Merawat Ingatan Tentang Mikel Arteta

Mencerca dan menghina secara tidak manusiawi justru seperti mencoreng arang di dahi Anda sendiri. Menekur dan membedah kekalahan secara bijak adalah langkah manusiawi. Merawat ingatan adalah salah satunya.

Menu baru dari: @isidorusrio_

Berhubung akhir pekan ini sang kapten utama, si tampan nan klimis dari Semenanjung Iberia, Mikel Arteta, baru saja berkontribusi menyumbangkan kekalahan bagi Arsenal karena gol bunuh dirinya, saya merasa perlu menuliskan esai ini untuk sekadar mengingatkan bahwa hidup menjadi suporter Arsenal itu selalu berat. Dan, akan semakin berat ketika sebagian besar dari Anda adalah salah satu suporter yang ketika kalah langsung dengan gagah perkasa mengarahkan telunjuk untuk menyalahkan pemain tertentu. Ini bodoh, bebal, dan banal. Bayangkan tiga kata sifat untuk mendeskripsikan betapa rendahnya kualitas otak manusia bisa Anda miliki semua kalau Anda seperti itu.

Saya, seperti layaknya Gooners di luar sana, tentu saja merasa sedih setiap kali Arsenal kalah. Bahkan, sejak zaman di mana pemain Arsenal dipenuhi para komedian kelas kakap semisal Andre Santos hingga Nicklas Bendtner, dan jangan lupa, Park Chu-Young. Anda masih ingat bukan kita pernah punya pemain Korea Selatan itu?

Sejak era Tony Adams hingga transisi menuju Patrick Vieira dan Thierry Henry, praktis hanya Cesc Fabregas dan si anak kurang ajar dari Rotterdam yang juara bersama Manchester United itu yang layak disebut kapten yang kredibel secara kualitas permainan dan kepemimpinan di atas lapangan. Dan, di era Thomas Vermaelen pula kemudian kisah lucu nan menyedihkan selalu menimpa kapten-kapten Arsenal. Vermaelen adalah kapten utama, yang karena cedera, kualitasnya menurun dan harus duduk di bangku cadangan karena stabilnya performa Per Mertesacker dan Laurent Koscielny. Dan Anda tahu siapa yang menggantikan Vermaelen saat itu? Tentu saja, the one and only, Mikel Arteta.

Arteta, datang bersama rombongan berisi Per Mertesacker, Andre Santos, dan Park Chu-Young tepat beberapa hari setelah pembantaian di Old Trafford itu. Banyak yang menyebut pembelian ini sebagai panic buying. Tentu saja, tidak sepenuhnya salah, mengingat di dalam nama-nama itu hanya Mertesacker dan Arteta yang cukup familiar bagi saya. Arteta pun sebenarnya bukan pemain yang buruk. Ketika menikmati Football Manager (FM) 2007 dan 2008 hingga versi 2009, komposisi Mikel Arteta dan Tim Cahill di Everton sangat luar biasa dan mereka sempat menembus babak kualifikasi Liga Champions Eropa di bawah asuhan Lord David Moyes. Saya tidak bercanda, statistik Mikel Arteta sejak 2005 di Everton memang sangat mengilap. Kualitas umpan ala gelandang Spanyol memang dimiliki alumnus FC Barcelona ini. Arteta adalah produk La Masia, idolanya pun tidak main-main, Pep Guardiola. Masih kurang? Sahabat karibnya sejak kecil dan juga bromance abadinya adalah Xabi Alonso yang di usia senja pun masih luar biasa bersama Bayern Muenchen.

Saya sebenarnya tidak sepenuhnya menyukai kedatangan Arteta. Namun, mengingat saat itu kita belum menikmati kualitas Aaron Ramsey yang seperti sekarang, ditambah Jack Wilshere yang lebih betah naik di meja operasi daripada main di lapangan, praktis kedatangan Arteta perlu diapresiasi sewajarnya. Dan jelas, di era-era kegelapan itu, kita belum memiliki Santi Cazorla, Mesut Ozil dan Alexis Sanchez, apalagi Petr Cech. Francis Coquelin pun masih seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Satu yang begitu terkenang di memori saya adalah tendangan cannonball Arteta dari luar kotak penalti saat Arsenal mengalahkan Manchester City di tahun 2012. Saya ingat benar merayakan gol itu dengan gila-gilaan mengingat kita berhasil mengalahkan Manchester City, yang di akhir musim menjadi juara dan menunda pensiun Sir Alex Ferguson. Lalu musim berikutnya, si brengsek dari Rotterdam itu pindah ke Manchester Merah dan jabatan kapten yang lowong segera diisi Thomas Vermaelen. Arteta naik sebagai wakil kapten. Dari situ, mitos komedi yang menimpa kapten-kapten Arsenal selepas kepergian si anak brengsek dari Rotterdam dimulai.

Ingat clearance buruk Vermaelen dan justru membuat bocah Rotterdam yang saat itu sudah berbaju United berhasil cetak gol ke gawang Arsenal? Sejak saat itu, hingga menjelang masa baktinya berakhir di Arsenal, Vermaelen hampir tidak pernah kembali ke puncak penampilan terbaiknya. Dan saya heran, angka rating Vermaelen masih saja ada di angka 80 sejak di FIFA 14 sampai edisi 16 terbaru tahun ini. Luar biasa memang pria Belgia ini.

Sejak kepindahan Thomas Vermaelen ke Barcelona, otomatis Mikel Arteta naik menjadi kapten utama dan Per Mertesacker sebagai deputinya. Walau kemudian tidak benar-benar tampil bak komedian di atas lapangan, harus diakui, dengan kedatangan Cazorla dan matangnya Ramsey, peluang Arteta untuk tampil jelas sangat sulit. Ditambah riwayat cedera yang tidak pernah usai sejak akhir tahun lalu. Praktis, menjadi cadangan adalah opsi terbaik yang bisa ditempuh Arteta. Apalagi saat ini, Francis Coquelin sudah menjelma menjadi gelandang bertahan tangguh yang bisa diandalkan di lini tengah bersanding dengan Cazorla sebagai double pivot. Makin suram bukan karier Arteta? Dan, umur yang sudah menyentuh 33 adalah alasan terkuat kenapa kemudian ia sudah seharusnya meninggalkan Arsenal.

Namun, di balik sederet fakta di atas, menyalahkan Arteta untuk kekalahan Arsenal tentu bukan hal yang bijak. Kadang, di dalam sebuah sistem permainan sebuah tim, ada beberapa kesalahan elementer dari beberapa pemain yang bisa berakibat terjadinya gol. Misalnya gol kedua West Bromwich Albion kemarin. Hector Bellerin terlambat membatasi ruang dan waktu yang dimiliki Salomon Rondon. Hasilnya, Rondon mampu menciptakan akses bagi James McClean untuk melakukan tusukan dari sisi kiri. Bellerin sudah out of position dan tidak mungkin mengejar. Kalau kemudian bola mengenai Arteta dan bergulir masuk ke gawang sebagai gol bunuh diri, kenapa kemudian harus Mikel Arteta sendiri yang disalahkan?

Ini yang saya benci dari generasi suporter sepak bola di era modern. Melihat sepak bola hanya sebagai hasil, bukan sebagai proses. Ketika Anda mau sejenak berpikir dan melihat secara keseluruhan, back four Arsenal malam kemarin memang bermain buruk, dan ya, mungkin kita bisa menyalahkan badai cedera atau kerasnya metode kepelatihan Arsene Wenger. Tapi bukankah seharusnya posisi suporter selalu di belakang pemain dan tim kesayangannya? Atau mungkin pernyataan itu hanya ilusi pikiran saya saja? Kritik dan keluhan yang membangun masih bisa ditoleransi. Namun, cercaan kosong dan hinaan tidak manusiawi tidak bisa diterima.

Merawat ingatan terhadap awal Arteta di Arsenal adalah satu-satunya hal logis yang bisa dilakukan saat ini. Mengingat, bukan untuk menyimpan dendam atau amarah, tapi mengingat untuk merawat kenangan. Saya pun, terkadang, masih menyimpan dalam-dalam ingatan bahwa Nicklas Bendtner yang mahsyur itu dulunya pernah bermain di Arsenal dan sempat digandang-gadang akan menjadi striker hebat. Mungkin ini akan jadi musim terakhir Arteta bersama Arsenal, dan siapa tahu, dengan jarak hanya dua poin saja dari Leicester City di puncak klasemen, bukan tidak mungkin di akhir musim nanti kita melihat Sang Kapten Klimis ini bisa mengangkat trofi BPL, iya kan?

#COYG

Comments

4 thoughts on “Merawat Ingatan Tentang Mikel Arteta”

  1. Menyalahkan sampai maki-maki satu pemain saat tim kalah karena sebuah kesalahan dan permainan buruknya buat saya sih wajar, dan gak serta merta jadi fans yang bodoh, bebal, dan banal. Saya sendiri termasuk yang dikategorikan artikel ini sebagai bodoh, bebal, dan banal karena memaki-maki satu pemain setelah permainan buruk di satu pertandingan, padahal di balik itu semua, saya punya suatu pengharapan dan percaya, bahwa Arteta bisa terlecut makian para fans yang bodoh, bebal, dan menghamba pada kebanalan. He’s a captain for a reason, he can bounce back from a poor performance, he can handle many ways of a motivation. The bigger insult he gets, the bigger his motivation to prove people wrong that he’s not what people think he is.

    1. Wah saya baru baca comment ini. Begini mas, ada makna yang beda jauh dari sekadar memaki dengan menyalahkan. Kalau makian, udah jebol itu twitter saya kenyang makian dari sejak zaman Frimpong, Miquel dkk masih di Arsenal. Memaki itu wajar, karena kita sbg penonton dan fans kecewa. Tapi menyalahkan itu beda makna. Karena kita gak main di lapangan, cuman nonton. Kontribusi kita tak cukup besar untuk menyalahkan 11 pemain di lapangan. Kalau makian sih monggo aja, asyik kok itu :))

  2. amin.

    Dari perspektif berbeda, pandangan mas sangat tepat. Ada latar belakang penunjukkan Arteta sebagai kapten. Nampaknya asik juga kalau mas Heakal menuangkannya dalam sebuah tulisan dan arsenal’s kitchen siap membawanya ke khalayak ramai agar menjadi diskursus yang beragam.

    salam
    :))

    1. Kerjaan saya yang bikin artikel pesanan kejar tayang menumpulkan daya analisis saya secara panjang lebar. Biasanya gak sampe setengah jalan udah ngos-ngosan, males cari referensi. Tapi selalu kepikiran kok, untuk nulis di sini, walaupun preferensi tim bola saya bercabang, tiap liga ada. *maklumkarbitan..
      Jadi susah untuk fokusnya hehehehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *