Jelang Liverpool vs Arsenal: Menjaga Kesadaran

Dijamu Liverpool dengan catatan cedera lawan yang terbilang menguntungkan. Namun, inilah racun jahat yang memabukkan. Jika kesadaran tidak dijaga, The Gunners akan terkubur oleh kejemawaannya.

Kamis dini hari nanti (14/01/16), Arsenal akan bertandang ke Anfield. Kembali, laga besar ini menjadi salah satu tolok ukur konsistensi Arsenal. Alasannya, bulan Januari, Februari, dan Maret selalu menghadirkan jadwal yang cukup berat buat Arsenal. Selain itu, badai cedera juga tidak bisa dipisahkan dalam “kebiasaan” Arsenal ini. Namun ada yang berbeda musim ini.

Arsenal masih bermasalah dengan catatan cedera sebelum memasuki periode Natal. Namun, secara keseluruhan, The Gunners berhasil melewatinya dengan baik. Berada di puncak klasemen dengan skuat yang nyaris sama seperti musim lalu membuat keyakinan para Gooners sedunia akan keberhasilan Arsenal meraih title Liga Inggris memuncak. Terlepas dari tidak konsistennya penampilan pesaing, pada paruh musim ini, Arsenal hampir selalu bisa melewati laga big match dengan baik.

Berhasil menang ketika melawan duo Manchester secara meyakinkan, Arsenal kemudian ditahan imbang Liverpool dan Tottenham Hotspur di Emirates dengan skuat yg sedikit timpang pada waktu itu. Hanya drama di kandang Chelsea yang mencoreng catatan Arsenal ketika menghadapi laga besar. Terlepas dari fakta tersebut, saya yakin Gooners sudah iklas dengan drama tersebut setelah melihat karma yang terjadi.

Melihat hasil di atas, Gooners sedunia punya harapan besar untuk meraih poin penuh di kandang The Reds. Kepercayaan diri dan harapan yang besar adalah sah, tapi yang ditonjolkan harus yang ada di diri kita, bukan melulu soal kelemahan dan kemalangan lawan. Perhatikan tabel yang berisi daftar pemain Liverpool yang cedera di bawah ini.

daftar pemain Liverpool yg cedera
Sumber tabel: http://www.premierinjuries.com/

Daftar di atas menunjukan kalau Liverpool sedang krisis pemain. Satu per satu, pemain Liverpool tumbang menjelang laga besar nanti. Yang lebih mengerikan bagi manajer Liverpool, Jurgen Klopp, adalah kenyataan bahwa hampir semua pemain belakang andalanya harus menepi. Memang, Liverpool bekerja cepat untuk mengamankan peminjaman Steven Caulker dari Queens Park Rangers. Namun, nama Caulker tentu belum tentu bisa menghadirkan rasa aman seperti jika Liverpool merekrut Neven Subotic atau Mats Hummels.

Terlepas soal kelayakan Caulker, Gooners tetap harus waspada dengan atribut yang ia bawa. Secara postur, Caulker cukup ideal. Ia tinggi dan cukup meyakinkan ketika duel bola atas. Arsenal mungkin bisa mengurangi intensitas mengirim bola lambung dan lebih banyak bermain ground ball secara cepat. Caulker juga tidak dibekali kecepatan yang mumpuni. Kekurangan ini bisa diekspolitasi Arsenal.

Melihat daftar cedera tersebut, mungkin banyak Gooners yang “mensyukurinya”. Semakin banyak pemain Liverpool yang cedera, semakin gampang buat Arsenal untuk menang.  Saya tidak mau menyalahkan pola pikir tersebut karena tidak ada kitab mana pun yang melarang “mensyukuri” kelemahan lawan kita. Namun, kita tidak boleh mengandalkan kelemahan dari lawan saja untuk bisa memenangi sebuah kompetisi.

Arsenal, beserta fansnya, harus bisa melihat ke dalam diri sendiri, bukan mengandalkan kelemahan lawan. Melihat ke dalam diri sendiri dimulai dari mencari kelemahan yang kita miliki untuk kemudian diperbaiki. Usaha ini juga termasuk mengukur kekuatan yang tersimpan untuk dioptimalkan.

Wenger pernah berkata, “Kami tidak menyiapkan sesuatu untuk siapa pun. Akan selalu sama, fokus terhadap kekuatan kami sendiri dan lupakan lawan Anda”. Well, bukan berarti Arsenal tidak menyiapkan taktik khusus untuk lawan tertentu. Namun, Wenger ingin Arsenal (dan kita para fans) untuk tetap yakin dengan kemampuan sendiri.

Tidak peduli seperti apa lawanya, yang penting sadar pada apa yang dimiliki Arsenal. Liverpool yang sedang “pincang” pun dapat menjadi ancaman tersendiri jika para pemain tidak fokus dan hanya sibuk memikirkan kondisi lawan. Seekor hyena yang pincang pun tetap berbahaya bagi singa yang sibuk memikirkan kelemahan lawan tanpa kesadaran untuk menyerang dan mempertahankan diri.

Setelah fokus pada diri sendiri, pemain dan fans Arsenal harus berdoa supaya diberi kekuatan untuk menghadapi laga besar, bukan berdoa supaya semakin banyak pemain lawan yang cedera. Seperti yang pernah Bruce Lee bilang. “Do not pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult one” Jangan berdoa minta “hidup yang mudah”, tapi minta segunung kekuatan untuk mengatasi kesulitan.

Mungkin terdengar klise, tapi kesadaran ini harus dimiliki setiap pemain dan fans Arsenal. Saya yakin Gooners percaya diri dengan kemampuan Arsenal menjuarai Liga Inggris. Mari terus berdoa supaya Arsenal terus konsisten dan berhasil meraih apa yang kita harapkan bersama.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *