Meraba Arah Wenger: Jelang Arsenal v Bayern Munich

Lewat dua laga terakhir, Arsene Wenger nampak mencoba memberi warna baru bagi Arsenal. Bukan soal hasil akhir, namun bentuk formasi yang perlu dicermati. Pertanyaannya, apakah warna baru tersebut cukup solid untuk menjamu raksasa Bavaria?

Menjamu Manchester United

Ketika menjamu Manchester United, skuat Arsenal menampilkan bentuk 4-3-1-2 yang boleh dibilang cukup mengejutkan. Fasih turun dengan skema 4-2-3-1 dan 4-1-4-1, Arsene Wenger mengubah formasi dasar yang berbuah manis. Selain terbantu dengan performa United yang kurang memuaskan, Arsenal berhasial tampil solid, terutama dalam transisi menyerang dengan bentuk double-triangle shape.

5
Bentuk segitiga ganda Arsenal ketika menjamu Manchester United.

Dua bentuk segitiga besar menjadi dasar skema Arsenal ketika menjamu United. Lewat progresi vertikal via Cazorla, Coquelin, dan kedua bek sentral, Arsenal mampu menembus lini tengah United. Keberadaan Mesut Ozil di area #10 juga menjadi outlet penerima passing yang cukup ideal. Peran tersebut mendapatkan sokongan dari Aaron Ramsey yang banyak merangsek lewat half-space sebelah kanan dan beberapa kali dari area tengah. Bermain dengan tugas box-to-box, Ramsey bermain lebih baik ketimbang beberapa laga terakhir.

Cazorla sendiri justru lebih sering memosisikan diri lebih dalam ketimbang Coquelin dan Ramsey. Sementara itu, Ozil mendapatkan fungsi sebagai pemain #10, playmaker. Posisi dan fungsi ini juga pilihan yang paling ideal bagi Ozil. Selain pandangan yang lebih lapang, Ozil juga berdiri di area di mana tiga gelandang di bawahnya dapat mengalirkan bola dengan baik. Untuk posisi striker, Walcott akan bermain sedikit melebar di sekitar half-space sebelah kanan meskipun tetap berorientasi bermain di depan kotak penalti. Sementara itu, Alexis lebih luwes dengan diberi opsi cut-insidestay wider, atau turun untuk membantu pertahanan.

Bentuk 4-3-1-2 ini juga digelar dalam bentuk narrow sehingga mampu menjaga keunggulan jumlah di lapangan tengah sekaligus mempertahankan kompaksi vertikal dan horizontal. Jika mampu terus digelar dengan konsisten dan tetap menunjukkan tensi pressing yang baik, Arsenal akan mendapatkan bentuk terbaik untuk terus digunakan, terutama ketika melawan tim-tim dengan pressing footballyang cukup intens.

Dijamu Watford

Bertandang ke Vicarage Road kandang Watford, Arsenal masih menurunkan skuat yang sama ketika menjamu United. Pun, dengan bentuk 4-3-1-2, yang tidak jarang bertranformasi menjadi 4-2-3-1.

1
Bentuk segitiga yang dibangun Coquelin-Cazorla-Ramsey ketika dijamu Watford. Ramsey sendiri bergerak di area lebih luas dibandingkan saat meladeni United.

Grafis di atas menunjukkan Ramsey-Cazorla-Coquelin menunjukkan bentuk segitiga dalam skema 4-3-1-2. Melawan Watford, Ramsey sendiri lebih sering bergerak ke kanan ketimbang saat melawan United. Ketika build-up dari bawah, Ramsey menyesuaikan diri dengan mendekati Cazorla dan Coquelin. Namun, tidak jarang, ketika mencapai tengah lapangan, Ramsey akan bergerak ke half-space sebelah kanan, bahkan terkadang mengokupansi daerah flank. Coming from behind masih menjadi atribut terbaik Ramsey  yang beberapa kali terlihat di kandang Watford. Perhatikan heat map Arsenal di bawah ini, di mana sisi kanan menjadi daerah dominan. Di area tersebut, Ramsey banyak beredar dengan dukungan Bellerin dan Ozil.

heat map v watford
(Opta) Heat map Arsenal ketika melawan Watford. Tampak sisi kanan menjadi sisi paling dominan. Warna meraj pekat juga terlihat di sisi kiri bawah, di mana Cazorla sering beroperasi.

Selain Ramsey, Ozil juga mendapatkan keleluasaan bergerak di area yang lebih luas ketimbang menjamu United tempo hari. Ketika melawan United, Ozil dominan berada di area #10. Sementara itu, di kandang Watford, Ozil beberapa kali bergerak dan berada di flank kanan dan kiri. Bahkan, Ozil pun turun ke bawah seperti terlihat lewat grafis di bawah ini.

2
Ketika melawan Watford, Ramsey dan Ozil bergerak di area yang lebih luas. Untuk Ramsey, ia akan mendekati Cazorla dan Coquelin ketika bertahan dan memulai buil-up serangan. Ozil juga mendapatkan kebebasan lebih untuk bergerak antarlini dan menciptakan space.

Ketika Arsenal masuk dalam fase transisi dari bertahan ke menyerang, Cazorla menjadi jembatan antarlini. Seperti yang sering terlihat pada laga melawan United, Cazorla sering menjadi pemain yang berposisi paling rendah ketimbang Coquelin dan Ramsey. Ramsey sendiri dengan cerdik mencari ruang kosong dalam fase transisi tersebut. Seperti pembaca maklumi, gerakan tanpa bola Ramsey cukup baik, salah satunya dalam proses transisi seperti ini.

3
Ketika berada di deep-area, sepertiga lapangan, atau di middle area, Ramsey akan berdekatan dengan Cazorla dan Coquelin. Grafis ini juga menunjukkan bagaimana Arsenal memanfaatkan bek tengah untuk keluar dari pressing.

Grafis di atas menunjukkan salah satu momen ketika Ramsey melepaskan diri dari pemain Watford yang melakukan immediate pressing. Gerakan Ramsey untuk turun dan mendekati Cazorla dan Coquelin ketika build-up merupakan salah satu awalan dalam skema ini. Ruang kosong di half-space kanan menjadi area yang memang diincar dan diperlihatkan oleh heat map di atas. Secara keseluruhan, ketika dijamu Watford, Arsenal lebih luwes dalam mengubah skema dan menyesuaikan dengan lawan. Ramsey, yang mengawali laga dari kanan menjadi salah satu kunci dalam bentuk 4-3-1-2 di kandang Watford.

Soal Bayern

Lalu, kira-kira apa tujuan Wenger menggeber bentuk 4-3-1-2 di dua laga? Ada dua asumsi besar yang mungkin tengah diincar Wenger. Pertama, mengubah Arsenal menjadi lebih vertikal dan tegas. Jika dieksekusi dengan baik, progresi vertikal memberikan kesempatan bagi sebuah tim untuk mencapai wilayah lawan secara lebih efisien. Melawan United, pilihan ini begitu tampak. Ketika dijamu Watford, intensitas progresi vertikal tidak sesering ketika melawan United. Namun, bentuk tersebut masih terlihat.

Bayern Munich adalah salah satu tim yang menyajikan pressing football terbaik di kolong langit. Dan, Bayern lebih efektif ketika menggelar pressing ekstrem ketimbang United tempo hari.  Laga Der Klassiker melawan Borussia Dortmund menjadi contoh terbaik untuk mempelajari pressing ekstrem Bayern Munich.

4
Grafis ini menunjukkan efektivitas pressing ekstrem yang dilakukan Bayern terhadap Dortmund dalam laga Der Klassiker. Pressing ekstrem yang dilakukan secara kontinu akan menyulitkan Arsenal menciptakan progresi vertikal.

Seperti yang dijelaskan Ryan Tank (penulis bisa disapa lewat Twitter @ryantank100) dalam artikelnya yang berjudul “Der Klassiker: FC Bayern 5-1 Borussia Dortmund”,  Pep Guardiola menginstruksikan anak asuhnya untuk secara ekstrem menguasai 3 ruang horizontal di dekat bola, yaitu flank, half-space, dan center. Tujuan situasi ini adalah mencegah progresi Dortmund yang berporos pada Julian Weigl, Ilkay Gundogan, dan Shinji Kagawa (perhatikan grafis di atas).

Inilah bentuk pressing ekstrem yang secara nyata mengurangi opsi progresi lawan. Penulis kutipkan satu paragraf penting tanpa perubahan redaksional untuk menambah penjelasan:

Pressing seperti ini berhasil menutup akses ke area tengah dan kalau pun Dortmund berhasil keluar dari perangkap pressing kebanyakan mereka bisa melakukannya dengan berprogresi melalui flankPressing dengan kompaksi ekstrem seperti dalam grafik di atas juga mengurangi kesempatan lini tengah Dortmund untuk melakukan progresi cepat yang biasa mereka lakukan. Keberhasilan Bayern mengurangi progresi Dortmund ini juga membuat Dortmund kehilangan kesempatan membentuk superioritas posisional yang sering mereka ciptakan di sepertiga pertahanan lawan di celah vertikal antara lini tengah dan belakang”

So, apa yang harus dilakukan Arsenal? Untuk keluar dari pressing Bayern, setidaknya Arsenal membutuhkan opsi sesederhana mungkin, namun bisa diandalkan, yaitu melakukan progresi vertikal. Cazorla, yang sering menjadi gelandang yang berposisi paling rendah dan berdekatan dengan dua bek tengah kemungkinan diplot untuk membantu Arsenal keluar dari pressing tinggi Bayern. Ketika melawan United, Cazorla bisa melakukannya dengan cukup baik. Well, United sendiri tidak menunjukkan kompaksi yang baik untuk melakukan pressing ekstrem, terutama dari para gelandangnya.

Menjamu United menjadi arena latihan bagi Wenger untuk melatih anak asuhnya supaya lebih akrab dengan skema 4-3-1-2. Lalu, Wenger kembali menerapkan skema yang sama namun dengan spesifikasi yang berbeda di Vicarage Road. Jika memang akan diterapkan ketika menjamu pressing ala Pep Guardiola, skema ini harus dieksekusi secara sempurna dan kontinu. Lalu, sebaik-baiknya Cazorla menemukan jalur passing, pemain lain harus mampu menciptakan situasi di mana bola dapat dialirkan dan aman sampai di kaki kawan. Arsenal melakukan progresi vertikal dengan baik lewat poros Cazorla/Coquelin-Ramsey-Ozil ketika menjamu United. Ketika dijamu Watford, Ramsey bergerak dengan duty yang berbeda. Apakah itu menjadi bentuk adaptasi dan latihan menghadapai laga hidup mati melawan Bayern? Let’s see..

Kemudian, asumsi kedua adalah soal keluwesan Bayern dalam menyesuaikan diri dengan lawan. Laga Der Klassiker menjadi contoh yang sahih bagaimana Bayern menyesuaikan diri dengan taktik Dortmund. Kembali mengintip Der Klassiker melawan Dortmund, Bayern memulai laga dengan skema 3-3-3-1 asimetris.

5
Bentuk 3-3-3-1 asimetris dalam line-up Bayern di laga Der Klassiker.

Grafis di atas adalah wujud skema Bayern di babak pertama. Bayern tampil dengan skema tiga bek dalam bentuk 3-3-3-1, sedangkan Dortmund menggunakan 4-1-2-1-2. Jika  diperhatikan secara seksama, di atas kertas, skema Dortmund ini sedikit sama dengan bentuk 4-3-1-2 yang disajikan Arsenal di dua laga terakhir. Seiring berjalannya waktu pertandingan, Bayern melakukan penyesuaian taktik. Dan, di babak kedua, Bayern mengubah skema menjadi empat bek dalam 4-2-3-1 atau 4-4-1-1.

6
Perubahan skema dilakukan Bayern untuk merespons perkembangan pertandingan. Dari 3-3-3-1, secara luwes Bayern berubah menjadi 4-2-3-1.

Selain perubahan skema, Pep juga menukar posisi Boateng dan Javi Martinez. Lewat perubahan sederhana ini, Bayern mampu memaksimalkan kemampuan laser pass khas Jerome Boateng. Hasilnya, Bayern mampu menambah gol, sekaligus mempertahankan pressing mereka. Pressing dari striker Bayern juga acap kali memaksa kiper Dortmund, Burki, melakukan sepakan jauh. Kondisi ini semakin mengurangi opsi progresi Dortmund.

Melihat Bayern yang luwes sekaligus keras dalam sisi pressing, Arsenal harus mampu menunjukkan kemampuan beradaptasi di tengah laga. Semoga dua rasa 4-3-1-2 ketika melawan United dan Watford merupakan percobaan terbaik untuk keluar dari momen-momen tertentu. Kemampuan beradaptasi, kontinuitas, konsentrasi, ketenangan dan pressing resistance akan menjadi atribut-atribut penentu dalam laga nanti. Penting bagi Arsenal untuk mempertahankan kedisiplinan dan tidak membuat kesalahan. Pressing tinggi dengan sokongan power khas Jerman bukan barang baru bagi Arsenal. Kini, tinggal mempraktikkan skema terbaik dan hasil latihan di dua laga. Arsenal harus bermain sempurna.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *