Arsenal 0-0 Southampton: Ruang Antarlini Yang Tidak Dimaksimalkan

Sungguh disayangkan. Ketika tidak bermain baik namun tetap mampu menciptakan peluang emas, sebuah tim seharusnya mampu memaksimalkannya. Menang dengan tampil buruk pun terkadang dimaafkan. Apalagi ketika sebuah tim tersebut membutuhkan 3 angka supaya tidak tercecer dari pacuan juara.

Leicester City, Manchester City, dan Tottenham Hotspur berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hasil imbang melawan Southampton dini hari tadi membuat Arsenal tercecer ke peringkat keempat. Poin Arsenal berhasil disamai Spurs dan tertinggal 2 poin dari City. Sementara itu, Arsenal tertinggal 5 poin dari Leicester di puncak klasemen.

Susunan Pemain

Melawan Southampton, Arsene Wenger memutuskan menduetkan Mathieu Flamini dan Aaron Ramsey sebagai double pivot. Francis Coquelin masih duduk di bangku cadangan lantaran belum mencapai kebugaran terbaik. Sementara itu, Mohamed Elneny masih belum menjadi pilihan utama lantaran dinggap masih dalam tahap adaptasi. Untuk posisi lain, Arsenal tidak membuat perubahan berarti.

Southampton sendiri tidak membuat banyak perubahan dibandingkan pertemuan pertama mereka. Hanya saja, kini Cedric mengisi pos bek kanan yang dulu diisi Cuco Martina. Victor Wanyama dan Oriol Romeu menjadi pilihan Ronald Koeman sebagai dua gelandang sentral. Keduanya bukan benar-benar double pivot yang bertahan. Keduanya sering naik ke sepertiga lapangan Arsenal dan masing-masing bergerak ke sisi lapangan untuk menciptakan superioritas jumlah. James Ward-Prowse dan Dusan Tadic bermain lebih narrow dan starting point-nya ada di half space masing-masing lapangan. Shane Long, yang menjadi ujung tombak banyak turun ke tengah dan sisi lapangan. Bersama Wanyama, Romeu, dan Sadio Mane, Ward-Prowse dan Tadic bermain cukup rapat dan menambah jumlah pemain di lapangan tengah.

Kedua tim bermain dengan skema dasar 1-4-2-3-1.

1

Permasalahan Progresi dan Ruang Antarlini

Seperti penulis sebutkan di atas, baik Wanyama maupun Romeu merupakan double pivot yang cukup sering naik ke area nomor 8. Wanyama lebih bertipe perebut bola, terutama tugasnya mencegah baik Flamini atau Ramsey nyaman menguasai bola di lingkaran tengah. Di sisi kanan lapangan The Saints, beberapa kali Wanyama mendekati Mane ketika Flamini-Nacho Monreal menguasai bola. Kedunya mendapatkan tambahan tenaga dari Ward-Prowse yang narrow. Sebaliknya, di sisi kiri, Romeu akan mendekati Mane dan Tadic apabila Ramsey-Hector Bellerin menguasai bola. Wanyama dan Romeu terkadang bertukar tempat.

2

Ketika Flamini menguasai bola di half space kiri atau terkadang melebar (berdekatan dengan Monreal). Mane dan Ward-Prowse akan segera memberi tekanan. Dari bawah, Wanyama mendekati pressing kedua rekannya dan membuat Southampton unggul secara kuantitatif. Terlihat jalur passing ke Alexis ditutup oleh Ward-Prowse dan Cedric membayangi pemain asal Chile tersebut. Otomatis, akan terbentuk pola pikir bahwa jalur passing paling aman adalah menuju Monreal.

Jika bola memang diberikan kepada Monreal, baik Wanyama dan Ward-Prowse akan berhenti melakukan pressing dan turun lebih dalam. Mane dan (terkadang Shane Long) bergantian memberi tekanan. Melihat situasi tersebut, maka progresi Arsenal terhambat dan Monreal hanya bisa memberikan bola, baik kembali ke Petr Cech atau kepada Gabriel. Ketika bola kembali ke bek atau kiper, pemain-pemain Southampton akan sudah turun dan membentuk kompaksi bertahan yang ideal bagi mereka.

Ketika gagal melakukan progresi menyerang dengan baik, sebuah tim akan gagal memanfaatkan momentum. Lawan akan lebih siaga ketika sudah turun lebih dalam dan “menunggu” dengan kompaksi yang lebih baik. Masalah progresi Arsenal ini menjadi lebih pelik lantaran baik Flamini maupun Ramsey tidak mempunyai atribut untuk berperan sebagai deep-playmaker yang berani mengambil risiko melepas umpan vertikal atau menggiring bola lebih tinggi dan merusak bentuk pertahanan lawan di tengah seperti yang dilakukan Santi Cazorla.

Progresi terhambat dan opsi yang terbatas akan membuat seorang pemain memilih jalur aman untuk memindahkan bola. Ketika Flamini dan Ramsey menguasai bola, keduanya akan lebih banyak menyebar umpan ke sisi lapangan. Keduanya kesulitan untuk memindahkan bola ke sisi lapangan lainnya atau terkadang tidak berani melepas umpan vertikal. Nah, di sini muncul masalah baru yang menghambat progresi menyerang.

Masalah yang dimaksud adalah pemosisian diri Mesut Ozil. Misalnya ketika Flamini menguasai bola dan ditekan Mane, Ward-Prowse, dan Wanyama, playmaker asal Jerman tersebut justru lebih sering mendekatkan diri kepada Jose Fonte. Dengan kata lain, Ozil berdiri terlalu tinggi dan tidak memanfaatkan ruang antarlini di antara gelandang bertahan dan bek tengah. Padahal, ruang antarlini ini beberapa kali tidak “berpenghuni” dan akan menarik apabila dimanfaatkan.

3

Bagian grafis yang gelap adalah sebuah ruang antarlini yang tidak dimanfaatkan Ozil dengan baik. Posisinya yang terlalu tinggi dan dekat dengan Fonte membuat Flamini ragu untuk mengirim umpan vertikal. Rekannya di tengah, Aaron Ramsey pun tidak berinisiatif untuk masuk ke lokasi tersebut. Akibatnya, di dalam kepala Flamini akan terbentuk konsep “umpan vertikal akan bahaya” karena pemain lain tidak menyediakan diri. Ini adalah masalah klasik Arsenal (dan Liga Inggris), yaitu masalah pemanfaatan ruang. Apabila Ozil berinisiatif untuk sedikit turun, ia akan mendapatkan banyak opsi untuk mengirim umpan masuk ke kotak penalti. Misalnya perhatikan grafis di bawah:

4

Perhatikan pergerakan Ramsey yang mendekati Wanyama. Gerakan sederhana tersebut akan menggangu perhatikan Wanyama dan memberi Flamini sedikti waktu untuk mengirim umpan vertikal kepada Ozil yang turun ke ruang antarlini. Romeu sendiri tersita perhatiannya oleh Joel Campbell yang masuk ke lapangan tengah. Ozil, yang menerima bola di area nomor 6 akan terbebas dari penjagaan Fonte untuk beberapa detik. Rentang waktu yang singkat tersebut sudah cukup untuk memilih umpan terobosan kepada Alexis yang cutting inside setelah berputar mengecoh Cedric atau kepada Giroud yang masuk ke kotak penalti sambil menutup arah lari Van Dijk di belakangnya. Dua opsi sederhana yang tentu dapat berbuah gol.

Berikut beberapa contoh bagus apabila ruang antarlini dimanfaatkan secara ideal oleh Ozil

vs Manchester United

5

vs Manchester City

6

vs Chelsea

7

Tiga contoh di atas merupakan situasi di mana Ozil menemukan dan menciptakan ruang di antara bek dan gelandang bertahan lawan. Ketiga situasi tersebut berbuah positif bagi Arsenal, yaitu penciptaan peluang ketika melawan United dan Chelsea dan menjadi gol ketika melawan City. Melawan The Saints, Arsenal gagal menciptakan situasi yang sama dan Ozil gagal “menemukan” ruang tersebut.

Terlepas dari gagalnya Arsenal mencetak gol, laga tersebut atau tulisan ini tidak benar-benar menggambarkan bahwa pertahanan Southampton sangat solid. Beberapa kali justru kecerobohan passing pemain Arsenal sendiri yang menggagalkan proses build-up dari bawah. Tercatat dua kali Ozil mampu berada dalam situasi satu lawan satu dengan Forster. Bahkan tendangan Alexis hampir pasti menjadi gol apabila tidak dibuang oleh Ward-Prowse di garis gawang. Secara keseluruhan, Forster juga bermain apik di bawah mistar Southampton.

Catatan

Seperti yang disinggung di awal tulisan ini bahwa meski tidak bermain baik, namun Arsenal masih mampu menciptakan beberapa peluang emas. Jika situasi ini terjadi lagi di lain pertandingan, ketenangan masing-masing pemain (bukan hanya striker) yang akan menjadi pembeda. Jelas, kemenangan terkadang ditentukan oleh DETAIL KECIL seperti: Ketenangan. Pada akhirnya, bukan masalah kecil juga bukan? Keep the faith!

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *