Special Dish: Ahlan Wa Sahlan, Ya Elneny!

Tertanggal 14 Januari 2016, Arsenal secara resmi memperkenalkan pemain baru. Berposisi ideal sebagai gelandang bertahan, apakah pria Mesir ini jawaban doa Gooners sedunia?

Perawakannya cukup tegap. Model rambutnya sekilas mengingatkan kita bahwa ia orang yang cocok untuk adu sikut dengan Pohon Beringin berharga 25 juta Pound milik Manchester United. Di beberapa rekaman video yang tayang jelang kedatangannya, terlihat ia mempunyai beberapa atribut teknik yang mumpuni untuk bermain dengan sistem milik Arsene Wenger. Taktis, kuat dalam berduel, punya kualitas umpan yang mumpuni, dan ini yang terpenting, daya jelajah yang tinggi. Selain Aaron Ramsey, saya hampir lupa siapa pemain Arsenal dengan daya jelajah tinggi layaknya seorang Box-to-Box di era sepak bola modern. Selepas era Ray Parlour dan Patrick Vieira, tipikal gelandang dengan determinasi tinggi dan daya jelajah mumpuni agak langka di Arsenal. Aaron Ramsey pun baru benar-benar mekar dalam tiga tahun terakhir.

Mohamed Elneny, adalah seorang gelandang bertahan (DMF). Ia juga bisa bermain sebagai gelandang sentral dengan tugas Box-to-Box. Kekuatan fisik, intelegensia, dan visi yang bagus adalah tiga gambaran yang diberikan Wenger. Untuk bermain dalam sistem gelandang Arsenal, kemampuan si pemain dalam mengambil keputusan sangat krusial. Apalagi, untuk ukuran pemain yang diproyeksikan mengisi lini tengah Arsenal yang menginggalkan lubang cukup besar setelah cederanya Santi Cazorla dan Francis Coquelin.

Mathieu Flamini dan Calum Chambers memang bisa beberapa kali menemani Ramsey di poros pivot, tapi Arsenal butuh pemain baru yang lebih segar. Flamini bagus, namun ia sudah telajur kaya raya tua dan kerap kesulitan melawan tim-tim dengan sistem pressing yang konstan. Laga melawan Liverpool tengah pekan ini adalah bukti di mana Flamini kewalahan dan sering terpancing pergerakan lawan. Chambers tentu sosok potensial untuk calon gelandang bertahan di masa depan. Tapi ingat, ia masih muda dan perlu adaptasi lebih lama. Dengan kondisi seperti itulah, agaknya, kedatangan si Kribo Mesir ini cukup melegakan bagi Wenger dan mungkin sebagian besar suporter Arsenal.

Mohamed Salah, pemain sayap AS Roma, adalah teman sekaligus mentor Elneny ketika keduanya memperkuat FC Basel. Mengutip ucapan Salah, Elneny adalah tipe pemain dengan kemampuan adaptasi yang mumpuni. Ketika pertama kali datang ke Basel, Elneny hanya bisa menggunakan bahasa Arab dan membutuhkan bantuan Salah untuk berkomunikasi dengan tim pelatih dan rekan pemain lainnya.

Selepas kepindahan Salah ke Chelsea, Elneny dipaksa keadaan untuk belajar bahasa Inggris. Ia mampu melakukannya dengan baik dalam satu tahun terakhir. Keinginan untuk belajar dan seberapa baik Elneny untuk beradaptasi dengan iklim sepak bola Inggris yang mengutamakan fisik ketimbang pendekatan taktikal tentu patut kita tunggu. Dan jangan lupa, semasa di Basel, Elneny sempat ditempa Paulo Sousa, salah satu pelatih jempolan di Serie A musim ini bersama Fiorentina. Ya, kunci keberlangsungan karier Elneny di Arsenal hanya satu, yaitu adaptasi. Saya rasa, dengan intelegensia dan visi yang bagus, Elneny bakal bisa beradaptasi dengan baik.

Kalau mau sejenak mencermati gaya bermain Elneny dari beberapa rekaman video, mungkin ia adalah perpaduan antara Gilberto Silva dan Edu. Bagi saya pribadi, Elneny punya kemampuan membaca serangan yang baik. Sense of danger dan awareness yang baik akan potensi serangan balik lawan membuat Elneny krusial dalam membantu Arsenal melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Selain itu, visi dan daya jelajahnya bakal bisa mengimbangi, menguntungkan, dan memudahkan pergerakan Ramsey ketika build-up serangan dari bawah. Ditambah, kemampuan Elneny dalam menguasai dan mengalirkan bola dengan baik dari bawah, serangan Arsenal bisa terjamin ritmenya.

Melihat kemampuan teknis ini, Elneny akan menjadi tandem yang ideal untuk Ramsey yang gemar naik ke atas dan (terkadang) meninggalkan celah di lini tengah. Celah inilah yang diharapkan mampu ditutup Elneny dengan baik. Setidaknya, Elneny masih lebih segar daripada Flamini dan jauh lebih cepat ketimbang Chambers. Kemampuan fisik yang prima inilah yang sangat membantu Arsenal dan krusial kebutuhannya mengingat masih beberapa minggu lagi sebelum Cazorla dan Coquelin pulih. Dan satu hal lagi yang penting, ia memiliki cannonball yang mematikan. He could be our Paul Pogba from Egypt!

Apakah Elneny akan sukses? Bisa ya, bisa tidak. Lagipula, dengan banderol “hanya” sekitar 7 juta Pound, tekanan untuk Elneny tidak akan terlalu besar. Sekilas ya, saya membayangkan Elneny bisa bermain setaktis dan setenang Dele Alli, gelandang sentral milik Tottenham Hotspur. Alli, yang notabene masih berusia 19 tahun, mampu bermain  dengan tenang di sentral lapangan berdampingan dengan Eric Dier atau Moussa Dembele. Dengan atribut teknik yang tak berbeda jauh dan usia yang empat tahun lebih matang, Elneny tentu diharapkan mampu bermain maksimal dan membantu Arsenal melewati periode tanpa Cazorla dan Coquelin. Kalau di awal Maret kita masih melihat Arsenal berada di puncak klasemen, saya setidaknya percaya, itu titik di mana kita bisa menilai kontribusi Elneny, dengan catatan, ia rutin bermain.

Tahukah Anda satu lagi nilai positif pria Mesir yang perawakannya mirip Ahmad Albar ini? tidak lain, tidak bukan ia adalah seorang Muslim. Selepas kepergian Abou Diaby, praktis Mesut Ozil sedikit kesepian ketika melaksanakan shalat selepas pertandingan. Dengan adanya Elneny di tim utama, Ozil akan memiliki personel yang cukup untuk shalat berjamaah atau sekadar mengaji Al-Quran bersama. Ingat, pahala shalat jamaah lebih besar ketimbang sendirian, bukan?

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *