Dessert: Dongeng Pragmatisme Arsenal

Cerita kemenangan kemarin lusa adalah sebuah hal yang memang patut dirayakan. Sebuah tiga angka penting untuk terus menempel Leicester City jelang periode Boxing Day yang sangat sibuk dan melelahkan di akhir tahun. Namun, ada beberapa hal yang menarik dalam melihat Arsenal belakangan ini, well, setidaknya dua pertandingan akhir ini. Khususnya, sejak cederanya Santi Cazorla.

Dessert dari: @isidorusrio_

Ada beberapa hal yang cukup menarik ketika menonton Arsenal melawan Manchester City. Salah satunya, tentu model rambut Arsene Wenger. Model rambut itu adalah sebuah penyegaran yang unik. Menarik melihat orang Perancis yang flamboyan seperti Wenger menghendaki potongan rambut yang cukup sederhana. Setidaknya, gaya rambut itu membuat Wenger lebih British. Sekadar trivia, potongan rambut Wenger membuat ia sekilas mirip Rowan Atkinson. Tanpa boneka beruang dan mobil kodoknya yang unik tentunya.

Hal lain yang patut dicermati adalah gaya pragmatis yang saya amati dimainkan Arsenal dalam dua pekan terakhir. Khususnya, sejak Cazorla dipastikan menepi sampai Maret tahun depan. Tidak adanya Cazorla (dan Francis Coquelin) mau tidak mau memang mengubah gaya dan pendekatan bermain Arsenal, khususnya dalam fase bertahan. Apalagi, Aaron Ramsey kembali ke posisi tengah. Kemampuan fisik prima dalam bermain Rugby yang digeluti Ramsey saat remaja, hingga daya jelajahnya yang tinggi, sangat membantu Arsenal, khususnya dalam menginisiasi serangan balik yang cepat.

Gol Ramsey ke gawang Aston Villa dua pekan lalu menjabarkan jelas hal itu. Namun, di balik kemenangan Arsenal, hilangnya dua pivot utama di lini tengah membuat gaya main Arsenal sedikit pragmatis. Bahkan, 30 menit awal di babak pertama, hampir sepenuhnya Arsenal sangat bertahan. Alih-alih menguasai bola, Arsenal justru banyak menunggu. Wenger tahu betul kualitas Mathieu Flamini dalam mengatur ritme tentu tak istimewa. Ya, ini Flamini, bukan Andrea Pirlo. Dan Wenger menyesuaikannya dalam bentuk pragmatisme yang tampak saat pertandingan.

Saya secara pribadi tak begitu menggemari gaya pragmatis Arsenal akhir-akhir ini. Sebagai pemuja permainan bola menyerang dan penuh risiko, bermain aman dan bertahan begitu menyebalkan buat saya. Walau kemenangan tetap harus diapresiasi begitu tinggi, ada fase-fase tertentu di mana gaya pragmatis Arsenal sangat tidak cocok untuk dimainkan para pemain. Utamanya, karena kultur pragmatis tak pernah ada di pemain Arsenal.

Begini, setelah gol Yaya Toure, praktis serangan bergelombang City semakin masif dan beruntun. Ada satu-dua momen di mana lini belakang Arsenal cukup kewalahan menghadapi tekanan. Sederhananya, 10 menit akhir laga kemarin malam begitu membuat perut saya mual dan mulas menyaksikan gempuran pemain City. Serangan yang memang dimaksudkan untuk mengurung pertahanan Arsenal dan menyamakan skor. Harusnya, di beberapa menit sekitar menit 60-75, Arsenal tetap tampil menyerang dan mencuri gol. Menghabisi mental dan daya juang City untuk kemudian mengamankan kemenangan di sisa 10 menit akhir laga.

Tapi karena terbatasnya pemain akibat cedera, dan mentalitas Wenger (mungkin) yang mulai pragmatis, mengamankan kemenangan dengan skor berapa pun tetap menjadi opsi yang diambil. Anda ingat babak kedua kala pertandingan melawan Aston Villa? Juru kunci sementara Liga Inggris itu mampu mengurung pertahanan Arsenal sepanjang 45 menit babak kedua.

Itu pemandangan yang membuat perut mulas sebenarnya. Untungnya, itu Aston Villa. Bayangkan kalau City saja mampu mengurung Arsenal dalam 10 menit terakhir, apa yang bisa dilakukan Barcelona dalam 180 menit di Liga Champions nanti? Saya membayangkannya saja sudah mulas.

Tapi, pragmatisnya Arsenal tetap harus dilihat dengan kacamata yang berbeda dengan melihat pola pragmatis ala Jose Mourinho dan Tony Pulis, misalnya. Selain Arsenal yang memang sedang kekurangan stok pemain karena badai cedera, tidak adanya pengatur ritme dari bawah membuat Arsenal tak cukup nyaman berlama-lama dengan bola.

Berbeda dengan Wenger, baik Jose maupun Pulis memang sudah pragmatis sejak dari lahir. Wenger tentu saja tak memiliki sejarah itu. Menang dengan cara agung sudah ditunjukkan Wenger sejak dulu. Unbeaten di musim 2003/04 adalah puncaknya. Setelahnya, kultur Wengerball berkali-kali keok dengan pola modern yang diusung oleh Jose dan dahsyatnya Si Merah Brengsek dari Manchester itu.

Tapi apa pun itu, suka atau tak suka, kemenangan tetap harus dihargai. Dan ada satu hal lagi yang mengganjal pikiran. Apakah kita masih membutuhkan Kieran Gibbs? Selain gol penyama skornya ke gawang Hugo Lloris, saya hampir tidak menikmati tiap kali Gibbo main di lapangan, khususnya, ketika Nacho Monreal masih ada di situ. Kerapkali, Gibbo lupa bahwa yang bek kiri adalah Monreal, bukan dirinya.

Untuk penutup, ada baiknya kita menikmati video Natal persembahan penggawa Arsenal ini. Salah satunya, ada tabuhan drum keren dari Darth Vader para Gooners, Petr Cech!

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *