Appetizer Arsenal vs Chelsea: Narrow dan Keunggulan Kuantitatif

Minggu, 24 Januari 2016, Arsenal akan menjamu Chelsea di Emirates Stadium. Bagaimana Arsenal mengunci laga dan mendulang tiga angka? Berikut menu pembuka dari derby London Ahad nanti.

Bagi Arsenal, kemenangan akan menjaga asa memuncaki klasemen. Maklum, Leicester City masih menempel ketat di posisi dua dan Manchester City hanya berjarak 1 poin di posisi ketiga. Sementara itu, pulang ke Stamford Bridge dengan kemenangan akan berarti penting bagi The Blues. Tiga angka sangat dibutuhkan Chelsea untuk menjauhkan mereka dari zona degradasi sekaligus menjaga peluang lolos ke kompetisi Eropa musim depan.

Line-up

Di atas kertas, baik Arsenal dan Chelsea kemungkinan akan menggunakan skema dasar 1-4-2-3-1. Beberapa perubahan mungkin terjadi seiring berjalannya laga. Seiring kabar membaiknya Alexis Sanchez, maka The Gunners kemungkinan sudah akan diperkuat pemain asal Chile tersebut. Mesut Ozil, yang absen di Britannia Stadium juga sudah siap dimainkan lagi. Diperkuat dua pemain penting tersebut, Arsene Wenger juga berpeluang memberikan debut bagi Mohamed Elneny. Namun, melihat lawan yang akan dihadapai ditambah “catatan magis” Mathieu Flamini di Emirates, nampaknya komposisi lini tengah tidak akan banyak berubah.

Empat belakang masih akan diisi Hector Bellerin, Laurent Koscielny, Per Mertesacker, dan Nacho Monreal. Keempatnya akan mengawal Petr Cech di bawah mistar. Untuk lini tengah, duet Flamini dan Aaron Ramsey masih menjadi pilihan, di samping kemungkinan debut untuk Elneny. Di sisi kanan, Joel Campbell akan menjadi pilihan pertama ketimbang Alex Oxlade-Chamberlain. Di sisi kiri, Alexis Sanchez akan mendapatkan kesempatan comeback lantaran tidak konsistennya Theo Walcott. Posisi striker masih akan menjadi milik Oliver Giroud.

Dari kubu Chelsea, kabar terakhir menyebutkan bahwa Diego Costa dan Eden Hazard sudah ikut berlatih. Kemungkinan keduanya sudah akan masuk dalam starting line-up atau setidaknya duduk di bangku cadangan. Jika Diego Costa dan Hazard belum mencapai match fit, maka Loic Remy dan Pedro akan menjadi pilihan. Di sisi kanan, Willian akan menjadi pilihan pertama dan Oscar berdiri di belakang striker. Double pivot akan diisi Fabregas dan John Obi Mikel. Empat pemain belakang akan diisi Branislav Ivanovic, Kurt Zouma, John Terry, dan Cesar Azpilicueta. Thibaut Courtois berdiri di bawah mistar Chelsea. Secara garis besar, begini line-up kedua tim:

2

Apabila Diego Costa memang belum bisa bermain penuh, Chelsea dapat bermain tanpa striker dan memilih menambah jumlah di lapangan tengah. Maka, Sebagai gantinya, Nemanja Matic akan turun dan membentuk 3 gelandang bersama Mikel dan Fabregas. Oscar akan mendapatkan tugas khusus sebagai False 9 dibantu Fabregas yang berposisi lebih tinggi ketimbang Matic dan Mikel. Jika bermain dengan sistem 3 gelandang, Chelsea akan mendapatkan superioritas jumlah 6v3 di lapangan tengah. Chelsea akan mampu menciptakan formation-based overload. Overload ini terbentuk secara alami sebagai konsekuensi penggunaan formasi tertentu melawan formasi tertentu. Unggul secara kuantitas bisa menjadi awal keuntungan Chelsea untuk memenangi lapangan tengah.

Cari tahu soal overload di artikel: Apa Itu Overload? tulisan Coach Qo’id Nauval (Twitter: @NovalAziz) yang dirilis Fandom.id tanggal 13 Mei 2015.

3

Konsekuensi dan Meredam Progresi: Arsenal Bermain Narrow?

Mari bandingkan kedua line-up di atas. Pada line-up pertama, kedua tim sama-sama menggelar skema dasar 1-4-2-3-1. Melihat konsekuensi taktik dasar, akan ada situasi 3v3 antara Flamini-Ramsey-Ozil dengan Mikel-Fabregas-Oscar. Di kedua sisi lapangan pun kedua tim mempunyai jumlah pemain yang sama. Imbang secara kuantitatif akan membuat pertandingan ditentukan oleh detail pergerakan pemain secara khsus.

Misalnya, pergerakan Alexis ke dalam lapangan dan cenderung narrow atau Joel Campbell yang bermain lebih melebar untuk merenggangkan bek-bek Chelsea. Dari sisi Chelsea, Hazard (atau Pedro) dan Willian kemungkinan tidak akan bermain terlalu melebar dan fokus ke half space kedua sisi lapangan sebagai starting point. Kembali, sebagai konsekuensinya, baik Alexis maupun Joel Campbell jangan sampai kehilangan momentum untuk turun ke belakang. Jika sampai terlambat, lini tengah akan kalah jumlah pemain. Jawaban paling ideal bagi Arsenal adalah bermain narrow.

Pilihan ini juga sesuai untuk mengimbangi lini tengah Chelsea apabila bermain tanpa striker. Kalah secara kuantitatif di lapangan tengah akan merugikan Arsenal. Apalagi, Chelsea mempunyai gelandang-gelandang yang mampu menjadi kreator. Pilihan bermain rapat juga menjadi keuntungan bagi Arsenal. Selain pernah dan sukses bermain dengan pendekatan ini, lini tengah Chelsea terkadang menemui kesulitan ketika menghadapi lawan yang bermain narrow.

Ketika dijamu Crystal Palace, skuat asuhan Guus Hiddink tersebut sempat kewalahan ketika lawan bermain narrow. Palace bermain dengan skema dasar 1-4-2-3-1 dan berubah menjadi 1-4-2-2-2 pada 20 menit babak pertama laga tersebut. Penumpukan pemain tersebut berhasil mengurangi ruang dan waktu bagi Fabregas dan Hazard untuk menguasi bola. Hasilnya, serangan Chelsea menjadi terhambat dan Fabregas hanya mampu melepaskan 3 umpan sukses ke sepertiga lapangan lawan dari 4 percobaan. Progresi, adalah aspek yang coba diredam Palace sejak awal. Perhatikan screenshot di bawah ini:

4
sumber: http://outsideoftheboot.com/2016/01/06/tactical-analysis-crystal-palace-0-3-chelsea-fabregas-shoots-down-high-flying-eagles/

Bermain narrow dan berani menekan pemain Chelsea yang menguasai bola sejak awal bisa menjadi pilihan. Yang dibutuhkan adalah timing dan bentuk susunan pemain yang tepat. Merebut bola di area lawan akan memberikan banyak keuntungan. Selain meredam progresi transisi menyerang lawan sejak dini, Arsenal akan lebih dekat ke gawang Chelsea.

Melihat screenshot di atas, ada satu pilihan lagi yang bisa diambil Arsenal, yaitu turun lebih dalam dan menunggu Chelsea membangun serangan. Seperti yang penulis sebutkan pada awal tulisan, Chelsea membutuhkan kemenangan demi memperbaiki posisi. Oleh sebab itu, Chelsea harus menyerang untuk menang atau setidaknya mencetak gol untuk tidak kalah. Situasi ini bisa dimanfaatkan, apalagi dengan keberadaan tipe runner semacam Alexis Sanchez dan Joel Campbell. Apabila berani mengambil pilihan berbeda, Wenger bisa memainkan Walcott sebagai striker. Setiap pilihan skema dari lawan akan mengubah situasi dan konsekuensinya Arsenal harus merespons dengan benar.

Intensitas pressing akan berbicara banyak ketika berbicara progresi. Bagi Chelsea, keberadaan Fabregas sebagai “nomor 8” sangat penting. Ketika melawan Crystal Palace, Chelsea tidak leluasa melakukan progresi serangan. Selain Palace yang bermain rapat, Fabregas juga mendapatkan pressing yang intens selama 20 menit awal. Setelah Palace mengubah pendekatan, yang mana cukup aneh dilakukan mengingat mereka mampu meredam Chelsea, maka keadaan berubah. Palace berubah ke skema 1-4-2-3-1 tanpa perubahan ke 1-4-2-2-2. Hasilnya, Fabregas mendapatkan keleluasaan waktu dan ruang dengan bola. Partnernya, Mikel, juga tampil sederhana namun efektif dengan memberikan covering. Ketika Chelsea (dan Fabregas) mampu memegang lini tengah, situasi laga berubah. Chelsea mampu mencetak 3 gol.

Kejadian serupa terjadi ketika Chelsea menjamu Everton dalam laga yang berkesudahan sama kuat 3-3. Setelah unggul 2-0, Everton melepas intensitas pressing dan memberi Fabregas banyak waktu dengan bola. Salah satu akibatnya adalah Fabregas mampu melepas bola vertikal yang mampu dimaksimalkan Diego Costa menjadi gol. Skema serupa pernah Chelsea lakukan ketika menjamu Arsenal. Aktornya juga sama, yaitu Fabregas dan Diego Costa. Caranya juga sama, Fabregas mendapatkan ruang dan diizinkan melepas umpan jauh.

5
Sumber: http://outsideoftheboot.com/2016/01/20/tactical-analysis-chelsea-3-3-everton/

Lalu bagaimana Arsenal merespons? Cara paling mudah adalah melakukan immediate pressing kepada Fabregas. Artinya ada satu atau dua pemain yang berdiri dekat dengan Fabregas. Bukan dengan tugas spesifik melakukan man marking, namun menyatakan kehadiran pemain di dekat Fabregas. Mampu merebut bola dari Fabregas adalah bonus, namun yang lebih penting, Chelsea kehilangan kesempatan menggunakan Fabregas sebagai outlet serangan dari wilayah sendiri sejak awal.

6

Apabila Arsenal bermain dengan garis pertahanan tinggi, antara Ozil, Ramsey, dan Giroud dapat melakukan immediate pressing kepada Fabregas. Joel Campbell pun dapat menjadi bantuan tambahan sembari tetap mengawasi Azpilicueta dan Matic. Jarak yang tidak terlalu jauh akan memudahkan bagi Joel Campbell untuk mengejar bola apabila diarahkan kepada Matic atau Azpilicueta. Di sisi kiri, Alexis Sanchez menutup jalur passing kepada Ivanovic dan Willian. Monreal sebagai backup di belakang Willian. Bagaimana apabila Chelsea menguasai bola di tengah lapangan? Simak grafis berikut:

7

Ramsey, yang bermain sebagai nomor 8 kemungkinan akan menjadi pemain yang berdiri paling dekat dengan Fabregas. Ketika bola berada di tengah lapangan, Alexis Sanchez dan Ramsey bisa menciptakan situasi 2v1 dengan Alexis tetap waspada dengan pemosisian diri Ivanovic. Pemain Arsenal lainnya menyesuaikan dengan perubahan posisi pemain Chelsea. Bagaimana ketika Arsenal “dipaksa” turun lebih dalam? Perhatikan:

8

Meskipun tampil dengan skema dasar 1-4-2-3-1, Arsenal dapat dengan mudah melakukan penyesuain diri menjadi 1-4-4-2 narrow ketika bertahan. Bentuk two banks of four seperti ketika melawan Manchester City menjadi contoh paling nyata. Disiplin dan timing yang tepat akan menjadi kunci. Perhatikan bagaimana Arsenal unggul secara kuantitatif di lapangan tengah, terutama di zona 5 ketika Chelsea mencoba masuk ke daerah pertahanan. Alexis dan Joel yang narrow akan menambah jumlah pemain dan membantu Arsenal membangun dua lapis pertahanan.

 Catatan

Seiring laga berjalan, perubahan taktik dan pendekatan jelas akan berubah. Terutama, masih belum pastinya keberadaan Diego Costa dan Eden Hazard di skuat Chelsea. Namun, apabila kedua pemain tersebut mendapatkan lampu hijau dari tim medis, cara bermain Chelsea tidak akan mengalami perubahan signifikan. Dari kubu Arsenal, menarik menanti apakah Wenger berani menurunkan Elneny.

Maka, selain bermain narrow dan menjaga keunggulan kuantitatif, menjaga tingkat disiplin dan timing pergerakan akan sangat penting. Pemain yang berada di lini tengah tidak boleh out of position, terutama Flamini dan Ramsey. Kesadaran untuk menang harus lebih kuat ketimbang kesadaran bahwa mencetak gol akan memberikan esktasi luar biasa kepada pemain. Jadi, bermain dengan konteks taktikal akan menjadi kunci.

#COYG

Comments

One thought on “Appetizer Arsenal vs Chelsea: Narrow dan Keunggulan Kuantitatif”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *