Dessert: Diego Costa, Sebuah Fragmen Teror

Baiknya kita sepakati dahulu bahwa supaya tatanan dunia tetap berjalan baik, dan struktur sosial bisa terjaga keberlangsungannya, narasi tentang baik dan buruk mutlak perlu. Hitam dan putih perlu dimunculkan dan dilihat kehadirannya sebagai sebuah kebutuhan. Sebagai sebuah pola acak yang entah bagaimana caranya, ia dibutuhkan supaya kita mudah mengenali seseorang atau sesuatu. Dan Diego Costa, harus dengan sukarela dan ikhlas ditempatkan sebagai sosok yang jahat. Sang antagonis sejati.

Jangan salah, dibalik “wajah tuanya” yang menjijikkan dan tersimpan cerita masa kecil yang berat, Diego Costa adalah salah satu penyerang yang cukup saya segani. Oh, tentu saja dia brengsek, tapi romantisme sepak bola tidak pernah benar-benar dinarasikan dengan cara yang romantis. Anda bisa pergi ke rekaman pertandingan sepak bola di zaman 1950-1970-an. Lihat berapa kali Pele harus dilanggar dengan cara yang sporadis dan spartan. Lihat bagaimana Lev Yashin ditendang kepalanya dan ditabrak dengan keras dan sengaja oleh penyerang lawan ketika mengawal gawang Uni Soviet. Dari kulturnya, sepak bola memang keras. Dan juga, kotor. FIFA dan Sepp “Om Gendut” Blatter, boleh percaya bahwa sepak bola berasal dari Tiongkok, tapi sejarah dasar sepak bola diwariskan sejak zaman Romawi. Dimainkan ratusan orang. Tanpa pengadil. Keras, kotor, banal, dan licik.

Sebut saja saya—meminjam istilah Darmanto Simaepa—seorang moralis sepak bola. Pemujaan berlebih saya ke permainan indah dan sepak bola atraktif yang penuh risiko adalah mutlak. Oleh sebab itu, saya mendukung Arsenal, dan bukan West Bromwich Albion-nya Tony Pulis. Susah betul menjadi moralis sepak bola di era ketika Anda hidup dengan spesies pelatih macam Jose Mourinho, Roberto Mancini, hingga Tony Pulis. Tambahkan Sam Allardyce kalau Anda berminat.

Saya tentu ingin menang. Hanya suporter bodoh yang menolak tim kesayangannya pulang dengan kekalahan tiap kali bermain di lapangan. Tapi, saya menikmati proses. Dan, proses yang saya tuntut harus indah dan nikmat dipandang. Saya tidak suka sepak bola pragmatis, sama seperti saya tidak suka melihat Cesc Fabregas dengan brewok Leonidas-nya berkacak pinggang dengan jumawa di Emirates hari Minggu lalu. Sepak bola harus dimainkan dengan indah, penuh risiko, dan menang. Titik.

Dan tepat di titik itulah Diego Costa muncul. Ia indah, penuh risiko dan brengseknya, ia adalah seorang pemenang. Ia tahu ia garang dan gahar. Ia berlari di sekitar Per Mertesacker dan Laurent Koscielny untuk mengusik penguasaan bola Arsenal dan menghambat aliran bola dari bek ke gelandang. Kegarangan dan liarnya Costa adalah keindahan tersembunyi pria Brazil yang membela timnas paling romantis (menurut saya) di Eropa, La Furia Roja. Kalau Jose Mourinho adalah Machiavellian yang taat, Costa adalah seorang murid yang patuh bagi Jose. Bahkan ketika sang mentor pergi, Costa tidak berhenti menjadi serdadu teror yang menyebalkan, memuakkan, tapi membuat kita (harusnya) sadar, ada nilai keras, kasar, dan kotor yang perlu dilihat, disadari, dan kalau mungkin, dinikmati.

Ketika berkonfrontasi, Costa selalu mengambil risiko. Ia pasang badan. Ia menebar provokasi dan ejekan. Apa ia takut kartu merah? Tentu! Hanya Joey Barton yang tak takut dengan kartu merah. Namun Costa sadar, kerasnya kehidupan di kampung Brazil adalah manifesto baginya untuk selalu keluar sebagai pemenang di akhir laga. Anda tahu, terakhir Diego Costa dikartumerah oleh wasit adalah tiga tahun lalu?

Sebagai orang Perancis, saya yakin sepenuhnya Arsene Wenger paham di luar kepala cerita revolusi negaranya. Bagaimana penjara Bastille, sang simbol despotisme diruntuhkan dan rezim Jacobin berkuasa. Reign of Terror. Prancis (atau Paris) adalah ibu kandung bagi teror, ujar Zen RS. Dan, dengan pendekatan seperti itulah agaknya Wenger harus paham bahwa Costa memang dan akan selalu menjadi teror. Dan sudah sewajarnya Wenger sadar bahwa sepak bola selalu tentang teror. Bukan karena semata ia orang Perancis, namun semata karena ia sadar jalan menuju takhta pasti keras, kotor, dan licik. Dan Februari nanti, teror lebih menakutkan akan datang ke London dan siap menyambut pula di tanah Iberia sana. Teror tiga penyerang paling gila di tahun 2015 lalu. Dan teror tiga pria Amerika Latin itu adalah tiga kali lipat dari teror Diego Costa.

Diego Costa adalah sosok menyebalkan yang dalam hemat saya, diperlukan oleh Arsenal untuk mulai membuka diri tentang romantisme sepak bola mereka yang perlu dikaji ulang. Perut saya mulas menonton Arsenal bertahan mati-matian di skor 2-1 kala melawan Manchester City beberapa pekan lalu. Arsenal harus sadar, untuk sebuah kemenangan, risiko perlu diambil. Perubahan sikap, kepatuhan akan taktik, pendekatan ke pertandingan dengan mental yang kuat, hingga satu hal penting yang disinggung si empunya Kitchen ini kemarin, kemampuan finishing para pemainnya.

Saya tidak menyalahkan Mertesacker akan keputusannya melakukan tekel ke Costa. Atau lemahnya respons barisan pivot Arsenal saat Willian mampu menguasai bola dan mengirim bola ke Costa. Hingga ketidaksigapan Gabriel dalam menjaga Costa saat menyambut umpan datar Branislav Ivanonic. Semua terjadi dalam satu proses yang kalau disadari sebenarnya terjadi secara sistematis, walau sekilas terlihat sedikit acak.

Teror Diego Costa adalah satu dari sekian banyak rintangan yang menghadang perjalanan sisa musim Arsenal. Bukan semata karena Wenger yang miskin taktik, namun karena Wenger dan Arsenal adalah salah satu simbol sejati romantisme klasik sepak bola. Kenapa Arsenal kerapkali kesulitan menerapkan strategi bertahan? Karena kulturnya tak seperti itu. Arsenal selalu romantik dan elegan. Dan biasanya, yang elegan dan anggun akan kalah dengan yang kasar dan kotor. Ingat, berani kotor itu baik, kan?

NB: Percayalah, saya berusaha menulis menu pencuci mulut ini “semanis” mungkin, tapi sayang, tekel terlambat Mertesacker dan gagalnya tendangan kungfu Mathieu Flamini membuat teror Diego Costa begitu pelik bagi saya, dan mungkin juga, Anda semua.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *