Dessert United v Arsenal: Agar Kalian Lebih Santai

Masih kesal dengan kekalahan Arsenal di Rumah Hantu tempo hari? Masih ingin mengumpat? Saya masih. Kesal, jengkel, jengah melihat cara bermain Arsenal adalah manusiawi. Well, tapi perasaan negatif tersebut tak mungkin dipertahankan terus-menerus, bukan? Mari kendurkan syaraf dengan sajian penutup dari penulis idaman semua kaum, baik yang terlihat maupun yang tidak ini.

Konon, menu hidangan penutup ini akan dihapuskan oleh si pemilik dapur karena ia terlampau sedih dan terpukul atas kekalahan di Old Trafford kemarin (Enggak, ding –redaksi). Saya rasa, pemilik dapur ini dan beberapa suporter Arsenal mengalaminya kemarin lusa, ya?

Jadi begini, ketika bangun pagi di hari Senin yang santai, saya mendapati sebuah sajian utama tulisan untuk pertandingan di Old Trafford melawan Manchester United hari Minggu kemarin. Alangkah keparatnya pemilik dapur ini ketika memaksa saya (dan mungkin teman-teman lain yang bernasib seperti saya) ketika membuka tautan di twitter dan menemukan sebuah tulisan yang menghabiskan dua hingga tiga menit di pagi hari saya dengan sia-sia.

Tentu saja saya tidak bisa marah akan hal itu. Pemilik dapur Arsenal ini adalah sosok yang tinggi, besar, dan gagah. Ketika marah dan kecewa, ia bisa berubah laksana beruang besar yang mencabik dan meremuk-redamkan badan Leonardo di Caprio di film The Revenant yang fenomenal itu. Anda berani menganggu suasana hati beruang besar nan ganas yang mematikan ini? Utamanya, ketika Arsenal kalah dengan cara bermain yang terlampau buruk.

Akhirnya, dengan bujuk rayu yang tepat dan seusai, setelah saya memberikan seonggok daging segar untuk menu makan siangnya kemarin, akhirnya pemilik dapur ini berkenan memberikan jatah makanan penutup untuk diurus lagi oleh saya. Saya harap tulisan ini bisa membuat kalian lebih waras, kalaupun gagal, setidaknya, tulisan ini membuat kalian lebih santai dalam menghadapi sebelas laga sisa Arsenal di liga.

***

Ketika memilih judul “tamasya” akhir pekan kemarin, saya sebenarnya mengajak kalian semua untuk realistis saja menanggapi tentang kampanye brutal Arsenal tentang impiannya untuk menjuarai Liga. Atau cita-cita biadabnya untuk bisa mengalahkan Barcelona dan membawa pulang gelar Liga Champions ke London.

Begini, mengeluh tentang mentalitas dan perihal taktik Arsene Wenger yang terkadang macet di tengah jalan itu sudah biasa dan jamak bagi kita beberapa tahu belakangan ini. Anda ingat ketika Wenger pernah menempatkan Mesut Ozil untuk bermain melebar di awal kedatangannya dulu? Atau tentang gamangnya Wenger untuk memilih posisi yang tepat bagi Theo Walcott? Mengeluhkan Arsenal dan Wenger itu sudah terlampau biasa.

Pertanyaannya, memang tidak capek kalian mengeluh?

Tapi begini, kalau seseorang datang ke hadapan saya saat ini dan bertanya, “Halo Mas Rio, kenapa Arsenal kemarin Minggu bermain seperti sampah dan kalah oleh tim Manchester United yang berisi beberapa anak ingusan?” Saya akan menampar muka orang itu dan melemparkannya ke kandang buaya untuk dijadikan camilan sang buaya sembari menunggu pawangnya datang ke kandang memberi jatah makan siang.

Maksud saya begini, tidak ada yang perlu dijelaskan dari sebuah kekalahan. Apalagi kalau Anda paham sepak bola, Anda akan bisa melihat dengan jelas fakta nyata di lapangan. Setelah gol pertama bocah ingusan 18 tahun itu, Arsenal tersentak dan berupaya menemukan kembali pijakan mentalitasnya yang ambruk. Sialnya, ketika mencoba merangkai kembali suasana hati selepas gol itu, Arsenal dikejutkan lagi dengan gol kedua si bocah dan taktik Arsenal sudah tidak berjalan dengan semestinya sejak saat itu.

Kalau saya tetap ditanya banyak hal kenapa Arsenal kalah, sederhana saja jawabannya. United tidak bermain bagus-bagus betul, biasa saja malah. Hanya saja, Arsenal terlampau tolol untuk “tamasya” ke Manchester dengan mentalitas seperti bocah 10 tahun yang ketakutan karena ketahuan menonton video porno oleh orang tuanya.

Jadi ya itu tadi, banyak hal yang bisa dikeluhkan dari permainan Arsenal kemarin lusa, tapi apa pun itu, mengeluh hanya sebuah hal basi yang tidak ada gunanya. Saya juga kerap mengeluh, seperti misalnya kenapa nasi goreng plus telor ceplok harus berharga sebelas ribu rupiah dan bukan sepuluh ribu rupiah saja? Tapi saya sadar, mengeluh pun tidak akan mengubah nasi goreng plus telor ceplok tersebut menjadi berharga sepuluh ribu juga, kan?

Karena apa pun itu, Arsenal masih berjarak lima poin saja dari Leicester City. Dan musim yang masih berjalan ini menyajikan total tiga puluh tiga poin tersisa untuk diperebutkan. Santai saja. Musim masih cukup panjang, walau momentum dan kesigapan mentalitas Arsenal untuk bersaing di gelar juara akan selalu diperdebatkan hingga bulan Mei nanti.

Jadi begini kesimpulannya, kawanku.

Konon, seorang sufi hebat—yang seingat saya—bernama Sugoitei Sugi Yagbechi Namiru Kogai, mengajarkan kita untuk menikmati dan mensyukuri hidup dengan selalu melihat ke bawah dan berhenti untuk melihat ke atas. Menjalankan  ajaran sang sufi, saya lekas menyempatkan diri untuk melongok tabel klasemen Liga Inggris per pekan 27 kemarin. Walhasil saya menemukan Arsenal berada di peringkat tiga. Ketika mendongak ke atas, ada nama Tottenham Hotspurs dan Leicester City. Brengsek betul, pikir saya. Tapi mengacu pada petuah sufi tersebut, saya memutuskan untuk bersyukur dan melihat bahwa di bawah Arsenal masih ada Manchester United dan Liverpool. Dan jauh beberapa meter di bawahnya lagi, ada Chelsea. Hidup masih terasa indah, bukan?

NB : Jangan coba-coba cari nama Sugoitei Sugi Yagbechi Namiru Kogai di Google, ya.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *