arsenal ini ibarat “Stoke City era Tony Pulis” rasa-rasanya. Ini salah satu pengalaman surealis saya sebagai Gooner ketika mendapati Arsenal mengoleksi sedemikian banyak kartu merah dalam 2 laga di rentang waktu seminggu. Ya entahlah, hanya Tuhan dan Mike Dean yang paham hal itu.

Dan dengan kondisi seperti itulah, kemenangan di kandang Tottenham ini sangat diperlukan untuk menaikkan moral dan mentalitas tim yang sedang bobrok. Dan waktu melihat daftar starter tim yang diturunkan Wenger, saya seketika takjub. Ada nama Mikel Arteta-Mathieu Flamini di posisi gelandang pivot Arsenal. Padahal saya memprediksikan Aaron Ramsey dan Mikel Arteta. Tapi nyatanya, Ramsey didorong ke depan mengisi posisi Ozil, dan Flamini dimainkan sebagai double pivot bersama Arteta. Dan hasilnya…dua gol dari Flamini.

Dua gol Flamini ke gawang Spurs adalah bentuk kegilaan paling dasar dalam pengalaman saya menikmati duel klasik lawan Tottenham. Memang, banya cerita menarik di balik North London Derby yang kerap terjadi sebelumnya. Namun, dua gol Flamini di laga sekota dan sewilayah adalah titik paling gila yang tidak pernah saya bayangkan akan terjadi.

Maka dari itu, saya mentahbiskan Flamini sebagai “Nabi Terakhir” yang datang untuk menyelamatkan Arsenal.

Dalam agama Islam, dan sebagai Muslim, saya mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang diutus Allah untuk membimbing manusia. Namun, dalam konteks keagamaan sepakbola dan Arsenal, Flamini adalah Nabi Terakhir yang datang untuk membantu Arsenal melewati masa kelam. Faktanya, sejak kedatangan Flamini di periode keduanya, Arsenal berhasil memenangkan Piala FA berturut-turut dalam 2 musim. Tentu ini fakta yang berbau keberuntungan, toh Flamini tidak mempunyai andil dalam partai final di dua edisi Final FA Cup. Mengutip ucapan Flamini yang bilang bahwa kembali ke Arsenal di periode kedua ini sebagai “unfinished business”, rasa-rasanya semangat Flamini untuk memberi gelar bagi Arsenal jauh lebih besar dari semangat Wenger untuk mendatangkan pemain baru di bursa transfer kemarin ini.

Di musim pertamanya, tidak terlalu banyak peran Flamini. Flamini ya Flamini. Dia main, dia dapat kartu kuning. Sudah. Sederhana dan biasa saja. Apa yang Anda harapkan dari seorang Flamini? Anda berharap dia setaktis dan setajam Paul Pogba? Atau dia segagah dan semilitan Arturo Vidal? Flamini militan, tapi biasa saja. Tidak sampai bikin Gianluigi Buffon rela dan sudi mengajak Flamini pergi berperang. Flamini seorang prajurit, tapi prajurit yang biasa saja. Tidak istimewa.

Tapi di kandang Spurs, Flamini menjelma menjadi “Sang Nabi” yang dirindukan. Sejak kepergian Patrick Vieira dan Thierry Henry, praktis pemain yang passion-nya sangat tinggi nyaris tidak ada. Memang ada Jack Wilshere. Tapi kita semua tahu, Wilshere lebih gemar berada di ruang pemulihan cedera daripada main di lapangan, bukan? Flamini ini ibarat pasukan gerilyawan Jenderal Soedirman yang namanya tidak tercatat dalam sejarah, namun dia termasuk prajurit yang berjuang mati-matian dalam Perang Ambarawa yang fenomenal itu. Orang dan sejarah paling hanya mengingat nama Jenderal Soedirman. Siapa sih, yang sudi mengurai satu per satu nama prajurit Jenderal Soedirman kala itu?

Dan di titik itulah, Flamini keluar dan menjawab kritikan dan sinisme tentang sosoknya. Satu gol, lalu berlanjut dengan katu kuning konyol yang seolah memberi jawaban bahwa dia benar seorang Mathieu Flamini saat menerjang Danny Rose, ditutup dengan cannonball dahsyat dari luar kotak penalti untuk memberi kemenangan bagi Arsenal dan memberi senyum bagi kita yang dirundung duka paska tragedi Zagreb dan tragedi Costa. Anda tahu peran penting Nabi selain membimbing umat? Peran nabi yang paling penting adalah membawa kebahagiaan. Sejarah dalam Islam pun sudah bilang dengan jelas bahwa masa hidup Nabi Muhammad adalah titik Islam mencapai kejayaannya dan kemakmuran. Makmur adalah kata lain untuk menyebut bahagia. Ya, Flamini membawa kemakmuran dan kebahagiaan bagi kita untuk selalu dengan lantang berteriak ke fans Tottenham di sekitar Anda (kalau pun ada, sih) bahwasanya NORTH LONDON IS RED!!

Comments

One thought on “Mathieu Flamini : The Last Prophet”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *