#MenolakLupa: Tetap Sengit, Meski Skuat Pahit

Silakan berdebat apa saja tentang pria Perancis yang tinggi tegap namun berwajah mirip Rowan Atkinson dan bahasa Inggrisnya bernada pria India yang lama tinggal di Inggris. Tapi agaknya, saya harus secara aklamasi menganggap Arsene Wenger sebagai salah satu alasan terpenting kenapa Arsenal masih stabil dan tidak limbung hingga saat ini.

Zaman bergegas dan sepak bola mengalami revolusi. Wenger tentu tak lepas dari arus tersebut. Ia terseret arus yang cukup deras selepas 2004, Arsenal tak kunjung juara Liga Inggris. Puasa gelar sembilan tahun. “Wenger mulai using”, ujar beberapa kawan saya. Saya tak membantah atau membenarkan. Bagi saya, membantah orang tua tak pernah jadi opsi yang bijak, kecuali dalam beberapa konteks perihal pengerjaan skripsi. Selebihnya, saya banyak tunduk dan patuh. Itu pula sikap saya ke Wenger.

Akal sehat saya kerap mati dan tidak berjalan normal ketika mendukung Arsenal di era-era selepas 2006. Selepas final di Paris yang melankolis itu, Thierry Henry pergi. Tidak ada Henry. Tidak ada Patrick Vieira. Bahkan tidak ada Robert Pires yang hijrah ke Villareal. Dennis Bergkamp pun sudah melepas masa indah di London dengan akhir karier yang manis. Hanya tersisa segelintir pemain bagus dan seorang kapten muda dari Catalan.

Kepindahan ke Emirates pun diwarnai dengan gejolak keuangan yang cukup terasa. Wenger dipaksa berhemat. Arsenal dan Wenger tak mampu bersaing secara finansial dengan sugar daddy macam Roman Abramovich di Chelsea. Mentalitas pemain selepas kepergian pemain senior pun limbung. Bocah Catalan itu hebat, tapi tak sematang Vieira atau Tony Adams. Dan, bujet belanja yang minim membuat Wenger harus memutar otak dan mendatangkan pemain yang ala kadarnya.

Saya pakai formasi 1-4-2-3-1 ya untuk menggambarkan skuat antah berantah Arsenal di era-era kegelapan itu. Kira-kira seperti ini daftarnya:

Kiper

Saya ingin memasukkan Richard Wright atau Rami Shaaban, tapi rasa-rasanya terlalu jauh untuk menariknya ke masa sebelum 2004. Jadi masuklah nama Manuel Almunia. Kiper Spanyol yang warna rambutnya kerap berganti mirip anak Indonesia zaman sekarang ini luar biasa betul. Tiap kali beliau bermain di bawah mistar, saya selalu merasa yakin Arsenal akan dihajar dan diperkosa dengan brutal dan ganas oleh penyerang-penyerang lawan.

Dua gol di Paris 2006 pun adalah alasan saya kenapa memasukkan Almunia di daftar ini. Apalagi membayangkan gol Juliano Belleti yang mulus meluncur di sela-sela kaki Almunia di penghujung laga itu. Sakitnya. Tuh. Di sini.

Anda paham kenapa Wojciech Szczesny yang potensial itu perkembangan mentalnya stagnan? Ya karena mentornya adalah kiper semacam Manuel Almunia ini. Dan lihat, kita sekarang punya tembok kokoh Praha atas nama Petr Cech. Hidup sungguh teramat indah, ya?

Bek Kanan

Saya jujur ingin memasukkan Mathieu Debuchy awalnya, tapi mengingat ia sempat tampil bagus di timnas dan awal kariernya di Arsenal, akhirnya saya urungkan. Untuk bek kanan, saya pilih Johan Djourou. Beliau ini musuh kesayangan penyerang-penyerang hebat Liga Inggris. Kenapa? Karena kerap blunder dan sangat amat mudah sekali dilewati. Tanya Ashley Young dan Wayne Rooney. Mereka aktor krusial kenapa Manchester United Berjaya dengan skor 8-2 yang fenomenal itu. Dan penampilan Djourou sejak malam sendu itu? Menurun dan membusuk.

Saya yakin, apabila Swiss memiliki beberapa bek yang mumpuni, Johan Djourou akan menghabiskan sebagian besar karier sepak bolanya di divisi bawah di Inggris dan tidak akan dipanggil oleh timnas. Hebatnya, saat ini status Djourou adalah kapten kesebelasan Jerman, Hamburg SV. Keren, ya. Segan betul saya.

Bek Tengah

Saya pilih nama Sebastian Squillaci dan Matias Silvestre. Kenapa Squillaci? Mudah saja. Ia lambat, tidak awas terhadap gerakan lawan, dan mudah sekali menjatuhkan pemain di bagian rawan di sekitar kotak penalti Arsenal. Per Mertesacker mungkin sama lambatnya dengan Squillaci, namun Per memiliki wawasan taktik yang jauh lebih baik.

Dan Mikael Silvestre? Sederhana saja, karena ia datang dari Manchester United.

Bek Kiri

Saya bingung memilih antara Andre Santos atau Iqnasi Miquel. Namun mengingat Santos sempat membela timnas Brazil dan pernah mencetak gol manis ke gawang Petr Cech dulu kala, saya memilih Miquel.

Ia memang alumus La Masia. Akademi sepak bola yang dipuja-puja banyak orang tersebut. Tapi ingat, bahkan di akademi itu ia harus diputus kontrak dan terlunta-lunta sebelum bergabung ke akademi antah berantah di pinggiran Spanyol dan direkrut Arsenal sejak usia 16 tahun. Prestasi Miquel di Arsenal? Silakan ingat bahwa melawan pemain timnas Indonesia saja, Miquel harus pontang-panting kewalahan. Bayangkan Miquel beradu tanding dengan Lionel Messi. Itu mimpi buruk yang paling buruk.

Gelandang Tengah

Duet pivot teraneh dan paling surealis bagi saya adalah Emmanuel Frimpong dan Henri Lansbury. Sebelum era Aaron Ramsey mekar dengan mewangi dan Santi cazorla yang luar biasa hebat betul di posisi gelandang tengah, ada duet pemain akademi ini.

Frimpong begitu lekat di imaji saya bukan karena kehebatannya tapi karena kedekatannya dengan Jack Wilshere. Frimpong adalah Balotelli 2.0, dengan kemampuan teknik yang jauh lebih buruk dan kelakuan yang sama bebal dan banalnya.

Dan Henri Lansbury? Bagaimana ya, saya bingung juga menjelaskan sosok satu ini. Ia sebetulnya bisa bernasib baik seperti Francis Coquelin, sayangnya bakat dan mentalnya tak pernah benar-benar berkembang setelah dipinjamkan ke sana, ke mari. So that’s that, Henri. Padahal saya suka perawakan Lansbury. Namanya juga asyik betul, “Lansbury”.

Gelandang Serang

Yossi Benayoun harus masuk di daftar ini. Pemain Israel ini memiliki karier unik. Pernah bermain di Chelsea, Livepool, dan Arsenal. Saya sungkan untuk bilang beliau tak cukup hebat untuk Arsenal, namun mengingat saat ini Arsenal memiliki Mesut Ozil, rasa-rasanya cukup surealis ya dulu playmaker Arsenal adalah Benayoun?

Gelandang Sayap

Saya punya dua jagoan di posisi ini. Dua pemain Asia. Ryo Miyaichi dan Park Chu-young. Mungkin Arsene Wenger terinspirasi kesuksesan Park Ji Sung di era Sir Alex Ferguson ketika mendatangkan Chu-young. Sayang pemain Korea Selatan ini mungkin hanya datang untuk kepentingan pasar Arsenal di Asia Timur dan sekitarnya.

Ryo Miyaichi juga bernasib sama. Kawan saya sesama Gooner sempat sesumbar bahwa Ryo Miyaichi calon bintang besar karena larinya kencang dan dribelnya yahud. Sayang, sepak bola bukan olahraga atletik. Kalau di FIFA, memakai Miyaichi mungkin menyenangkan, ya. Kenyataan di dunia nyata memang lebih pahit daripada di dunia maya atau virtual.

Penyerang

Sebuah dosa besar berujung kafir yang bisa membuat saya masuk neraka jahanam kalau tidak memasukkan nama Nicklas Bendtner di posisi ini. Anda masih perlu penjelasan kenapa Bendtner yang saya pilih?

**

Dan bayangkan, dengan skuat “hebat” seperti di atas, Arsenal masih mampu finis di empat besar dan stabil di papan atas. Finis peringkat tujuh atau berlama-lama di zona degradasi dan sekitarnya tidak pernah ada di DNA Arsenal era Arsene Wenger.

Pertanyaannya, bisakah Jose Mourinho dan Pep Guardiola meraih prestasi yang stabil dan konsisten seperti yang dilakukan Wenger ini? Saya bisa bayangkan Guardiola menangis sesenggukan di pojokan kamar ketika menangani tim yang materi pemainnya seperti saya jabarkan di atas. Dan Mourinho? Ah sudahlah, membahas sesosok pria pengangguran tak pernah mengasyikkan.

Arsene’s magic hat. There’s only one Arsene Wenger.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *