Arsenal v United: Nostalgia Sepak Bola Counter

Arsenal sering kehilangan momentum untuk membuka pertahanan lawan, entah karena tempo yang menurun atau terlalu lama menguasai bola. Menghadapi Manchester United, skuat asuhan Arsene Wenger tersebut harus “bergerak” secara pintar, terutama ketika menyerang. Apakah serangan balik bisa menjadi solusi?

Saat kalah di tangah West Ham United, Chelsea, Dinamo Zagreb, dan terakhir Olympiacos, The Gunners tidak pernah bermasalah dengan urusan menciptakan peluang. Masalah pelik yang harus dihadapi adalah efisiensi yang menguap entah ke mana. Efisiensi tersebut memuat dua aspek, yaitu faktor individu yang gagal memaksimalkan momentum dan faktor situasi di mana lawan melakukan pressing yang memaksa pemain Arsenal berbuat kesalahan di depan gawang lawan.

Jika dicermati lagi, beberapa gol yang dicetak Arsenal ke gawang Dinamo, Leicester City, dan Olympiacos bermula dari proses serangan balik memaksimalkan sprint jarak pendek. Prosentase gol meningkat ketika pemain tidak mendapatkan tekanan dari lawan di sekitar gawang. Adagium tersebut memang sudah lumrah karena berkaitan dengan psikologis manusia. Oleh sebab itu, ketika menjamu United hari Minggu nanti, mind-set serangan balik akan sangat menarik untuk digelar.

Line-up

1
Menggunakan bentuk 4-3-3, tiga gelandang dalam pattern “3” akan diisi Coquelin sebagai DMF, Santi Cazorla sebagai deep-lying, dan Ramsey sebagai Box-to-Box, tugas kesukaannya.

Tiga gelandang  dalam bentuk 4-3-3 atau 4-3-1-2 bertujuan untuk “menguasai” lapangan tengah bisa menjadi pilihan menarik, terutama mempertimbangkan situasi di sekitar Aaron Ramsey. Mengembalikan Ramsey ke tengah lapangan diharapkan bisa me-restart psikologisnya yang seperti tidak menikmati ketika bermain sebagai wide-midfielder. Bersama Santi Cazorla dan Francis Coquelin, Ramsey bisa membentuk segitiga “3 pemain” di lapangan tengah. Tujuannya, pertama, menutup ruang kreatif United di tengah lapangan dan kedua, mendapatkan tempat ideal sebagai awal serangan balik (long-ball atau memulainya dengan umpan sederhana ke arah Mesut Ozil atau Alexis Sanchez).

Sementara itu, Alexis dan Ozil berdiri narrow. Terutama bagi Ozil, posisinya di sebelah kanan bukan berarti bermain sebagai winger. Diharapkan, Ozil mendapatkan bentuk pandangan yang ideal dan “mengarah ke arah” lari Theo Walcott dan Alexis. Berdiri di half-space memberi 3 keuntungan. Pertama, dengan jelas mampu melihat arah lari Walcott dan diagonal run Alexis yang cut-inside pada situasi tertentu. Kedua, lebih cepat bergerak ke area sentral (#10) atau ke sisi lapangan untuk memberi space bagi Ramsey atau Cazorla melakukan coming from behind (late run). Ketiga, memberi ruang bagi Hector Bellerin yang bisa saja ikut naik membantu serangan balik.

3

Outlet Serangan

2
Ozil sebagai pos penerima dan penyambung bola. Memanfaatkan dan memaksimalkan kemampuan umpan terboson, Ozil akan sangat maksimal dalam counter-based pattern. Kecepatan berpikirnya akan menjadi keuntungan bagi Arsenal.

Proses serangan balik akan sangat bergantung kepada kecepatan berpikir ketiga outlet di depan, yaitu Alexis, Walcott, dan Ozil. Idealnya, proses serangan balik hingga mencapai gawang lawan tidak lebih dari 5 sentuhan bola. Artinya, tidak lebih dari 30 detik bola sudah harus mendekati gawang lawan, semakin singkat semakin baik. Rentang waktu yang sangat “rush” tersebut menuntut pemain untuk benar-benar peka dengan pemosisian dan memperkirakan gerak kedua dari kawan. Gerak kedua artinya gerakan sprint dari situasi steady atau sebalinya, dari cepat ke diam. Ini penting untuk menetapkan sejauh apa bola akan didistribusikan.

Untuk pemain dengan sprint jarak pendek bagus seperti Walcott, bola 1 hingga 1,5 meter di depan kaki adalah bentuk distribusi paling ideal. Bola yang diarahkan kepada Walcott juga idealnya menuju ke kaki paling kuat. Tujuannya, supaya Walcott tidak perlu melakukan gerakan yang sia-sia, misalnya seperti harus mengontrol untuk menghentikan, bukan mengontrol untuk menendang bola (lihat proses gol Kevin de Bruyne ke gawang West Ham).

Proses yang cepat dalam serangan balik juga menguntungkan bagi Ozil untuk melepas umpan terobosan yang lebih tajam. Terkadang, di dalam penguasaan bola yang tinggi namun dengan tempo yang sedang bahkan lambat, Ozil sering kehilangan momentum untuk melepas umpan terobosan. Menumpuknya lawan memang sangat menyulitkan. Oleh sebab itu, space akan cenderung lebih terbuka ketika counter dan Ozil akan “sering” mendapatkan kesempatan melepaskan umpan terobosan yang menjadi salah satu atribut paling baik miliknya.

Jika harus melepas crossing, baik Ozil atau kedua bek sayap (yang ikut menyerang), bentuk distribusi harus cepat harus dipilih (drill, bukan floating) untuk menghindari intersepsi lawan. Crossing yang dilepaskan juga akan semakin maksimal ketika tidak dilakukan dari byline karena akan lebih mudah diprediksi. Lepaskan crossing dalam wujud bola direct (diagonal datar – bola daerah) menuju gawang untuk dikejar Walcott atau Alexis. Zona 10, 12, 13, dan 15 menjadi pilihan lokasi ideal untuk melepas crossing. Bola yang jatuh di belakang lawan akan lebih sulit diantisipasi ketimbang bola yang datang dari sisi tubuh. Gerak berbalik memakan waktu lebih lama ketimbang memosisikan tubuh jika bola “diangkat” dari sisi lapangan.

Untuk Alexis, jenis distribusi akan lebih fleksibel karena ia mempunyai beberapa atribut cukup baik selain sprint, yaitu heading, jumping, dan dribbling. Mengarahkan bola ke kaki (bukan bola daerah) pun tidak menjadi masalah karena Alexis mampu menahan dan mengolah bola. Idealnya, through ball atau direct-diagonal datar ke arah lari Alexis akan sangat ideal mengingat menyambut bola laju tentu akan lebih mudah. Laju cepat bola juga akan membantu Alexis melepaskan shooting terarah dengan keras tanpa usaha yang berlebihan.

Outlet Bertahan

4

Pada dasarnya, Arsenal bertahan dengan 8+1 pemain. Kedelapan pemain adalah Cech, Gabriel, Per, Bellerin, Monreal, Coquelin, Cazorla, dan Ramsey. Sementara itu, 1 pemain tambahan adalah Ozil atau Alexis yang bergantian turun ke bawah. Bahkan, untuk kesempatan tertentu, Arsenal dapat bertahan menggunakan outlet 8+2 dengan “meninggalkan” Walcott di sekitar lapangan tengah. Perhatikan kalimat di dalam gambar di atas. Jika ingin bertahan lebih dalam, Alexis dan Ozil mempunyai pilihan untuk turun ke half-space lapangan sendiri sementara Ramsey atau Cazorla berkerak ke sisi lapangan membantu Bellerin atau Monreal atau turun lebih ke bawah masuk ke kotak penalti.

Jika bertahan lebih dalam menjadi pilihan, Jalur Ozil/Ramsey/Cazorla > Walcott akan sangat menarik. Ketiga pemain tersebut sangat fasih melepaskan umpan direct menengah. Masih ingat gol Theo Walcott (menjadi bunuh diri Tyler Blackett) di Old Trafford musim lalu? Ramsey mampu melepaskan umpan direct ke arah lari Walcott. Bentuk sederhana seperti ini memang sangat sederhana, namun cukup efektif.

Catatan

Memilih bermain dengan corak serangan balik membutuhkan kompaksi vertikal dan horizontal yang padu. Konsistensi dan daya tahan menerima serangan lawan akan sangat menentukan. Arsenal pernah bermain dengan corak seperti ini ketika melawat ke Etihad musim lalu. Kecepatan akan menjadu kunci, bukan hanya soal sprint, namun kecepatan berpikir dan menempatkan bola. Ya, speed is the key.

#COYG

Comments

4 thoughts on “Arsenal v United: Nostalgia Sepak Bola Counter”

  1. – 30 detik gak kelamaan ya. 😉

    – Kemampuan terbaik Ozil adlh visi umpan terobosannya yg sering kali mengejutkan. Akan lebih maksimal kalau dikelilingi oleh pemain2 dgn off the ball movement bagus macam Luis Suarez, Karim Benzema, Alexis Sanchez. Skema gerak City (kalau lagi main bagus) di sepertiga akhir bisa jadi contoh bagus. Off the ball yg cair oleh beberapa pemain sering kali tertangkap mata sebagai “tempo cepat”. Ozil butuh itu dan, sebaliknya, Arsenal butuh Ozil untuk memaksimalkan skema semacam ini.

    1. – Sebenernya iya gan, 30 detik itu kelamaan. tp “cara” serangan balik Arsenal dalam 2 musim terakhir ini, gak “secepat” sebelum 2006. Ada kecenderungan untuk “menunda” barang 1-2 detik sebelum melepas umpan dan sifatnya bukan simultan tik-tak 3 sentuhan. Jadi, dengan mempertimbangkan hal itu, saya sampai ke simpulan 30 detik. di artikel saya tulis lebih cepat lebih baik supaya aman :))

      – Ya, Ozil akan hidup apabila pemain2 di sekitarnya ndak statis. Masalahnya, cara main Arsenal kadang lambat di fase 2 sebelum menaikkan tempo saat masuk kotak penalti. Cara ini mudah sekali dibaca, apalagi bila tdk ada perubahan. Oleh sebab itu, saya sampai ke pemikiran untuk mengembalikan Arsenal ke counter-based, yang sempat jelas terlihat sangat efektif dari musim 2003-2005. Saat ini, Ozil dan Arsenal (seharusnya) sangat membutuhkan. Beberapa pemain punya atribut pace yg baik, sedangkan saya sendiri belum berani bilang beberapa pemain punya off the ball yang baik (mungkin “hanya” Sanchez). Ramsey oke, tp gak konsisten dan ada perubahan dalam sisi psikologisnya.

      1. Salah satu situasi counter-attack, adalah situasi serangan balik saat lawan bener2 terfokus ke sepertiga pertahanan kita dan coba ciptakan superioritas posisional sebanyak mungkin, yg artinya pemain lawan banayk banget numpuk di depan dan mengurangi kehadiran pemainnya di area yang lebih deep. Dalam situasi ini, salah satu tim yang paling heavy-metal dalam memanfaatkannya, adalah Dortmund era Klopp. Mereka bisa melakukan counter-attack (dan gol), dalam rentang waktu 9-12 detik, dalam rentang jarak yang dimulai dari sekitar 60-75 meter dari gawang lawan.

        Kalau sampai lebih dari 20 detik mesti dilihat lagi situasi counter-attack-nya bagaimana. Bisa jadi Arsenal emang lambat. Atau, bisa jadi kompaksi lawan lagi ngga jelek-jelek amat, sehingga Arsenal sendiri jadi “nahan diri”.

  2. Nah, mungkin frasa yang tepat adalah “nahan diri”. Sejak possession football ala Wenger mulai mendominasi, proses counter jadi “tanggung”. Mungkin saja memang melihat situsasi lawan, mungkin saja memang mengembalikan penguasaan lebih ditekankan ketimbang langsung to the point menyerang seperti Dortmund nya Klopp. Lawan Leicester kemarin, waktu menang 2-5 juga serangan balik yang diperlihatkan Arsenal bukan tipe blitz 9-12 detik, ada delay yg juga terlibat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *