Alexis Sanchez: Tumbangnya Sang Singa

Di tengah medan laga yang berangin disertai hujan, dia terus berlari menerjang kesempatan. Tatapannya tidak pernah jauh dari mangsa. Degub jantungnya berpacu seiring mangsa yang berkelit. Nafasnya satu-satu, tenang seperti gunung di tengah selimut salju. Alexis Sanchez, nanar menatap mangsanya.

Medan perburuan di Carrow Road sedang tidak bersahabat. Hujan disertai angin menggangu geliat para pemburu. Fisik yang terkuras oleh hujan membuat nafas para pemburu tersengal-sengal. Meskipun nampak tenang, hati para pemburu bergemuruh. Mereka kudu mendapatkan mangsa malam ini. Para pemburu sadar peluang bertahan hidup dan mendobrak kelompok elit tengah terancam.

Di sisi kiri medan perburuan, seorang “singa” enggan melepaskan mangsanya dengan mudah. Padahal, fisiknya sudah terkuras oleh medan perburuan tempo hari, di mana mereka, para pemburu dibuat susah payah oleh lawan. Si singa dari La Roja ini juga tengah terluka. Otot-ototnya dipaksa bekerja lebih keras, jantungnya terus dipacu hingga batas. Namun, gejolak dedikasi dan kerja keras sudah menjadi corak dirinya. Alexis Sanchez, Singa La Roja, menandai setiap sudut medan laga dengan gairah dan darah.

Sang Singa ini merupakan wujud nyata dari pandangan Toyotomi Hideyoshi, sang Taiko Jepang abad pertengahan. Hideyoshi memandang seorang prajurit harus menyandang unsur “Devotion, Hard Work, Gratitude”.

Devotion. Alexis Sanchez selalu berusaha memberikan yang terbaik ketika mentas di medan perburuan. Ia akan selalu berlari, meskipun harus menangung nyeri dan perih di sekujur tubuhnya. Ketaatan kepada kewajiban diterjemahkan dengan sempurna. Enggan ia jatuh dalam buaian lalu menyerah karena lelah secara fisik dan batin. Ketaatan seperti seorang samurai ia sajikan dalam setiap gerak otot dan peluh yang berjatuhan. Pengabdiannya tidak mengenal kesudahan.

Hard Work. Ketaatan yang Alexis Sanchez persembahkan dilandasi oleh kerja keras. Bukan sekadar bekerja dengan lebih keras. Alexis Sanchez bekerja keras dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab dan cinta kasih kepada emblem meriam di dadanya. Ketika kalah dari West Ham United di pembuka medan perburuan musim ini, Alexis Sanchez enggan meninggalkan lapangan bubat Emirates. Sadar akan kondisinya yang tidak maksimal dan tidak mampu menolong The Gunners meraih mangsa, Alexis Sanchez menambah porsi latihannya. Meskipun lelah, ia tidak mengeluh. Kekecewaan ia pahat dalam setiap tarikan nafas.

Gratitude. Alexis Sanchez tidak pernah lupa dengan masa lalu dan asal-usulnya. Keras kehidupan ia torehkan dalam setiap ketaatan dan kerja keras indahnya. Rasa syukur ia unjukkan kepada Sang Sempurna penguasa takdir dan nyala kehidupan. Rasa syukur menjadi benteng yang melindungi Sang Singa dari kesombongan yang menggerogoti logika dan kebaikan hati.

Pep Guardiola: “Alexis Sanchez sacrificed himself a lot”

Maka, di medan Carrow Road, Sang Singa enggan beristirahat barang sekejap. Sakit, nyeri, dan perih yang menyeruak di atas pori-pori tak mau ia kasihani. Sang Singa yang penuh luka, tetap menerjang, fokus dengan sasaran, dan tanpa ampun menyudutkan mangsanya.

Apakah Arsenal bisa memberinya barang satu-dua tabuh untuk menghela nafas dan memulihkan kondisi? Ya. Sayang, posisinya di mata para pemburu sudah begitu penting. Keberadaannya sungguh vital. Gerakkannya dengan bola mampu mendorong mangsa ke belakang, memberikan waktu bagi para pemburu untuk mengeluarkan cakarnya, dan merobek jala mangsa. Tubuhnya yang pejal dan liat memberikan keuntungan ketika merangsek ke posisi mangsa. Ia begitu diandalkan, sangat lihai membantu kawan mengoyak jala mangsa atau sendirian ia benamkan taring ke leher mangsa dengan sempurna.

Alexis Sanchez Sang Singa, yang terus berlari meski menderita akhirnya tumbang juga. Hentakan sang mangsa tidak terprediksi, ototnya terluka, luruh ia terjatuh. Sinar kemudaan dan gairah lesap dari wajahnya. Kesedihan mulai menguasai sanubari. Lengkap sudah, Sang Singa menyadari sampai sini saja ia bisa berlari. Dengan tertatih, ia dibantu meninggalkan medan perburuan. Para pemburu hanya bisa menatapknya dari kejauhan sambil berdoa di dalam hati, semoga Sang Singa segera kembali.

Kini, tugas para pemburu adalah mengisi ruang yang ditinggalkan Sang Singa. Sebagai kawanan yang dewasa, Arsenal harus sadar bahwa tim adalah segalanya. Sudah bukan waktunya lagi kawanan ini menggantungkan masa depannya kepada satu taring saja.

Pada akhirnya, Sang Singa akan kembali kelak. Menyandang luka dan kekecewaan, Sang Singa akan semakin kuat. Mari, tangkupkan tangan di dada, pejamkan mata, dan berdoa semoga langit tetap cerah dan medan perburuan selalu bersahabat.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *