Remember the Name: Lauren Bisan

Apa yang masih tersisa di ingatan kita soal Lauren Bisan? Larinya yang eksotis? Gocekannya yang dramatis? Atau crossing-nya yang pragmatis?

MENU BARU dari: Eyang Budi Windekind

Menuanya sosok-sosok andalan yang mengantar Arsenal menjuarai Liga Inggris musim 1997/1998 seperti Steve Bould, Lee Dixon, Ian Wright, Ray Parlour, dan Nigel Winterburn menyadarkan manajer Arsene Wenger untuk melakukan pembenahan. Alasannya simpel dan jelas, dengan skuat gaek tersebut, The Gunners bakal kesulitan untuk mempertahankan gelar juara sekaligus bersaing dengan sang rival, Manchester United.

Manajemen tim gudang peluru pun bergerak sigap dalam rentang tiga musim berikutnya dengan mendatangkan beberapa nama baru sebagai langkah untuk meremajakan tim. Nama-nama semisal Thierry Henry, Nwankwo Kanu, Lauren Bisan, Freddie Ljungberg, Robert Pires, dan Sylvain Wiltord diboyong ke London. Tak ketinggalan produk-produk akademi seperti Ashley Cole dan Stuart Taylor dipromosikan ke tim utama.

Setelah kehilangan gelar pada musim 1998/1999, 1999/2000 dan 2000/2001, pada akhirnya The Gunners sukses membawa kembali trofi juara Liga Inggris ke London di musim 2001/2002. Sudah barang tentu skuat mereka di musim itu tak lagi diisi nama-nama veteran yang telah pensiun atau dipersilahkan pergi ke klub lain. Sosok seperti Cole, Lauren, Henry, dan Wiltord yang dipadukan bersama David Seaman, Martin Keown, Patrick Vieira, dan Dennis Bergkamp menjadi resep ampuh yang sulit dijinakkan. Musim tersebut, Arsenal juga berhasil menggondol gelar Piala FA setelah menghempaskan Chelsea di final.

Dari nama-nama baru yang menjadi andalan Wenger tersebut, sosok Lauren tentu tidak semahsyur figur Cole, Ljungberg, Pires, atau bahkan Sol Campbell yang baru diangkut secara gratis dari rival di London utara, Tottenham Hotspur. Namun jangan tanyakan betapa sentralnya sosok ini dalam menyisir sektor kanan kubu meriam London.

The Professor, julukan Wenger, bersedia merogoh kocek sebesar 7,2 juta Poundsterling guna membajak Lauren dari kesebelasan asal Spanyol, Real Mallorca. Tak sampai di situ, Wenger pun kerap mengajak pemain gresnya tersebut untuk berdiskusi. Terutama mengenai keinginan sang manajer untuk memainkan Lauren di posisi bek kanan meski posisi alami sang pemain adalah seorang gelandang.

“Ketika dirinya tiba di sini, saya sering berdiskusi dengannya. Saya meyakinkan Lauren bahwa ia bisa menjadi seorang bek kanan yang hebat. Pada awalnya ia menolak disebabkan karakter dan egonya. Namun perlahan, dirinya bisa menerima hal tersebut. Maka, sejak saat itu saya memiliki sepasang fullback tangguh. Lauren dan Cole di masing-masing sisi”, papar Wenger.

Seperti kebanyakan pemain asal Afrika, Lauren juga memiliki kelebihan dalam hal kecepatan dan kekuatan fisik. Ditambah dengan ketenangan dan etos kerja yang luar biasa menjadikan Lauren sebagai aset berharga bagi The Gunners.

Mungkin banyak Gooners yang masih ingat sebuah peristiwa mahapenting buat perjalanan Arsenal merebut gelar juara di musim tersebut. Pada 6 April 2002, Arsenal menjamu musuh bebuyutan, Tottenham, di stadion Highbury. Laga itu merupakan lanjutan pekan ke-33 Liga Inggris musim 2001/2002.

Ljungberg yang saat itu tampil unik dan sedikit norak dengan rambut disemir merah berhasil membawa klubnya unggul terlebih dahulu usai sepakannya di menit ke-24 gagal dibendung oleh kiper Spurs asal Amerika Serikat, Kasey Keller. Saat pendukung Arsenal yang memadati stadion mulai membayangkan tim pujaan mereka bakal memenangkan laga, secara dramatis sang rival mendapat penalti di menit ke-81 setelah Gustavo Poyet dilanggar Seaman. Penyerang asal Inggris, Teddy Sheringham, yang maju sebagai algojo berhasil menceploskan bola ke gawang Arsenal.

Kedudukan imbang membuat posisi The Gunners terjepit karena penyerang andalan mereka, Henry, juga harus meninggalkan lapangan lebih awal akibat cedera. Kanu pun masuk menggantikan posisi striker asal Prancis tersebut. Ketika pertandingan antara dua tim sekota tersebut mendekati akhir dan dirasa akan berakhir seri, sebuah kesalahan dilakukan Dean Richards, bek Spurs. Dirinya melanggar Kanu di kotak penalti saat laga di waktu normal tersisa empat menit. Wasit Mark Halsey pun tanpa ragu menunjuk titik putih.

Namun ketiadaan Henry yang biasa menjadi eksekutor penalti The Gunners membuat jantung para Gooners berdegup kencang sembari menebak-nebak siapa yang akan mengambil tendangan tersebut. Kala itu sosok Bergkamp dan Ljungberg masih berada di lapangan sehingga dapat dijadikan opsi sebagai algojo, pun begitu dengan Kanu atau Vieira. Tapi secara mengejutkan, justru Lauren yang mengambil sepakan itu. Banyak Gooners yang kala itu semakin deg-degan begitu mengetahui bahwa bek asal Kamerun tersebut yang mengambil penalti.

Di sisi lain, Lauren tahu jika itu adalah kesempatan emas buat memenangkan Arsenal sekaligus menghancurkan sang musuh bebuyutan. Maka dengan dingin ia sukses mempecundangi Keller yang bergerak ke arah kiri sembari menyepak bola secara mendatar ke bagian tengah gawang. Gol! Lauren berlari ke arah penonton merayakan gol tersebut bersama fans Arsenal yang bersorak gembira. Skor 2-1 buat Arsenal kala itu tak berubah sampai Halsey meniup peluit panjang.

Kangen dengan laga tersebut? Silakan bernostalgia bersama video di bawah ini:

Gooners yang khawatir bila Lauren gagal menjalankan tugas tentu dapat dimaklumi, namun sosoknya yang juga penendang penalti buat tim nasional Kamerun menjadi salah satu alasan kuat mengapa Wenger lebih memilihnya ketimbang Bergkamp atau Ljungberg. Pasca pertandingan itu, Arsenal berhasil memenangi lima laga sisa, termasuk membekap Manchester United di Old Trafford dengan skor tipis 1-0 pada pekan ke-37 yang dimainkan tanggal 8 Mei 2002, sebelum akhirnya mengangkat trofi juara di depan pendukungnya yang memenuhi stadion Highbury tiga hari berselang seusai mengalahkan Everton 4-3.

Vitalnya peran Lauren di tim besutan Wenger membuatnya sulit digeser dari pos bek kanan. Seakan-akan tempat tersebut mutlak menjadi milik pemain yang juga memiliki paspor Spanyol tersebut. Hanya cedera dan suspensi yang membuat dirinya menepi dari medan laga.

Bersama Campbell, Cole, dan Kolo Toure, rekrutan baru yang didatangkan untuk menggantikan peran Keown yang makin uzur, Lauren membentuk Black Quartet, julukan dari para Gooners yang merujuk pada figur keempatnya yang berkulit legam. Black Quartet ini pula yang berandil besar dalam mengantar Arsenal mencetak rekor tak terkalahkan di musim 2003/2004 sekaligus memboyong trofi Liga Inggris mereka yang ke-13.

Bagi Lauren sendiri, pencapaian yang kemudian melahirkan sebutan The Invincibles bagi tim Gudang Peluru musim 2003/2004 itu adalah hal yang fantastis. Namun yang lebih tak terbayangkan olehnya adalah kefasihan dalam memainkan peran bek kanan seperti yang diminta Wenger. Oleh sebagian fans Arsenal, Lauren bahkan disebut-sebut sebagai bek kanan terbaik sepanjang masa.

Cedera berkepanjangan yang menimpanya di musim 2006/2007 pada akhirnya mengantarkan Lauren pada pintu keluar dari The Gunners. Per 18 Januari 2007, Lauren sepakat untuk bergabung dengan Portsmouth setelah Emmanuel Eboue menjadi pilihan utama Wenger. Pada Maret 2010, dirinya lalu bergabung dengan tim asal Spanyol, Cordoba, dengan status bebas transfer usai kontraknya tak diperpanjang Portsmouth. Di akhir musim itu juga, Lauren akhirnya memutuskan pensiun dari panggung sepak bola.

Meski kariernya di Arsenal tak betul-betul berakhir dengan happy ending, nama Lauren takkan lenyap dari ingatan pendukung Arsenal sampai hari ini. Secara keseluruhan, pemain yang semasa membela Arsenal mengenakan jersey bernomor punggung 12 ini bermain sebanyak 238 kali dengan koleksi 9 gol di semua kompetisi. Dua gelar Liga Inggris dan tiga trofi Piala FA menjadi sumbangsihnya buat klub yang saat ini berkandang di stadion Emirates tersebut. Prestasi itu dilengkapinya dengan tiga gelar mayor bersama timnas Kamerun, yakni medali emas Olimpiade Sydney 2000 dan juara Piala Afrika tahun 2000 dan 2002.

Dan tepat pada hari ini, 19 Januari, pria kelahiran Kribi, sebuah kota pelabuhan kecil di sebelah barat laut Kamerun ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-39. Gooners will never forget you, hero. Joyeux anniversaire Lauren!

#VCC #COYG

Penulis dapat dijumpai lewat Twitter: @Windekind_Budi

Comments