Elegi di St. Mary’s: Jembatan Yang Harus Diseberangi Arsenal

Kekalahan memalukan yang diderita Arsenal bukan kebetulan. Wasit tidak memimpin pertandingan dengan baik? Terserah pembaca menilainya. Yang pasti, skuat Arsenal tidak menunjukkan sikap yang pantas untuk mendaki puncak klasemen.

Sekali lagi, sebuah kesempatan baik datang untuk Arsenal. Kekalahan Leicester City atas Liverpool gagal dimaksimalkan The Gunners untuk naik ke puncak klasemen. Kalah, Arsenal harus menanggung malu dicukur empat gol. Selain kontroversi soal wasit, mari bersepakat bahwa Southampton menunjukkan sikap yang pantas. Skuat asuhan Ronald Koeman tersebut terlihat lebih menginginkan kemenangan ketimbang Arsenal.

Southampton tampil dengan racikan antitesis Arsenal. Mereka bermain keras, membawa pertandingan masuk ke rasa fisik, bahkan tidak risih untuk nakal. Southampton juga lebih solid untuk urusan koordinasi antar-lini. Mereka kompak, menampilkan cover shadow apik dari setiap pemain, dan tak mau berkompromi dengan lenggok kerja lini serang Arsenal. Southampton, yang tampil di depan publik sendiri, bahkan siap menghajar setiap pemain Arsenal yang alpa bahwa bola tanggung adalah kesalahan.

Inilah momok bagi Arsenal, sebuah tim yang keras, sangat fisik, dan rela bermain kotor. Dihajar secara fisik dan dikunci secara taktikal, Arsenal seperti enggan bangkit, enggan menunjukkan sikap terbaik untuk pantas disebut sebagai penantang gelar juara. Ya, ini soal sikap. Tidak perlu berbicara dari sudut pandang taktikal jika setiap pemain sendiri tidak menunjukkan niat untuk patuh kepada bentuk taktik. Provokasi, pemain-pemain Arsenal masih gagu dengan polah galak lawan.

Inilah jembatan yang harus diseberangi Arsenal. Jembatan panjang di mana lawan bermain dengan nafsu membunuh.

Inilah jembatan yang harus diseberangi Arsenal. Sebuah jembatan, di mana setiap ujungnya dijaga oleh tim-tim yang tidak segan bermain kotor.

Inilah jembatan yang harus diseberangi Arsenal. Sebuah jembatan di mana Arsenal harus menunjukkan sikap terbaik untuk menyeberanginya.

Inilah jembatan yang harus diseberangi Arsenal. Sebuah jembatan di mana cedera dan keputusan brengsek wasit adalah kawan akrab.

Inilah jembatan yang harus diseberangi Arsenal. Sebuah jembatan yang harus dititi Arsenal jika ingin menapaki puncak Liga Inggris.

Ini soal kepantasan, saat Arsene Wenger menilik bahwa Arsenal kehilangan kekuatan alam bawah sadar. Inilah bekal dasar dari setiap pemain untuk memenangi pertandingan. Ini soal sikap dan kepantasan.

Saya sedang tidak ingin berpanjang lebar. Dengan hasil buruk di St. Mary’s, tembang elegi tengah dilantunkan. Tembang kesedihan yang gamblang menampar Arsenal. Menyeret Arsenal kembali ke bawah, ke level yang penuh pertanyaan.

Salah satunya: Pantaskah Arsenal duduk sebagai pemimpin Inggris?

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *