Appetizer United vs Arsenal: Tamasya Kecil di Akhir Pekan

Mari bersantai sejenak di akhir pekan nanti. Usai menyambut tamu agung yang kedatangannya begitu menggetarkan publik London, akhir pekan nanti, sebuah tamasya kecil akan dilakukan ke Manchester. Di tengah jadwal kompetisi yang semakin bergegas dan musuh yang semakin kompetitif jelang akhir musim, sebuah penyegaran akan emosi dan mental yang mulai loyo sangat diperlukan.

Masalah mental adalah masalah sikap. Sikap adalah kesadaran. Kita bisa membual banyak kata dan menulis banyak diksi hingga mulut berbusa atau tangan kepayahan, tapi masalah sikap tidak akan terselesaikan dengan sebuah tulisan dan perkataan. Ia butuh sikap. Dan satu lagi, ia butuh tamasya. Emosi yang menderu. Ketegangan dan langkah kaki yang berat. Nafas yang tersengal. Otak yang mulai bebal dan banal. Semua hanya butuh sebuah tamasya kecil yang menyegarkan. Tamasya kecil di akhir pekan ke rumah lawan yang menyebalkan.

***

Manchester United musim ini adalah sebuah siklus aneh yang kalau kita cermati, sebenarnya, itu adalah kesenangan tersendiri. Tiap kali mereka kalah, atau imbang, publik akan mengutuk dan menceramahi filosofi taktik Louis Van Gaal dengan nafas berderu dan urat-urat wajah yang menonjol. Tapi bandingkan ketika mereka menang. Kemenangan tiga gol tanpa balas atas Shrewsbury Town di Piala FA, berlanjut dengan kemenangan brilian lima gol berbalas satu dari tamu antah berantah bernama FC Midtjylland, melambungkan asa publik Manchester.

Oh iya, mungkin Shrewsbury dan klub Denmark yang susah dilafalkan mulut itu adalah lawan yang hebat setara Barcelona atau Real Madrid. Sehingga kemenangan itu begitu diagungkan publik Manchester selama berhari-hari ini.

Lihat gegap gempita pujaan publik terhadap Memphis Depay ketika ia melakukan gerakan meliuk yang indah melewati Nikolay Bodurov dan Andre Romer . Anda tahu Bodurov dan Romer? Atau Tim Sparv? Atau mungkin Kian Hansen? Atau Jakob Poulsen? Ayolah, tidak satupun anda kenal? Baiklah, lupakan.

Apa pun itu, kemenangan megah atas FC Midtjylland melambungkan asa kubu Manchester merah setinggi langit. Kemenangan megah itu mulai membangkitkan asa bahwa siapa tahu, Manchester United masih akan memperebutkan gelar juara Liga Inggris kembali. Dan menjamu Arsenal akan menjadi titik kunci yang menyenangkan untuk impian itu.

Kemenangan atas Arsenal akan mengembalikan semangat yang hilang dari tim United saat ini. Semangat revivalis untuk mengejar kembali nafsu merengkuh gelar juara. Sebuah semangat untuk menunjukkan, “Hey lihat, kami masih tim besar di Inggris!” Oh well, baiknya kita memaklumi kenapa publik Manchester begitu gegap gempita dengan itu semua.

Bagi beberapa orang kebanyakan, seperti misalnya kita ini, meraih hal yang positif setelah sepanjang waktu mengalami hal buruk adalah euforia yang membuncah. Mirip magma larva panas di dapur gunung berapi yang bergolak dan meluap hingga ke puncak kawah lalu meletus. Euforia itu terlalu kuat hingga puja dan puji mengalir dan diterima dengan terbuka. Dan di tengah euforia tinggi publik Manchester, inilah momen yang tepat kenapa tamasya kecil ke Manchester di akhir pekan nanti juga begitu berarti buat Arsenal.

Dibandingkan Manchester United, Arsenal mengalami pekan yang lumayan brengsek. Ditahan imbang tim loreng-loreng, Hull City, di kandang tanpa gol. Lalu dipermalukan Barcelona, kumpulan manusia setengah dewa dari Iberia di tempat yang sama. Ekspektasi publik begitu tinggi dan Arsenal menjawab dengan raihan hasil yang negatif. Belum lagi ditambah cedera Alex Oxlade-Chamberlain yang dikhawatirkan akan menepi hingga akhir musim.

Tekanan untuk mengembalikan fokus ke kompetisi domestik akan membuat mental pemain diuji dengan hebat. Sekali lagi, ini masalah sikap. Kita, saya dan Anda, hanya bisa bercuap-cuap bersama angin lalu di media sosial, tapi selama pemain Arsenal tidak memiliki mental yang bagus dan sikap yang tepat, sisi naïf yang disinggung Arsene Wenger akan membuat puasa gelar Liga terjalin lebih mesra dan makin lama.

Saking lamanya, mungkin, Arsenal akan kembali juara ketika saya sudah lulus kuliah, lalu menikah, dan punya anak. Siapa tahu, kan? Karena sejatinya, tanpa sikap dan mental yang tepat, taktik sehebat apa pun tidak akan bisa diterapkan dengan lancar di lapangan.

***

Untuk meredakan ketegangan, baiknya kunjungan ke Manchester ini diperlakukan tak ubahnya tamasya singkat untuk berlibur dan bersantai sembari berharap membawa sesuatu yang menyenangkan untuk diangkut pulang ke London. Badai cedera di skuat United bisa dimanfaatkan untuk menjadi titik poin yang krusial guna menjadi modal brilian menyambut laga tandang ke rumah si setan yang tidak menyeramkan sama sekali musim ini.

Dari pos pemain belakang, kemungkinan ada nama pemain muda, Guillermo Varela dan Cameron Bortwick-Jackson atau Joe Riley yang masing-masing menempati bek sayap. Tiga nama pemain muda ini, walau menjanjikan, tentu bisa menjadi titik yang bisa diincar Alexis Sanchez atau Theo Walcott untuk diekpsloitasi nantinya. Apalagi kalau mengingat bagaimana seorang Pione Sisto mampu mengelabui Daley Blind dan Michael Carrick dengan dua gerakan saja, bisa bayangkan bagaimana Mesut Ozil dan Olivier Giroud akan memanfaatkan celah ini nantinya?

Di tengah, ada beberapa nama yang perlu diwaspadai, di antaranya adalah Jesse Lingard dan Morgan Schneiderlin. Juga kembalinya Juan Mata ke posisi di belakang penyerang patut diwaspadai barisan tengah Arsenal. Tambahkan pula Ander Herrera, yang walau tampil bagus tengah pekan kemarin, masih tidak cukup nyaman menguasai bola di posisi pivot.

Kalau berminat, mungkin bisa ditambahkan juga untuk mewaspadai Memphis Depay. Van Gaal bersikeras bahwa penampilan brilian di laga melawan Midtjylland menjadi titik balik karier pemain Belanda ini di United. Jadi, menarik ditunggu hasil komentar pria bebal ini dan kenyataannya di lapangan.

Nah, di posisi penyerang, ada nama pemuda 18 tahun yang mencuri perhatian tengah pekan kemarin. Marcus Rashford. Pemain akademi yang sukses mencetak dua gol dalam debutnya di tim senior. Andai Anthony Martial tidak sembuh tepat waktu dan pemuda ingusan ini yang akan melawan Per Mertesacker dan Laurent Koscielny, tentunya akan menjadi hal yang menarik untuk dinantikan pada hari Minggu.

***

Sebaiknya laga hari Minggu ini nanti tidak perlu diresapi dengan gegap gempita. Jarak poin kedua tim masih cukup jauh, dan Arsenal hanya perlu bermain tanpa beban laiknya sebuah tim yang sedang tamasya ke kandang lawannya. Karena nuansanya adalah tamasya, pertandingan ini tidak perlu dibumbui dengan aroma permusuhan yang kental. Santai saja, tidak perlu terpengaruh provokasi suporter United bahwa laga ini laga besar.

Mungkin bagi mereka besar, karena mereka melawan tim yang bersaing di tangga juara. Tapi bagi Arsenal, partai ini hanya tamasya sembilan puluh menit di kota Manchester yang kurang nyaman disinggahi tim London beberapa tahun ini. Jadi, santai saja. Siapkan camilan dan seduh kopi ternikmat, karena laiknya sebuah tamasya, kita pun menginginkan sebuah tontonan ringan yang menarik dan menyegarkan.

Bring on, United.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *