Sisa Orkestra Manis Mozart di London

Baru beberapa saat lalu saya menyelesaikan satu tulisan tentang legenda klub tetangga sebelah yang kemungkinan akan pergi di akhir musim nanti. Sebenarnya, saya bukan peminat kisah sedih berakhirnya jalinan kontrak satu pemain dengan klub tertentu. Lagipula, Arsenal, tempat kita semua (eh, pembacanya Gooner semua kan? hehe) melabuhkan hati dan kegilaan sepak bola, sudah terbiasa ditinggalkan. Praktis, seingat saya, hanya Dennis Bergkamp yang pensiun di London Utara. Sisanya menghabiskan karier di luar Arsenal dan meraih gelimang gelar pun di luar.

Thierry Henry bergelimang gelar di Barcelona sebelum menutup karier di kota bising Amerika Serikat sana. Patrick Vieira juga sedari lama meninggalkan Arsenal untuk berpetualang di Italia dan menutup karier justru di Manchester City. Vieira bahkan sempat menjadi staf di manajerial City, sebelum akhirnya resmi menjadi pelatih kepala New York City FC di Major League Soccer (MLS). Robert Pires, Freddie Ljungberg, Nwankwo Kanu, Sol Campbell hingga Jens Lehmann, semuanya mengakhiri karier di luar Arsenal. Mungkin untuk angkatan Tony Adams dkk, hanya Bergkamp yang benar-benar dilepas dengan romantis oleh Arsenal. Walau, kenyataannya, memori kita tentang mereka yang pergi, tetap menganggap sebagai legenda. Kecuali, Cesc Fabregas dan si keparat dari Rotterdam itu yang sekarang di……Liga Turki.

***

Saya tahu Tomas Rosicky justru bukan dari Arsenal. Rekam jejaknya memang cukup baik di Borussia Dortmund saat itu. Teman seperjuangannya yang saya tahu betul ya David Odonkor dan Christoph Metzelder. Dulu, Odonkor ini yahud betul kalau dimainkan di Playstation. Larinya macam Ryo Miyaicihi. Tapi yang menyita perhatian dari skuat Dortmund saat itu adalah Rosicky. Tidak heran kemilau Rosicky begitu gemerlap di sana. Winger elegan Jerman, Marco Reus, mengakui dengan jujur kekagumannya akan Rosicky dan menjadikannya idola. Julukan Little Mozart bukan isapan jempol belaka bagi Rosicky.

Ia salah satu tipe playmaker modern, mengingat di zaman 2000-an awal itu, Juan Roman Riquelme masih memainkan sihirnya di Eropa bersama Villareal. Ketika datang ke Arsenal di musim 2006-07, saya sudah antusias. Mengetahui rekam jejak briliannya bersama Dortmund, Rosicky bisa membentuk lini tengah solid yang sudah ditinggal berturut-turut oleh Patrick Vieira dan Robert Pires. Freddie Ljunberg pun sudah uzur. Hanya menyisakan anak muda Catalan yang memang dipersiapkan Arsene Wenger untuk membangun tim di sekelilingnya.

Mudah saja menyukai Rosicky. Pembawaannya riang. Ia memang datang ke Arsenal dengan usia yang sangat matang, 25 tahun. Lewat pengalaman menjuarai Bundesliga di usia muda bersama Dortmund, dan statusnya sebagai kapten di timnas Ceko, mudah saja bagi Rosicky membantu menstabilkan lini tengah Arsenal saat itu yang masih bisa digambarkan sekilas sebagai kapal pecah. Hanya ada Cesc Fabregas yang matang. Mathieu Flamini juga anda tahu sendiri kiprahnya bagaimana sebagai gelandang, bukan?

Memang ada nama Alex Song dan Denilson, namun keduanya masih sangat hijau waktu itu. Abou Diaby masih belum berkutat dengan cedera, namun performanya tak stabil. Alexander Hleb pun kerap tampil tidak konsisten seperti Fabregas. Ketatnya dana untuk pengeluaran transfer karena imbas pembangunan stadion baru membuat skuat Arsenal saat itu susah untuk dikembangkan seperti sekarang. Aaron Ramsey belum datang. Jack Wilshere masih bergaul bersama Benik Afobe dan Emmanuel Frimpong di tim junior. Bayangkan kalau Arsenal pernah mengalami fase seperti itu, dan berbahagia lah, karena Wenger mampu mendatangkan Rosicky saat itu. Dan bersyukurlah, Arsenal memiliki Santi Cazorla, Francis Coquelin, bahkan Mesut Ozil saat ini.

Bicara Rosicky, mau tidak mau membicarakan julukannya sebagai Little Mozart. Menarik, karena Rosicky sendiri seorang gitaris handal dan tidak terlalu menyukai musik-musik klasik khas aristokrat Eropa. Ia juga bukan maestro orkestra  yang handal. Kalau boleh memilih, tentu ia akan dengan senang hati berkolaborasi dalam satu gig dengan Petr Cech yang menabuh drum dengan balutan musik rock yang menghentak dan berirama cepat.

Karena memang seperti itu tipikal Rosicky. Ia menghentak dan cepat. Ia mendominasi lapangan tengah dengan cara progresif, bukan seperti Riquelme yang romantis dan kalem. Rosicky berlari, mengumpan, dan membuka ruang dengan cepat. Tendangan jarak jauhnya akurat. Gol perdananya di Liga Champions bagi Arsenal, ke gawang bekas klubnya, Sparta Praha, tercipta dengan cantik melalui tendangan jarak jauh yang jitu. Memang seperti itulah Rosicky. Ia terlalu cepat mendominasi lini tengah Arsenal sampai perlahan saya abai bahwa frasa “menikmati waktu” tak bisa benar-benar digunakan untuk Rosicky. Waktu terlalu cepat berlalu untuk Rosicky dan Arsenal.

Kenangannya dalam mencetak gol-gol manis untuk Arsenal perlahan mulai terkikis oleh fakta bahwa bersama Mikel Arteta dan Mathieu Flamini, ia akan dilepas di akhir musim nanti. Tendangan cannonball­-nya ke gawang Tottenham Hotspur tiga musim lalu, atau gol Wengerball-nya ke gawang Sunderland di musim yang sama, akan mengendap dan menjadi kenangan luar biasa bagi beberapa gelandang generasi baru di Arsenal. Rosicky adalah penanda zaman. Sadar kah kalau sejak era Fabregas dan eksodus gelandang keluar meninggalkan Arsenal, hanya Tomas Rosicky yang masih bertahan? Flamini pun, sempat mencicipi Liga Italia beberapa musim sebelum kembali ke Arsenal. Hanya Rosicky yang melewati masa transisi itu. Merasakan bermain bersama Henri Lansbury dan Emmanuel Frimpong, hingga bersanding bersama Mesut Ozil dan Alexis Sanchez.

Mari menikmati gelora jiwa Littel Mozart lewat menit-menit video berikut:

***

Super Tom akan pergi (mungkin). Tentu akan indah betul melepasnya dengan gelar juara di akhir musim, tapi biarkan itu menjadi rahasia yang hanya Tuhan dan Leicester City yang tahu. Selain hobinya mencetak gol ke gawang Tottenham dari masa ke masa, saya menggemari potongan rambut Rosicky yang stabil sejak musim 2006 sampai sekarang. Ia hanya bertambah tua dan mulai memelihara sedikit kumis tipis-tipis. Juga jenggot tipis yang rapi di sekitar dagunya.

“I had tears in my eyes after such a long time being out”. Silakan resapi petikan wawancara Rosicky selepas laga melawan Burnley di Arsenal Player usai laga Piala FA lalu dan Anda akan tahu kenapa kepergian Rosicky adalah akhir sebuah era di sektor gelandang Arsenal.

I had tears too when I wrote this up for you, Tomas.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *