Appetizer: Block Rendah Leicester City dan Transisi Bertahan Arsenal

Hari Kasih Sayang di Premier League tidak akan benar-benar dilingkupi gairah cinta. Tertanggal 14 Februari 2016, Arsenal akan menjamu Licester City sebagai salah satu laga penting dalam pacuan kompetisi musim ini. Di sisi lain Inggris, Manchester City akan bertukar kisah kasih dengan Tottenham Hotspur. Klub mana yang akan benar-benar merasakan nikmat cinta?

Di Emirates, skuat asuhan Arsene Wenger harus mampu menundukkan Leicester City demi memangkas jarak. Saat ini, Leicester City duduk nyaman di peringkat 1, unggul 5 poin dari Tottenham Hotspur dan Arsenal. Memangkas jarak menjadi 2 poin saja jelas menguntungkan bagi Arsenal di mana Leicester masih akan menghadapi Spurs.

Perkiraan Susunan Pemain

Perkiraan susunan pemain ini dibuat berdasarkan susunan masing-masing klub dari pertandingan terakhir. Alasannya, formasi 1-4-2-3-1 Arsenal ketika dijamu Bournemouth merupakan susunan “terbaik” di mana performa setiap pemain lebih baik ketimbang yang duduk di bangku cadangan. Alex Oxlade-Chamberlain, yang mencetak gol di kandang Bournemouth masih bisa menjadi pilihan terbaik saat Joel Campbell mulai menunjukkan penurunan performa ketika ditahan imbang Southampton.

Menarik untuk menunggu apakah Wenger sudah berani menurunkan Francis Coquelin. Gelandang bertahan asal Perancis tersebut hanya turun sebagai pemain pengganti di beberapa pertandingan terakhir. Arsenal membutuhkan pemain yang mampu menahan diri untuk tidak naik terlalu jauh karena keagresifan Aaron Ramsey kudu diimbangi. Setidaknya, ketika memasuki fase transisi bertahan, Arsenal mempunyai pemain yang siap di meng-cover area yang cukup luas. Berbicara covering area, nama Mohamed Elneny juga menarik untuk kembali dipikirkan. Pemain baru tersebut mempunyai stamina dan awareness yang baik soal ruang.

1

Dari Leicester, terdapat kemungkinan manajer Claudio Ranieri tidak akan mengganti 1-4-4-2 narrow yang berhasil mencuri 3 gol di Etihad. Leicester juga kemungkinan akan banyak menggelar 1-4-4-1-1 di mana Shinji Okazaki turun ke area nomor 8 dan menambah jumlah pemain di lapangan tengah. Bentuk ini cukup sukses memaksa Manchester City bermain sesuai skenario Leicester. Riyad Mahrez dan Mark Albrighton di dua sisi lapangan akan bermain sedikit narrow untuk mempertahankan kerapatan dengan N’Golo Kante dan Danny Drinkwater. Empat pemain ini, ditambah Okazaki akan menjadi lapisan pertahanan Leicester. Jamie Vardy pun akan berorientasi untuk menekan salah satu bek tengah Arsenal atau bisa juga salah satu antara Flamini atau Ramsey.

Block Rendah Leicester City dan Transisi Bertahan Arsenal

Ada beberapa bagian menarik dari tulisan @ryantank100 di 13steps.co yang berjudul Manchester City 1-3 Leicester City.

Bagian yang penulis maksud adalah, pertama, Leicester yang tidak “menggunakan” kedua bek sayap untuk menyerang dan lebih banyak bermain direct ke kedua pemain di sisi lapangan. Kedua, terkadang Leicester bahkan langsung melepas bola jauh kepada Vardy atau Okazaki. Vardy akan berposisi di sisi lapangan ketika bola masih berada di wilayah Leicester dan membuat gerakan diagonal ketika Leicester masuk transisi menyerang. Ketiga, Kante dan Drinkwater diizinkan naik, menggiring bola, dan melakukan gerakan tanpa bola. Namun, yang paling penting tetap menjaga kestabilan di lini tengah. Maka, salah satu antara Kante atau Drinkwater akan berposisi lebih dalam.

Dari tiga hal di atas terlihat betapa efisiennya Leicester menggunakan block rendah. Kenapa efisien padahal tidak dibantu dua bek sayap ketika naik menyerang? Karena Leicester memaksimalkan salah satu “cara termudah” untuk menyerang dan bertahan. Di dalam sepak bola dikenal tiga fase yang terjadi di sepanjang pertandingan, yaitu menyerang, bertahan, dan transisi di antara keduanya. Di Inggris, boleh saja apabila pembaca menyimpulkan semua klub, belum mempunyai kewaspadaan transisi bertahan yang baik. Tentu, Arsenal masuk dalam daftar tersebut.

Ketika kehilangan penguasaan, maka sebuah tim masuk dalam transisi bertahan. Jamak terjadi sebuah tim tidak menunjukkan struktur yang baik ketika mulai bertahan. Banyak ruang yang tidak diamankan, di mana seharusnya sudah dipikirkan jauh sebelum sebuah tim berlaga. Di tengah “kekacauan” inilah Leicester mampu nampak hidup. Ketika tim berada dalam struktur yang tidak menguntungkan, Leicester memanfaatkan kantung-kantung ruang yang tersedia. Perhatikan grafis di bawah ini:

2
Transisi bertahan Manchester City yang buruk dieksploitasi Leicester dengan baik.

Grafis di atas merupakan gambaran laga City melawan Leicester. Ketika transisi menyerang, Leicester bergegas mendistribusikan bola ke depan sementara City gagal membangun struktur yang ideal untuk mencegahnya. Perhatikan posisi double pivot yang diisi Yaya Toure dan Fernandinho.  Perhatikan juga situasi yang harus dihadapi Nicholas Otamendi. Bek asal Argentina tersebut harus mewaspadai dua pemain Leicester sekaligus, yaitu Mahrez dan Okazaki. Situasi 1v2 ini tidak menguntungkan bagi Otamendi. Sementara itu, di sisi lain, Martin Demichelis harus mewaspadai pergerakan diagonal Vardy. Selebihnya pembaca paham bahwa Mahrez berhasil berproges mendekati kotak penalti dan mencetak gol.

Jadi, dengan satu contoh tersebut sudah jelas bahwa transisi bertahan Arsenal, yang sampai saat ini maish kurang baik, harus menjadi perhatikan khusus. Memang, pastinya akan susah karena mencegah lawan mengeksploitasi transisi bertahan lawan adalah urusan taktikal yang dipersiapkan jauh-jauh hari, dilatih secara intensif, dan dibekali pemain yang disiplin taktik.

Selain waspada dengan situasi transisi bertahan, urusan membongkar pertahanan Leicesters akan menjadi masalah lain. Lupakan skor 2-5 di laga pertama musim ini. Leicester mampu berkembang dengan sangat baik di setiap pertandingannya. Apa pun cara yang dipilih Wenger untuk menyerang, yang pasti tidak mudah kehilangan bola, memanfaatkan ruang antarlini dengan baik, dan (siapa saja) tidak membuang percuma sebuah peluang, adalah sikap yang harus ditunjukkan. Leicester, sekali lagi, mampu menyakiti sebuah tim yang tidak awas dengan transisi. Coba tanya Simon Mignolet.

Catatan

Lalu apakah Arsenal mampu bermain dengan struktur yang ideal dan mampu mencegah lawan memaksimalkan transisi bertahan lawan? Tentu mampu. Laga melawan Manchester United menjadi contohnya. Penulis tidak akan lelah dan bosan untuk menegaskan bahwa pada laga tersebut Arsenal menunjukkan keseimbangan terbaik saat menyerang dan bertahan.

Silakan bernostalgia dengan laga tersebut lewat:

“Arsenal 3-0 United: Eksploitasi Ruang”

 

Arsenal bisa mereprodusi taktik yang sama? Jelas bisa. Namun tentu, urusan pemilihan taktik adalah urusan Wenger. Setidaknya, tulisan ini sudah menegaskan bahwa Arsenal punya cara menghadapi Leicester yang rapat, kompak, dan punya serangan balik yang tajam.

#COYG

Comments

5 thoughts on “Appetizer: Block Rendah Leicester City dan Transisi Bertahan Arsenal”

  1. lagi lagi formasi diamond lawan MU ya gan yg terbaik. sayang AW keasyikan naro Ramsey ditengah, alih2 trio sama Elneny – Coq.

    1. memang, arsenal ini butuh 3 gelandang di tengah untuk nutup ruang yg banyak terjadi ketika bermain pake double pivot. Iya, Coq-Elneny-Ramsey mungkin akan menari. tapi, kita juga harus memahami bahwa proses adaptasi Elneny gak bisa disepelekan. proses tsb gak gampang, apalagi Elneny datang dari liga yg tingkat kompetisinya lebih rendah ketimbang Premier League. semuanya proses kok, terlepas dr kualitas Elneny yg memang bagus.

  2. Menurut penulis apakah Per atau Gabriel yang cocok untuk laga kali ini? Kalau saya sendiri lebih memilih Gabriel yang punya daya recovery yang baik dalam mengejar bola-bola terobosan, apalagi dengan Vardy yang lincah.

    Untuk sisi kanan sepertinya Chambo memang akan menjadi starter, walaupun saya lebih condong memilih Campbell yang lebih rajin membantu Bellerin ketika bertahan. Chambo lebih memiliki kecepatan untuk counter-attack, tetapi terkadang decision making dia masih kurang tepat. Menurut penulis bagaimana?

    Nice post!

    1. > Per atau Gabriel

      Sampai Minggu siang ini disebutkan kalau Gabriel cedera dan gak ikut latihan kemarin. Otomatis, Per yg akan main. Tapi kalau kemarin hanya jaga2, bisa juga Gabriel yg akan tetep main. Alasannya, di 3 pertandingan terakhir, Kos-Gab selalu jadi pilihan utama. Kalau kayak gitu pasti ada rencana jangka panjang. Gak cuma karena alasan Per yg kena kartu merah.

      Kalau suruh memilih sih, masih prefer Per. Karena, dia dan Kos udah cocok banget. Punya kemampuan yg berbeda dan bisa saling cover. Masalah Gabriel sekarang kan dia blm fasih bhs Inggris. Ini bs jadi penghambat komunikasi. Sepak bola bkn sekadar lari2an kayak lomba lari. Pertemuan pertama, dg Kos dan Per, Arsenal bisa meredam Vardy.

      > Chambo atau Joel?

      Waktu melawan Southampton kemari, terlihat ada penurunan peforma pada diri Joel, makanya Chambo dipercaya. Saya setuju dg anggapan Joel lbh rajin. Dia lebih bisa bertahan. Tap jangan lupa Chambo pun bisa bertahan bagus kalau performanya sedang bagus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *