Dessert: Fragmen Valentine Danny Welbeck

Beberapa minggu yang lalu, penulis bersepakat dengan pemilik situs web ini untuk menulis beberapa paragraf guna merayakan kembalinya Danny Welbeck. Absen hampir sepuluh bulan lebih dan menghabiskan beberapa minggu bersama tim U-21, panggung kembalinya Welbeck dibingkai dengan manis sekembalinya dari cedera. Namun nampanya, bocah Manchester itu ingin pesta comeback dirinya jauh lebih mewah dari sekadar tulisan.

Dengan nalar yang waras, mewajarkan kualitas Danny Welbeck yang dibeli tepat di akhir bursa transfer akhir musim panas lalu adalah sebuah hal yang susah-susah gampang. Tanpa mengesampingkan kualitas dan status pemain timnas Welbeck, banyak suporter lebih tergiur nama-nama mahal semisal Edinson Cavani dan Karim Benzema untuk urusan menambal lini depan. Media pun juga menyukai nama besar, dibanding “hanya” Danny Welbeck.

Nikmati juga: “Appetizer: Block Rendah Leicester City dan Transisi Bertahan Arsenal”.

Mengingat karier Welbeck sejauh ini di Arsenal butuh akal sehat. Dan dengan akal sehat itu pula, kedatangan Welbeck jauh lebih disyukuri daripada Benzema yang kemudian terkena skandal video asusila dan dicoret dari timnas Perancis menjelang Euro. Mengingat Welbeck tidak bisa lepas dari trigol di Liga Champions ke gawang Galatasaray. Mengingat Welbeck tidak boleh abai dengan gol manisnya yang mengantarkan kemenangan Arsenal atas Manchester United di Old Trafford. Mengingat Welbeck harus melibatkan sundulan manis kepalanya untuk membawa kemenangan penting atas Leicester City akhir pekan lalu.

Cedera “misterius” yang membuatnya absen lama harusnya memang diobati dengan sebuah comeback manis, misalnya lewat mencetak gol penentu kemenangan. Secara pribadi, dibandingkan Theo Walcott, Welbeck menawarkan kualitas taktikal yang sedikit lebih baik. Gerakan dan tusukan Welbeck (apabila ada di sisi sayap) jauh lebih dinamis. Welbeck, di sisi lain menawarkan “sesuatu” yang tidak dimiliki Walcott. Meski tidak masuk kategori pemain “cepat”, Welbeck juga mampu menjadi tembok apabila bermain sebagai ujung tombak. Kalau ia tak cukup cepat, tidak mungkin backpass bodoh Antonio Valencia musim lalu bisa diserobot sembari melewati David de Gea dan mencetak gol bukan?

Kembalinya Welbeck adalah berkah disaat pacuan juara dan empat besar Liga Inggris semakin memanas. Dua tim “kejutan” yang ikut memanaskan pacuan juara adalah Tottenham Hotspur dan Leicester City. Keduanya adalah tim yang fasih memanfaatkan pemain cepatnya sebagai tumpuan serangan. Kecepatan, Tottenham juga punya banyak pelari cepat, menyerang dengan cepat, dan menekan lawan dengan cepat adalah gaya Mauricio Pochettino sejauh ini. Dele Alli, Erik Lamela, Son Heung-Min, hingga Harry Kane mampu bermain dinamis dan sangat fluid. Berada di posisi dua adalah bukti nyata kenapa Tottenham musim ini begitu menakutkan.

Leicester sendiri bertumpu pada Jamie Vardy dan kualitas tricky Riyad Mahrez yang bisa menyakiti lawan. Oleh sebab itu, kehadiran Welbeck bisa menjadi joker yang manis untuk bersaing melawan tiga tim lainnya. Apalagi, Arsenal belum sempat bertandang ke White Hart Lane di sisa musim ini. Kehadiran Welbeck dan kembalinya performa Alexis Sanchez, ditunjang kemampuan Mesut Ozil yang (seharusnya konsisten) prima, dan Olivier Giroud yang mulai stabil, lini serang Arsenal bisa membuat kita bermimpi lebih jauh. Siapa tahu, kejutan lini serang Arsenal pasca kembalinya Welbeck bisa dimulai saat melawan Barcelona tengah pekan depan, bukan?

Menu utama: “Panggung Drama Arsenal”

***

Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk pemulihan, Welbeck kembali dengan sebuah gol penting. Secara psikis, ini baik untuknya. Welbeck bisa dengan cepat menemukan kembali apa yang ia miliki sebelum terpinggirkan karena cedera.

Coba Anda putar rekaman ulang pertandingan Minggu malam lalu dan resapi tiap detiknya usai sundulan tipis Welbeck menembus jala Leicester. Resapi ekspresi muka dan keputusan Welbeck untuk lari ke tribun para suporter dan merayakannya dengan gegap gempita. Semua pemain bersuka cita, bahkan pemain introvert seperti Ozil pun larut dalam euforia dan gegap gempita yang dahsyat. Anda tidak akan tahu nikmatnya sebuah gol menit akhir yang membawa kemenangan terutama karena sempat tertinggal lebih dahulu karena keputusan absurd wasit di penghujung babak pertama.

Kisah romantis Leicester City memang menawarkan drama yang sedap dan selalu menarik untuk diikuti. Kunjungi laman Mirror atau Guardian dan akan banyak ditemui kisah-kisah romantis atau tulisan fitur nan syahdu untuk perjuangan Leicester dalam persaingan gelar juara mereka musim ini. Tapi, lebih romantis mana, kisah dongeng Leicester City atau kado Valentine Danny Welbeck untuk suporter Arsenal?

Snack: “Sisa Orkestra Manis Mozart di London”

NB : Kalau Anda biasa saja merayakan gol “buzzer beater” Danny Welbeck hari Minggu lalu, sebaiknya coba kunjungi psikiater di akhir pekan, ya?

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *