Flamini dan Peluang Yang Lesap

Terkadang, kesempatan tidak datang dua kali. Namun, bagi Mathieu Flamini, kesempatan yang akhirnya datang pun tidak berpihak kepadanya. Bagi gelandang pekerja asal Perancis tersebut, bulan November dan Desember diharapkan akan menjadi pacuan terakhir bagi dirinya.

Setelah vonis cedera Francis Coquelin akirnya turun, kini, perkara yang tersisa adalah menemukan pemain yang tepat untuk berdiri di depan empat bek sebagai gelandang bertahan. Banyak fans yang sudah berteriak dan menghendaki manajemen Arsenal untuk berbelanja pemain baru di jendela transfer bulan Januari. Beberapa nama disebut, mulai dari William Carvalho, Victor Wanyama, hingga Ruben Neves. Arsenal tidak akan kesulitan menyediakan dana untuk memboyong pemain-pemain tersebut. Namun, pendeknya waktu plus beberapa klub lain yang berminat kepada pemain di atas membuat usaha transfer Januari tidak selalu mudah. Maka, jika keadaan menjadi lawan Arsenal, langkah pertama adalah melihat ke dalam diri sendiri.

Ketika Coquelin ditarik keluar dari lapangan The Howthorns kandang West Bromwich Albion, Mikel Arteta dimasukkan sebagai pemain pengganti. Sayang, penampilan sekejap Sang Kapten berakhir menyedihkan. Selain membantu WBA menang lewat gol bunuh dirinya, Arteta juga akhirnya menjadi pesakitan setelah tidak mampu melanjutkan laga karena cedera. Praktis, semua mata langsung tertuju kepada Flamini.

Flamini merupakan satu-satunya gelandang bertahan murni yang ada di skuat utama saat ini. Maka, tidak heran apabila Arsene Wenger memercayakan posisi gelandang bertahan kepada Flamini ketika Arsenal menjamu Dinamo Zagreb. Menjadi pilihan pertama di laga penting sudah lama tidak dirasakan Flamini. Keberadaannya di dalam skuat hanya sebatas bayangan Coquelin dan hanya “boleh” bermain di laga-laga yang “kurang penting” seperti melawan Tottenham Hotspur dalam tajuk Capital One Cup. Mentok, Flamini hanya punya peran sebatas pemain pengganti ketika Arsenal sudah unggul dan harus mengamankan kemenangan.

Oleh sebab itu, kesempatan ini terasa seperti hujan di tengah kemarau panjang. Memuaskan dahaga dan mengusir rasa gerah yang berkepanjangan setelah lama hanya menjadi penghangat bangku cadangan. Namun, di balik kesempatan yang akhirnya datang ini, keadaan yang terjadi ternyata tidak segemilang yang terlihat. Monsieur Wenger tidak pernah menggaransi posisi gelandang bertahan untuk Flamini. Bahkan, seorang pengamat tidak yakin dengan performa Flamini. Kesempatan di depan mata menjadi tidak terlalu akrab lagi.

Ramsey, Chambers, dan Peluang yang Lesap

Begini, Jorge Bird, dalam kolomnya di Squawka berpendapat bahwa bukan sosok Flamini yang bisa menjadi alternatif Coquelin sebagai gelandang bertahan, namun Aaron Ramsey. Bird merasa ketika melawan Zagreb, Flamini tidak mendapatkan ujian yang layak. Bahkan, Bird menambahkan bahwa Flamini kurang mampu mengatasi lawan yang mempunyai skill tinggi dan mempunyai kecepatan. Memang, Flamini memiliki kelebihan dalam positioning dan passion. Sayangnya, fakta tang tercatat adalah Flamini hanya mampu memenangi satu dari delapan kali percobaan tackling di laga-laga Premier League.

(Menu lain: “Kembalinya Aaron Ramsey dan Pilihan Joel Campbell“)

Sementara itu, Ramsey yang bukan seorang gelandang bertahan murni menunjukkan passion dan keberanian untuk berduel, terlihat dari catatan memenangi 54% aerial duel. Ramsey sendiri juga mempunyai ketahanan dan mampu menghadapi lawan yang bermain menggandalkan fisik. Fakta tersebut merupakan atribut yang, boleh dibilang cukup memadahi untuk membantu Ramsey sebagai gelandang bertahan. Dari sisi kontribusi pertahanan, Ramsey membuat 76,2% intercepts dan 19% clearance. Bermainnya Ramsey sebagai gelandang bertahan akan memberikan keuntungan kepada Alex Oxlade-Chamberlain. Pemain muda asal Inggris tersebut dapat dimaksimalkan sebagai sayap atau gelandang kanan.

Masih menurut Jeorge Bird, dengan Ramsey sebagai gelandang bertahan, Arsenal harus melakukan perubahan dalam sistem. Ramsey dan Santi Cazorla mungkin tidak begitu meyakinkan untuk berduet sebagai double pivot, terutama ketika transisi bertahan. Oleh sebab itu, Arsenal dapat memaksimalkan bentuk 4-1-4-1. Ramsey sebagai deep-lying midfielder dengan Cazorla dan Mesut Ozil bermain di depannya. Segitiga ini menjamin sisi kreativitas, namun jelas belum teruji ketika bertahan.

4

Namun, prospek bertahan dan menyerang sama baiknya ketika Ramsey bermain sebagai gelandang bertahan tentu sangat menarik. Meskipun, Wenger sendiri menegaskan ia tidak ingin “membunuh kekuatan” si pemain. Dengan berposisi sebagai gelandang bertahan, kelebihan Ramsey untuk coming from behind akan tereduksi.

Beda Ramsey, beda pula Calum Chambers. Kemarin, Jumat 27 November 2015, Standard Sport merilis berita bahwa beberapa kali dalam satu minggu ini Wenger mencoba Chambers sebagai gelandang bertahan. Meskipun hanya bermain selama delapan menit ketika menghadapi Zagreb, Standard Sport memandang langkah ini sebagai permulaan uji coba Wenger. Ya, tidak mengherankan apabila Wenger berpaling kepada Chambers untuk posisis gelandang bertahan. Pemain kelahiran Petersfield tersebut berposisi sebagai bek tengah dan juga mampu bermain sebagai bek kanan. Oleh sebab itu, secara alami, Chambers mempunyai “aspek bertahan” dalam ciri permainannya.

Dari atribut sebagai bek tengah, Chambers cukup berani berduel secara fisik dengan pemain lawan. Lantaran fasih bermain sebagai bek kanan, Chambers mempunyai kecepatan yang lumayan untuk berperan sebagai gelandang bertahan. Atribut passing pemain berusia 20 tahun ini juga cukup baik sehingga aliran bola Arsenal dari belakang tidak akan terganggu. Kekurangan Chambers terlihat ketika ia menerima pressing kala memegang bola. Chambers menjadi tidak tenang dan cenderung membuat kesalahan atau setidaknya melakukan kesalahan passing. Aspek ini jelas bisa diperbaiki seiring usia dan Wenger pun berani mencoba Chambers sebagai gelandang bertahan, setidaknya di lapangan latihan dahulu.

5

Menyiapkan opsi kedua selalu menjadi langkah bijak. Dalam hal ini, tindakan Wenger menyiapkan Chambers sebagai gelandang bertahan menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Flamini sungguh tipis. Meskipun mantan pemain AC Milan tersebut menegaskan dirinya siap filling the shoes terkait Coquelin, fakta berbicara bahwa Flamini bukan pemain dengan rekam jejak yang konsisten.

Blessing in disguise, cedera Coquelin diharapkan menjadi berkah tersembunyi bagi asa Flamini musim ini. Apalagi, beredar kabar bahwa kontraknya tidak akan diperpanjang saat musim panas nanti. Paling tidak, akhir bulan November dan sepanjang Desember diharapkan bisa menjadi ajang penegasan bahwa Flamini belum sepenuhnya habis. Sedih, di usianya yang ke-31, Flamini tidak lagi seorang pejuang tangguh yang dirindukan skuat Arsenal di pos gelandang bertahan. Apalagi, setelah lepas dari cedera, Jack Wilshare juga “mampu” ditempatkan sebagai deep-lying midfielder. Ketika mentas bersama timnas Inggris, Wilshare beberapa kali mengemban tugas ini dan hasilnya cukup memuaskan.

(Menu lain: “Mathieu Flamini: The Last Prophet“)

Pada awalnya, kesempatan yang datang begitu seksi. Harapan (kembali) dipandang sebagai pemain penting begitu tinggi. Sayang, melihat analisa kesahihan Ramsey sebagai gelandang bertahan dan percobaan Chambers selama latihan ibarat menyaksikan harapan yang perlahan memudar, melesap.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *