Special Dish: Catatan Paruh Musim Arsenal

Tutup tahun 2015, Arsenal berbagi puncak klasemen dengan Leicester City. Kedua tim mengoleksi poin yang sama, yaitu 39. Di posisi ketiga, Manchester City menguntit dengan selisih hanya 3 poin. Paruh kedua musim ini dipastikan akan tambah sengit. Inilah catatan paruh musim, saat Arsenal berjuang menemukan konsistensi di tengah onak cedera dan ekspektasi tinggi.

Arsenal mengawali musim ini dengan kegembiraan. Selain berhasil menjadi juara di kompetisi pra-musim, Emirates Cup, The Gunners berhasil membungkam Chelsea-nya Jose Mourinho di laga pembuka musim 2015/16 bertajuk Community Shield. Di dua kemenangan tersebut, Arsene Wenger kembali menawarkan sosok-sosok muda potensial yang berpeluang menembus tim utama.

Adalah Jeff Reine-Adelaide yang mencuri panggung di ajang Emirates Cup saat menjamu Wolfsburg. Saat mengalahkan Chelsea-nya Jose Mourinho, Alex Oxlade-Chamberlain bermain apik. Masih ada beberapa nama muda yang sudah berlatih bersama tim utama. Mereka adalah Vlad Dragomir, Alex Iwobi, dan Krystian Bielik, selain tentu saja Reine-Adelaide, pemuda berbakat asal Perancis.

Berbicara soal pemain, manajemen Arsenal berhasil memboyong Petr Cech dari Chelsea-nya Jose Mourinho dengan banderol 11 juta Pound. Banyak fans yang berharap manajemen mendatangkan pemain lagi, terutama untuk menambah daya gedor lini depan. Namun, Wenger sendiri memandang Oliver Giroud dan Theo Walcott sudah lebih dari cukup untuk bergantian mengisi pos ujung tombak. Di lini lain, manajemen memutuskan tidak membeli pemain senior.

Soal Ekspektasi

Seperti yang disebutkan di atas, Arsenal hanya mendatangkan Petr Cech di jendela transfer musim panas. Sebagai imbasnya, Wojciech Szczęsny harus rela “disekolahkan” ke AS Roma selama 1 musim. David Ospina, yang menjadi pilihan utama musim lalu pun harus iklas menjadi penghangat bangku cadangan. Kedua kiper tersebut harus mengalah lantaran Cech mampu menghadirkan rasa aman yang lebih tebal di lini belakang Arsenal. Pengalaman dan karisma Cech adalah berkah tersendiri secara keseluruhan.

Selain kedatangan Cech yang mengangkat moral tim, nama-nama seperti Alexis Sanchez, Mesut Ozil, Santi Cazorla, dan Aaron Ramsey masih menghiasi tim utama Arsenal. Semakin matangnya Francis Coquelin kian mempertebal kekuatan Arsenal di lini tengah. Musim ini, Hector Bellerin juga mendapatkan kepercayaan lebih setelah musim lalu berhasil tampil stabil untuk ukuran remaja berusia 20 tahun. Cedera plus anjloknya performa Mathieu Debuchy dan proyeksi Calum Chambers sebagai bek tengah membuat Bellerin menjadi penguasa tetap bek kanan saat bebas cedera.

Perpaduan antara pemain muda-senior, tim yang di atas kertas tidak berubah, ditambah pengalaman serta mental juara dari Cech membuat ekspektasi untuk berprestasi semakin tinggi. Setelah dua musim berturut-turut menjadi juara FA Cup, tim ini diharapkan mampu membawa Arsenal setidaknya juara liga dan berbicara banyak di ajang Liga Champions.

Hingga paruh musim ini berjalan, ekspektasi tinggi terbukti masih menjadi beban. Contoh nyata adalah ketika berhasil mengalahkan Manchester City, pada pertandingan berikutnya, Arsenal justru digebuk Southampton dengan gelontoran 4 gol. Tidak patuh secara taktik ditambah kaki-kaki yang terlihat berat, para pemain Arsenal tampak kesulitan mengimbangi tiap hantaman pemain-pemain asuhan Ronald Koeman tersebut.

Atau bila mau melihat ke belakang, Arsenal justru ditekuk West Ham United di laga pembuka musim ini. Sebelumnya, armada Arsenal berhasil merengkuh Community Shield setelah membungkam Chelsea-nya Jose Mourinho. Contoh lain, Arsenal berhasil tampil sangat solid ketika menumbangkan Manchester United, Watford, Bayern Munich, dan Everton. The Gunners bahkan mampu mencetak 10 gol dan hanya kebobolan 1 dalam 4 laga tersebut. Namun, kembali lagi, setelah menorehkan catatan apik, Arsenal justru terjungkal di ajang Capital One Cup dari tangan Sheffield Wednesday. Kekalahan tersebut juga harus dibayar mahal lantaran Arsenal harus kehilangan Walcott dan Chamberlain karena cedera.

Fakta-fakta di atas membuktikan ekspektasi tinggi kerap menjadi bumerang. Catatan tersebut mengingatkan Arsenal bahwa mengatasi tekanan mental juga sama pentingnya dengan persiapan yang ideal menjelang pertandingan. Hingga pertengahan musim ini, Arsenal sangat terbantu dengan performa para rival yang, kebetulan, juga belum konsisten. Penguasa London Utara ini harus mengurangi tersandung tim-tim yang di atas kertas mampu dikalahkan. Selain itu, tentu saja, saling menguatkan dan mengingatkan bahwa memenangi satu pertandingan belum tentu memenangi kompetisi. Berdiri di atas kepercayaan diri akan sangat penting. Namun ingat, dosis kepercayaan diri yang terlalu tinggi hanya menyebabkan hangover dan mempermalukan diri sendiri.

Soal Taktik

Cukup menarik apabila melihat pilihan taktik Wenger hingga paruh musim ini, terutama ketika para pilihan utama bebas dari cedera. Ketika beberapa pemain utama cedera, Wenger banyak menggelar bentuk 1-4-2-3-1 dengan penyesuaian ke bentuk 1-4-4-2 narrow atau 1-4-1-4-1. Saat pemain-pemain utama bisa dimainkan, Wenger bereksperimen dengan bentuk 1-4-3-1-2 atau 1-4-1-2-1-2, keduanya narrow. Salah satu yang patut dicatat adalah posisi baru untuk Cazorla.

Posisi baru untuk Cazorla sebagai gelandang sentral membuat Arsenal tampil lebih dinamis dan lebih mudah keluar dari high-up press lawan lewat progresi secara vertikal atau diagonal. Sebagai deep-lying playmaker, Cazorla mempunyai tingkat pressing resistance yang cukup tinggi. Keberadannya membuat Arsenal tidak mudah kehilangan bola di area-area berbahaya, terutama di zona 5. Visinya sangat terasa ketika Arsenal membangun serangan dari bawah atau serangan balik. Duet Cazorla dan Coquelin memberikan dimensi baru bagi Arsenal.

Posisi baru Cazorla artinya Wenger harus membuat perubahan terkait Ramsey. Pada musim-musim sebelumnya, Ramsey adalah pemilik tetap 1 pos gelandang sentral dengan mode box-to-box. Namun, saat Cazorla semakin nyaman berposisi sebagai gelandang sentral, artinya Ramsey harus memberi tempat, terutama setelah dirinya absen karena cedera. Wenger sendiri menempatkan Ramsey sebagai gelandang kanan atau bisa disebut sebagai wide-midfielder. Ramsey masih berperan sebagai gelandang, yang artinya mempunyai tugas spesifik untuk membantu Cazorla dan Coquelin. Namun, Ramsey tidak lagi mempunyai beban terlalu besar untuk bertahan karena porsi utama perannya adalah membantu progresi Arsenal di sepertiga lapangan lawan.

Tujuan Wenger menempatkan Ramsey di half-space kanan adalah memaksimalkan goal-threat pemain asal Wales tersebut yang cukup tinggi. Ramsey sendiri secara jujur mengakui tugas ini membuatnya tidak nyaman. Namun, Wenger bersikeras bahwa Ramsey akan dapat memaksimalkan kelebihannya jika lebih dekat dengan gawang lawan.

Pemikiran Wenger ini mampu berjalan dengan sangat baik ketika Arsenal menjamu Manchester United pada tanggal 4 Oktober 2015. Laga tersebut berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan Arsenal. Dua gol Arsenal dicetak oleh Alexis Sanchez dan satu gol disumbangkan Ozil. Nah, pada pertandingan ini, Ramsey menjalankan tugasnya sebagai wide-midfielder dengan sangat rapi. Ramsey terlibat aktif di sepertiga lapangan lawan, salah satunya terlibat dalam build-up gol pertama Arsenal. Ketika bertahan, Ramsey bermain lebih narrow dan mendekati Cazorla dan Coquelin. Bahkan, tidak jarang, Ramsey berposisi lebih rendah ketimbang Cazorla dan Coquelin. Inisiatif ini menjadi langkah pembukan gol kedua Arsenal. Artinya, meskipun berposisi awal di sisi kanan, Ramsey tidak bermain sebagai winger, namun gelandang yang melebar. Perhatikan grafis di bawah ini:

5

Ketika bertahan, Arsenal membentuk pola 1-4-1-2-1-2 dengan Ramsey berdiri narrow dan berdekatan dengan Cazorla. Sementara itu, bentuk 1-4-3-1-2 juga jamak terlihat ketika Ramsey masuk ke lapangan sentral dan berdiri “hampir” sejajar dengan Coquelin dan Cazorla. Ramsey menambah jumlah pemain di lapangan tengah untuk mencegah lawan meng-overload double pivot. Daya jelajah Ramsey kemudian dapat maksimal.

3

Grafis di atas memperlihatkan bentuk pergerakan Ramsey yang bahkan berposisi lebih rendah ketimbang Cazorla dan Coquelin. Meskipun bermain sebagai wide-midfielder, Ramsey tetap menunjukkan mobilitas tinggi layaknya box-to-box. Bentuk tiga pemain ini membantu Arsenal menguasai lini tengah, setidaknya secara kuantitatif.

Sebenarnya, posisi ini pun tidak mengurangi kelebihan coming from behind Ramsey. Nyatanya, Ramsey tetap mampu membahayakan gawang United dan mencetak gol ketika melawan Watford. Memang, catatan gol-nya menurun, namun Ramsey berfungsi dengan apik dari kaca mata taktik. Perhatikan gambar di bawah di mana Ramsey mampu “menyelinap” ke belakang barisan bek United.

8

Bentuk 1-4-3-1-2 dan 1-4-1-2-1-2 ini merupakan perubahan positif yang dibuat Wenger. Perubahan ini juga memodernisasi pilihan taktik Arsenal yang pada beberapa musim sebelumnya terlalu akrab dengan bentuk 1-4-2-3-1, 1-4-3-3, dan 1-4-5-1. Bentuk modern yang menambah khazanah taktik modern a la Wenger ini juga membuat lini tengah Arsenal menjadi lebih solid dan kompak sesuai perkembangan taktik modern di sepak bola dunia.

Arsenal juga beberapa kali menggelar bentuk 1-4-4-2 atau 1-4-1-4-1 narrow ketika melawan tim-tim yang lebih kuat atau setidaknya sejajar. Bentuk tersebut tampak saat Arsenal menjamu Bayern Munich pada tanggal 20 Oktober 2015 dan Manchester City pada tanggal 21 Desember 2015. Bentuk two banks of four yang narrow ini membantu Arsenal memenangi jumlah pemain di lapangan tengah. Selain memaksa lawan bermain dari sisi lapangan, jarak pemain yang berdekatan membantu Arsenal mempertahankan kompaksi dan mengurangi space yang bisa diokupansi lawan.

two banks of four

Ketika menggelar bentuk ini, Arsenal biasanya cenderung lebih bertahan. Tujuannya, pertama, untuk mengurangi ruang yang bisa dimanfaatkan lawan. Kedua, mengundang lawan untuk naik menyerang supaya Arsenal bisa memanfaatkan ruang yang ditinggalkan lawan untuk serangan balik. Tujuan untuk membatasi kerja lawan di ruang-ruang tertentu ini menjadi jawaban dari Wenger terkait susah payahnya Arsenal ketika menerima serangan balik lawan. Selain itu, Arsenal juga kerap kali kesulitan ketika bertemu lawan yang mampu memanfaatkan ruang dengan sangat baik, seperti Bayern Munich misalnya. Bentuk baru ini ditambah pemain-pemain utama yang kembali dari cedera bisa menjadi “modal” bagi Arsenal untuk meladeni Barcelona pada bulan Februari 2016 mendatang.

Selain empat bentuk baru di atas, Arsenal juga banyak bermain dengan skema dasar 1-4-2-3-1. Selain menyesuaikan dengan lawan, skema dasar ini “terpaksa” digelar untuk mengatasi beberapa pemain inti yang cedera.

Soal Cedera

Cedera adalah kawan mesra Arsenal sejak beberapa tahun ke belakang. Bahkan, badai cedara ini juga membuat Arsene Wenger bertukar argumen dengan Raymond Verheijen, direktur World Football Academy. Verheijen memandang Wenger sebagai biang cedera yang menimpa Arsenal. Pendapat ini terkait dengan sistem kepelatihan Wenger yang berat dan kolot. Ketika pramusim 2013/14 pun Jack Wilshere mengakui bahwa latihan Arsenal cukup berat dan penuh dengan latihan lari. Metode ini boleh dibilang “kuno” dan sudah banyak ditinggalkan.

Selain itu, Verheijen juga memandang Wenger tidak membuat pola latihan yang ramah dengan pemain. Pandangan ini juga berkaitan dengan resting period bagi pemain yang kurang ideal. Wenger juga masih menerapkan double training sessions, bahkan bisa menjadi triple training sessions ketika pramusim. Ketika berlatih rutin saat musim berjalan, pemain juga cukup sering berlatih “yang tidak berkaitan dengan sepak bola”, misalnya atletik dan gymnastic. Idealnya, pemain tetap berlatih menggunakan bola dan berkonsep pertandingan. Misalnya, ketika latihan shooting, pemain tetap melakukannya dengan konsep pertandingan, bukan dengan melewati halang rintang, dummy, atau kombinasi semata.

Tingkat stres yang diterima otot setelah pertandingan ditambah latihan yang “cukup berat” membuat pemain-pemain Arsenal menjadi gampang cedera. Lokasi cedera pun boleh dibilang serupa, antara lain terjadi di otot paha belakang, pinggul, ankle, betis, dan yang paling berat cedera lutut. Hingga paruh musim ini, hampir semua pemain Arsenal sudah pernah cedera. Beberapa sembuh dalam hitungan rata-rata dua minggu hingga 3 bulan. Cedera berat dialami Tomas Rosicky yang sudah absen hampir 8 bulan karena cedera lutut. Selain itu, Cazorla diperkirakan akan absen hingga Maret 2016. Artinya, musim ini bisa dibilang berakhir untuk playmaker asal Spanyol tersebut. Sementara itu,  Coquelin akan bisa bermain lagi sekitar Februari 2016. Ketiganya absen cukup lama karena urusan cedera lutut.

Memang, jika melihat rekaman terdahulu terdapat penurunan catatan cedera semenjak Shad Forsythe diboyong pada bulan Juli 2014. Setelah satu tahun menjabat sebagai Head of Performance, pria asal Amerika Serikat tersebut membantu mereduksi catatan Arsenal sebanyak 25%. Sesuai catatan Mirror, Arsenal kehilangan 2472 hari untuk cedera pada musim 2013/2014. Tim utama mengumpulkan catatan 85 cedera, sangat tinggi dibandingkan para rival. Shad Forsythe yang bertugas mengatur kebugaran pemain, mencegah cedera, dan membuat program rehabilitasi pascacedera berhasil mereduksi jumlah hari yang hilang karena cedera menjadi 1834 pada musim 2014/15.

Masuk bulan Januari 2015, Arsenal “hanya” mengalami 11 cedera (satu tahun sebelumnya mencapai 24 kasus) yang berkaitan dengan otot dan hanya kehilangan 725 hari dibandingkan 1109 pada tahun sebelumnya. Penurunan ini, ditambah keberadaan Shad Forsythe membuat Wenger harus menyesuaikan diri. Pada awal musim ini, pola latihan Arsenal sedikit berubah. Kembali, Jack Wilshere mengungkapkan bahwa latihan, yang dulunya berlangsung lama, berat, dan menggunakan konsep double sessions kini berubah menjadi lebih ke positional-based. Masih menurut Wilshere, latihan Arsenal terasa lebih “pintar”.

Lalu, kenapa catatan cedera Arsenal masih cukup tinggi dibandingkan rival musim ini? (Patut dicatat, frasa “lebih tinggi” ini digunakan untuk membandingkan dengan catatan tim lain, bukan dibandingkan dengan catatan Arsenal sendiri musim-musim sebelumnya). Jawaban dari pertanyaan di atas disediakan oleh Mark Verstegen, kolega Shad Forsythe di tim nasional Jerman. Verstegen berpendapat bahwa sebanyak 65% cedera, baik yang disebabkan oleh kegiatan atletik maupun gaya hidup, terjadi karena overuse. Maksudnya, pemain yang terlalu banyak bermain tanpa mendapatkan resting period yang ideal, misalnya Alexis Sanchez dan Santi Cazorla. Overuse ini sifatnya repetitif dan membebani sendi-sendi tulang dan mengakibatkan keidakseimbangan otot.

Inilah penyebab rata-rata cedera pemain Arsenal hingga paruh musim 2015/16. Permasalahan kedalaman skuat bisa dimajukan sebagai alibi. Selain itu, jadwal yang “kurang” bersahabat juga bisa menjadi alasan. Namun, resting period yang tidak ideal tetap harus dijadikan prioritas untuk diatasi. Setidaknya, hingga paruh musim ini berjalan, Arsenal boleh dibilang berhasil mengatasi absennya pemain utama apabila melihat tabel klasemen sementara. Namun, catatan ini cukup mengkhawatirkan dan akan berdampak buruk apabila tidak diatasi. Membeli pemain baru atau memberikan debut bagi pemain muda bisa menjadi solusi apabila meredam cedera tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Soal Liga Champions

Arsenal tergabung dalam Grup F babak penyisihan grup Liga Champions bersama Bayern Munich, Olympiacos, dan Dinamo Zagreb. Komposisi ini membuat Arsenal difavoritkan menemani Bayern Munich lolos ke Babak 16 Besar. Pada akhirnya, Arsenal memang berhasil lolos sebagai runner up. Namun, keberhasilan tersebut tidak didapat dengan mudah.

Laga pembuka babak penyisihan grup bagi Arsenal terjadi di stadion Maksimir, kandang Dinamo Zagreb. Malam itu, Wenger merotasi penjaga gawang untuk gelaran Liga Champions. Cech, yang menjadi pilihan utama di kompetisi liga harus duduk di bangku cadangan. David Ospina, pilihan pertama musim lalu, bermain sebagai starter. Sayang, sejak sepak mula, pemain-pemain Arsenal tidak bermain sebagai kesatuan, terutama ketika bertahan. Secara keseluruhan, Debuchy, Arteta, Ospina, dan Giroud bermain di bawah standar. Bahkan, Giroud mendapatkan kartu merah karena dua pelanggaran tidak perlu yang ia lakukan. Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Dinamo.

Setelah laga pembuka yang buruk, Arsenal menjamu juara Yunani, Olympiacos di Emirates. Arsenal jelas membutuhkan kemenangan setelah pulang dengan tangan hampa dari Kroasia. Ironis, Arsenal justru tersungkur di kandang sendiri dan terjerembab sebagai juru kunci di klasemen Grup F. Olympiacos pulang dengan mengantongi 3 angka berkat kemenangan 2-3 malam itu. Semakin pahit, setelah Ospina gagal tampil baik dan justru membuat gol bunuh diri.

Pada pertandingan ketiga, masih di Emirates, Arsenal bersua Bayern Munich. Beban yang terasa di laga ini sangat nyata. Melawan raksasa Bavaria, The Gunners jelas membutuhkan kemenangan untuk memelihara asa memperbaiki posisi di klasemen grup. Wenger sendiri nampaknya jeri memainkan Ospina di laga penting ini. Cech kembali berdiri di bawah mistar dan secara keseluruhan Arsenal bermain cukup bagus secara taktikal. Kilau Bellerin menjadi highlight malam itu. Arsenal menang dengan skor 2-0 dan peluang lolos sedikit terbuka.

Apa mau dikata, return match di kandang Bayern menodai peluang lolos. Arsenal dibungkam dengan skor 5-1. Terjepit, Arsenal harus bergantung kepada hasil pertandingan lain untuk lolos. Apalagi, Arsenal harus memenuhi beberapa syarat untuk bisa lolos. Perjuangan tersebut “dimulai” ketika menjamu Dinamo Zagreb di Emirates. Lagi-lagi, pemain-pemain Arsenal “dipaksa” untuk excel demi meraih kemenangan. Brace dari Alexis dan satu dari Ozil membuka peluang lolos Arsenal semakin lebar. Ditambah, Bayern dengan “murah hati” menekuk Olympiacos.

Pertandingan penentuan digelar di tanah Para Dewa, Yunani. Olympiacos menjamu Arsenal dengan modal “cukup meraih hasil imbang”. Sementara itu, Arsenal harus mencetak minimal 2 gol tanpa kebobolan untuk bisa lolos. Di tengah nuansa tegang, pemain-pemain Arsenal justru tampil lebih bagus. Kebiasaan kurang bagus ini kerap terjadi. Arsenal baru bermain baik dan mampu bangkit setelah harus mendapatkan tamparan keras terlebih dahulu. Di kandang Olympiacos, Giroud menjadi pahlawan dengan catatan tiga gol perdana untuk Arsenal.

Lolos dari lubang jarum, armada London Utara ini sudah ditunggu Barcelona, juara bertahan Liga Champions. Laga Babak 16 Besar ini sendiri akan dihelat bulan Februari 2016 tertanggal 23. Big match ini akan digelar di Emirates. Apakah Arsenal mampu sekali lagi excel untuk meladeni penguasa Catalan? Big task, namun Arsenal jelas punya peluang. Keep the faith!

Kesimpulan Sementara

Hingga pertengahan musim 2015/16, sebenarnya Wenger sudah membuat banyak perubahan terkait pilihan taktik, pemilihan pemain, hingga perbaikan pola latihan. Soal taktik, beberapa eksperimen dicoba Wenger dan menunjukkan hasil positif. Sayang, rentetan cedera menghambat Wenger meneruskan percobaannya. Soal pemilihan pemain, Wenger mendobrak kebiasaan, setidaknya untuk 2 musim ke belakang. Wenger berani menurunkan Kieran Gibbs sebagai sayap kiri sejak awal laga. Eksperimen ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja, nampaknya si pemain belum menyerap arah keinginan Wenger. Terkait pola latihan, nampaknya masalah ini akan terus menjadi “musuh” internal Arsenal. Seperti diketahui, cedera beberapa pemain Arsenal juga disebabkan oleh pola latihan yang kurang ideal. Sudah ada perbaikan memang, namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Masalah mental masih menjadi isu yang harus segera diatasi demi mencapai level konsistensi terbaik. Arsenal sendiri harus terus bermain dengan level terbaik (tidak mengulangi tragedi St.Mary’s atau Kesedihan di Bavaria) karena saat ini bisa dikatakan peluang menjadi juara cukup besar. Kembali lagi, kunci melayari paruh akhir musim 2015/16 adalah konsisten. Yes, consistenty is the key!

#COYG

Comments

2 thoughts on “Special Dish: Catatan Paruh Musim Arsenal”

  1. Saya sih berharap melihat Arsenal lebih sering memainkan 4-4-2 diamond seperti melawan MU (dengan komposisi pemain serupa). Karena formasi 4-4-2 diamond tersebut, saya pikir menawarkan fleksibilitas dalam menyerang. Ramsey yang box-to-box, Cazorla yang punya kemampuan playmaking yang brilian, Walcott (Campbell mungkin bisa menggantikan) dan Sanchez keduanya mampu bermain sebagai winger maupun striker, dan tentunya dilengkapi dengan Ozil Sang Fantasista (sepertinya Wilshere harus segera menukar No. 10-nya). Jika bisa dieksekusi dengan tepat, tentunya bisa membuat level permainan Arsenal meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *