Arsenal: Nukilan Kitchen dan Partai Hidup Mati

Negeri Para Dewa akan menjadi saksi kelangsungan nyala api perjuangan Arsenal di Liga Champions musim ini. Apakah akan padam dan mati atau tetap hidup untuk berjuang di lain hari? Berikut beberapa nukilan dari dapur sendiri, di mana rasa diolah dan angan diperam.

Tanggal 9 Desember kalender tahun ini, Arsenal akan melakoni laga penting di kandang Olympiacos. Arsenal membutuhkan kemenangan. Bukan kemenangan biasa, namun kemenangan meyakinkan dengan syarat tertentu. Konon, setidaknya Arsenal membutuhkan kemenangan dengan margin 2 gol. Apa pun itu, intinya, Arsenal harus menang secara meyakinkan. Di tengah badai cedera dan beberapa pemain yang belum mencapai match fit, daya apa yang Arsenal punya untuk pulang dengan kemenangan? Berikut beberapa nukilan yang terekam dalam Arsenal’s Kitchen.

Pertama: soal tanggung jawab dan persepsi kolektif

Saya pernah menulis soal tanggung jawab dan persepsi kolektif yang harus dipunyai setiap pemain dalam artikel “Tentang Kekhawatiran dan Musuh Besar”. Berikut saya kutipkan:

“Saya sendiri percaya diri dengan kualitas setiap individu yang dimiliki Arsenal. Para pemain mempunyai kelebihan dan kualitas yang bahkan sebenarnya mampu bersaing dengan raksasa Catalan atau Bavaria. Namun nampaknya, kualitas individu tidak akan mampu berbicara banyak apabila tidak diikat dengan pemahaman kolektif dalam batasan tanggung jawab. Di dalam pemahaman kolektif, setiap pemain dituntut untuk menyamakan persepsi dan bertanggung jawab dengan tujuan yang ingin diraih. Tiap individu tidak boleh seenaknya sendiri melupakan tanggung jawab kolektif dan membiarkan rekan-rekannya menanggung semuanya sendirian.

Jika tidak mampu menyamakan persepsi, maka tidak heran apabila sistem tidak berjalan. Para pemain bermain tanpa kompas, menyulitkan diri sendiri, dan pada akhirnya membuat tim menderita. Oleh sebab itu, setiap insan di dalam “masyarakat Arsenal” harus mampu menunjukkan bahwa ia mengemban tanggung jawab dan ingin mencapainya secara kolektif. Kesadaran individu untuk naik ke level lebih baik, akan menjadi modal berharga untuk berproses menuju tujuan agung setiap musim, yaitu kejayaan.”

Arsenal akan bermain tanpa dua pemain penting di lini tengah, yaitu Santi Cazorla dan Francis Coquelin. Pemain yang menggantikan mungkin belum akan sebagus dua pemain mungil tersebut ketika menjalankan fungsinya secara taktikal. Namun, terlepas dari pandangan tersebut, siapa pun yang bermain mempunyai kualitasnya masing-masing. Hanya tinggal kesadaran akan urgensi yang menjadi konteks, menyadari tanggung jawab sebagai pemain yang berdiri di atas lapangan, dan menyamakan persepsi bahwa Arsenal bisa menang dengan penampilan terbaik (dari masing-masing  pemain).

Jadi sangat jelas bukan. Setiap pemain akan mendapatkan tuntutan yang sama, yaitu bermain sebaik mungkin dengan kesadaran menjaga margin 2 gol. Tidak perlu ditanyakan soal profesionalitas. Setiap demam panggung harus diatasi dengan kerja terbaik dan setiap kesalahan harus diperbaiki dengan kesadaran tim. Arsenal membutuhkan setiap pemain untuk menyadari hal tersebut.

Kedua: Urgensi dan musuh terbesar

Bukan Olympiacos yang akan menghadirkan masalah terbesar. Arsenal akan menemui bahwa lawan terberat adalah diri sendiri. Perasaan negatif yang menjalar dari dalam diri justru yang akan menjadi penghambat para pemain mengeluarkan kemampuan terbaik.

“Kesalahan adalah unsur kecil dalam sepak bola, tetapi berdampak masif. Kesalahan dasar seperti mengoper bola menular ke kesalahan sistemik lainnya. Gol pertama datang, lalu disusul gol kedua. Para pemain tertekan dan sistem permainan menjadi terganggu. Mental, menjadi bagian rapuh dan terus tergerus. Para pemain seperti kehilangan modal penting yang harus dikantongi sebelum laga, yaitu URGENSI.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, urgensi artinya sesuatu yang sangat penting. Memang, para pemain pasti tahu apa makna tampil di panggung semegah Liga Champions. Mereka juga paham dengan sebab-akibat yang akan terjadi, baik positif maupun negatif. Namun, cara bermain mereka tidak menggambarkan hal itu.”

Penggalan paragraf dari artikel “Urgensi dan Teori Kecemasan Sigmund Freud” di atas sedikit banyak menggambatkan kerusakan macam apa ketika setiap pemain Arsenal tenggelam dalam kealpaan untuk mengalahkan diri sendiri. Sudah sewajarnya bukan setiap pemain harus bermain sebaik mungkin ketika dipercaya tampil? Oleh sebab itu, menemukan kesadaran akan pentingnya posisi mereka di atas lapangan yang akan menentukan hasil akhir. Tampil di Liga Champions artinya tampil di ajang para juara. Tekanan akan begitu besar, namun sudah layak dan sepantasnya jika setiap pemain bisa bersikap dewasa dan bermain lepas.

Ketiga: Pemahaman akan hal positif

Dua nukilan di atas menggambarkan hal-hal berat yang sudah otomatis tersemat dalam konteks pemain profesional. Lalu, sebagai individu, pemahaman apa yang bisa dianalogikan untuk pemain sepak bola? Tentu kita bicara hal positif. Hal-hal semacam ini bertebaran di dunia dan bisa kita ambil sari patinya sesuai kebutuhan. Arsenal’s Kitchen sangat sadar dengan hal semacam ini. Dan, Bruce Lee mengajarkan sesuatu secara gamblang.

The change is from inner to outer. We start by dissolving our attitude not by altering outer condition” Perubahan dimulai dari dalam diri, ungkap Bruce Lee.

Mulai dengan memperbaiki sikap, bukan dengan “buta” mengubah kondisi di luar kita. Bagi pemain, wejangan ini penting. Dua kali kekalahan beruntun dari Dinamo Zagreb dan Chelsea mengindikasikan ada sesuatu yang salah. Untuk memperbaikinya, ya mulai dari dalam diri. Ingat dengan attitude yang Alexis Sanchez tunjukkan ketika Arsenal ditekuk West Ham di laga perdana BPL musim ini? Bentuk perbaikan dari dalam diri merupakan usaha mempertajam performa, terutama di atas lapangan dan aspek mental. Setelah perbaikan dari dalam diri berjalan ideal, baru kita dapat memperbaiki situasi eksternal, misalnya isu taktikal.”

Seperti pelukisan akan pentingnya urgensi dan tanggung jawab, artikel dalam “Bruce Lee Untuk Arsenal” tersebut terang benderang menegaskan bahwa dissolving our attitude not by altering outer condition adalah syarat penting. Untuk mengalahkan musuh besar (baca: diri sendiri), sadar untuk memperbaiki diri adalah senjata utama. Mathieu Flamini sering menjadi cercaan karena kegagalannya menduplikasi performa Coquelin. Apa yang salah? Apakah sebatas taktikal saja? Pastinya tidak. Kritik ini penting untuk kesadaran bahwa pemain akan bermain dengan mengemban emblem meriam di dada. Pemain yang harus menemukan perbaikan diri pada awalnya.

Keempat: Korelasinya dengan situasi lapangan

Bagi saya, salah satu aspek penting dalam sepak bola adalah inisiatif. Bentuk inisiatif berada dalam ranah keputusan. Sepak bola sendiri adalah bangunan keputusan, di mana hampir semua aksi di atas lapangan ditentukan oleh keputusan. Inisiatif akan menjadi penyusun bangunan penting tersebut.

“Jika pernah bermain gim Football Manager, pasti kalian akrab dengan filosofi retain possesion, play short pass, play at out of defence, work ball into box, dan pass into space. Semua atribut tersebut merupakan poin penting dari possession game. Passing pendek, bermain dari dasar, perlahan mendekati kotak penalti lawan, dan mempertahankan penguasaan bola. Tonggak paling penting dalam atribut di atas adalah inisiatif. Mengumpan bola artinya mengirim pesan kepada kawan. Pesan dari bola mengandung informasi soal keberadaan lawan, arah passing selanjutnya, pergerakan kawan, dan tempo permainan. Sayang, saat melawan Sunderland, semua poin penting dalam sepak bola dasar tidak diterjemahkan dengan baik. Beberapa kali passing yang diberikan justru menyulitkan kawan sendiri, jika belum menghitung kesalahan passing di daerah sendiri.

Passing berpasangan dengan movement. Cepat lambat passing berhubungan dengan gerak pemain kelanjutan dari passing tersebut. Passing pendek dan pelan artinya tidak ada lawan yang mendekat. Passing cepat artinya lawan berada cukup dekat dan tempo dinaikkan. Bagi Arsenal, info ini seharusnya bersumber dari Arteta dan Flamini. Tapi, inisiatif sederhana ini tidak tersampaikan. Akhirnya, build-up play tidak sempurna dan permain Arsenal terlihat “mati”.

Dalam artikel lawas berjudul “Filosofi dan Mahalnya Sebuah Inisiatif”, saya menegaskan bahwa inisiatif bisa menentukan banyak hal. Keputusan yang tepat menjadi barang yang mahal. Bagi Arsenal dan semua pemain sepak bola, aspek ini harus terbangun dengan rapi dan akurat. Nah, melawan Olympiacos, inisiatif bagi pemain akan diuji secara pantas. Beban mental akan memberatkan, dan kualitas diri pemain akan tergambarkan.

Kesimpulan

Sederhana saja, 11 pemain yang ada di atas lapangan harus bermain dengan sadar. Makudnya? Sadar dengan segala beban, sadar dengan kemampuan lawan, dan sadar dengan kemampuan diri sendiri. Laga hidup mati di Yunani tidak akan ditentukan oleh sepasukan lawan, melainkan bagaimana mengeluarkan sikap terbaik, di saat terbaik, dari setiap pemain.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *