#MenolakLupa: Surat buat Kanu

Masih ingat dengan kaka’ berkaki jenjang satu ini? Masih ingat tiga gol ajaib ke gawang Ed de Goey? Tentu ingat juga beliau ini salah satu supersub Arsenal zaman dulu. Apa kabar Nwanko Kanu?

SIDE DISH dari: @handyfernandy

Hai Kanu, apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja dan tak kekurangan apa pun, semoga. Oh iya, sebelumnya aku minta maaf kalo kamu mungkin sedikit terkejut dengan surat yang aku buat ini. Di era serba instan saat ini, aneh juga rasanya bila masih menulis surat. Padahal, untuk bertegur sapa antara idola dan penggemar, bisa melalui media sosial seperti Facebook atau Twitter. Ah tak apalah, mungkin saat ini kamu hanya senyum-senyum saja membaca tulisan ini.

Denger-denger pasca pensiun sebagai pemain bola, kamu lagi sibuk banget yah sama yayasan yang kamu bikin itu, apa yah namanya? Oh iya, aku baru inget, namanya The Kanu Heart Foundation. Sebuah yayasan yang kamu buat untuk menolong anak-anak di Afrika yang menderita kelainan jantung.

Kamu itu baik hati banget yah. Walau seorang idola dan mantan pemain besar, namun tak menghalangi misi kemanusiaan yang kamu cetus sendiri pada tahun 2000 lalu. Sering kali, kamu harus merogoh dana pribadi untuk membesarkan yayasan tersebut. Untuk itu, aku menaruh respect. Semoga hal ini datang dari sanubari yang terdalam yah, bukan dibuat hanya untuk pencitraan semata. Eh iya, Kamu tau gak kalo pencitraan tuh biasa banget di negeri aku, Indonesia. Eh kamu tau Indonesia gak? Ah, lupakan.

Kalo aku kepo data kamu di wiki, kadang aku mikir kamu tuh keren yah pas masih muda belia. Ketika Samuel Eto’o bukan siapa-siapa dan George Weah masih dipuja-puji dunia sebagai pemain terhebat Afrika, Kamu muncul sebagai idola baru.

Inget gak kamu pas berlaga Piala Dunia U-17 di Jepang tahun 1993 lalu. Seenaknya saja kamu mengacak-ngacak dominasi dunia dengan mengantar tim nasional Nigeria U17 juara di ajang tersebut. Tak hanya itu, saat babak kualifikasi grup, kamu ngamuk dengan mencetak 5 gol di tiga laga. Saking khilafnya, gawang Kanada kamu masukin 3 gol sekaligus. Kasian kan kipernya, baru main udah kemasukan 8 gol, 3 gol plus 5 dari teman-teman kamu.

Otomatis, dengan kemampuan yang kamu tunjukan selama ajang tersebut membuat nama kamu berada di daftar incaran klub Eropa. Siapa yang tidak mau dengan striker jangkung bertinggi 197 cm yang haus gol? Barangkali Ajax beruntung mendapatkan tanda tangan kamu. Terbukti, selama dua tahun di sana, kamu berhasil memborong gelar Liga Champions dan juara Eredivisie sebanyak tiga kali.

Sayangnya, catatan baik di Ajax harus hancur ketika pindah ke Inter Milan. Kamu masih inget gak ketika divonis dokter menghidap kelaian jantung sehingga mau tak mau kamu lebih sering menghabiskan waktu untuk terapi penyembuhan ketimbang beraksi di lapangan. Bayangkan, selama di Ajax, kamu mampu mencetak 25 gol dari 54 laga. Sedangkan saat bermain di Giuseppe Meazza, kamu hanya bermain sebanyak 12 laga dan hanya mencetak satu gol saja.

Hal ini juga sempat membuat publik sepak bola dunia khawatir. Bayangkan, pemuda yang saat itu baru berusia 22 tahun harus menamatkan karier sepak bola lebih awal lantaran penyakit yang menjadi pembunuh nomor satu di dunia tersebut.Namun Tuhan sungguh baik. Di tengah ujian yang Ia berikan kepada kamu, tersimpan sebuah hal indah di depan. Di tengah ketidakjelasan karier kamu sebagai pemain sepak bola,  tiba-tiba ada tawaran dari Arsenal.

Aku rasa, kamu patut berterima kasih kepada Arsène Wenger. Pria yang dijuluki oleh orang-orang The Professor ini adalah otak di balik kepindahan kamu dari Inter ke Arsenal. Bisa dikatakan, kamu merupakan salah satu pionir dari proyek pemain muda yang dikembangkan oleh Arsenal. Kebijakan merekrut pemain muda dengan harga murah ini merupakan bukti canggihnya isi otak Wenger. Bayangkan, ketika merekrut kamu dari Inter Milan dana yang dikeluarkan oleh Arsenal cuman 4,15 juta Poundsterling saja!

Aku masih ingat betul kedatangan kamu pertama kali di Arsenal. Potongan kamu masih kek macem tentara Kongo sebelum akhirnya mampu beradaptasi dan tampil lebih stylish dengan dreadlock kekinian. Kamu pasti happy-happy banget yah pas di Arsenal, di mana kemampuan terbaik kamu muncul lagi. Puncaknya musim 1999/2000, ketika kamu berhasil (kembali) meraih gelar pemain terbaik Afrika karena catatan impresif, yakni 17 gol dari 50 laga!

Salah satu peristiwa epik yang selalu terkenang sebagai cult hero oleh publik pecinta sepak bola Inggris adalah momen hattrick yang kamu ciptakan ke gawang Chelsea. Peristiwa tersebut dikenang dengan Kanu Believe It. Namamu, Kanu, mengantikan kata can you yang diucapkan oleh komentator di pertandingan tersebut.

Bayangkan, setelah Arsenal ketinggalan dua gol di babak pertama lewat Tore Andre Flo dan Dan Petrescu, dengan gagahnya kamu mengobrak-abrik gawang Ed De Goey yang suci selama babak pertama. Kamu hanya butuh 15 menit di babak kedua untuk mencetak hattrick dan mengubah keadaan menjadi 3-2, sekaligus menjadi legenda abadi bagi Arsenal.

Meski pada tahun-tahun setelah ini peran kamu tak begitu maksimal, namun nama kamu akan tetap terkenang oleh publik The Gunners lantaran kamu juga termasuk dari skuat the Invincibles.

Nama Kanu merupakan sebuah representasi prestasi. Lima tahun bersama Gudang Peluru, kamu mampu menorehkan lima tropi bergengsi. Dua gelar Premier League, Satu Piala FA, dan satu Community Shield. Mengakhiri surat ini, aku berdoa semoga kamu selalu sehat dan besar harapan saya agar kamu tetap melanjutkan kegiatan kemanusiaan yang selama ini kamu rintis.

Dari Pengemarmu,

Handy Fernandi

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *