Main Course: Pelajaran Berharga Dari Barcelona Untuk Fans Arsenal

Perjuangan itu bertahan hingga satu jam laga berjalan. Arsenal (mencoba) bermain disiplin dan enggan menyerahkan sejengkal ruang untuk armada Catalan. Namun, ketika risiko diambil, maka risiko harus dipahami. Niat menang dan menyerang justru menjadi 2 mata pedang bagi Arsenal. Sebuah pelajaran yang harus diterima dan dipahami.

Bukan kebetulan Arsenal bisa mengambil keuntungan ketika menang dari Bayern Munich dan Manchester City. Dua keywords yang muncul adalah kompaksi pertahanan dan serangan balik. Melawan Barcelona pun Arsenal menerapkan hal serupa, yaitu bermain 4-4-2 narrow, immediate pressing kepada pemain Barca yang berada di sisi lapangan, dan mencoba melakukan serangan balik. Sampai babak pertama berakhir dan awal babak kedua, Arsenal bisa mengimbangi Barca, mencuri beberapa peluang, dan menunjukkan bahwa skuat asuhan Arsene  Wenger ini punya cara menghadapi raksasa Catalan tersebut.

Pada laga-laga tersebut, Arsenal terlihat sangat fasih menyerap tekanan lawan lalu memanfaatkannya untuk serangan balik. Sebuah skenario sederhana. Namun ada yang berubah perlahan selepas 1 jam laga berjalan ketika menjamu skuat asuhan Luis Enrique tersebut. Arsenal mencoba mengambil risiko dengan berani menekan. Tidak ada yang salah apabila dieksekusi dengan baik. Namun Arsenal tidak maksimal dan Barcelona meredam tekanan Arsenal dengan kesabaran.

“Ketika Arsenal menekan, mereka menciptakan ruang di belakang. Jika mereka ingin mengambil risiko, maka kami juga akan melakukannya. Dan, Leo (Messi) membuat perbedaan,” ungkap Sergio Busquets selepas laga.

Inilah pelajaran pertama untuk fans Arsenal.

Menekan ke atas merupakan opsi. Artinya, jika dipilih, Arsenal harus punya solusi untuk segala kondisi, salah satunya serangan balik. Jika tidak memikirkan atau menyiapkan langkah yang tepat untuk transisi bertahan, maka serangan Arsenal hanya akan bernada Harakiri. Jika Aaron Ramsey terlibat dalam build-up serangan maka Francis Coquelin akan harus meng-cover area yang luas. Ini adalah proses alami dari dua pivot yang tidak di-set dengan baik.

Maka benar kata Busquets, dengan “menunggu”, Barcelona mengincar ruang – yang selama babak pertama – berhasil dipertahankan Arsenal. Ketika Coquelin hanya sendirian,  secara otomatis, pemain terdekat akan membantu. Aksi berantai tersebut justru membuka ruang yang memang diincar Barcelona. Seperti terlihat pada gol Lionel Messi yang pertama. Situasi ini juga mengajarkan bahwa Ramsey dan Coquelin bukan duet yang ideal. Atau bahkan boleh dibilang dua pivot terkadang tidak sesuai lagi untuk meladeni lawan yang lebih superior. Oleh sebab itu, ini menjadi penegasan bahwa struktur tim yang bagus dan konsisten merupakan modal penting untuk semua jenis pertandingan.

**

“Barcelona adalah tim yang lebih baik ketimbang kita. Mereka tidak pernah melakukan kesalahan mengumpan ketika transisi. Mereka punya sentuhan pertama yang bagus untuk keluar dari tekanan,” tegas Wenger ketika konferensi press selepas laga.

Inilah pelajaran kedua untuk fans Arsenal.

Perhatikan penggalan “transisi” dan “keluar dari tekanan”. Dalam sepak bola ada dua fase transisi, yaitu transisi bertahan dan transisi menyerang. Boleh dibilang ini soal opsi yang sudah dirancang.

Pada babak pertama ketika masuk transisi bertahan, Arsenal bertransformasi menjadi 4-4-2 narrow. Ketika transisi menyerang, Arsenal banyak menggunakan sisi lapangan dan memanfaatkan ruang di belakang Jordi Alba atau Dani Alves. Opsi ini beberapa kali berhasil membawa pemain Arsenal masuk ke kotak penalti Barcelona. Namun, ada satu opsi lain yang justru efektif namun tidak dimanfaatkan.

Jika pembaca perhatikan di awal babak pertama, ada 2 atau 3 long ball yang berhasil dikuasai pemain Arsenal melalui Oliver Giroud atau Ramsey. Second ball pun berhasil diamankan. Situasi ini sebenarnya menguntungkan Arsenal karena praktis Giroud atau Ozil akan langsung berhadapan dengan Gerard Pique atau Javier Mascherano. Jika diteruskan, Alexis bisa naik dari bawah dan menyediakan diri sebagai penerima second ball. Usaha “memangkas lapangan” ini juga menguntungkan untuk menghindari pressing lapangan tengah Barcelona.

Artinya, ketimbang berusaha memanfaatkan lari pemain di sisi lapangan, memaksimalkan fisik Giroud dan direct run dari second runner akan lebih maksimal. Meskipun hanya terlihat dalam momen yang terbatas, Barcelona nampak kesulitan menghadapi bola atas, baik direct dari bawah atau crossing dari sisi lapangan. Apalagi, jika Arsenal mampu menciptakan situasi di mana Giroud one on one duel udara dengan Mascherano. Hal ini menjadi penegas bahwa kecepatan lari bukan segalanya. Toh, ketika masuk menggantikan Chamberlain, Theo Walcott tidak mampu memberikan kontribusi yang berarti.

Lalu, bagian “keluar dari tekanan” bukan hanya soal ketika tim bertahan dan ditekan dengan hebat. Keluar dari tekanan adalah urusan keluar dari situasi-situasi tertentu, baik ketika bertahan maupun menyerang. Misalnya, apakah pembaca masih ingat peluang dari Luis Suarez yang membentur tiang gawang? Bagaimana awal mula peluang tersebut tercipta?

Peluang tersebut tercipta ketika Alexis Sanchez kehilangan momen untuk mengumpan. Dua pemain Barcelona memberika tekanan dengan baik dan mendorong Alexis ke tepi lapangan. Ingat, bek paling ideal adalah garis tepi lapangan. Alexis yang terdesak dengan mudah kehilangan bola. Barca masuk ke transisi menyerang dan berhasil menciptakan peluang. Jika pembaca juga ingat, situasi-situasi ini sering terjadi, bukan di laga melawan Barcelona saja.

Ketika melawan AS Monaco musim lalu pun Arsenal pernah melakukan kesalahan yang serupa. Naïf, seperti kata Wenger. Arsenal kehilangan momentum ketika membangun sebuah serangan. Situas ini terjadi karena banyak faktor dan sifatnya kausalitas. Bisa karena Alexis tidak menemukan kawan yang bebas atau struktur tim mengakibatkan seorang pemain terisolasi. Ini pelajaran bagus bagi kita soal implementasi skema yang ideal, yang pas untuk antisipasi segala kemungkinan.

**

Pelajaran ketiga dan penting untuk segala situasi adalah: siapa pun pemainnya, jangan pernah membuang peluang emas ketika kamu menghadai tim yang secara kualitas lebih bagus.

Melawan tim-tim seperti Barcelona atau Bayern Munich, akan sangat penting untuk mampu mencetak gol ketika terjadi peluang emas. Apalagi, di tengah situasi kompetisi di mana urusan gol kandang-tandang sangat penting. Penulis kira pelajaran ini tidak perlu penjelasan tambahan.

Memindahkan fokus ke kandang Manchester bukan pekerjaan ringan. Terutama ketika fisik terkuras dan mental terluka. Namun, inilah sepak bola di mana konteks mendukung Arsenal adalah soal bertahan hidup dan bangkit di saat yang tepat.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *