Dessert Arsenal vs Barcelona: Mengintip Respons #WargaKitchen

Setelah kekalahan menyakitkan dari Barcelona Rabu dini hari kemarin, berbagai rasa gejolak nampak di sepanjang lini masa media sosial. Antara kekecewaan hingga keiklasan. Antara kungkungan rasa pesimis, hingga optimisme yang menguar tajam. Menarik untuk mengintip dan memahami suara hati #WargaKitchen yang belakang sering sekali diaduk-aduk perasaannya oleh Meriam London.

Rasa getir tentu masih terasa di ujung lidah. Kekalahan 0-2 dari Barcelona di leg 1 babak 16 Besar Liga Champions membuat peluang lolos ke PerempatFinal sangat berat. Apalagi, leg 2 akan digelar di Catalunya, rumah Barcelona. Boleh saja apabila laga tersebut diberi judul “laga yang tidak mungkin”. Apa pun itu, setiap pemain Arsenal harus memberikan segalanya dan tampil dengan mental kuat di atas lapangan apabila ingin mengubur Barcelona di Camp Nou.

Lalu, apakah kekalahan Arsenal murni karena urusan mental? Bisa ya, bisa tidak. Urusan parameter seperti ini selalu pelik untuk diperdebatkan. Namun yang pasti, sebelum membicarakan mental, kita juga harus jeli melihat eksekusi taktik yang digelar Arsenal. Kenapa? Karena dengan taktik yang tepat (yang dipersiapkan), sebuah klub bisa “mendorong” setiap pemain untuk bermain baik dan mempertebal mental.

Seperti pendapatkan Nugraha Eka Putra di atas, Arsenal harus konsisten menerapkan taktik. Apalagi, Eka Putra juga menegaskan pendapatnya dengan kata “sempurna”.

Melawan Barcelona, kelengahan sekejap adalah bencana. Sekali terbawa alur skenario Barcelona, sebuah tim harus bekerja keras untuk bisa memulihkan diri. Sulit, apalagi apabila sebuah tim tersebut sudah terlanjur terluka. Dibutuhkan segala usaha untuk mengobati luka tersebut. Oleh sebab itu, eksekusi taktik yang konsisten adalah syarat penting. Toh, sepanjang babak pertama laga dini hari kemarin, Arsenal bisa meredam usaha Barca mengoyak jala Petr Cech.

Ya, menyatukan pemahaman seperti ini sangat penting. Maklum, di akhir minggu ini Manchester United sudah menunggu di Old Trafford. Salah satu laga tandang penting ini akan memberikan gambaran sampai mana kita bisa mengukur kedalaman mental pemain Arsenal. Kans juara yang masih terbuka harus benar-benar dipahami. Jelas, yang paling sulit adalah bangkit itu sendiri.

Titik balik. Yayat menyuarakan pendapatnya bahwa laga di Teater Impian hari Minggu nanti bisa menjadi titik balik. Dengan kata lain, laga melawan Setan Merah harus menjadi momen kebangkitan Arsenal dari kekalahan Rabu dini hari kemarin.

Yang dibutuhkan, sekali lagi, adalah totalitas kolektif. Pada tahap ini, sangat sulit untuk menyerahkan beban kepada 1 pemain saja. Sepatutnya, sepak bola sebagai olahraga tim, juga dimenangkan dengan kesepahaman laiknya sebuah tim yang sehat. Yayat menyebutnya sebagai “perjuangan sampai titik darah penghabisan”, bukannya justru menjadi “titik-titik” dengan artian “kematian peluang Arsenal”. Catat, sudah begitu lama Arsenal tidak berada dalam situasi di mana peluang juara terbuka sedemikian lebar seperti musim ini. Selayaknya kudu dimanfaatkan.

Berjuang dengan totalitas memang sah saja, bahkan diharuskan. Namun, kontrol diri tidak boleh lepas. Sisa lawan-lawan Arsenal di liga musim ini boleh dibilang cukup merepotkan. Setelah United, Arsenal masih harus meladeni Tottenham Hotspur, lalu masih menunggu Manchester City, replay laga FA Cup melawan Hull City, dan tentu saja leg 2 di kandang Barcelona. Lawan-lawan tersebut, di luar Barca dan City, adalah lawan-lawan yang menyebalkan dan celakanya musim ini tengah bagus.

Bicara Spurs, bicara kedalaman skuat. Bicara juga soal pilihan cara bermain. Ketika menang di kandang City, skuat asuhan Mauricio Pochettino tersebut mampu menunjukkan penetrasi dari lapangan tengah dan serangan balik yang tajam. Hal ini berbahaya bagi Arsenal yang mana sudah terlihat ketika dikalahkan Barca kemarin ini.

Nafsu. Di babak kedua selepas menit ke-60, Arsenal berani menekan Barca. Jumlah pemain yang ikut dalam build-up menyerang lebih banyak ketimbang pemain yang bersiap untuk antisipasi transisi bertahan. Hasilnya, Arsenal masuk dalam jebakan Barca dan kebobolan lewat serangan balik. Yang lebih disesali, Arsenal bukannya tanpa peluang. Sentuhan akhir menjadi masalah bagi semua pemain, bukan urusan striker saja.

Lintang Anandira menyuarakan bahayanya serangan balik lawan, plus menegaskan kenaifan pemain-pemain Arsenal. Beberapa kali Arsenal mendapatkan momentum untuk “membunuh laga”, yang mana justru tidak terjadi. Justru lawan yang berhasil mencetak gol dan menyulitkan peluang Arsenal. Melawan Hull City, The Gunners tidak ada masalah dalam penciptaan peluang. Namun, justru paceklik gol yang terjadi. Banyak peluang yang dibuang tidak pada tempatnya.

Melawan Barcelona yang ada semakin menyedihkan. Melawan tim yang lebih superior, Anda tidak boleh melepaskan peluang mencetak angka. Gagal, maka jangan harap Anda akan mendapatkan peluang yang sama untuk kedua kalinya. Ini penting sebagai bekal kebangkitan Arsenal. United, Spurs, City, dan lawan-lawan lainnya tentu sudah mempelajari lubang kelemahan Arsenal. Seperti salah 1 hukum rimba: manfaatkan kelemahan lawan. Sebaiknya Arsenal tak lagi naif dan menegaskan corak calon juara.

Hukum rimba. Di dalam panggung sepak bola pun berlaku pandangan yang hampir serupa. Ingat diving pemain Leicester City? Menjijikkan memang. Tapi itulah bentuk “pengorbanan” nama baiknya demi memenangi pertarungan. Bukan usaha yang jujur, namun untuk tiga angka usaha tersebut diberi lisensi. Bagi Arsenal, menang dengan luhur adalah cita-cita. Namun, daya dobrak jelas harus dipunyai. Berani berdarah dan “menghabisi” lawan harus dilakukan tanpa kompromi. Tak boleh ada rengekan di antara kita.

Bagi saya pandangan ini sangat penting. Rahmadi Rezekillah berbicara soal profesionalisme. Ukuran amatir dan profesional boleh digaris menggunakan bentuk bayaran. Di dalamnya terdapat konteks memberika sesuai hitam-putih kontrak si pemain. Katakanlah bayaran yang tinggi harus berbanding lurus dengan prestasi. Maka, apabila Arsene Wenger memberikan kepercayaan, sudah sepatutnya pemain siap mati di atas lapangan.

Menyerang dengan kesadaran untuk menang dan bertahan dengan kesadaran untuk menjuarai liga. Jangan sampai pemain tampil setengah hati, atau bahkan lemah hati dan merengek dengan kesulitan yang ia pikul. Setiap pemain memikul beban yang sama. Bahkan, salah 1 pemain memikul beban pemain lain. Tidak percaya? Coba tanya Petr Cech, Sarung Tangan Dewa penjaga Arsenal musim ini. Setiap pemain, yang membuat kesalahan atau yang membuang peluang, harus malu dengan totalitas Cech, yang notabene, datang dari klub yang “mencoba menjadi besar”.

Pada akhirnya, setiap kekalahan atau kemalangan, seorang pelatih akan berdiri paling depan dan membungkuk paling dalam untuk meminta maaf. Arsene Wenger, namanya tengah berada dalam pusaran waktu yang menuntutnya untuk berkembang.

Jalannya waktu tidak bisa dipegang dengan pasti. Hanya ia yang mampu beradaptasi, yang mampu bertahan. King Of London menegaskan hal itu, bahwa pelatih, penentu taktik tim, harus mampu memperkaya dirinya dengan perkembangan zaman. Pep Guardiola, Luis Enrique, Diego Simeone, adalah nama-nama muda yang tengah berebut puncak panggung pelatih kelas wahid dunia.

Di mana posisi Wenger? Selain tentu posisi istimewa Wenger di klub terkait kontribusi besarnya untuk perkembangan Arsenal, manajer asal Perancis tersebut memang harus memperbaiki diri. Saya bukan fans atau penulis yang mudah melontarkan kritikan untuk pelatih. Alasannya, pelatih tentu sudah mendapatkan lebih dari cukup kritik dari person-person yang lebih kompeten dari saya.

Namun, mau setajamnya kritik, tidak lebih menyakiti ketimbang fitnah. Sekali waktu, kritik adalah belaian sayang yang datang dari orang terdekat. Kritik adlah cermin introspeksi. Memang, sebaiknya Wenger membekali dirinya dengan pemahaman taktik yang lebih modern. Bukankah metode yang tepat dapat diterapkan untuk memaksimalkan alat yang tersedia, bukan?

Inilah catatan respons #WargaKitchen. Masih banyak pendapat brilian di lini masa yang belum mampu saya rekam. Yang pasti, semua pasti sepakat bahwa diskursus ini dibangun semata-mata untuk cinta Arsenal dan perkembangan kesehatan logika kita bersama.

Terima kasih. #COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *