PascaTragedi St.Mary’s: Sebuah Jawaban

Kemenangan 2-0 saat melawan Bournemouth perlu dirayakan karena dua hal. Pertama, kemenangan ini sukses membawa Arsenal memuncaki klasemen sementara di akhir 2015. Kedua, kemenangan ini benar-benar menunjukkan kekuatan mental yang dibicarakan Arsene Wenger sehari sebelum pertandingan saat jumpa pers. Arsenal benar-benar bangkit dari kekalahan yang penuh parodi beberapa hari sebelumnya di St. Mary’s.

MENU BARU dari: @isidorusrio_

Selain dua hal di atas, berikut tiga hal yang menurut saya pribadi, menjadi poin-poin penting yang perlu dicatat selepas melawan Bournemouth:

Calum Chambers

Beberapa waktu yang lalu, nama Calum Chambers santer diberitakan akan dipinjamkan ketika bursa transfer Januari dibuka. Minimnya kesempatan bermain menjadi alasan. Beberapa kawan di lingkaran saya, walau tak semuanya seorang Gooners, kerap kali berujar bahwa Chambers adalah transfer gagal. Wajar, karena ekspektasi awal kedatangan Chambers adalah mengisi pos bek kanan bersama Mathieu Debuchy. Bahkan, lantaran berasal dari Inggris dan juga mampu bermain sebagai bek tengah, Chambers disebut mempunyai potensi untuk menjadi The Next Tony Adams. Selepas kepergian Pangeran Tampan Bacary Sagna, praktis pos bek kanan kekurangan stok. Chambers pun diharapkan mengisi pos tersebut bersama Debuchy. Yang kemudian terjadi, Tuhan ternyata sedang ingin bermain dengan takdir manis bersama Hector Bellerin. Jadilah Chambers menjadi bek tengah pilihan keempat.

Yang mungkin orang lupa sebelum menilai gagal atau tidaknya Chambers adalah usianya yang masih 20 tahun. Masih banyak waktu berkembang yang bisa dimanfaatkan untuk melatih Chambers supaya fasih bermain di berbagai posisi, yang diinginkan Arsene Wenger.

Saat menjamu Bournemouth, untuk pertama kalinya, Chambers mengawali laga sebagai gelandang bertahan di kompetisi kompetitif. Sebelumnya, Chambers sempat turun berlaga bersama ArsenalU21 sebagai gelandang. Cederanya Francis Coquelin, Mikel Arteta, dan Mathieu Flamini membuka kesempatan bagi Chambers untuk mencicipi posisi baru. Hebatnya, Chambers terlihat cukup nyaman dan tenang bermain sebagai gelandang bertahan. Fisiknya yang tinggi-tegap dan kokoh membuat Chambers fasih berduel di lapangan tengah. Kemampuan tackling saat menjadi seorang bek juga membantu Chambers untuk memenangi duel.

Memuji Chambers karena satu penampilan saja tentu tak bijak. Namun, penampilan baiknya di laga kemarin memang layak diapresiasi. Selain Mesut Ozil, Chambers menjadi kunci kenapa setelah 20 menit awal, Arsenal mampu menguasai lapangan tengah. Bersama Aaron Ramsey, Chambers menawarkan semangat tarung untuk meladeni tekanan konstan dari pemain-pemain Bournemouth. Semangat tarung yang tak tampak dan menguap saat dihajar Southampton kapan lalu. Setidaknya, suporter Arsenal boleh berangan-angan bahwa Chambers bisa setangguh dan segarang Nemanja Matic atau Arturo Vidal, namun dengan versi tampilan muka jauh lebih tampan.

Alex Oxlade-Chamberlain

Sesama alumnus akademi Southampton bersama Chambers ini diharapkan menjadi tulang punggung Arsenal setelah penampilan apiknya di Community Shield. Sayang, cedera dan inkonsistensi membuat Alex Oxlade-Chamberlain mulai tampil loyo dan sering mengecewakan.

Bahkan, di beberapa pertandingan terakhir, penampilan konsisten Joel Campbell mulai menggeser jatah Chamberlain untuk bermain di tim utama. Hal ini ditambah dengan kemampuan bertahan Chamberlain yang tidak konsisten, bahkan pengambilan keputusan dalam melepas umpan juga ikut menurun.

Namun laga melawan Bournemouth dimanfaatkan betul oleh Chamberlain dalam mengisi tempat di sayap kiri mendampingi Ozil dan Theo Walcott. Tercatat beberapa kali tusukan Chamberlain dari sayap kiri dan kanan, bergantian dengan Walcott, merepotkan pertahanan The Cherries. Yang patut menjadi catatan, keberadaan Walcott dan Chamberlain di sisi sayap membuat serangan balik Arsenal bisa lebih direct  dan cepat. Kecepatan dua pemain ini dalam menyisir sayap turut membantu proses serangan balik. Ditunjang visi luar biasa milik Ozil, tusukan dari sayap Arsenal semakin menyenangkan untuk ditonton. Ini masih beberapa kali dibantu dengan naiknya Hector Bellerin di sisi kanan yang membuat dimensi serangan Arsenal makin variatif.

Diharapkan, Chamberlain bisa lebih konsisten kala dimainkan. Selama Santi Cazorla cedera dan Aaron Ramsey banyak dimainkan di tengah, posisi sayap kanan mungkin bisa diisi oleh Walcott atau Chamberlain secara bergantian. Laiknya Chambers, Chamberlain hanya perlu konsisten ketika mendapatkan kepercayaan untuk mengawali laga. Dua pemain yang kisah bromance-nya menandingi romansa Mathieu Flamini dan Ozil ini harus konsisten, mengingat usia mereka masih cukup muda dan potensinya masih berkembang. Dan, yang paling penting, mereka berdarah Inggris. British core a la Arsenal.

Honourable Mention: Gabriel Paulista

Bek tengah asal Brazil ini membuat saya gembira betul. Ada tiga kali Gabriel bisa menyambut umpan sepak pojok Ozil, di mana salah satunya menghasilkan gol dan satu lainnya membentur tiang gawang. Selain karakter Gabriel yang jauh lebih aktif menjemput bola sepak pojok, ia juga nyaman saat memegang bola.

Selain Laurent Koscielny dan Per Mertesacker, Gabriel menawarkan dimensi yang lain saat Arsenal menerima sepak pojok. Bahkan, seperti Koscielny, Gabriel bisa menjadi ball-playing defender. Tampil apik ketika mendapatkan kepercayaan, keberadaan Gabriel akan memudahkan Wenger untuk melakukan rotasi di sektor bek tengah, terutama terkait Per Mertesacker Well, Dibandingkan Koscielny, Mertesacker memang jauh lebih rentan untuk dilewati lawan, apalagi yang memiliki kecepatan cukup mumpuni. Anda paham kan kecepatan lari bek tengah dari Jerman yang sudah menjadi Gooners sejak kecil ini?

Berkaca dari hasil pertandingan melawan Bournemouth, terlihat Arsenal mampu memberikan jawaban bahwa mereka mampu bangkit dan memberi respons yang baik. Setidaknya, kemenangan ini bisa menjadi contoh bahwa sebenarnya, Arsenal mempunyai mental dalam merespons kekalahan telak. Ditambah, bonus dari kemenangan tersebut adalah posisi puncak yang bisa dinikmati hingga akhir tahun dan mungkin, sampai akhir musim. Kado akhir tahun yang cukup manis: sebuah jawaban dari sebuah tragedi.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *