Goyang Karibia Joel Campbell

Sekali lagi, musibah cedera tidak melulu soal tangisan sedih. Di balik duka, selalu ada canda. Blessing in disguise mereka bilang dan Joel Campbell termasuk salah satu manusia yang tengah menikmatinya. Mari bergoyang bersama Joel Campbell!

MENU BARU dari @isidorusrio_

Berani pasang taruhan berapa di antara Anda penggemar Arsenal yang mengira Joel Campbell akan mengilap seperti sekarang saat beberapa pemain inti semisal Alexis Sanchez dan Theo Walcott (saat itu) dibekap cedera?

Joel Campbell, yang di negara asalnya sana disebut-sebut sebagai titisan Paulo Wanchope, penyerang legendaris Kosta Rika, memang salah satu pemain yang kariernya diprediksi bersama Arsenal tidak akan bertahan lama. Banyak menghabiskan masa peminjaman di beberapa klub adalah indikasi besar bahwa (mungkin) Joel Campbell tak memiliki masa depan yang bagus di Arsenal. Konon, sebelum badai cedera musim ini, di periode bulan Oktober hingga awal Desember, Joel Campbell hanya disiapkan menjadi “ban serep” untuk salah satu di antara Alexis Sanchez atau Aaron Ramsey, yang menempati pos tiga gelandang serang bersama Mesut Ozil.

Saat melawan Swansea City, komentator menyebut laga ini sebagai now or never bagi Joel Campbell. Sebuah pilihan 50:50 untuk menentukan masa depan bagi pria Kosta Rika ini. Dan, Arsene Wenger, dengan segala keterbatasan skuat karena cedera, memilih mempercayakan dan mengoptimalkan kemampuan Joel Campbell untuk mengisi pos serang sisi kanan yang ditinggal Walcott dan Ramsey. Hasilnya? Joel Campbell berhasil membuka rekening gol untuk Arsenal. Gol perdana yang datang di saat yang tepat tatkala kariernya di London berada di ambang penghabisan.

Selama periode 2014/2015 bersama tim nasional, performa Joel Campbell begitu menawan. Namanya santer disebut akan dipanggil Arsenal dari peminjaman untuk memperkuat lini serang. Saat itu, skuat The Gunners tengah berada dalam mood terbaik setelah kedatangan dua marquee player, yaitu Mesut Ozil dan Alexis Sanchez.

Performa menawan Joel Campbell bersama timnas bukan isapan jempol. Salah satu indikasinya adalah kiprah fenomenal Kosta Rika di Piala Dunia 2014. Saat itu, Kosta Rika tergabung dalam “grup neraka” bersama Italia, Inggris, dan Uruguay. Bahu membahu bersama pria flamboyan dari Sporting Lisbon, Bryan Ruiz dan kiper yang sempat diharapkan akan dibuang namun malah menjadi kiper utama Real Madrid, Keylor Navas, Joel Campbell menjadi tulang punggung pencapaian luar biasa negeri Karibia ini.

**

Beberapa musim terakhir, badai cedera memang seperti menjadi “berkah” bagi pemain lain yang lebih akrab dengan bangku cadangan. Anda ingat cedera panjang Mathieu Debuchy yang berujung dengan meroketnya pemuda tampan bernama Hector Bellerin? Atau berkah pemanggilan pulang Francis Coquelin yang secara surealis dan tiba-tiba membuat Coquelin, yang dahulunya “hanya” pemain kelas dua dan langganan tim U-21, mendadak menjadi setara Claude Makelele yang begitu determinan dan tangguh. Saya pun mulai berandai-andai, seandainya Nicklas Bendtner, Emmanuel Frimpong, hingga Henry Lansbury masih ada, mungkin saja mereka akan meroket laiknya Bellerin dan Coquelin, siapa tahu bukan? Arsenal selalu penuh kejutan dan hal surealis. Se-surealis gaya rambut Bacary Sagna dan kepindahan Thierry Henry ke Barcelona

Beberapa minggu terakhir ini, jatah “pemain cadangan untuk unjuk gigi” menjadi hak Joel Campbell. Kita lihat catatan impresif beliau. Setelah laga melawan Swansea City, Joel sudah mengumpulkan 2 gol dan 2 assists. Dua gol ia ciptakan ke gawang Swansea dan Sunderland. Sementara itu, dua assists cantik tercatat saat melawan Dinamo Zagreb dan Olympiacos. Melihat catatan di atas, boleh saja kita berpendapat bahwa kepergian Alexis ke ruang perawatan sedikit mulai terobati.

**

Mari lupakan sejenak soal imbas metode latihan Arsene Wenger dan efek berantainya terhadap catatan cedera. Ada pemain yang masih sanggup bermain stabil dan membayar kepercayaan pelatih gaek asal Perancis tersebut.

Bagi Joel Campbell, konsistensi akan berbicara banyak terkait kelangsungan kariernya. Kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Joel Campbell fasih bermain di kedua sisi lapangan dan sebagai penyerang. Kelebihan dan kemampuannya bermain di berbagai posisi di lini depan akan berguna di bursa Januari nanti supaya Arsenal fokus untuk memperkuat posisi gelandang bertahan. Setidaknya, pengeluaran bisa ditekan, dan tak perlu buang banyak uang untuk membeli pemain di posisi CF, bukan?

Ini bukan soal irit atau pelit. Ini masalah urgensi mengeluarkan dana saja. Lagipula, buat apa rutin mengeluarkan banyak uang untuk membeli pemain kalau ujungnya mengejar keuntungan dari penjualan jersey saja? Kendati semakin kapitalis, sepak bola tetap harus menarik, jadi pembelian pemain pun harus efisien dan efektif. Sebagai sarjana ekonomi, Arsene Wenger tahu betul hal itu dibanding kita-kita ini, kumpulan orang-orang banal yang menuntut Arsenal menebus Lionel Messi.

Jadi, mari sejenak menikmati goyang Karibia Joel Campbell yang (semoga) semakin konsisten, setidaknya hingga awal Januari tahun depan. Atau, akan lebih bagus ketika Joel Campbell bisa stabil hingga akhir musim. Sembari menikmati goyangan Joel Campbell, bukan dosa berlebih apabila kita berharap-harap suatu saat nanti Arsenal secara tiba-tiba mendatangkan Lionel Messi.

Ah, tapi saya baru tersadar, ternyata saya menulis esai ini sambil tidur, pantas bahasan perihal transfer Messi ke Arsenal perlahan muncul. Sudah dulu, ya. Salam Karibia!

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *