Run, Mathieu, Run!

Mathieu Debuchy, bek kanan yang diharapkan mengisi sisi kanan sepeninggal Bacary “Mas Tampan” Sagna justru melempem pasca-cedera. Apa yang terjadi dengan Debuchy? Bagaimana seharusnya kita memandang Debuchy? 

Menu baru dari @isidorusrio_

Saya mendaku diri sebagai orang terdepan yang kecewa sekali dengan performa Mathieu Debuchy paska sembuh dari cedera panjang. Menyebut Debuchy bermain buruk musim ini memang mudah. Arahkan saja telunjuk Anda semua ke pria Perancis ini untuk banyaknya gol yang bersarang ke gawang Arsenal setiap dia mengisi pos bek kanan yang sebenarnya hampir pasti sudah dimiliki permanen oleh anak muda tampan dari Catalan, Hector Bellerin.

“When your legs don’t work like they used to before” Entah kenapa, bayang-bayang lirik pertama dari lagu Thinking Out Loud milik Ed Sheeran ini langsung terbayang tiap kali saya melihat Debuchy yang pontang-panting menghadapi serbuan pemain sayap lawan. Ada dua kali momen yang membekas bagi saya, pertama ketika Debuchy dihajar habis-habisan oleh Nacer Chadli saat laga Capital One Cup. Ujung-ujungnya, terjadi gol bunuh diri Calum Chambers saat gagal mengantisipasi umpan silang Chadli setelah melewati Debuchy. Dan, yang kedua dan masih segar di ingatan saat tengah pekan kemarin di kandang Bayern Muenchen. Debuchy berkali-kali dilewati pemain muda Kingsley Coman. Saking buruknya, saya sampai menganggap Coman ini mungkin setara Cristiano Ronaldo bagi Debuchy saat itu.

Apa yang salah dari Debuchy?

Cedera. Tentu saja jadi faktor utama yang disalahkan. Tapi, dewasakah kita kalau menyalahkan cedera atas menurunnya performa Debuchy? Tunggu dulu.

Baru-baru ini, Arsene Wenger mendapat kritikan keras mengenai periodisasi pola latihan. Akibatnya, daya tahan pemain tertentu menurun secara drastis karena menerima tempaan latihan yang dipukul rata tanpa mempertimbangkan diferensiasi fisik. Saya bukan orang yang ahli untuk ini, jadi mengenai pola kepelatihan Wenger bukan porsi saya untuk mengomentari atau mengkritik. Yang saya sesalkan adalah masalah mental Debuchy yang menurun pasca-cedera sehingga berimbas kepada kepercayaan diri dan performa di atas lapangan. Pemain butuh untuk percaya pada kemampuannya supaya mampu lepas dari bayang-bayang cedera serta mampu mencapai level yang mereka miliki sebelumnya.

Aaron Ramsey pernah mengalami periode ini setelah patah kaki. Tapi inilah titik yang membedakan mentalitas seorang pemain biasa dengan pemain hebat. Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo tidak hanya hebat secara teknik, namun juga mental. Alasan logis kenapa kemudian dua nama itu susah untuk dikejar dan disamai oleh pemain lain di era saat ini.

Cederanya Bellerin bisa dimanfaatkan Debuchy untuk kembali bermain stabil dan bagus supaya nuansa kompetitif untuk mengisi pos bek kanan bisa semakin segar. Dengan dua pemain bersaing untuk posisi starter dan kualitasnya merata, tentu menguntungkan untuk kebutuhan tim guna mengarungi musim kompetisi yang masih panjang. Lagipula, Debuchy tentunya ingin kembali merebut pos bek kanan di timnas Perancis yang sudah terlanjur nyaman dikuasai Kakanda Bacary Sagna yang rupawan itu, bukan? Terlebih, tahun depan ada Euro 2016 di mana Perancis menjadi tuan rumah. Semoga stimulus dan motivasi untuk mengamankan tempat di skuat Perancis dapat memacu Debuchy supaya tampil lebih baik lagi.

Lalu, di posisi mana kita sebagai suporter harusnya melihat Debuchy?

Saya sih menyarankan Anda untuk mengumpat saja, kalau memang performa Debuchy sangat buruk. Mention saja beliau di twitter atau entah bagaimana Anda meluapkan itu. Saya yakin Debuchy pun membaca itu, asal kalian tulis dengan bahasa Inggris ya. Saya pernah aware suatu waktu di akun twitternya, Debuchy me-retweet  salah satu ucapan ulang tahun dari seorang Gooner di Indonesia. Maka dari itu, ketika nanti Debuchy bermain buruk dan mengecewakan, jangan ragu atau sungkan untuk menunjukkan ekspresi kecewa Anda. Jangan takut terkena Hate Speech.  Di sepak bola, mengolok dan mengejek itu hal yang lumrah. Lagipula, kalau buruk katakan buruk, kalau bagus katakan bagus. Kita harus adil sejak dari pikiran. Penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pun pernah menulis hal serupa.

Ada masanya saat Debuchy bermain bagus dan kita layak mengapresiasinya setinggi langit. Pun tak jarang, di fase setelah cedera ini, kebetulan dia sedang off form. Bisakah Debuchy kembali ke puncak performa? Bisa ya, bisa tidak. Esai ini tidak bersifat prediktif terhadap karier bek kanan asal Perancis ini. Esai ini hanya berupaya untuk mengedukasi Anda bahwa dalam sepak bola, layaknya kehidupan, roda pun memang berputar. Kadang kita di atas, pun tak jarang kita juga ada di bawah. Toh, selama Debuchy masih berseragam Arsenal, kenapa tidak kita dukung saja dia supaya kembali ke performa terbaiknya? Umpat ketika bermain buruk, dan apresiasi ketika Debuchy tampil bagus. Kebetulan, Arsenal akan derby lagi lawan Tottenham Hotspus. Kalau bermain di momen spesial ini, Debuchy harus mau dan mampu menunjukkan kualitasnya saat sebelum cedera. Setelah itu, agak-agaknya, kebiasaan saya mengolok-olok Debuchy di media sosial akan berkurang secara perlahan.

Run, Mathieu!

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *