Main Course: Panggung Drama Arsenal

Drama.

Dua pemain pengganti mencetak gol kemenangan. Theo Walcott dan Danny Welbeck memberi Arsenal satu kesempatan bernafas di tengah pacuan juara Premier League musim ini. Panggung drama Arsenal, menyajikan raung amarah manusia, deru pacu jantung gelisah, dan tangis bahagia di penghujung laga.

Jarak lima poin antara Leicester City dengan Arsenal nampak jauh. Apalagi, sang tamu baru saja mempecundangi Manchester City di Etihad Stadium. Maka tidak heran apabila banyak yang memprediksi Arsenal akan menjadi korban selanjutnya. Namun tadi malam, The Gunners memberi bukti bahwa kompetisi belum benar-benar selesai sebelum peluit penghabisan ditiup.

Tertinggal oleh penalti komikal Jamie Vardy, Arsenal harus mendaki gunung untuk mencetak kemenangan. Susah payah skuat asuhan Arsene Wenger tersebut mencatatkan kemenangan. Sebuah kemenangan penting untuk terus menjaga kaki Arsenal di jalur yang benar.

Susunan Pemain

Seperti yang sudah disinggung di Appetizer: Block Rendah Leicester dan Transisi Bertahan Arsenal, Leicester tidak melakukan perubahan dari susunan pemain yang berlaga di kandang Manchester City. Skuat asuhan Claudio Ranieri tersebut mempertahankan skema 1-4-4-2 narrow yang cenderung bertahan rendah dan mencoba menyerang ketika lawan memasuki transisi bertahan.

Sementara itu, Wenger yang masih menggelar 1-4-2-3-1 melakukan 2 perubahan. Francis Coquelin akhirnya bermain sejak awal menggantikan Mathieu Flamini. Sebelumnya, Coquelin lebih banyak bermain sebagai pemain pengganti karena belum mencapai kebugaran paling ideal. Perubahan kedua adalah memainkan Per Mertesacker menggantikan Gabriel yang cedera saat latihan. Selebihnya tidak ada perubahan yang dilakukan Wenger.

1

Catatan Terkait Struktur

Ketika menguasai bola, Nacho Monreal dan Hector Bellerin akan naik dan menjadi 2 pemain terluar. Sementara itu, Alexis Sanchez dan Alex Oxlade-Chamberlain akan sedikit masuk ke half space. Keberadaan dua pemain di half space dan sisi lapangan menjadi penting untuk menarik keluar block pertahanan rapat Leicester yang rendah dan kompak.

Seharusnya, bentuk seperti ini bisa diterima karena memberi Arsenal banyak opsi untuk progresi positif (menyerang). Sayangnya, antara Mesut Ozil atau Aaron Ramsey tidak memosisikan dirinya secara ideal. Lini tengah Arsenal menjadi cenderung flat dan tidak memaksimalkan ruang antarlini dengan baik. Akibatnya, Arsenal hanya mampu mensirkulasikan bola lewat sisi lapangan (1 dimensi) atau menarik kembali penguasaan kembali ke belakang (bek).

2

Situasi ini sering terjadi ketika Arsenal menguasai bola di babak pertama, entah di sisi kiri atau sisi kanan lapangan. Perhatikan daerah yang diarsir pada grafis di atas. Seharusnya, salah satu antara Ozil atau Ramsey berani naik ke zona tersebut dan menyediakan diri sebagai penerima umpan. Atau, salah satu antara Alexis atau Chambo juga bisa masuk lebih dalam ke zona tersebut. Intinya adalah menciptakan bentuk segitiga atau diamond untuk menghasilkan progresi yang lebih bersih.

Untungnya, pemain di sisi lapangan Leicester sendiri sering kerepotan apabila terjadi situasi 1v1. Setidaknya terjadi 3 kali Chamberlain dan Bellerin memenangi situasi 1v1 dan masuk ke kotak penalti. Sisi lapangan Leicester menjadi lebih solid ketika salah satu antara N’Golo Kante atau Danny Drinkwater ikut melakukan overload di sisi lapangan.

Situasi gelandang-gelandang Arsenal ini harus segera diperbaiki. Jelas, apabila sebuah tim mampu menciptakan jalur progresi yang lebih bersih, maka usaha mencetak gol menjadi lebih maksimal. Semakin lancar perpindahan bola ke dalam kotak penalti lawan, semakin besar kemungkinan mencetak gol.

Sirkulasi Bola dan Kartu Merah

Arsenal banyak menggunakan dua bek tengahnya untuk menghindari pressing gelombang pertama Leicester City yang dilakukan oleh Jamie Vardy dan Shinji Okazaki. Lewat situasi ini, Arsenal banyak mendapatkan menyebar umpan ke bek sayap atau membuka jalur passing langsung ke daerah #8 Leicester. Sayang, lagi-lagi, bentuk gelandang yang hampir flat membuat Arsenal sangat kesulitan meladeni Kante dan Drinkwater.

Keadaan sedikit berubah ketika Danny Simpson mendapatkan kartu merah. Ranieri membuat perubahan dengan menarik keluar Riyad Mahrez dan menggantinya dengan Marcin Wasilewski. Pergantian ini memaksa Okazaki turun lebih jauh dan Leicester menjadi 1-4-4-1. Perubahan tersebut membuat Arsenal mendapatkan ruang yang cukup lega untuk mensirkulasikan bola di area #8. Ketika Coquelin digantikan Theo Walcott, Ramsey dan Chamberlain banyak menemukan ruang yang kosong sebagai jembatan memindahkan bola dari sisi lapangan yang satu ke sisi yang lain.

Lebih mudah menjangkau sisi lapangan via lapangan tengah membuat Arsenal mendapatkan akses mengirim umpan silang dari titik yang lebih ideal. Ketika bola berada di sisi lapangan, baik Walcott (di kanan) atau Alexis (kiri) mendapatkan waktu dan opsi yang cukup.

3

Empat pemain Leicester City (Okazaki, Drinkwater, Kante, dan Albrighton) turun terlalu dalam sementara Vardy terisolasi di depan. Oleh sebab itu, Leicester hanya mendandalkan bola daerah untuk membawa Vardy dalam progresi menyerang mereka. Calum Chambers, yang masuk menggantikan Koscielny dimudahkan tugasnya dengan cara bermain Leicester ini. Praktis, aksi bertahan Chambers (dan Per) rata-rata adalah antisipasi bola direct dan mengamankan second ball.

Dengan keleluasaan yang didapat Ramsey dan Chamberlain, Arsenal punya opsi untuk memindahkan ruang permainan. Eksploitasi sisi lapangan pun beberapa berbuah peluang dan salah satunya menjadi gol ketika Giroud mampu menarik Robert Huth dan Wes Morgan untuk meng-cover dirinya. Tentu, situasi 2v1 membuat Walcott bebas dan berhasil memaksimalkan bola pantul dari Giroud.

Drama Berakhir Manis: Lalu Bagaimana Sekarang?

Yang jelas, Arsenal harus benar-benar membenahi struktur mereka dalam setiap momen sepak bola, yaitu menyerang-transisi-bertahan. Pemanfaatkan ruang juga harus dipertajam demi membangun progresi positif yang bersih. Penulis rasa, dua aspek ini sangat mendesak untuk segera diperbaiki. Selain mempertahankan peluang di Liga Inggris, perbaikan aspek tersebut merupakan bekal untuk kompetisi Eropa.

Lalu, harus dan patut dicatat bahwa kemenangan melawan Leicester bukan berarti Arsenal semakin dekat menjadi juara. Jadwal berat sudah di depan mata. Kembalinya Danny Welbeck, perbaikan performa dari Chamberlain dan Walcott, dan kembali tajamnya Alexis Sanchez adalah tambahan amunisi yang datang di saat yang tepat. Kembali, fokus seperti saat Arsenal menjalani “Drama Rubah” semalam adalah kunci untuk menggerakkan semua atribut taktik dan skema yang sudah dirancang.

Mulai saat ini, level konsentrasi ini harus terus dijaga. Penting untuk selalu mengingat, seperti yang penulis singgung di atas, kompetisi belum berakhir sebelum drama musim ini menutup tirainya.

#COYG

Comments

4 thoughts on “Main Course: Panggung Drama Arsenal”

  1. Wah nggak nyangka Welbeck sebegitu emosionalnya sampai mengeluarkan air mata. Semoga ini memberikan rasa optimis baru buat pemain dan fans.

    Dengan kembalinya banyak pemain dari cedera, terbukti Wenger bisa lebih leluasa mengubah permainan dengan melakukan pergantian pemain.

    Oiya, menurut penulis sendiri bagaimana performa Ozil secara keseluruhan? Kualitasnya memang terlihat ketika memberikan beberapa umpan matang, termasuk assist buat Welbeck, tetapi secara keseluruhan agak kurang menurut saya (dibanding level dia rata-rata). Alexis juga, sepertinya sedang kehilangan akurasi menembaknya.

  2. Iya, Welbeck udah gak main selama kurang lebih 10 bulan. Makanya emosional banget, apalagi comeback-nya langsung bikin gol di menit akhir begitu.

    Kedalaman sebuah tim itu sangat penting. Apalagi punya beberapa pemain yang punya atribut berbeda, namun bisa saling melengkapi.

    Ozil memang hanya tampil rata-rata. Kebanyakan justru karena sistem seperti yang chef singgung dalam artikel. Kalau Ozil lebih peka, dia akan dapat ruang lebih ketika bergerak di antara gelandang bertahan dan bek Leicester.

  3. mungkin Ozil diminta untuk lebih ke dalam, sejajar dg Ramsey, sehingga membentuk trio utk duel 3v2 lawan Drinkwater dan Kante.
    Pertandingan sebelumnya Ozil justru terlalu deket (sejajar) dg Giroud.
    Kalo Alexis, menurut saya, mainnya kurang simple.

    1. kalau sejajar justru enggak maksimal karena akan kekurangan channel di ruang antarlini. misal Ozil dpt bola di tengah, jaraknya dengan Giroud atau kedua winger terlalu jauh. kalau lepas bola direct terlalu percuma karena mudah dibaca. kalau berprogres lewat Ramsey, artinya enggak terjadi progresi ke depan, tapi ke samping. makanya menjadi penting bentuk segitiga atau diamond.

      begitu :))

      Setelah cedera, Alexis memang blm balik ke ketajamannya yg semula. sentuhannya masih berat dan, bener, kurang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *