Main Course: Arsenal 2 v 1 Manchester City

Tidak ada nama Alexis Sanchez ketika daftar susunan pemain diumumkan. Arsenal menjamu Manchester City tidak dengan kekuatan penuh. City sendiri memainkan Fabian Delph ketimbang Raheem Sterling dengan asumsi menambah jumlah pemain di lapangan tengah.

Susunan Pemain

Arsenal tidak membuat perubahan susunan pemain dengan Mathieu Flamini dan Aaron Ramsey berperan sebagai double pivot. Empat pemain di belakang diisi Nacho Monreal, Hector Bellerin, Laurent Koscielny, dan Per Mertesacker. Petr Cech berdiri di bawah mistar. Lini serang diisi Theo Walcott, Mesut Ozil, Joel Campbell, dan Oliver Giroud. Dari kubu City, Sergio Aguero dinyatakan fit dan menjadi ujung tombak. Di belakangnya berdiri David Silva, Kevin de Bruyne, dan Yaya Toure. Fernandinho dan Fabian Delph berperan sebagai duet jangkar. Barisan empat belakang diisi Bacary Sagna, Eliaquim Mangala, Nicholas Otamendi, dan Aleksandar Kolarov. Joe Hart menjadi pilihan pertama penjaga gawang.

1

Duet Fernandinho dan Delph sendiri tidak berdiri sejajar dengan salah satu berdiri agak ke depan mendekati Yaya Toure. Tiga pemain yang mencoba membentuk segitiga ini bertujuan untuk mengokupansi lini tengah dan mengimbangi tiga pemain Arsenal yang diisi Flamini, Ramsey, dan Ozil. Situasi 3v3 diharapkan mampu mambantu City memenangi penguasaan bola di lapangan tengah sekaligus menjadi jembatan kepada De Bruyne dan David Silva yang banyak berdiri (dan bergantian) mengokupansi half-space.

Bentuk 1-4-2-3-1 yang dibuat Arsenal sendiri bukan bentuk yang kaku lantaran dengan mudah membantuk 1-4-4-2 (1-4-4-1-1) narrow ketika bertahan. Terkadang, bentuk 1-4-1-4-1 pun terlihat ketika Ozil turun ke bawah dan berdiri hampir sejajar dengan Ramsey. Flamini bertindak sebagai jangkar dan melindungi zona 5. Fleksibilitas ini membantu Arsenal mengatasi penetrasi City dari sisi tengah. Keberadaan De Bruyne dan David Silva membuat City tidak selalu bisa mengeksploitasi sisi lapangan karena keduanya lebih narrow ketika masuk dalam sepertiga lapangan Arsenal. Yaya Toure, yang berdekatan dengan keduanya juga banyak naik merangsek ke zona 5.

Dengan kondisi tersebut, Arsenal “dipaksa” untuk sedikit turun lebih dalam. Empat pemain Arsenal yang membentuk two banks of four (dua lapis empat pemain sejajar) plus Ozil bertujuan untuk meredam proses kerja City. Posisi ini juga sukses mengurangi jumlah bola yang sampai di kaki Aguero, baik ketika menjadi tembok, maupun sebagai eksekutor. City justru mampu menciptakan peluang ketika Aguero berinisiatif turun menjemput bola. Inisiatif ini mengizinkan De Bruyne (atau David Silva) memanfaatkan ruang di belakang bek Arsenal yang tertarik gerakan Aguero. Sayangnya, bentuk ini tidak banyak dilakukan City karena lebih memilih menyebarkan bola ke sisi lapangan ketika transisi menyerang dan memanfaatkan dua bek sayap yang naik. Ketika mendekati kotak penalti, pemain-pemain City sudah mendapati Arsenal membentuk berikade di zona 5.

Dua Gol Arsenal dan Pentingnya Half-Space

Dua gol Arsenal diciptakan oleh Walcott dan Giroud dan semuanya terjadi di babak pertama. Apabila melihat proses kedua gol tersebut, pembaca akan mendapati posisi Ozil yang memudahkan Arsenal masuk kotak penalti City. Ketika menerima bola, Ozil berdiri di half-space, suatu ruang ideal di antara sisi lapangan dan tengah. Posisi menerima bola ini mengizinkan Ozil dengan mudah melihat semua pergerakan pemain di depannya, baik secara vertikal maupun diagonal. Apalagi, Ozil tidak mendapatkan tekanan dari pemain City ketika menerima bola di half-space.

Gol pertama dengan gamblang menggambarkan penempatan posisi Ozil di half-space dengan baik. Ketika Koscielny membawa bola naik ke lapangan tengah, Ozil menyediakan diri di jalur passing paling mudah, yaitu lurus ke depan. Penempatan ini memudahkan Koscielny mengirim bola vertikal memotong keberadaan tiga pemain tengah City. Ketika Ozil menerima bola dan membalikkan badan, terlihat Fernandinho berdiri tidak begitu jauh. Pemosisian Fernandinho tidak bisa dibilang salah karena mencegah pemain Arsenal memanfaatkan zona 5.

2

Proses gol pertama merupakan gambaran penempatan posisi dan wujud insiatif yang baik dari pemain-pemain Arsenal. Ketika Ozil menerima bola dan membalikkan badan, Walcott, Giroud, dan Joel Campbell merangsek masuk ke kotak penalti dan memaksa pemain-pemain City untuk mengikutinya turun lebih ke bawah. Aksi dan reaksi ini menciptakan space di antara Ozil dan calon penerima bola. Walcott menunjukkan inisiatif yang baik ketika memutuskan berhenti berlari dan turun sedikit untuk meminta bola.

3

Ketika akhirnya menerima bola, Walcott mendapatkan jarak yang pas dari Sagna. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh namun masih sulit untuk dikejar Sagna. Lagi-lagi, posisi Walcott menunjukkan betapa half-space merupakan salah satu ruang yang penting dalam sepak bola. Mendapatkan ruang dan waktu yang cukup, Walcott memanfaatkan posisinya yang ideal untuk melepas tembakan ke tiang jauh. Gol pertama tercipta.

Proses gol kedua pun tidak berbeda, namun kali ini ada andil dari Mangala yang melakukan kesalahan passing. Baik Walcott maupun Ozil sudah berdiri di half-space dan mendapatkan kesempatan emas untuk langsung memulai transisi serangan di dekat kotak penalti City. Giroud, yang melihat bahwa Ozil kembali bebas menerima bola dengan cerdik berlari ke sisi kaki kuatnya.

4

Set-up ini membantu Ozil mengirim bola tepat ke arah lari Giroud. Sisanya, striker asal Perancis tersebut hanya tinggal menyesuaikan larinya dengan bola. Kontrol yang ia lakukan pun juga cukup membuat bola berada sedikit di depan kuda-kuda. Giroud menunjukkan teknik menendang secara diagonal yang baik, tidak terlalu keras, namun presisi. Gol kedua tercipta.

City dan Terbatasnya Cara Menyerang

Ketika sebuah tim tertinggal dan tim yang unggul mulai bertahan, maka “cara meyerang” akan menentukan jalannya laga. Keluarnya Aguero dan David Silva membuat City lebih memanfaatkan lebar lapangan. Apalagi, setelah Jesus Navas masuk, opsi menyerang lebih banyak dibuat di sisi kiri lapangan Arsenal. Arsene Wenger membaca gelagat ini dan memaksukkan Kieran Gibbs yang (seharusnya) turun membantu Monreal di sisi kiri lapangan. Meskipun Navas banyak menemukan kesempatan mengirim umpan silang ke mulut gawang, City tetap kesulitan mencetak gol karena pada dasarnya, cara ini sudah terbaca.

Di babak kedua jelas Arsenal bertahan lebih dalam lagi dan seperti mengundang City untuk menyerang. Arsenal memang tidak mempunyai pilihan lain untuk bermain karena terbatasnya opsi pemain. Apalagi, setelah Ozil, Joel Campbell, dan Walcott diganti. Kanal serangan menjadi begitu terbatas dan sporadis saja. Pada akhirnya, opsi dan cara menyerang kedua tim menjadi terbatas dan laga ditentukan oleh fisik, fokus, dan konsentrasi. Gol yang dicetak oleh Yaya Toure boleh dibilang bergantung kepada teknik si pemain. Tembakan tanpa kuda-kuda memang sulit dibaca kiper, apalagi ketika si eksekutor sebenarnya tidak berada di posisi yang ideal untuk menembak. Gol yang diciptakan memang indah, namun bukan karena Arsenal lalai dengan tugas bertahan.

Kemenangan ini berarti penting, terutama sebagai penegasan bahwa Arsenal tidak risih dengan big match. Kini, menjelang jadwal yang padat, maka rotasi, kompaksi, dan ketebalan psikis yang menjadi kunci. Focus is (always) the key!

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *