Main Course: Arsenal 0 vs 1 Chelsea

Kutukan itu masih akrab dengan Arsenal. Adalah Chelsea, tim biru asal London yang selalu menjadi batu sandungan. Diwarnai kartu merah untuk Per Mertesacker, The Gunners harus rela melihat tetangganya pulang dengan tiga angka. Tiga angka yang penting untuk lari dari zona degradasi.

Sudah penulis tegaskan lewat tulisan “Appetizer Arsenal vs Chelsea: Narrow dan Keunggulan Kuantitatif“, bahwa Chelsea tidak akan bermain hanya untuk hasil imbang. Sepuluh menit laga berjalan, skuat asuhan Guus Hiddink tersebut justru lebih nyaman menguasai bola. Unggul jumlah pemain di lapangan tengah memberi mereka keuntungan.

Line-up

Seperti sudah diperkirakan, Chelsea akan mencadangkan salah satu antara Diego Costa dan Eden Hazard karena masalah kebugaran. Guus Hiddink lebih memilih menambah jumlah pemain di lapangan tengah dengan memasukkan nama Nemanja Matic. Matic, ditambah John Obi Mikel dan Cesc Fabregas menjadi tiga pemain yang mencoba mengokupansi lapangan tengah dan memanfaatkan keunggulan kuantitatif karena praktis hanya sering berhadapan dengan antara Ozil-Ramsey atau Ramsey-Flamini. Di lini The Blues yang lain tidak terjadi banyak perubahan.

Sementara itu, di kubu Arsenal, Alexis Sanchez duduk di bangku cadangan sebagai wujud antisipasi kebugaran oleh Arsene Wenger. Theo Walcott mengisi tempatnya di sisi kiri. Wenger sendiri masih menyimpan Mohamed Elneny dan memilih menurunkan Mathieu Flamini. Lini lain tidak mengalami perubahan.

1

Kartu Merah dan Pilihan Arsenal

Kartu merah yang didapat Per Mertesacker membuat Arsenal harus melakukan beberapa penyesuaian. Wenger memilih menarik keluar Oliver Giroud dan menggantikannya dengan Gabriel Paulista. Manajer asal Perancis tersebut beralasan bahwa Giroud memang sedikit bermasalah dengan ankle-nya. Sehari sebelum laga pun, Giroud tidak ikut berlatih. Selain soal kebugaran, Wenger membutuhkan pemain dengan tipe runner untuk urusan counter attack. Bermain dengan 10 pemain menyulitkan Arsenal ketika transisi serangan.

Alasan tersebut memang masuk akal. Setelah kartu merah, Arsenal dipaksa turun lebih dalam. Kedua pemain di sisi lapangan, yaitu Theo Walcott dan Joel Campbell pun harus menyesuaikan. Oleh sebab itu, pemain dengan tipe runner akan lebih berguna ketika Arsenal naik menyerang. Meskipun beberapa kali harus turun begitu dalam dan kehilangan momen untuk menyerang, Arsenal sebenarnya tidak kekurangan “cara” untuk masuk ke kotak penalti. Boleh dibilang, Arsenal mendapatkan solusi untuk bermain dengan 10 pemain sebelum babak pertama berakhir.

“Cara” ini tercipta juga karena organisasi pertahanan Chelsea tidak terlalu rapat. Meski menempatkan Mikel dan Matic sebagai double defensive midfielder ketika keduanya drop deep, Arsenal masih mampu menemukan celah. Hal ini dipicu oleh pemosisian diri Walcott yang strategis ditambah aksi-reaksi dari Branislav Ivanovic yang “tertarik” dengan pergerakan Walcott. Dua kali Walcott berhasil menyelinap ke belakang Ivanovic yang cenderung lambat ketika membalikkan badan dan mengejar bola di belakangnya. Sayang, kedua situasi tersebut berakhir dengan Walcott yang tertangkap offside. Hal ini hanya soal timing sprint jarak pendek yang salah.

2

Mesut Ozil menjadi outlet serangan ketika Arsenal mampu melewati block dari Fabregas dan Matic/Mikel. Saat Arsenal mendekati kotak penalti Chelsea, beberapa kali Ozil masuk ke zona 5 (terkadang di belakang atau di antara Mikel dan Matic). Pemosisian ini bertujuan untuk menarik double defensive midfielder tersebut untuk turun lebih dalam. Ketika bola disirkulasikan ke sisi lapangan, Ozil akan sedikit turun dan memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan Mikel atau Matic. Beberapa kali Ramsey juga memanfaatkan ruang tersebut dan sempat melakukan kombinasi wall pass dengan Ozil sebelum pemain asal Wales tersebut kesulitan melepas tembakan dengan kaki lemahnya.

3

Grafis di atas merupakan gambaran pemosisian Ozil ketika Giroud ditarik keluar. Dengan menciptakan ruang, maka Ozil akan mendapatkan waktu untuk kembali mensirkulasikan bola atau melepas umpan terobosan.

Nah, selain menciptakan ruang bagi Ozil di depan kotak penalti Chelsea, Arsenal juga lebih banyak mengeksploitasi Ivanovic. Overlap yang dilakukan Monreal merupakan distraction yang bagus bagi bek kanan asal Serbia tersebut. Ketika 2 atau 3 pemain Arsenal berada di sisi wilayah Ivanovic, antara Mikel atau Matic akan mendekat untuk membantu dan mengatasi overload yang berusaha diciptakan pemain Arsenal.

Terjadi kecenderungan pada Kurt Zouma untuk mendekat ke wilayah tersebut. Otomatis, John Terry akan menyesuaikan diri dan menjaga jarak dengan duetnya. Perubahan yang terjadi karena sebab-akibat ini justru mengacaukan koordinasi jarak antara Terry dan Cesar Azpilicueta. Jarak keduanya menjadi tidak ideal. Hal ini terlihat ketika Flamini berani masuk ke kotak penalti dan mendapatkan bola di belakang Terry. Sayang, gelandang magis asal Perancis tersebut justru mencoba melepas tendangan dengan teknik kungfu ketimbang dengan tenang menguasai bola.

4

Hingga babak pertama berakhir, pilihan bermain Arsenal ini tidak bisa dibilang keliru. Mejadi salah kerena “cara” ini tidak diulangi di babak kedua. Chelsea yang tidak bermain terlalu rapat sebenarnya sangat membantu Arsenal menemukan “cara” untuk masuk ke kotak penalti.

Perubahan Babak Kedua

Di babak kedua, entah mengapa Arsenal tidak mengulangi “cara” seperti dijelaskan di atas. Padahal, Chelsea pun tidak mengubah komposisi pemain dan cara bermain. Sebelum Alexis masuk menggantikan Joel Campbell, progresi serangan Arsenal dan usaha menciptakan situasi yang sama selalu kandas karena urusan elementer. Ramsey, yang harusnya “membawa bola” ke wilayah Chelsea justru membuat beberapa kesalahan passing dan salah mengontrol bola yang berujung pada kehilangan penguasaan.

Selepas Alexis masuk, apalagi setelah pemain asal Chile tersebut beradaptasi dengan laga, Arsenal menemukan solusi baru untuk masuk ke kotak penalti. Alexis, yang mempunyai kemampuan direct run dan keberanian melepas umpan terobosan memberi Arsenal “cara” baru. Sayang, “cara” ini terlalu bergantung kepada atribut individu si pemain, bukan proses yang justru esensial. Sebenarnya, perubahan ini hanya disebabkan oleh perbedaan kecil, yaitu posisi Alexis ketika menerima bola sering terlalu jauh dari kotak penalti lawan.

Ketika masih bermain di sisi kiri, Walcott lebih sering memosisikan diri setinggi mungkin, bahkan mendekati Ivanovic sebelum menerima umpan. Posisi ini lebih menguntungkan karena lebih dekat dengan kotak penalti sehingga Arsenal tidak kehilangan momentum. Namun sekali lagi, ketika proses ini berjalan dengan pas, Walcott justru berkali-kali kehilangan timing untuk sprint dan terjebak offside.

5

Grafis di atas adalah gambaran rata-rata lokasi di mana Alexis menerima bola. Bandingkan dengan dua grafis sebelumnya di mana Walcott menunggu Ozil untuk mendapatkan timing melepas umpan terobosan sebelum menyediakan diri untuk menerima umpan.

Perbedaan kebiasaan cut inside antara Walcott dan Alexis ini merupakan detail kecil yang mungkin tidak terasa, namun berpengaruh dalam pilihan Arsenal mensirkulasikan bola ketika mencapai pertahanan Chelsea. Walcott, yang lebih seperti penyerang, lebih nyaman menerima bola ketika mencapai kotak penalti, sedangkan Alexis lebih ke tipe “pengolah” dan ikut terlibat dalam build-up. Sebuah perbedaan kecil yang memengaruhi “cara” Arsenal untuk mencoba menciptakan peluang.

Terlepas dari urusan detail kecil tersebut, Arsenal tetap mampu menciptakan peluang. Chelsea pun gagal mengambil keuntungan dari unggul jumlah pemain. Perhatikan grafis Expected Goals dari Michael Caley di bawah ini. Arsenal tetap mampu mendekati gawang Chelsea. Soal finishing memang menjadi masalah.

xG

Cari tahu lebih soal Expected Goals (xG) lewat Twitter Michael Caley: @MC_of_A

Kesimpulan

Setelah bermain dengan 10 orang, Arsenal sempat kesulitan menyerang. Namun, penyesuaian posisi Ozil membuat The Gunners menemukan pijakan “cara” untuk masuk ke kotak penalti Chelsea sebelum babak pertama berakhir. Terjadi perubahan “cara” ketika Alexis Sanchez masuk. Meskipun akhirnya gagal mencetak gol, Arsenal tidak menemui kesulitan untuk menciptakan peluang. Hal ini harus menjadi catatan bahwa mencetak gol tak melulu menjadi tanggung jawab striker. Kembali, bukan soal siapa yang bermain, namun bagaimana sebuah tim berproses dan mengambil keuntungan ketika memungkinkan.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *